![]() |
فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ: أَمَانَةُ حِفْظِ الْأَرْوَاحِ
Kisah nyata aparat keamanan Masjid Al-Haram, Rayyān Al-‘Asīrī, yang berlari menyambut jatuhnya seorang jemaah sebagai amanah menjaga nyawa di area thawaf.
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Di Masjid Al-Haram, di bawah pandangan Ka‘bah yang agung, manusia datang membawa harap, dosa, dan air mata. Ada yang thawaf dengan langkah tertatih, ada yang berdoa dengan suara parau, ada pula yang diam menahan sesak dada. Di tempat sesuci itu, hidup dan mati terasa begitu dekat, seolah hanya dipisahkan oleh satu detik yang menentukan.
Hari itu, sebuah peristiwa terjadi begitu cepat. Seorang jemaah lelaki berada di lantai atas Masjid Al-Haram. Entah karena kehilangan keseimbangan atau sebab lain, tubuhnya terjatuh dari ketinggian menuju mathaf, area thawaf yang dipenuhi manusia. Dalam situasi seperti itu, kebanyakan orang hanya sempat tertegun. Mata membelalak. Napas tertahan. Semua seakan menunggu takdir jatuhnya tubuh itu ke lantai marmer.
Namun tidak demikian bagi Rayyān Al-‘Asīrī, yang pada detik itu seakan digerakkan oleh satu dorongan amanah.
Dalam rekaman video yang kemudian viral luas di media sosial, tampak jelas Rayyān berlari kencang. Bukan berjalan cepat, bukan pula sekadar bersiaga, tetapi benar-benar berlari menyambut jatuhnya tubuh manusia lain. Ia memposisikan dirinya tepat di bawah lintasan jatuh, mengulurkan tubuh dan tangan, berusaha menahan dan meredam benturan. Detik itu menjadi saksi: amanah mendahului rasa takut.
Dari penelusuran waktu unggahan media dan pemberitaan yang beredar, besar kemungkinan peristiwa ini terjadi pada bulan Desember 2025, di hari-hari akhir tahun ketika Masjid Al-Haram dipadati jamaah umrah dari berbagai penjuru dunia. Dalam hiruk-pikuk ibadah dan kepadatan manusia, justru di sanalah kesiapsiagaan dan pengorbanan diuji.
Benturan keras memang tak terelakkan. Sang jemaah selamat dari cedera fatal. Rayyān sendiri terluka dan harus dilarikan ke rumah sakit. Ia menanggung risiko yang sangat nyata, tetapi memilih mendahulukan keselamatan orang lain.
Pemberitaan CNN Arab mengutip pernyataan Kementerian Dalam Negeri Saudi bahwa pasukan khusus keamanan Masjid Al-Haram segera menangani kasus seseorang yang menjatuhkan dirinya dari lantai atas, dan seorang petugas keamanan mengalami cedera saat berusaha mencegahnya agar tidak menghantam lantai masjid ketika jatuh. Keduanya segera dipindahkan untuk mendapatkan perawatan medis dan prosedur lanjutan.
Video itu menyebar luas, ditonton dan dibagikan jutaan kali. Pujian mengalir dari berbagai penjuru. Banyak yang menyoroti kecepatan reaksi, keteguhan hati, dan kesiapsiagaan aparat keamanan di Tanah Haram. Namun di balik pujian manusia, yang lebih berat adalah penilaian Allah terhadap niat di dalam hati.
Tidak lama kemudian, Gubernur Makkah datang menjenguk Rayyān di rumah sakit. Dalam dialog yang terekam dalam video, terlihat Gubernur Makkah bersama pihak terkait berdialog langsung dan bertanya jawab dengannya. Dari percakapan itulah kita mengetahui sikap batin Rayyān. Ia menegaskan bahwa apa yang ia lakukan hanyalah kewajiban, bukan sesuatu yang layak dibanggakan. Amanah yang melekat pada tugasnya. Keselamatan jemaah dan tamu Allah adalah prioritas yang tidak bisa ditawar.
Di titik inilah Islam menampakkan wajahnya yang paling jernih: menjaga jiwa sebagai ibadah.
Allah subhanahu wata‘ala berfirman:
{مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ بَعْدَ ذَلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ }
“Oleh karena itu, Kami tetapkan atas Bani Israil bahwa barang siapa membunuh seorang manusia, bukan karena (orang itu membunuh) orang lain atau karena berbuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia. Dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan seluruh manusia. Sungguh, telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan membawa keterangan-keterangan yang jelas, kemudian sesungguhnya banyak di antara mereka setelah itu benar-benar melampaui batas di muka bumi.”
(QS. al-Mā’idah: 32)
Ayat ini adalah fondasi agung syariat dalam menjaga jiwa. Menyelamatkan satu nyawa bukanlah amal kecil, terlebih dilakukan di Tanah Haram, tempat setiap kebaikan dilipatgandakan nilainya.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga memerintahkan:
وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.”
(HR. Muslim, no. 2699, dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu)
Rayyān Al-‘Asīrī telah menghidupkan makna hadits ini tanpa mimbar, tanpa ceramah, tanpa kalimat indah. Ia berdakwah dengan tubuhnya. Dengan larinya. Dengan keberaniannya yang sunyi.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa amal shaleh di Masjid Al-Haram tidak selalu berupa thawaf panjang atau sujud yang lama. Terkadang ia hadir dalam bentuk kesiapsiagaan, pengorbanan, dan keputusan cepat yang menyelamatkan nyawa seorang muslim. Inilah ibadah dalam bentuk paling nyata. Inilah amanah menjaga jiwa.
Keikhlasan yang Tak Meminta Sorotan
Barangkali kita tidak diuji dengan ketinggian lantai Masjid Al-Haram, tetapi setiap hari diuji dengan amanah yang lebih sunyi dan sering kita abaikan. Tidak semua amal membutuhkan sorotan, dan tidak semua keikhlasan ingin dikenang. Ada kebaikan yang cukup Allah saja yang mencatatnya.
Semoga Allah menerima amal Rayyān Al-‘Asīrī sebagai amal shaleh yang ikhlas, menyembuhkan lukanya, meninggikan derajatnya, dan menjadikan kisah ini pelajaran hidup bagi kita semua: bahwa satu langkah berani, di satu detik genting, bisa bernilai seperti menghidupkan seluruh manusia.
Pariaman, Jum’at, 13 Rajab 1447 H / 2 Januari 2026 M
Zulkifli Zakaria
