![]() |
مجلس الحديث النبويّ الشريف
MAJELIS KAJIAN HADITS BERSAMA ZULKIFLI ZAKARIA
DI RUMAH SAKIT TAMAR MEDICAL CENTRE (TMC)
Jl. Basuki Rahmat No.1 Pariaman
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Bahasan Hadits Aqidah tentang Jin
Rabu, 4 Rajab 1447 H / 24 Desember 2025 M
Teks Hadits:
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَإِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ - قَالَ إِسْحَاقُ: أَخْبَرَنَا، وقَالَ عُثْمَانُ: حَدَّثَنَا - جَرِيرٌ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ، إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الْجِنِّ» قَالُوا: وَإِيَّاكَ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «وَإِيَّايَ، إِلَّا أَنَّ اللهَ أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ، فَلَا يَأْمُرُنِي إِلَّا بِخَيْرٍ»،
Telah menyampaikan hadits kepada kami ‘Utsmān bin Abī Syaibah dan Isḥāq bin Ibrāhīm; Isḥāq berkata: telah mengabarkan kepada kami, dan ‘Utsmān berkata: telah menyampaikan hadits kepada kami, (dari) Jarīr, dari Manshūr, dari Sālim bin Abī al-Ja‘d, dari ayahnya, dari ‘Abdullāh bin Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda:
«مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ، إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الْجِنِّ»
“Tidak seorang pun di antara kalian, melainkan telah ditugaskan baginya seorang qarīn (pendamping) dari golongan jin.”
Para sahabat bertanya, “Apakah juga terhadap engkau, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
«وَإِيَّايَ، إِلَّا أَنَّ اللهَ أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ، فَلَا يَأْمُرُنِي إِلَّا بِخَيْرٍ»
“Ya, termasuk aku juga. Akan tetapi Allah menolongku terhadapnya, lalu ia masuk Islam, sehingga ia tidak memerintahkanku kecuali kepada kebaikan.”
(HR. Muslim, no. 2814)
Pelajaran dari Hadits ini:
Hadits ini menetapkan dengan tegas bahwa:
• Setiap manusia memiliki qarīn dari golongan jin.
• Qarīn ini ditugaskan (وُكِّلَ) menyertai manusia sepanjang hidupnya.
• Ini bagian dari perkara ghaib yang wajib diimani sebagaimana datang dalam nash.
Keimanan terhadap jin termasuk cabang iman kepada yang ghaib, sebagaimana firman Allah ta‘ala:
{الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ} [البقرة: 3]
“(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib.”
(QS. al-Baqarah: 3)
Fungsi qarīn adalah membisikkan, bukan memaksa. Qarin tidak memiliki kekuasaan memaksa, melainkan:
• Membisikkan
• Menghias keburukan
• Mendorong maksiat
Hal ini ditegaskan oleh Allah subhānahu wata’āla:
{وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (22)} [إبراهيم: 22]
“Dan syaithan berkata ketika perkara telah diputuskan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepada kalian, tetapi aku mengingkarinya. Sekali-kali aku tidak memiliki kekuasaan atas kalian, selain sekadar aku menyeru kalian, lalu kalian memenuhi seruanku. Maka janganlah kalian mencelaku, tetapi celalah diri kalian sendiri. Aku tidak dapat menolong kalian, dan kalian pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku berlepas diri dari perbuatan kalian yang dahulu mempersekutukanku (dengan Allah).’ Sesungguhnya orang-orang zalim itu bagi mereka azab yang pedih.”
(QS. Ibrāhīm: 22)
Ayat ini menjadi kaidah ushul dalam aqidah Ahlus Sunnah wal Jamā‘ah bahwa syaithan tidak memiliki qudrah ijbāriyyah (kekuasaan memaksa), melainkan sekadar da‘wah (ajakan) dan was-was (bisikan-bisikan).
Kekhususan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam tentang ini bahwa qarīn beliau ditolong Allah, hingga masuk Islam dan tidak memerintahkan kecuali kebaikan. Ini termasuk kekhususan kenabian, bukan dalil bahwa qarīn orang shaleh pasti masuk Islam.
Allah subhānahu wata’āla berfirman:
{إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ (42)} [الحجر: 42]
“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau (wahai syaithan) tidak memiliki kekuasaan atas mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu dari golongan orang-orang yang sesat.”
(QS. al-Ḥijr: 42)
Namun, ketiadaan kekuasaan tidak berarti ketiadaan bisikan. Ini diperkuat pengakuannya di padang Mahsyar:
{قَالَ قَرِينُهُ رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلَكِنْ كَانَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ (27)} [ق: 27]
“Dan qarīn-nya (syaithan pendampingnya) berkata: ‘Wahai Rabb kami, aku tidak menyesatkannya, akan tetapi dia sendiri berada dalam kesesatan yang jauh.’”
(QS. Qāf: 27)
Ayat ini menggambarkan dialog pada hari kiamat, ketika qarīn (syaithan pendamping) berlepas diri dari manusia yang diikutinya. Ini menegaskan bahwa syaithan tidak memikul dosa manusia, karena ia tidak memaksa, hanya mengajak.
Allah subhānahu wata’āla berfirman:
{وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ (36)} [الزخرف: 36]
“Barang siapa berpaling dari peringatan Allah Yang Maha Pengasih, Kami jadikan baginya syaithan, maka syaithan itulah yang menjadi qarīn baginya.”
(QS. Az-Zukhruf: 36)
Ini menunjukkan bahwa kekuatan qarīn bergantung pada kedekatan seorang hamba kepada Allah. Dzikir dan iman melemahkan pengaruh qarīn.
Dan kita pahami bahwa gangguan syaithan adalah sunnatullah dalam ujian manusia.
Keselamatan bukan dengan menghilangkan qarīn, tetapi dengan:
•Tauhid
•Dzikir
•Ittiba‘ (mengikut) kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam.
Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallam terjaga dari pengaruh syaithan dalam risalah yang beliau dakwahkan dan amal yang beliau kerjakan.
Hadits ini menanamkan kewaspadaan aqidah, bukan ketakutan berlebihan. Ia mengajarkan bahwa musuh terbesar bukan qarīn itu sendiri, tetapi kelalaian hati dari dzikir dan ketaatan.
Wallāhu a‘lam.
