![]() |
مَحَبَّةٌ تَهْدِي وَبِرٌّ يُنْقِذُ
Bismillāhir Rahmānir Rahīm
Teks hadits sumber renungan:
Abu Hurairah berkata:
“Aku dulu selalu mengajak ibuku kepada Islam, sedangkan ia masih musyrik. Suatu hari aku mengajaknya, lalu ia mengucapkan tentang Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam sesuatu yang tidak aku sukai. Maka aku pun datang kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam sambil menangis.
Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku terus-menerus mengajak ibuku kepada Islam, tetapi ia selalu menolak. Hari ini aku mengajaknya, tetapi ia justru mengucapkan tentang engkau sesuatu yang tidak aku sukai. Maka berdoalah kepada Allah agar memberi hidayah kepada ibu Abu Hurairah.’
Lalu Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda,
«اللهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ»
‘Ya Allah, berilah hidayah kepada ibu Abu Hurairah.’
Aku pun keluar dengan hati yang gembira karena doa Nabi Allah shallallāhu ‘alaihi wasallam. Ketika aku pulang dan sampai di depan pintu, ternyata pintu itu tertutup. Ibuku mendengar suara langkah kakiku, lalu ia berkata, ‘Tetaplah di tempatmu, wahai Abu Hurairah!’ Aku mendengar suara air digerakkan.
Ia mandi, lalu memakai pakaiannya, dan ia tergesa-gesa sehingga belum sempat mengenakan kerudungnya. Ia pun membuka pintu lalu berkata,
‘Wahai Abu Hurairah, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.’
Aku pun kembali kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam. Aku mendatangi beliau sambil menangis karena gembira. Aku berkata,
‘Wahai Rasulullah, bergembiralah! Allah telah mengabulkan doamu dan memberi hidayah kepada ibu Abu Hurairah.’
Maka beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya serta mengucapkan kebaikan.
Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku dan ibuku dicintai oleh para hamba-Nya yang beriman, dan menjadikan mereka mencintai kami.’
Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam pun bersabda:
«اللهُمَّ حَبِّبْ عُبَيْدَكَ هَذَا - يَعْنِي أَبَا هُرَيْرَةَ - وَأُمَّهُ إِلَى عِبَادِكَ الْمُؤْمِنِينَ، وَحَبِّبْ إِلَيْهِمِ الْمُؤْمِنِينَ»
‘Ya Allah, jadikan hamba-Mu yang satu ini – yaitu Abu Hurairah – dan ibunya dicintai oleh hamba-hamba-Mu yang beriman, dan jadikanlah orang-orang beriman dicintai oleh mereka.’
(Abu Hurairah berkata)
فَمَا خُلِقَ مُؤْمِنٌ يَسْمَعُ بِي وَلَا يَرَانِي إِلَّا أَحَبَّنِي
“Maka tidaklah seorang mukmin diciptakan, yang mendengar tentang aku atau melihatku, melainkan pasti ia mencintaiku.”
(HR. Muslim, no. 2491)
Ada air mata yang jatuh bukan karena lemah, tetapi karena iman.
Ada doa yang lahir bukan dari kefasihan lisan, melainkan dari luka yang disimpan lama di dalam dada.
Itulah air mata Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ketika cintanya kepada Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallam diuji oleh ucapan ibunya sendiri.
Ibunya belum beriman.
Namun cintanya kepada ibunya tidak pernah surut.
Dan cintanya kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam—yang melebihi segala cinta setelah cinta kepada Sang Pencipta—tidak pernah tergadaikan
Ketika lisannya tak mampu lagi menahan pedih, Abu Hurairah tidak melawan dengan amarah. Ia mendatangi Nabi sambil menangis, lalu berkata dengan jujur, tanpa mengurangi adab dan tanpa melebihkan cerita.
Ia hanya meminta satu hal:
“Wahai Rasulullah, doakanlah agar Allah memberi hidayah kepada ibu Abu Hurairah.”
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengangkat doa:
“Allāhummahdi umma Abī Hurairah.”
Tidak lama kemudian, Allah subhānahu wata‘ala membuka hati seorang ibu.
Pintu rumah tertutup, tetapi pintu langit telah lebih dulu terbuka.
Air yang mengalir bukan hanya air mandi, melainkan air kehidupan baru: iman.
Ketika ibunya bersaksi, Abu Hurairah kembali kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam sambil menangis lagi.
Namun kali ini, air mata syukur.
Cinta yang Tidak Bertabrakan, tetapi Berurutan
Kisah ini mengajarkan bahwa Islam tidak pernah memerintahkan kita memilih antara orang tua dan Rasulullah, tetapi mengajarkan urutan cinta.
Allah subḥānahu wata‘ālā berfirman:
{وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (24)}
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada mereka ‘ah’ (kata yang mengandung kebencian), dan jangan pula membentak mereka. Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah: ‘Wahai Rabb-ku, sayangilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik dan membesarkan diriku ketika aku kecil.’”
(QS. Al-Isrā’: 23-24)
Tauhid berada di puncak.
Birrul walidain mengalir di bawahnya, menguatkan, bukan menyaingi.
Abu Hurairah tidak meridhai kesyirikan ibunya, namun ia tidak berhenti berbakti.
Ia tidak membenarkan ucapan ibunya tentang Rasulullah, namun ia tidak memutuskan kasih sayang.
Inilah keseimbangan iman.
Birrul Walidain: kepada Ayah dan Ibu
Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu tak merasa tenteram ketika dia telah menjadi muslim, dia melakukan hal terbaik kepada manusia utama yang pertama yang kita dituntut berbaik kepadanya: ayah dan ibu. Tak disebutkan ayah di dalam riwayat ini, dia berusaha semampunya mengupayakan ibunya dapat hidayah untuk Islam.
Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak aku perlakukan dengan sebaik-baiknya?’
Beliau menjawab,
«أُمُّكَ»
‘Ibumu.’
Laki-laki itu bertanya lagi, ‘Kemudian siapa?’
Beliau menjawab,
«ثُمَّ أُمُّكَ»
‘Kemudian ibumu.’
Ia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa?’
Beliau menjawab,
«ثُمَّ أُمُّكَ»
‘Kemudian ibumu.’
Ia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa?’
Beliau menjawab,
«ثُمَّ أَبُوكَ»
‘Kemudian ayahmu.’”
(HR. Al-Bukhari, no. 5971)
Cinta kepada Rasulullah, Ukuran Keimanan
Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda:
«فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ»
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah salah seorang di antara kalian beriman (dengan iman yang sempurna) sampai aku menjadi lebih ia cintai daripada orang tuanya dan anaknya.”
(HR. Al-Bukhāri, no. 14)
Abu Hurairah membuktikan hadits ini bukan dengan klaim, tetapi dengan sikap. Ia tidak diam ketika Rasulullah disakiti, namun ia tetap lembut kepada ibunya.
Dan lihatlah balasannya.
Setelah hidayah turun, Abu Hurairah meminta sesuatu yang halus:
“Wahai Rasulullah, doakan agar aku dan ibuku dicintai oleh orang-orang beriman.”
Doa itu dikabulkan.
Indikasi Keimanan: Cinta kepada Abu Hurairah dan Ibunya
Di akhir hadits, Abu Hurairah berkata:
“Tidaklah seorang mukmin mendengar tentang diriku atau melihatku, melainkan ia mencintaiku.”
Maka di sinilah faedah besar itu:
Jika dalam diri kita ada rasa cinta kepada Abu Hurairah dan ibunya radhiyallāhu ‘anhumā,
bukan karena nasab, bukan karena kisah haru semata,
tetapi karena iman, perjuangan, dan doa mereka,
maka itu termasuk indikasi bahwa di dalam diri kita ada iman.
Karena cinta kepada para sahabat Nabi adalah cabang dari cinta kepada Rasulullah.
Dan cinta kepada Rasulullah adalah ruh keimanan.
Faedah-Faedah Tambahan dari Kisah Ini:
• Doa adalah senjata terkuat bagi anak shaleh.
• Ketika hujah habis, doa tetap hidup.
• Hidayah tidak selalu datang cepat, tetapi selalu datang tepat.
• Birrul walidain tidak gugur karena perbedaan iman, tetapi disucikan olehnya.
• Menangis karena iman adalah kemuliaan, bukan kelemahan.
• Cinta yang benar melahirkan akhlak, bukan emosi.
Do’a kita:
اللَّهُمَّ ٱرْزُقْنَا حُبَّ نَبِيِّكَ، وَحُبَّ أَصْحَابِهِ، وَحُسْنَ ٱلْبِرِّ بِٱلْوَالِدَيْنِ، وَثَبَاتَ ٱلْإِيمَانِ.
Bacaan Latin:
Allāhumma rzuqnā ḥubba nabiyyika, wa ḥubba aṣhḥābih, wa ḥusnal-birri bil-wālidayn, wa tsabātal-īmān.
Terjemahan:
"Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kecintaan kepada Nabi-Mu, kecintaan kepada para sahabatnya, kemampuan untuk berbakti dengan sebaik-baiknya kepada kedua orang tua, dan keteguhan iman."
Penutup
Cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berhenti pada lisan.
Ia hidup dalam sikap, tumbuh dalam akhlak, dan teruji dalam bakti kepada orang tua.
Dan cinta kepada Abu Hurairah serta ibunya radhiyallāhu ‘anhumā
bukan sekadar simpati sejarah,
tetapi tanda hati yang masih mengenal iman.
Semoga Allah subhānahu wata‘āla menghimpun kita
bersama Nabi-Nya,
bersama para sahabat-Nya,
dan bersama orang-orang yang mencintai mereka dengan jujur.
Pariaman, Kamis, 26 Rajab 1447 H / 15 Januari 2026 M
Zulkifli Zakaria
