![]() |
اِبْقَوْا مَعَنَا وَثُبُوتُ النَّفْسِ فِي زَمَنِ السُّرْعَةِ
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm
“Ibqaw ma‘anā — tetaplah bersama kami.”
Ungkapan yang sering kita dengar dari penyiar televisi, host YouTube, atau konten apa pun yang ingin menahan perhatian kita lebih lama. Kalimat sederhana ini menggambarkan realitas zaman: semakin banyak siaran, semakin banyak pilihan, semakin mudah seseorang berpindah dari satu tayangan ke tayangan lain.
Kini, hanya dengan menggeser satu jari, seseorang berpindah dari negara ke negara, dari bahasa ke bahasa, dari topik ke topik. Dunia terbuka luas dalam satu genggaman. Namun, kemudahan ini juga mempengaruhi cara kita hidup dan berpikir.
Di balik semua itu, showroom marketing terus tampil bergantian. Banyak orang tiba-tiba sadar bahwa saldo telah menipis setelah mengikuti berbagai tawaran yang lewat di layar. Sebagian memiliki tumpukan barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan, dengan harga yang tidak murah. Inilah salah satu konsekuensi dari kehidupan yang didorong oleh visual dan promosi yang terus berjalan.
Dalam situasi seperti ini, sabda Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan sahabat beliau Abu Sa’īd Al-Khudrī radhiyallāh ‘anhu, terasa sangat dekat:
«إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ»
“Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau (menyenangkan dan memikat). Dan sungguh Allah menjadikan kalian sebagai khalifah (penguasa) di dalamnya, maka Dia akan melihat bagaimana perbuatan kalian. Karena itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita. Sebab fitnah (ujian) pertama yang menimpa Bani Israil adalah dalam urusan wanita.” (HR. Muslim, no. 2742-99)
Juga sabdanya tentang bahaya dunia ketika dibentangkan terlalu luas:
«فَأَبْشِرُوا وَأَمِّلُوا مَا يَسُرُّكُمْ، فَوَاللَّهِ مَا الفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا، كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، وَتُلْهِيَكُمْ كَمَا أَلْهَتْهُمْ»
“Maka bergembiralah kalian dan harapkanlah apa yang menyenangkan kalian. Demi Allah, bukan kefakiran yang aku takutkan menimpa kalian, tetapi aku takut dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana telah dibentangkan bagi orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan akhirnya dunia melalaikan kalian sebagaimana ia telah melalaikan mereka.” (HR. Al-Bukhārī, no. 6425 dari ‘Amru bin ‘Auf radhiyallāh ‘anhu)
Di tengah derasnya siaran dan persaingan konten, muncul fenomena lain: setiap orang ingin diperhatikan. Semakin banyak yang menyukai, semakin banyak yang mengikuti, semakin besar rasa puas dalam hati. Namun hal ini dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kagum pada dirinya sendiri.
Padahal Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan:
«بَلِ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ، وَتَنَاهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ، حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا، وَهَوًى مُتَّبَعًا، وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً، وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ، فَعَلَيْكَ - يَعْنِي - بِنَفْسِكَ، وَدَعْ عَنْكَ الْعَوَامَّ، فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ، الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ»
“Bahkan tetaplah kalian saling memerintahkan kepada yang makruf dan saling mencegah dari yang mungkar. Namun apabila engkau melihat sifat kikir ditaati, hawa nafsu diikuti, dunia lebih diutamakan, dan setiap orang merasa bangga dengan pendapatnya sendiri, maka hendaklah engkau fokus pada dirimu sendiri dan tinggalkan urusan orang banyak. Sesungguhnya akan datang setelah kalian hari-hari yang penuh kesabaran; bersabar pada masa itu seperti menggenggam bara api. Bagi seseorang yang beramal pada masa itu, ia akan mendapatkan pahala seperti pahala lima puluh orang yang melakukan amalan semisal amalannya.” (HR. Abu Dawud, no. 4341 dari Abu Tsa’labah Al-Khusyanī radhiyallāhu ‘anhu)
Ini termasuk tanda-tanda fitnah akhir zaman.
Dalam kondisi seperti ini, kita perlu lebih sering kembali kepada diri sendiri, menjaga hati agar tetap tenang dan tidak terseret arus. Allah subḥānahu wata‘ālā berfirman:
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (7)} [محمد: 7]
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan pijakan kalian.” (QS. Muhammad: 7)
Dan Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk berdoa:
«يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»
“Wahai Rabb Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzī, no. 2140 dari Anas bin Malik radhiyallāhu ‘anhu)
Zaman ini berjalan sangat cepat. Banyak yang berubah dalam hitungan detik. Namun hati seorang mukmin perlu memiliki tempat berpijak yang tetap: keikhlasan, kesederhanaan, dan kesadaran bahwa perhatian manusia tidak pernah menjadi ukuran nilai diri.
Yang paling penting bukanlah tetaplah bersama kami,
tetapi tetaplah bersama Allah, kapan pun dan di mana pun.
Pariaman, Jumat, 15 Jumadil Akhir 1447 H / 5 Desember 2025 M
Zulkifli Zakaria
