![]() |
Oleh: Duski Samad
Refleksi Survey
Rabu, 25 Desember 2025, WAMY Pusat melakukan persiapan diskusi bersama RT, RW, dan Lurah untuk penyaluran bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Batu Busuk, Kota Padang. Diskusi lapangan itu membuka satu simpulan penting: pengamalan agama masyarakat Batu Busuk bertumpu pada tradisi tarekat, khususnya Naqsabandiyah dan Syattariyah. Fakta ini bukan sekadar identitas spiritual, tetapi modal sosial yang nyata dalam menghadapi bencana.
Batu Busuk: Geografi Rawan, Masyarakat Bertahan
Secara geografis, Batu Busuk berada diapit dua bukit kecil dengan aktivitas permukiman dan ekonomi warga yang berada di Daerah Aliran Sungai (DAS). Kondisi ini menjadikan wilayah tersebut rentan terhadap banjir bandang. Dalam peristiwa terakhir, korban jiwa, harta benda, dan lahan pertanian terdampak luas—bahkan sulit dihitung secara presisi karena sebaran kerusakan yang menyeluruh.
Namun di tengah kerentanan itu, terdapat ruang-ruang sosial-keagamaan yang relatif bertahan dan berfungsi sebagai simpul solidaritas.
Surau Ubudiyah: Suluk Naqsabandiyah dan Etos Ketertiban
Surau Ubudiyah Koto Tuo Batu Busuk dikenal sebagai surau suluk Tarekat Naqsabandiyah. Di tempat inilah tazkiyah an-nafs (penyucian jiwa) dijalankan secara disiplin dan berkesinambungan.
Pembimbing suluk dan tawajuh dilakukan dulunya oleh almarhum Buya Bukhari, yang menerima silsilah dari Syekh Muda H. Muhammad Basyir (Lipekkain, Riau) dan Syekh Muda H. Muchtar Angku Tanjung.
Khalifah Naqsabdiyah saat ini adalah Buya Erizal dari Sungai Limau, Pariaman. Ritme ibadah: tawajuh dan wirid setiap Senin dan Kamis; tarawih 23 rakaat; serta shalat 40 waktu pada bulan Ramadan—banyak diikuti jamaah lanjut usia dari berbagai penjuru Padang.
Dalam sosiologi agama, praktik-praktik ini membentuk habitus ketertiban, kesabaran, dan solidaritas. Bukan kebetulan jika Surau Ubudiyah relatif aman dan cepat pulih fungsinya: ia dirawat bersama, dipatuhi aturannya, dan dijaga kehormatannya oleh komunitas.
Syattariyah di Pauh: Jaringan Ilmu dan Moderasi
Selain Naqsabandiyah, Tarekat Syattariyah juga hidup di wilayah Pauh dan sekitarnya. Berasal dari murid Buya Mato Air, yakni Tuanku Razak, yang sezaman mengaji dengan Tuanku Syukur di Simpang Pasir Pauh.
Jejak lainnya berada di Masjid Taqwa Koto Pauh, dipimpin Buya Bukhari (pegawai Kantor Lurah Pauh), alumni Surau Tuanku Panjang Sungai Sariak, Padang Pariaman.
Syattariyah dikenal dengan keseimbangan syariat–hakikat, membentuk sikap moderat, adaptif, dan kuat dalam jejaring sosial—faktor penting dalam respons bencana.
Peran Alumni MTI Batang Kabung: Pendidikan sebagai Daya Tahan
Sosok kunci lain adalah putra daerah Batu Busuk Buya Drs. Yusuf, alumni MTI Batang Kabung Padang, alumni IAIN Imam Bonjol guru dan pegawai Kemenag Kota Padang. Kontribusinya nyata dengan pendirian Madrasah Tsanawiyah di lereng bukit dekat PLTA Kuranji. Madrasah ini menjadi penopang pendidikan dan moral—bahkan ketika lingkungan sekitar dilanda banjir.
Kerangka Sosiologi Agama
Al-Qur’an menegaskan misi profetik “membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka (liyuzakkÄ«him), dan mengajarkan Kitab dan Hikmah.” (QS. Al-Jumu‘ah: 2).
Dalam kacamata sosiologi agama, tazkiyah melahirkan: Disiplin kolektif. Kepercayaan (trust). Jaringan solidaritas.
Tiga hal ini adalah aset kebencanaan yang sering luput dari perencanaan teknokratis.
Rekomendasi Kebijakan dan Aksi
Surau dan Madrasah sebagai Pusat Resiliensi.
Jadikan surau tarekat dan madrasah sebagai hub edukasi kebencanaan, logistik, dan pemulihan psikososial.
Audit Tata Ruang DAS
Penegakan sempadan sungai berbasis partisipasi warga dan kearifan lokal.
Standar Bangunan Warga.
Replikasi praktik konstruksi aman pada fasilitas publik ke hunian rakyat.
Penguatan Jaringan Tarekat.
Libatkan mursyid dan khalifah dalam komunikasi risiko dan pemulihan sosial.
Pemulihan Ekonomi Berbasis Komunitas
Dukungan pertanian, UMKM, dan kerja padat karya pascabencana melalui jejaring surau.
Penutup
Batu Busuk mengajarkan satu pelajaran penting: agama yang dihidupkan—melalui tarekat, surau, dan pendidikan—dapat menjadi daya tahan sosial di tengah bencana. Ketika alam diuji, nilai yang dirawat bersama menuntun manusia untuk bertahan, saling menguatkan, dan bangkit. Batubusuk@25122025.
