![]() |
Oleh: Duski Samad
Judul khutbah ini diucapkan dengan nada ringan namun menghujam oleh KH. Aan Sunandi, Ketua WAMY Pusat, saat peresmian Masjid Abu Abdurrahman di Padang, 25 Desember 2025. Di balik canda yang renyah, tersimpan pesan tauhid yang tegas: masjid adalah tempat mengingat Allah, dan mengingat Allah adalah inti kehidupan.
Sebab, bila Allah memanggil pulang, tak ada yang bisa menolak—dan tak seorang pun kembali ke dunia.
Mengingat Allah bukan sekadar lafaz, tetapi membaca nama-Nya, mengikuti perintah-Nya, menghentikan larangan-Nya, dan menyiarkan kebaikan-Nya setiap saat.
Dari sinilah masjid menemukan maknanya sebagai pusat peradaban ruhani.
Pilar Masjid: Imarah, Kebersihan, dan Subuh Berjamaah
1. Masjid Imarah (Dimakmurkan dengan Iman dan Amal).
Allah menegaskan:
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut kecuali kepada Allah.”
(QS. At-Taubah [9]: 18).
Imarah bukan hanya bangunan megah, tetapi hidupnya iman dan amal. Masjid yang makmur adalah masjid yang menggerakkan shalat, zakat, ilmu, ukhuwah, dan kepedulian sosial. Secara sosiologis, masjid imarah melahirkan modal sosial: kepercayaan, solidaritas, dan ketahanan komunitas.
2. Masjid Bersih (Kesucian Fisik dan Batin)
Allah berfirman:
“…Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.”(QS. At-Taubah [9]: 108).
Kebersihan masjid adalah cermin kebersihan jiwa. ritual kebersihan memperkuat disiplin kolektif dan rasa hormat pada ruang sakral. Masjid yang bersih menumbuhkan khusyuk, menenangkan batin, dan membentuk etika publik.
3. Masjid Subuh Berjamaah
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa melaksanakan shalat Isya dan Subuh berjamaah, maka ia seakan-akan shalat sepanjang malam.”(HR. Muslim)
Subuh berjamaah adalah indikator iman yang kuat. Secara psikologis, ia melatih disiplin waktu dan ketangguhan diri; secara sosial, ia membangun kohesi jamaah. Masjid yang hidup di waktu Subuh adalah masjid yang menyalakan cahaya peradaban sejak fajar.
Kematian: Kepastian yang Tak Terhindarkan
Al-Qur’an mengingatkan:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 185)
Dan pada khutbah Jumat ditegaskan:“Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, pasti akan menemui kamu…”(QS. Al-Jumu‘ah [62]: 8)
Dalam akidah Islam, mencabut nyawa adalah tugas malaikat—sebuah tupoksi ilahiah yang berjalan tepat waktu, tepat sasaran, tanpa bisa ditunda.
Metode Wafat Boleh Beragam, Kepastiannya Satu
Takdir Hidup – Ajal telah ditetapkan, tidak maju dan tidak mundur. Bencana dan Kecelakaan – Pengingat kolektif agar manusia menata kembali relasi dengan alam dan sesama. Lemah Menjaga Diri – Kelalaian terhadap kesehatan, keselamatan, dan etika hidup. Kepastian Biologis – Tubuh menua, fungsi melemah; ilmu kesehatan menegaskan batas biologis manusia.
Ilmu kedokteran menjelaskan proses biologis kematian; sosiologi membaca dampaknya pada keluarga dan komunitas; antropologi memotret ritus duka dan makna kolektifnya. Agama memberi arah: bagaimana hidup sebelum mati dan apa bekal setelahnya.
Bencana Teguran agar Hati Kembali Mengingat Allah
Bencana alam bukan sekadar peristiwa geologis atau klimatologis. Dalam pandangan iman, ia adalah ayat kauniyah—tanda-tanda Allah di alam—yang berbicara kepada nurani manusia.
Allah berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Ar-Rūm [30]: 41)
Ayat ini menegaskan bahwa bencana memiliki fungsi peringatan (tanbīh) dan pendidikan spiritual (tarbiyah ilahiyah): agar manusia kembali mengingat Allah.
Bencana Mengguncang Lupa
Dalam teologi Islam, ghaflah (lupa kepada Allah) adalah penyakit batin kolektif. Ketika manusia merasa aman oleh teknologi, kekuasaan, dan harta, Allah mengguncang rasa aman itu agar manusia sadar:
“Dan sungguh Kami telah mengutus (rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, lalu Kami timpakan kepada mereka kesengsaraan dan penderitaan agar mereka tunduk merendahkan diri.”
(QS. Al-An‘ām [6]: 42)
Bencana menyingkap fakta hakiki: manusia lemah, fana, dan sepenuhnya bergantung pada Allah. Saat itulah dzikir menjadi jujur, doa menjadi tulus, dan masjid kembali penuh.
Krisis Ekologi dan Hilangnya Etika
Ilmu lingkungan modern menegaskan bahwa banyak bencana bersifat ekologis-antropogenik:
penggundulan hutan, rusaknya daerah tangkapan air, eksploitasi tambang, dan tata ruang yang serakah.
Namun Islam melangkah lebih dalam:
krisis ekologis adalah krisis spiritual.
Ketika amanah khalifah dilupakan, alam merespons dengan ketidakseimbangan. Maka bencana menjadi alarm moral agar manusia kembali kepada nilai tauhid, keadilan, dan tanggung jawab.
Bencana Menghidupkan Kesadaran Kolektif
Dalam kajian antropologi bencana, musibah besar sering melahirkan:
Solidaritas spontan. Kembali ke simbol-simbol sakral. Masjid sebagai pusat pengungsian dan doa. Ulama dan tokoh agama sebagai rujukan makna.
Ini menunjukkan bahwa dalam kondisi ekstrem, manusia kembali mencari Tuhan. Masjid kembali hidup, dzikir mengalir, dan kesombongan runtuh.
Namun bahaya terbesar adalah lupa kembali setelah bencana berlalu.
Masjid dan Dzikir sebagai Benteng Pascabencana
Karena itu, pesan khutbah ini menjadi sangat relevan:
“Masjid adalah tempat mengingat Allah.”
Bencana seharusnya tidak hanya melahirkan bantuan fisik, tetapi juga:
Imarah masjid (QS. 9:18).
Kesucian dan kebersihan lahir-batin (QS. 9:108). Shalat Subuh berjamaah sebagai tanda hidupnya iman. Masjid pasca bencana adalah rumah pemulihan jiwa, bukan sekadar bangunan selamat.
Taushiyah
Wahai jamaah, ingatlah Allah sebelum diingatkan oleh kematian.
Makmurkan masjid dengan iman dan amal.
Jaga kebersihannya sebagai adab kepada Allah dan sesama.
Hidupkan Subuh berjamaah sebagai tanda kesiapan ruhani.
Karena bila dipanggil pulang, tak akan kembali.
Yang tersisa hanyalah amal yang ikhlas, jejak kebaikan, dan doa yang mengalir. “Ya Allah, jadikan masjid sebagai rumah kami untuk mengingat-Mu,
hidupkan Subuh kami dengan cahaya iman,
dan saat Engkau memanggil kami pulang,
terimalah kami dalam ridha-Mu.”
Wahai jamaah,
Bencana adalah surat terbuka dari Allah
yang dibaca dengan air mata,
bukan dengan kesombongan.
Ia mengingatkan bahwa:
hidup tidak kekal, kuasa manusia terbatas, dan bila Allah memanggil pulang, tak akan kembali.
Maka sebelum dipanggil:
ingatlah Allah, makmurkan masjid, hidupkan Subuh, jaga alam sebagai amanah, dan siapkan bekal pulang.
“Ya Allah, jangan jadikan musibah sebagai sekadar berita, tetapi sebagai hidayah yang menetap di hati kami.” Aamiin. DS. 26122025.
