![]() |
مِنْ أَوْرَاقِ الْكُرَّاسِ إِلَى نَقْدِ الْمَنْهَجِ
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Perjalanan memahami aqidah tidak selalu dimulai dari perdebatan besar. Bagi kami, ia bermula dari kitab-kitab tipis yang diajarkan dengan adab di pesantren. Pondok kami dahulu adalah pondok yang mengajarkan aqidah Asy‘ari. Ini bukan cela dan bukan pula sesuatu yang perlu disangkal. Itulah fase awal kami mengenal ilmu, duduk bersila di hadapan guru, menerima pelajaran dengan adab, dan membangun keyakinan berdasarkan apa yang diajarkan kepada kami saat itu.
Salah satu kitab muqarrar yang kami pelajari adalah Fath al-Majīd Syarḥ ad-Durr al-Farīd karya Syaikh Nawawi al-Bantanī rahimahullāh. Kitab ini tergolong kitab tipis, dengan model kurrās—lembaran-lembaran yang bisa dilepas—namun sarat dengan pembahasan tauhid dalam tradisi ilmu kalam. Tipis bentuknya, tetapi berat muatannya.
Di halaman 7 kitab inilah terdapat sebuah kisah panjang tentang perdebatan seorang Dahriy pada masa Ḥammād, guru Imam Abu Hanifah. Kisah ini dituturkan dengan alur yang hidup: mimpi, takwil, majelis, mimbar, serta dialog rasional yang memikat. Pada masa mondok, kisah ini kami baca apa adanya, dengan rasa kagum, tanpa jarak kritis.
Waktu itu, kami belum merasa perlu bertanya lebih jauh.
Perjalanan Ilmu yang Tidak Berhenti di Pondok
Setelah keluar dari pondok, hidup berjalan. Dan hidup, mau tidak mau, menuntut kejujuran. Ia memaksa seseorang untuk terus belajar, membaca ulang, dan menimbang kembali apa yang dahulu diterima dengan penuh kepatuhan.
Perubahan pemahaman kami tidak terjadi di pesantren, tetapi setelah keluar dari pesantren, seiring perjalanan hidup yang mesti diisi dengan mencari ilmu yang benar. Bukan karena membenci guru, bukan pula karena meremehkan warisan ulama, melainkan karena semakin terasa bahwa aqidah adalah perkara besar, yang tidak cukup ditopang oleh kecerdikan logika dan kisah-kisah retoris semata.
Di titik itulah kami mulai belajar membedakan:
• antara kisah dan aqidah,
• antara ilustrasi logika dan dalil syar‘i,
• antara manhaj kalam dan manhaj salaf.
Kisah Ini Sebagai Objek Bahasan
Untuk menjaga kejujuran ilmiah, kisah Dahriy dalam Fath al-Majīd ini tidak kami ringkas, tidak pula kami petik sepotong-sepotong. Ia lebih adil jika dihadirkan secara utuh, lalu dibaca sebagai objek bahasan, bukan sebagai fondasi keyakinan. Dalam kaidah Ahlus Sunnah, kisah tanpa sanad—meski masyhur—tidak dijadikan ushul aqidah.
Karena itu, kisah berikut akan diletakkan di sini apa adanya, sebagaimana terdapat dalam kitab, agar pembaca dapat menilainya secara jernih dan proporsional.
Teks asli dalam bahasa Arab:
حُكِيَ أَنَّ دَهْرِيًّا جَاءَ فِي زَمَنِ حَمَّادٍ شَيْخِ أَبِي حَنِيفَةَ، فَأَلْزَمَ جَمِيعَ العُلَمَاءِ مِنْ جِهَةِ وُجُودِ اللَّهِ بِلا مَكَانٍ، وَقَالَ: هَلْ بَقِيَ مِنْ عُلَمَائِكُمْ أَحَدٌ؟ قَالُوا: بَقِيَ حَمَّادٌ. فَقَالَ الدَّهْرِيُّ لِلْخَلِيفَةِ: أَحْضِرْهُ أَيُّهَا الخَلِيفَةُ لِيَتَكَلَّمَ مَعِي. فَدَعَاهُ، فَقَالَ: أَمْهِلُونِي اللَّيْلَةَ.
فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَهُ أَبُو حَنِيفَةَ ـ وَكَانَ صَغِيرًا ـ لِيَتَكَلَّمَ مَعَهُ، فَرَآهُ مَغْمُومًا، فَسَأَلَهُ عَنْ ذٰلِكَ، فَقَالَ: كَيْفَ لَا أَغْتَمُّ، وَقَدْ دُعِيتُ إِلَى التَّكَلُّمِ مَعَ الدَّهْرِيِّ، وَقَدْ أَلْزَمَ جَمِيعَ العُلَمَاءِ؟ وَرَأَيْتُ البَارِحَةَ رُؤْيَا مُنْكَرَةً. قَالَ: وَمَا هِيَ؟ قَالَ: رَأَيْتُ دَارًا وَاسِعَةً مُزَيَّنَةً، وَفِيهَا شَجَرَةٌ مُثْمِرَةٌ، فَخَرَجَ مِنْ رُكْنٍ مِنْ أَرْكَانِ الدَّارِ خِنْزِيرٌ، فَأَكَلَ الثَّمَرَ وَالوَرَقَ وَالأَغْصَانَ، حَتَّى لَمْ يَبْقَ إِلَّا أَصْلُ تِلْكَ الشَّجَرَةِ، فَخَرَجَ مِنْ أَصْلِهَا أَسَدٌ، فَقَتَلَ الخِنْزِيرَ.
فَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: إِنَّ اللَّهَ قَدْ عَلَّمَنِي عِلْمَ التَّعْبِيرِ، فَهٰذِهِ الرُّؤْيَا خَيْرٌ لَنَا، شَرٌّ لِأَعْدَائِنَا، فَلَوْ أَذِنْتَ لِي فِي تَعْبِيرِهَا لَعَبَّرْتُهَا. فَقَالَ حَمَّادٌ: عَبِّرْ يَا نُعْمَانُ. فَقَالَ: الدَّارُ الوَاسِعَةُ المُزَيَّنَةُ دَارُ الإِسْلَامِ، وَالشَّجَرَةُ المُثْمِرَةُ هُمُ العُلَمَاءُ، وَأَصْلُهَا البَاقِي أَنْتَ، وَالخِنْزِيرُ هُوَ الدَّهْرِيُّ، وَالأَسَدُ الَّذِي يُهْلِكُهُ أَنَا. فَأَذْهَبُ أَنَا مَعَكَ، فَبِبَرَكَةِ هِمَّتِكَ وَحَضْرَتِكَ أَتَكَلَّمُ مَعَهُ وَأُلْزِمُهُ.
فَخَرَجَ حَمَّادٌ، ثُمَّ قَامَا مِنْ سَاعَتِهِمَا إِلَى مَسْجِدِ الجَامِعِ، فَجَاءَ الخَلِيفَةُ، وَاجْتَمَعَ النَّاسُ فِي مَجْلِسِ حَمَّادٍ بِذٰلِكَ المَسْجِدِ، وَوَقَفَ أَبُو حَنِيفَةَ بِحِذَائِهِ، تَحْتَ سَرِيرٍ، رَافِعًا نَعْلَهُ وَنَعْلَ شَيْخِهِ.
فَحَضَرَ الدَّهْرِيُّ، وَصَعِدَ المِنْبَرَ، وَقَالَ: مَنِ المُجِيبُ لِسُؤَالِي؟ فَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: مَا هٰذَا القَوْلُ؟ سَلْ، فَمَنْ يَعْلَمْ يُجِيبْكَ.
فَقَالَ: وَمَنْ أَنْتَ يَا صَبِيُّ تَتَكَلَّمُ مَعِي؟ كَمْ مِنْ ذَوِي الأَسْنَانِ الكِبَارِ، وَالعَمَائِمِ العِظَامِ، وَأَصْحَابِ الثِّيَابِ الفَاخِرَةِ، وَالأَكْمَامِ الوَاسِعَةِ، قَدْ عَجَزُوا عَنِّي، فَكَيْفَ تَتَكَلَّمُ أَنْتَ مَعِي، مَعَ صِغَرِ سِنِّكَ وَحَقَارَةِ نَفْسِكَ؟
قَالَ: هَلْ أَنْتَ مُجِيبٌ عَنْ سُؤَالِي؟ قَالَ: نَعَمْ، أُجِيبُكَ بِتَوْفِيقِ اللَّهِ. قَالَ: أَاللَّهُ مَوْجُودٌ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَيْنَ هُوَ؟ قَالَ: لَا مَكَانَ لَهُ. قَالَ: وَكَيْفَ يَكُونُ مَوْجُودًا وَلَا مَكَانَ لَهُ؟ قَالَ: لِهٰذَا دَلِيلٌ فِي بَدَنِكَ. قَالَ: وَمَا هُوَ؟ قَالَ: أَفِي جَسَدِكَ رُوحٌ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَيْنَ رُوحُكَ؟ أَفِي رَأْسِكَ أَمْ فِي بَطْنِكَ أَمْ فِي رِجْلِكَ؟ فَتَحَيَّرَ الدَّهْرِيُّ.
ثُمَّ دَعَا أَبُو حَنِيفَةَ بِلَبَنٍ، فَقَالَ: أَفِي هٰذَا اللَّبَنِ سَمْنٌ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَيْنَ مَكَانُ سَمْنِهِ؟ أَفِي أَعْلَاهُ أَمْ فِي أَسْفَلِهِ؟ فَتَحَيَّرَ الدَّهْرِيُّ. فَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: كَمَا لَا مَكَانَ لِلرُّوحِ فِي البَدَنِ، وَلَا مَكَانَ لِلسَّمْنِ فِي اللَّبَنِ، فَكَذٰلِكَ لَا مَكَانَ لِلَّهِ فِي الكَوْنِ.
ثُمَّ قَالَ الدَّهْرِيُّ: فَمَا كَانَ قَبْلَ اللَّهِ، وَمَا يَكُونُ بَعْدَهُ؟ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: لَا شَيْءَ قَبْلَهُ، وَلَا شَيْءَ بَعْدَهُ. قَالَ: كَيْفَ يُتَصَوَّرُ مَوْجُودٌ لَا شَيْءَ قَبْلَهُ وَلَا شَيْءَ بَعْدَهُ؟ قَالَ: لِهٰذَا دَلِيلٌ فِي بَدَنِكَ أَيْضًا. قَالَ: وَمَا هُوَ؟ قَالَ: فَمَا قَبْلَ إِبْهَامِكَ، وَمَا بَعْدَ خِنْصِرِكَ؟ قَالَ: لَا شَيْءَ قَبْلَ إِبْهَامِي، وَلَا شَيْءَ بَعْدَ خِنْصِرِي. قَالَ: فَكَذٰلِكَ اللَّهُ، لَا شَيْءَ قَبْلَهُ وَلَا شَيْءَ بَعْدَهُ.
قَالَ: بَقِيَتْ مَسْأَلَةٌ وَاحِدَةٌ. قَالَ: أُجِيبُ عَنْهَا إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى. قَالَ: فَمَا شَأْنُ اللَّهِ الآنَ؟ قَالَ: إِنَّكَ قَدْ عَكَسْتَ الأَمْرَ؛ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ المُجِيبُ فَوْقَ المِنْبَرِ، وَالسَّائِلُ تَحْتَ المِنْبَرِ، فَأُجِيبَكَ إِنْ نَزَلْتَ. فَنَزَلَ الدَّهْرِيُّ، وَصَعِدَ أَبُو حَنِيفَةَ عَلَى المِنْبَرِ، فَلَمَّا جَلَسَ عَلَيْهِ، سَأَلَهُ، فَأَجَابَهُ بِقَوْلِهِ: شَأْنُ اللَّهِ الآنَ إِسْقَاطُ المُبْطِلِ مِثْلَكَ مِنَ الأَعْلَى إِلَى الأَدْنَى، وَإِصْعَادُ المُحِقِّ مِثْلِي مِنَ الأَدْنَى إِلَى الأَعْلَى.
فَتْحُ المَجِيدِ، شَرْحُ الدُّرِّ الفَرِيدِ، رقم الصفحة 7
Terjemahannya dalam bahasa Indonesia:
Dikisahkan bahwa seorang Dahri (penganut paham dahriyyah) datang pada masa Ḥammād, guru Abū Ḥanīfah. Ia berhasil membungkam seluruh ulama dalam perdebatan tentang keberadaan Allah tanpa tempat. Ia berkata, “Apakah masih tersisa seorang pun dari ulama kalian?” Mereka menjawab, “Masih ada Ḥammād.”
Maka orang Dahri itu berkata kepada khalifah, “Hadirkan dia, wahai Khalifah, agar ia berbicara denganku.” Lalu khalifah memanggilnya. Ḥammād berkata, “Tangguhkan aku sampai malam ini.”
Ketika pagi tiba, Abū Ḥanīfah datang menemuinya—saat itu ia masih kecil—untuk berbicara dengannya. Ia melihat gurunya dalam keadaan sedih, lalu ia bertanya tentang hal itu. Ḥammād berkata, “Bagaimana mungkin aku tidak bersedih, sementara aku dipanggil untuk berdialog dengan seorang Dahri yang telah mengalahkan seluruh ulama? Dan tadi malam aku melihat mimpi yang mengerikan.” Abū Ḥanīfah bertanya, “Apakah itu?”
Ḥammād berkata, “Aku melihat sebuah rumah yang luas dan indah. Di dalamnya terdapat sebuah pohon yang berbuah. Lalu dari salah satu sudut rumah itu keluar seekor babi yang memakan buah, daun, dan rantingnya, hingga tidak tersisa kecuali akar pohon itu. Kemudian dari akar tersebut keluar seekor singa yang membunuh babi itu.”
Abū Ḥanīfah berkata, “Sesungguhnya Allah telah mengajarkanku ilmu penakwilan mimpi. Mimpi ini adalah kebaikan bagi kita dan keburukan bagi musuh-musuh kita. Jika engkau mengizinkanku menakwilkannya, niscaya aku akan menakwilkannya.” Ḥammād berkata, “Takwilkanlah, wahai Nu‘mān.”
Abū Ḥanīfah berkata, “Rumah yang luas dan indah itu adalah Islam. Pohon yang berbuah itu adalah para ulama. Akar yang masih tersisa itu adalah engkau. Babi itu adalah orang Dahri. Sedangkan singa yang membinasakannya adalah aku. Maka aku akan pergi bersamamu. Dengan berkah kesungguhan dan kehadiranmu, aku akan berbicara dengannya dan membungkamnya.”
Maka Ḥammād pun keluar. Keduanya segera berangkat menuju Masjid Jāmi‘. Khalifah datang, dan orang-orang berkumpul dalam majelis Ḥammād di masjid tersebut. Abū Ḥanīfah berdiri di sampingnya, di bawah sebuah dipan, sambil mengangkat sandalnya dan sandal gurunya.
Orang Dahri itu pun datang dan naik ke mimbar. Ia berkata, “Siapakah yang akan menjawab pertanyaanku?” Abū Ḥanīfah berkata, “Ucapan apakah ini? Ajukanlah pertanyaanmu. Siapa yang mengetahui jawabannya, ia akan menjawabmu.”
Orang Dahri itu berkata, “Siapakah engkau, wahai bocah, hingga berani berbicara denganku? Betapa banyak orang-orang yang sudah lanjut usia, bersorban besar, berpakaian mewah, dan berlengan baju lebar yang telah kalah olehku. Lalu bagaimana mungkin engkau berbicara denganku, padahal usiamu masih kecil dan dirimu hina?”
Abū Ḥanīfah berkata, “Apakah engkau ingin aku menjawab pertanyaanmu?” Ia menjawab, “Ya.” Abū Ḥanīfah berkata, “Aku akan menjawabmu dengan taufik dari Allah.”
Orang Dahri bertanya, “Apakah Allah itu ada?” Ia menjawab, “Ya.” Orang Dahri berkata, “Kalau begitu, di manakah Dia?” Abū Ḥanīfah menjawab, “Dia tidak memiliki tempat.” Orang Dahri berkata, “Bagaimana mungkin sesuatu itu ada, tetapi tidak memiliki tempat?”
Abū Ḥanīfah berkata, “Untuk itu ada dalil pada tubuhmu sendiri.” Ia bertanya, “Apakah itu?” Abū Ḥanīfah berkata, “Apakah di dalam tubuhmu ada ruh?” Ia menjawab, “Ya.” Abū Ḥanīfah berkata, “Di manakah ruhmu? Di kepalamu, di perutmu, atau di kakimu?” Maka orang Dahri itu pun kebingungan.
Kemudian Abū Ḥanīfah meminta susu dan berkata, “Apakah di dalam susu ini terdapat lemak?” Ia menjawab, “Ya.” Abū Ḥanīfah berkata, “Di manakah letak lemaknya? Di bagian atas atau di bagian bawah?” Maka orang Dahri itu pun kebingungan.
Abū Ḥanīfah berkata, “Sebagaimana ruh tidak memiliki tempat di dalam tubuh, dan lemak tidak memiliki tempat tertentu di dalam susu, demikian pula Allah tidak memiliki tempat di alam semesta.”
Kemudian orang Dahri itu berkata, “Lalu apa yang ada sebelum Allah, dan apa yang ada setelah-Nya?” Abū Ḥanīfah menjawab, “Tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya, dan tidak ada sesuatu pun setelah-Nya.”
Ia berkata, “Bagaimana mungkin dibayangkan adanya sesuatu yang tidak didahului oleh apa pun dan tidak diakhiri oleh apa pun?” Abū Ḥanīfah menjawab, “Untuk itu juga ada dalil pada tubuhmu.” Ia berkata, “Apakah itu?” Abū Ḥanīfah berkata, “Apa yang ada sebelum ibu jarimu, dan apa yang ada setelah kelingkingmu?” Ia menjawab, “Tidak ada sesuatu pun sebelum ibu jariku dan tidak ada sesuatu pun setelah kelingkingku.” Abū Ḥanīfah berkata, “Demikian pula Allah; tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya dan tidak ada sesuatu pun setelah-Nya.”
Orang Dahri itu berkata, “Masih tersisa satu persoalan.” Abū Ḥanīfah berkata, “Aku akan menjawabnya, insya Allah Ta‘ala.” Ia berkata, “Apakah urusan Allah sekarang ini?”
Abū Ḥanīfah menjawab, “Engkau telah membalikkan keadaan. Seharusnya yang menjawab berada di atas mimbar, dan yang bertanya berada di bawah mimbar. Aku akan menjawab pertanyaanmu jika engkau turun.”
Maka orang Dahri itu pun turun, dan Abū Ḥanīfah naik ke mimbar. Ketika ia telah duduk di atasnya, orang Dahri itu bertanya kepadanya. Abū Ḥanīfah menjawab, “Urusan Allah saat ini adalah menjatuhkan orang yang batil sepertimu dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, dan mengangkat orang yang benar sepertiku dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi.”
(Fatḥ al-Majīd, Syarḥ ad-Durr al-Farīd, hlm. 7)
Membaca Ulang dengan Timbangan Manhaj Salaf
Perlu ditegaskan terlebih dahulu bahwa penilaian berikut ini sama sekali tidak diarahkan kepada Imam Abū Ḥanīfah rahimahullāh—yang aqidahnya dalam riwayat-riwayat tsabit justru sangat dekat dengan manhaj salaf—melainkan kepada kisah pedagogis yang dinisbatkan kepadanya tanpa sanad, sebagaimana terdapat dalam sebagian kitab muta’akhkhir.
Ketika kisah tersebut dibaca ulang dengan timbangan manhaj salaf, tampak jelas bahwa ia adalah kisah pedagogis, disampaikan dengan lafaz ḥukiya (diceritakan), tanpa sanad, dan dibangun dengan pendekatan rasional khas mutakallimīn: analogi, qiyās, dan ilustrasi akal.
Makna globalnya memang tidak keluar dari Ahlus Sunnah dalam pengertian umum: menetapkan wujud Allah dan membantah ateisme. Namun dari sisi metode, ia tidak mencerminkan metode aqidah salaf generasi awal yang bertumpu langsung pada nash.
Salaf tidak menjadikan analogi ruh dan benda sebagai fondasi penetapan aqidah, meskipun mereka terkadang menggunakan penalaran sederhana untuk membantah syubhat. Tidak menimbang Dzat Allah dengan makhluk, dan tidak menjadikan kisah sebagai sandaran keyakinan.
Salaf berhenti pada nash, menetapkan tanpa menyerupakan, dan menyerahkan hakikat kepada Allah, bilā takyīf wa bilā tamtsīl
Kritik terhadap metode bukanlah penolakan terhadap turats. Turats adalah khazanah besar yang di dalamnya terdapat nash, ijtihad, kisah, dan metode yang beragam. Tugas penuntut ilmu bukan memilih semuanya atau menolak semuanya, tetapi menempatkan setiap teks pada maqamnya.
Sikap yang Kami Pilih Hari Ini
Karena itu, sikap kami hari ini adalah:
• menghormati kitab ini sebagai bagian dari sejarah keilmuan,
• menghargai pondok sebagai fase pembentukan diri,
• namun tidak menjadikannya rujukan aqidah.
Ini bukan bentuk pengingkaran, melainkan kelanjutan dari proses belajar. Ilmu tidak berhenti di satu kitab, dan kebenaran tidak terikat pada satu madrasah.
Penutup
Fath al-Majīd adalah kitab tipis berlembar kurrās, tetapi ia menyimpan satu pelajaran besar:
• bahwa iman harus dijaga dari campuran metode,
• bahwa ilmu perlu terus ditimbang,
• dan bahwa mencari kebenaran adalah perjalanan seumur hidup.
Kami bersyukur pernah mempelajarinya.
Dan kami bersyukur pula diberi kesempatan oleh Allah untuk terus melangkah, mencari ilmu yang kami yakini lebih dekat kepada kebenaran.
Wallāhu a‘lam
Pariaman, Kamis, 5 Rajab 1447 H / 25 Desember 2025 M
Zulkifli Zakaria
