![]() |
تَواصُلُ الْقُلُوبِ مَعَ الْبَيْتِ بَعْدَ الرَّحِيلِ
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm
Dalam dua hari ini, penulis menonton sebuah video di YouTube. Seorang muthawwif di Makkah membimbing umrah keluarga seorang pemain band terkenal. Mereka bertalbiyah bersama, menunaikan thawaf dan sa’i, lalu ia mengantar mereka hingga ke Bandara Jeddah. Melihat rombongan itu melangkah meninggalkan Tanah Haram, penulis kembali merasakan suasana batin yang selalu hadir setiap kali melihat orang pulang dari Makkah: ada cahaya yang baru menyala, dan ada beban hati yang belum selesai.
Amalan terakhir sebelum meninggalkan Ka’bah setelah menyelesaikan ibadah haji atau umrah adalah thawaf wada’. Dari Thāwūs, ia berkata—sebagian sahabat kami mengatakan: ini dari Ibnu ‘Abbās—ia berkata: ”Dahulu orang-orang (jamaah haji) berpaling pulang ke segala arah (meninggalkan Makkah begitu saja). Maka Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda:
«لَا يَنْفِرُ أَحَدٌ، حَتَّى يَكُونَ آخِرَ عَهْدِهِ بِالْبَيْتِ»
“Janganlah seorang pun beranjak pulang sampai akhir perjumpaannya (perbuatannya) adalah dengan (thawaf) di Baitullah.”
(HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, no. 13597)
Menurut banyak ulama, thawaf wada’ merupakan kewajiban bagi jamaah haji, namun hanya bersifat anjuran bagi mereka yang selesai menunaikan umrah.
Penulis sendiri, setiap kali melakukan thawaf wada’, baik sebagai jamaah maupun sebagai pembimbing rombongan pada dua belas tahun terakhir, selalu membawa doa yang sama: Ya Allah, terimalah perjalanan ini. Jadikan ia penguat sisa umurku setelah pulang. Dan jangan biarkan langkah ini menjadi langkah terakhir menuju rumah-Mu. Kadang ketika mendampingi jamaah menuju terminal keberangkatan, hati terasa seperti masih tertinggal di depan Ka’bah, meski tubuh sudah bergerak meninggalkan Masjidil Haram.
Dua puluh tahun lalu, penulis menyaksikan suatu pemandangan yang tidak pernah pudar dari ingatan. Seorang lelaki Afrika menutup ibadah hajinya dengan thawaf wada’. Ketika Masjidil Haram masih dalam bangunan lamanya, ia melakukan sesuatu yang aneh namun menggetarkan. Setelah selesai thawaf, ia tidak membalikkan badan. Ia berjalan mundur, perlahan, surut ke belakang, dan ketika sampai di tepi mathāf, ia menaiki anak tangga tetap dengan posisi menghadap ke Ka’bah.
Terlepas apakah ini termasuk bid‘ah atau sikap berlebihan, ada getaran ketulusan yang sulit disangkal. Ia seperti sedang berkata lewat langkahnya: “Wahai Rabbku, aku pulang, tapi hatiku tidak ingin pergi.”
Tamu Allah dan Konsekuensi Kepulangan
Rasulullāh shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda sebagaimana disampaikan Ibnu ‘Umar radhiyallāhu ‘anhuma:
«الْغَازِي فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ، وَفْدُ اللَّهِ، دَعَاهُمْ، فَأَجَابُوهُ، وَسَأَلُوهُ، فَأَعْطَاهُمْ»
“Mujahid (orang yang berperang) di jalan Allah, orang yang berhaji, dan orang yang berumrah adalah tamu-tamu Allah. Dia memanggil mereka lalu mereka memenuhi panggilan-Nya; dan mereka meminta kepada-Nya, maka Dia memberi mereka.”
(HR. Ibnu Majah, no. 2893)
Tamu Allah pulang dengan membawa sesuatu. Dan konsekuensi kepulangan itu adalah perubahan.
Allah subhānahu wata’ālā berfirman:
{فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ (200) وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201) أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ (202) } [البقرة: 200 - 202]
“Apabila kalian telah selesai menunaikan manasik haji kalian, maka berzikirlah kepada Allah sebagaimana kalian dahulu menyebut-nyebut nenek moyang kalian, bahkan dengan zikir yang lebih kuat. Di antara manusia ada yang berdoa: ‘Wahai Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,’ padahal baginya tidak ada bagian apa pun di akhirat. Dan ada pula di antara mereka yang berdoa: ‘Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka.’
Mereka itulah yang memperoleh bagian (balasan) dari apa yang mereka usahakan, dan Allah Mahacepat perhitungan-Nya.”
(QS. Al-Baqarah: 202)
Allah tidak menjadikan haji dan umrah sebagai “liburan spiritual”, tetapi titik balik kehidupan.
Bagaimana Dengan Mereka yang Sebelumnya Musisi, Penyanyi, atau Artis?
Di sinilah letak keagungan hidayah.
Jika seorang pemain band yang terbiasa berada di panggung, mengenakan pakaian glamor dan tampil di hadapan ribuan manusia, lalu berdiri sebagai hamba di depan Ka’bah—maka dua dunia itu bertabrakan dalam satu momen kejujuran.
Bagaimana kepulangan mereka?
Semestinya lebih kuat dampaknya daripada banyak orang biasa.
Mereka pulang dengan:
– Hati yang telah merasakan bersujud di depan Ka’bah.
– Jiwa yang pernah larut dalam talbiyah: Labbaikallahumma labbaik…
– Kesadaran bahwa dunia panggung, sorotan lampu, dan tepuk tangan manusia tidak ada nilainya dibanding satu sujud yang diterima di depan Allah.
Dan jika yang pulang itu seorang wanita—yang sebelumnya berada di atas panggung dengan pakaian artis, berdandan penuh, dan menjadi konsumsi pandangan manusia—maka perubahan yang dituntut darinya lebih lembut tetapi lebih dalam.
Ia baru saja mengenakan ihram yang sederhana, menutup aurat dengan penuh kehambaan, dan berjalan antara Shafa dan Marwah sambil menyerahkan jiwa kepada Allah. Maka kepulangannya seharusnya membuatnya lebih mulia, lebih terjaga, lebih teduh, dan lebih dekat kepada fitrah.
Sesungguhnya haji dan umrah mengembalikan manusia kepada jati diri paling awal: seorang hamba.
Jika seorang artis pulang tanpa perubahan, maka ia kehilangan hadiah terbesar dari perjalanan itu.
Jauh di Tubuh, Dekat di Arah
Tubuh boleh terbang kembali ke negeri masing-masing.
Tetapi arah tak boleh berubah.
Ka’bah tetap menjadi Kiblat.
Dan Kiblat bukan sekadar bangunan; ia adalah kompas hidup.
Setiap kali adzan berkumandang, kita kembali menghadap ke rumah yang sama.
Setiap kali takbiratul ihram, kita kembali menyampaikan segala keluh kepada Pemilik Ka’bah.
Kita seakan-akan diberi pesan:
“Engkau memang pergi dari rumah ini, tapi jangan pernah pergi dari arah ini.”
Bekal Sisa Umur Setelah Menjadi Tamu Allah
Siapapun yang pulang—ustadz, pedagang, pejabat, pemain band, penyanyi, artis, lelaki ataupun perempuan—maka setelah menjadi tamu Allah, ia menanggung amanah:
– Menjaga shalat dengan semangat sebagaimana ia shalat di Tanah Haram.
– Menjaga lisannya sebagaimana ia menahan ucapan saat ihram.
– Menjaga hati sebagaimana ia menjaganya ketika memandang Ka’bah.
– Menjaga langkah sebagaimana ia mengelilingi Baitullah dalam thawaf.
Siapa pun yang pernah berdiri di depan Ka’bah, ia tahu bahwa hidup setelah itu tidak boleh sama seperti sebelumnya.
Ka’bah tetap tegak.
Ia tidak berubah, tidak bergeser, tidak berkurang mulianya.
Kitalah yang harus berubah.
Penutup
Begitulah kepulangan seorang hamba setelah menjadi tamu Allah: bukan sekadar kembali ke tanah air, tetapi kembali membawa amanah baru, yakni menjaga arah hidup agar tetap menuju Kiblat, sampai Allah mengizinkan kita kembali lagi ke rumah-Nya sebagai tamu yang lebih matang, lebih tunduk, dan lebih mengenal-Nya.
Semoga Allah menerima ibadah kita, memperdalam pengaruhnya pada sisa umur, dan memudahkan kita kembali lagi menjadi tamu-Nya—dengan hati yang lebih jernih, niat yang lebih lurus, dan hidup yang lebih terarah menuju-Nya.
Āmīn, wahai Rabb Pemilik Ka’bah.
Pariaman, Senin, 4 Jumadil Akhirah 1447 H / 24 November 2025 M
Zulkifli Zakaria
