![]() |
نَفَسٌ بَعْدَ الْمَطَرِ
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm
Ada masa ketika hujan turun lembut seperti doa. Namun beberapa hari yang lalu, hujan turun seperti teguran dari langit. Rintiknya tidak berhenti, suaranya tidak mereda. Air menggenang, sungai meluap, tanah retak dan bergerak, jalan terputus, rumah-rumah terseret arus, dan jiwa-jiwa kembali kepada Allah sebelum sempat berpamitan.
Di tengah gelap, kita meraba-raba diri sendiri. Betapa lemahnya manusia, betapa cepatnya dunia berubah, dan betapa dekatnya Allah dalam doa-doa kita yang pecah oleh rasa takut.
Setiap musibah adalah ayat. Kadang ayat itu tertulis di mushaf, kadang ia turun melalui langit yang murka, angin yang mengamuk, air yang menelan apa pun yang dilaluinya. Dan di balik setiap ayat itu ada panggilan: “Kembalilah kepada-Ku.”
Lalu hari ini, langit kembali biru. Matahari kembali menyentuh bumi. Udara kembali hangat. Aktivitas berjalan seperti biasa. Kita tersenyum, kita sibuk, kita mengejar hal-hal yang kemarin sempat ditinggalkan karena cuaca.
Tetapi pertanyaannya belum berubah:
Apakah hati kita berubah bersama hujan itu?
Apakah kita masih mengadu kepada-Nya seperti saat malam-malam basah itu?
Atau kita sudah kembali merasa kuat, merasa mampu, merasa tidak terlalu membutuhkan Dia yang menggenggam segala sesuatu antara hujan dan matahari?
Allah Ta‘ala menjelaskan sifat manusia dengan gambaran yang begitu dekat dengan kehidupan:
{وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ (32)} [لقمان: 32]
“Dan apabila gelombang besar menutupi mereka seperti awan, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh ketulusan kepada-Nya dalam menjalankan agama. Tetapi setelah Allah menyelamatkan mereka ke daratan, maka di antara mereka ada yang tetap pertengahan (antara syukur dan ingkar). Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali setiap orang yang sangat berkhianat dan sangat ingkar.” (QS. Luqman: 32)
Inilah wajah manusia: ketika gelombang mengancam, ia mengingat Allah dengan ikhlas. Tetapi ketika selamat, sebagian kembali pertengahan, kembali biasa-biasa saja, kembali seolah tidak pernah merasakan ketakutan yang membuatnya bersujud panjang.
Ibnu Katsīr rahimahullāh menjelaskan:
Allah berfirman:
}فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ {
“Maka ketika Dia menyelamatkan mereka ke daratan, maka di antara mereka ada yang pertengahan (dalam amal).”
Mujahid berkata: “Yang dimaksud—dengan muqtashid—adalah orang kafir.” Yaitu yang mengingkari nikmat setelah selamat, sebagaimana firman Allah:
}فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ {
“Maka ketika Dia menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka mempersekutukan Allah.” (QS. Al-‘Ankabut: 65)
Ibn Zaid berkata: “Muqtashid adalah orang yang pertengahan dalam beramal.”
Sebagaimana firman-Nya:
}فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ {
“Maka di antara mereka ada yang menzalimi dirinya, yang pertengahan, dan ada yang berlomba dalam kebaikan.” (QS. Fathir: 32)
Makna ini sangat mungkin juga dimaksudkan pada ayat sebelumnya. Inilah teguran bagi manusia yang telah melihat kedahsyatan, tanda-tanda kebesaran Allah, ketakutan yang mengguncang jiwa, namun setelah nikmat keselamatan datang, ia kembali biasa-biasa saja. Padahal kondisi itu menuntut dirinya untuk lebih tekun beribadah, lebih cepat taat, dan lebih sempurna dalam bersyukur.
Barang siapa kembali “pertengahan” setelah diselamatkan dari bahaya besar—padahal ia baru saja menyaksikan kuasa Allah yang begitu nyata—maka ia telah kurang memenuhi tuntutan keadaan.
Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
(Tafsīr Al-Qur'ān Al- 'Azhīm, cetakan Al-Maktabah Al-Islamiyah, Kairo, th. 1438 H - 2003 M, 5/706)
Renungan ini sangat dekat dengan kita:
Ketika air naik, kita mengangkat tangan.
Ketika banjir datang, kita menyebut nama Allah berulang kali.
Ketika jalan putus, kita merasakan betapa lemahnya manusia.
Namun ketika hujan reda, apakah kita tetap merasakan kelemahan itu?
Atau kita kembali berdiri tegak seakan tidak pernah menggigil ketakutan?
Ketahuilah, ujian bukan hanya ketika hujan turun, tetapi juga ketika hujan berhenti.
Kesempitan menguji ketabahan kita,
tetapi kelapangan menguji kejujuran syukur kita.
Betapa indahnya seorang hamba yang tetap rendah hati setelah ditinggikan, tetap menangis setelah diselamatkan, tetap bersandar setelah diberi kelapangan.
Jika hujan mengajarkan kita takut kepada Allah, maka matahari seharusnya mengajarkan kita syukur kepada-Nya.
Jika musibah membawa kita kepada doa, maka nikmat seharusnya membawa kita kepada ketaatan.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang mengenal-Nya dalam gelap dan terang, dalam banjir dan matahari, dalam ketakutan dan kelapangan.
Āmīn, wahai Rabb kami yang selalu membolak-balik qalbu.
Pariaman, Sabtu, 9 Jumadil Akhir 1447 H / 29 November 2025 M
Zulkifli Zakaria
