![]() |
تَجَلِّياتُ قُدْرَةِ اللهِ وَانْهِيارُ صُنْعِ الْإِنْسَانِ
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm
Dalam perjalanan sejarah, selalu ada saat ketika Allah subḥānahu wata‘ālā menyingkapkan sebagian kecil saja dari kekuasaan-Nya. Pada saat itu, manusia yang merasa kuat tiba-tiba menyadari betapa rapuhnya ia. Peradaban yang dibanggakan, teknologi yang diagungkan, dan perencanaan yang disusun rapi, semuanya dapat runtuh dalam hitungan hari, bahkan detik.
Allah berfirman:
{ إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (82)} [يس: 82]
“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka jadilah ia.”
(QS. Yāsīn: 82)
Dan firman-Nya:
{وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (29) } [التكوير: 29]
“Kalian tidak dapat berkehendak kecuali apabila Allah, Rabb semesta alam, menghendaki.”
(QS. At-Takwīr: 29)
Beberapa hari ini, dunia seperti menampilkan panggung besar yang memperlihatkan betapa kecilnya manusia.
Di Iran, negeri berkekuatan nuklir yang digunakan untuk menunjukkan pengaruh politiknya, ternyata tak berdaya menghadapi ketetapan ekologis yang Allah turunkan. Tanah amblas hingga 30 cm per tahun, air bersih menipis, udara tercemar, ancaman krisis semakin nyata, hingga muncul rencana besar memindahkan ibu kota dari Teheran ke kawasan selatan.
Paradoks yang menyedihkan.
Sebuah negeri yang bisa mengguncang dunia, tetapi gamang mempertahankan kebutuhan dasar warganya.
Di tanah air kita, Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat sedang menanggung badai berat. Hujan deras berhari-hari membuat gunung runtuh, jalan terbelah, jembatan terseret derasnya banjir, dan rumah-rumah hilang seketika. Berbagai lokasi pemukiman yang baru saja dibangun, sering dekat aliran sungai, tak kuasa menahan derasnya air yang datang secara tiba-tiba dan jauh di luar perkiraan para pembangun.
Di Arab Saudi, dua pekan lalu, Raja memerintahkan pelaksanaan shalat istisqā’ karena langit lama tak menurunkan hujan. Lalu sepuluh hari ini Allah datangkan hujan yang menyejukkan tanah yang kering.
Semua ini menunjukkan: Dialah yang menggenggam langit dan bumi.
Dari Abu Musa radhiyallāh ‘anhu bahwa Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda:
«إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُمْلِي لِلظَّالِمِ، فَإِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ، ثُمَّ قَرَأَ وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ، إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ»
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kelonggaran (tempo) kepada orang yang zalim. Namun apabila Dia telah mencabutnya (menyiksanya), maka Dia tidak akan melepaskannya. Kemudian beliau membaca ayat: ‘Dan demikianlah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab penduduk negeri yang berbuat zalim; sesungguhnya azab-Nya itu sangat pedih dan keras.”
(HR. Muslim, no. 2584-61)
Dan Allah subhānahu wata’ālā menegaskan:
{وَمَا مَنَعَنَا أَنْ نُرْسِلَ بِالْآيَاتِ إِلَّا أَنْ كَذَّبَ بِهَا الْأَوَّلُونَ وَآتَيْنَا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوا بِهَا وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا (59)} [الإسراء: 59]
“Dan tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan tanda-tanda (kebesaran Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang terdahulu. Dan Kami telah memberikan kepada (kaum) Tsamud unta betina sebagai mukjizat yang dapat membuka pandangan (mereka), tetapi mereka menzaliminya. Dan Kami tidak mengirimkan tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti.”
(QS. Al-Isrā’: 59)
Manusia membuat kota, membangun bendungan, mengatur sungai, menghitung curah hujan, membuat prediksi iklim.
Namun ketika Allah menampakkan sebagian kecil dari kekuasaan-Nya, runtuhlah semua keyakinan pada kekuatan diri.
Bangunan manusia, betapapun megahnya, tetap tak lebih dari karya rapuh dibandingkan kehendak-Nya.
Inilah pesan besar dari rentetan kejadian dunia hari ini:
Jangan bangga dengan apa yang kita bangun. Banggalah pada kedekatan kita kepada Allah.
Renungan dan Ajakan
Mari kita kembali kepada Allah subhānahu wata’ālā dengan hati yang tunduk.
Mari kita bersihkan diri dari kesombongan peradaban.
Mari kita memperbaiki hubungan dengan alam, dengan sesama, dan terutama dengan Rabb yang mengatur segala urusan.
Kekuatan bukan milik gedung tinggi, senjata canggih, atau teknologi mutakhir.
Kekuatan hanyalah milik Allah, dan manusia kuat karena ditolong-Nya.
Doa
اللَّهُمَّ ارْحَمْ ضَعْفَنَا، وَاكْشِفْ كُرُوبَنَا، وَارْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْمِحَنَ، وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِينَ إِذَا ابْتُلُوا صَبَرُوا وَإِذَا أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ شَكَرُوا.
Allāhumma irḥam dha‘fanā, waksyif kurūbanā, warfa‘ ‘annā al-balā’a wal-miḥan, wa anzil ‘alainā min barakāti as-samā’i wal-ardh, waj‘alnā min ‘ibādika alladzīna idzā ibtulū shabarū wa idzā an‘amta ‘alaihim syakarū.
“Ya Allah, rahmatilah kelemahan kami, hilangkan kesulitan kami, angkatlah bencana dan ujian dari kami, turunkanlah keberkahan dari langit dan bumi, dan jadikan kami hamba-hamba-Mu yang ketika diuji mereka bersabar dan ketika Engkau beri nikmat mereka bersyukur.”
Āmīn, wahai Pemilik Tunggal Yang tidak rela disaingi.
Pariaman, Kamis, 7 Jumadil Akhir 1447 H / 27 November 2025
Zulkifli Zakaria
