![]() |
Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag.
Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Imam Bonjol Padang
Bersegera dalam Kebaikan, Bergerak dengan Perencanaan
Wasāri‘ū (وَسَارِعُوا), bersegeralah! Pesan Al-Qur'an dalam surah Ali Imran ayat 133 mengandung perintah moral agar manusia tidak menunda kebaikan. Namun, bersegera bukan berarti tergesa-gesa. Percepatan harus berpijak pada ilmu, amanah, perencanaan, dan kemaslahatan.
Umat Islam sesungguhnya memiliki modal sosial yang besar. Masjid, majelis taklim, pesantren, perguruan tinggi, organisasi keagamaan, media digital, dan lembaga filantropi terus berkembang. Persoalannya, potensi tersebut belum selalu terintegrasi menjadi kekuatan perubahan yang berkelanjutan.
Dakwah sering berhenti pada ceramah, pendidikan berakhir pada ijazah, filantropi terbatas pada bantuan konsumtif, sementara media digital lebih sibuk mengejar perhatian daripada membangun pengetahuan.
Di sinilah Wasari' Profetik Indonesia memperoleh relevansinya: mempercepat transformasi kegiatan keagamaan menjadi gerakan peradaban yang menyatukan spiritualitas, ilmu, akhlak, teknologi, solidaritas sosial, dan kemandirian ekonomi.
Paradigma Profetik: Spiritualitas yang Menggerakkan Perubahan
Gerakan profetik berpijak pada tiga nilai fundamental: transendensi, humanisasi, dan liberasi. Transendensi menempatkan tauhid sebagai fondasi kehidupan. Humanisasi mengarahkan ilmu dan dakwah untuk memuliakan manusia. Liberasi mendorong pembebasan masyarakat dari kebodohan, kemiskinan, ketergantungan, dan ketidakadilan.
Ketiganya tidak boleh dipisahkan. Spiritualitas tanpa kepedulian sosial berisiko menjadi kesalehan individual. Pendidikan tanpa akhlak dapat menghasilkan kecerdasan yang kehilangan integritas. Kewirausahaan tanpa nilai ketuhanan mudah terjebak dalam materialisme.
Karena itu, Profetik Indonesia harus bergerak melalui enam pilar kelembagaan yang saling memperkuat.
Majelis Profetik: Dari Ceramah Menuju Transformasi Akhlak
Pilar pertama adalah penguatan Majelis Profetik Indonesia setiap Rabu pukul 16.00 WIB melalui kurikulum Spiritual Wellness.
Pembinaan dirancang dalam dua belas modul yang mencakup tauhid, tazkiyatun nafs, muhasabah, muraqabah, zikir, pengendalian diri, ketahanan spiritual, akhlak keluarga, dan kepedulian sosial.
Majelis tidak cukup hanya menghasilkan jamaah yang memahami ajaran agama, tetapi harus membentuk pribadi yang semakin disiplin, jujur, sabar, bertanggung jawab, dan peduli terhadap sesama.
Agenda awalnya adalah penyusunan modul, penyiapan fasilitator, pendataan peserta, serta evaluasi triwulanan. Target percontohan sebanyak 50 peserta aktif dapat digunakan untuk menguji efektivitas pembinaan.
Indonesia Madani: Dakwah Digital yang Mencerahkan
Pilar kedua adalah optimalisasi ekosistem digital Indonesia Madani melalui portal berita, tiga portal jurnal ilmiah, Facebook, TikTok, Instagram, YouTube TV, dan YouTube Kajian.
Seluruh platform harus dikelola dalam satu sistem produksi pengetahuan. Satu kajian dapat dikembangkan menjadi video, artikel, infografik, podcast, dan bahan pembelajaran digital.
Agenda prioritasnya adalah membentuk redaksi terpadu, kalender publikasi mingguan, standar editorial, dan sistem evaluasi audiens.
Keberhasilan media bukan hanya diukur dari jumlah pengikut, melainkan kualitas informasi, konsistensi publikasi, serta kemampuannya meningkatkan literasi keagamaan dan sosial masyarakat.
ZISWAF Profetik: Dari Bantuan Menuju Pemberdayaan
Pilar ketiga adalah pengembangan ZISWAF Profetik–Pro Ummat sebagai instrumen keadilan sosial.
Zakat, infak, sedekah, dan wakaf perlu diarahkan untuk mendukung beasiswa, pendidikan santri, penguatan UMKM, serta pemberdayaan keluarga rentan.
Pengelolaannya harus mengikuti regulasi, memiliki sistem akuntansi transparan, dan bekerja sama dengan lembaga berwenang.
Program percontohan dapat dimulai melalui pendampingan sepuluh pelaku UMKM dan bantuan pendidikan bagi dua puluh penerima manfaat, sesuai ketersediaan dana.
Ukuran keberhasilannya bukan besarnya dana terkumpul, melainkan perubahan nyata dalam pendidikan dan kemandirian ekonomi penerima manfaat.
Sekretariat, STAI, dan Pesantren: Fondasi Keberlanjutan
Tiga pilar berikutnya merupakan penguatan kelembagaan jangka panjang.
Sekretariat Bersama Profetik harus menjadi pusat koordinasi, administrasi, pengelolaan data, kemitraan, dan evaluasi. Setiap program wajib memiliki penanggung jawab, anggaran, jadwal, serta indikator keberhasilan.
STAI Profetik Indonesia disiapkan sebagai perguruan tinggi dengan distingsi integrasi ilmu, iman, akhlak, spiritualitas, dan kewirausahaan. Agenda 2027 difokuskan pada studi kelayakan, kesiapan dosen, kurikulum, pembiayaan, dan persyaratan perizinan.
Pesantren Kewirausahaan Profetik diarahkan mengintegrasikan tahfiz, turats, pendidikan karakter, literasi digital, dan keterampilan produktif. Dua unit usaha percontohan dapat dikembangkan sebagai laboratorium kemandirian santri.
Agenda Seratus Hari dan Akselerasi 2027
Gerakan ini membutuhkan prioritas yang realistis. Seratus hari pertama harus difokuskan pada tiga penggerak: Majelis Profetik, Indonesia Madani Digital, dan Sekretariat Bersama.
Tiga puluh hari pertama digunakan untuk konsolidasi organisasi, penyusunan kurikulum, pembagian tugas, dan perencanaan anggaran. Hari ke-31 hingga ke-60 diarahkan pada pelaksanaan program inti dan penguatan publikasi. Hari ke-61 hingga ke-90 digunakan untuk membangun kemitraan dan menyiapkan program pemberdayaan.
Sepuluh hari terakhir menjadi momentum evaluasi dan penyusunan laporan kinerja.
Sepanjang 2027, akselerasi dilanjutkan melalui aktivasi program, penguatan kelembagaan, pengembangan kemitraan, dan perluasan kegiatan yang terbukti efektif.
Kepemimpinan Amanah dan Ukuran Keberhasilan
Pembina Profetik Indonesia, H. Faridansyah dan H. Duski Samad, bersama seluruh penggerak, memiliki tanggung jawab menjaga orientasi gerakan agar tidak terjebak dalam kebesaran simbol dan struktur.
Kepemimpinan profetik harus menghadirkan keteladanan, transparansi, kolaborasi, dan regenerasi.
Keberhasilan gerakan diukur melalui lima perubahan: meningkatnya kualitas spiritual, bertambahnya literasi keilmuan, menguatnya kepedulian sosial, tumbuhnya kemandirian ekonomi, dan terbangunnya tata kelola kelembagaan yang akuntabel.
Dari Gerakan Keagamaan Menuju Gerakan Peradaban
Wasari' Profetik bukan sekadar seruan memperbanyak kegiatan. Ia merupakan ikhtiar menghubungkan pembinaan jiwa dengan perubahan sosial.
Majelis membina spiritualitas. Media menyebarkan ilmu. ZISWAF memberdayakan masyarakat. Sekretariat menjaga keteraturan. STAI mengembangkan keilmuan. Pesantren membentuk generasi mandiri.
Al-Qur'an mengingatkan, fastabiqul-khairāt, berlomba-lombalah dalam kebaikan (QS. Al-Baqarah: 148).
Ilmu harus mencerahkan. Spiritualitas harus menyehatkan. Filantropi harus memberdayakan. Pendidikan harus memajukan. Kewirausahaan harus memandirikan.
Inilah arah Wasari' Profetik: dari majelis ilmu menuju ekosistem peradaban umat yang beriman, berakhlak, berdaya, dan berkemajuan.
Padang, 30 Oktober 2026.
