![]() |
Oleh: Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang
Pertemuan Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, dengan pendakwah terkemuka Indonesia, Al-Fadhil Ustaz Abdul Somad Batubara (UAS), dalam Majlis Ilmu MADANI di Seri Perdana, Putrajaya, menghadirkan pesan penting tentang hubungan kekuasaan, keilmuan, dan persaudaraan umat.
Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi seorang kepala pemerintahan dengan tokoh agama. Lebih jauh, ia menjadi simbol penghormatan terhadap ilmu, pengakuan atas peran ulama, dan pentingnya menjadikan nilai-nilai agama sebagai landasan moral kehidupan masyarakat dan negara.
UMARA YANG MEMULIAKAN ULAMA
Dalam tradisi peradaban Islam, hubungan ideal antara umara (pemegang kekuasaan) dan ulama (pemegang otoritas keilmuan agama) dibangun atas dasar saling menghormati, menasihati, dan menjaga amanah.
Umara memerlukan bimbingan moral agar kekuasaan tidak kehilangan arah. Ulama memerlukan ruang kebebasan agar dakwah dan nasihatnya tetap jernih, independen, dan berpihak kepada kebenaran.
Allah SWT berfirman:
Ø¥ِÙ†َّÙ…َا ÙŠَØ®ْØ´َÙ‰ اللَّÙ‡َ Ù…ِÙ†ْ عِبَادِÙ‡ِ الْعُÙ„َÙ…َاءُ
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba- hamba-Nya hanyalah para ulama." (QS. Fatir: 28).
Memuliakan ulama bukan berarti menempatkan mereka di atas kritik, sebagaimana kedekatan ulama dengan penguasa bukan berarti membenarkan seluruh kebijakan kekuasaan.
Umara yang memuliakan ulama menunjukkan penghormatan kepada ilmu. Ulama yang menjaga independensi menunjukkan kemuliaan amanah keilmuannya.
Keduanya harus bertemu dalam kepentingan umat, keadilan sosial, dan kemaslahatan bangsa.
ULAMA LINTAS BATAS: DAKWAH TIDAK MENGENAL SEKAT NEGARA
Kehadiran UAS di Malaysia mengingatkan bahwa ilmu dan dakwah Islam memiliki jangkauan yang melampaui batas geografis, etnis, budaya, dan kewarganegaraan.
Ulama memang lahir dan tumbuh dalam lingkungan sosial tertentu, tetapi pesan keilmuannya dapat menjangkau masyarakat dunia.
Hubungan keulamaan Indonesia dan Malaysia memiliki akar sejarah yang panjang melalui jaringan ulama Nusantara, tradisi pesantren, pondok, surau, dan pusat-pusat keilmuan Islam di Haramain.
UAS hadir dalam kesinambungan tradisi tersebut. Dakwahnya menjangkau masyarakat Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, dan berbagai komunitas Muslim lainnya.
Ulama boleh memiliki tanah kelahiran, tetapi ilmu dan hikmahnya menjadi milik kemanusiaan.
Di sinilah pentingnya diplomasi keagamaan. Persaudaraan serumpun tidak cukup dibangun melalui hubungan ekonomi dan politik, tetapi perlu diperkuat dengan pertukaran ilmu, kebudayaan, akhlak, dan spiritualitas.
UAS: ULAMA BERJUTA UMAT
Ustaz Abdul Somad merupakan fenomena dakwah kontemporer yang menarik. Ceramahnya menjangkau jutaan orang melalui majelis taklim, masjid, lembaga pendidikan, dan media digital.
Kekuatan dakwah UAS terletak pada kemampuannya mengomunikasikan khazanah keilmuan Islam dengan bahasa yang mudah dipahami, argumentasi keagamaan, humor yang komunikatif, dan kedekatan dengan kehidupan masyarakat.
Namun, popularitas ulama bukanlah tujuan akhir dakwah. Banyaknya pengikut adalah amanah yang menuntut kedalaman ilmu, keteladanan akhlak, dan tanggung jawab moral yang semakin besar.
Ulama berjuta umat bukan sekadar ulama yang didengar jutaan manusia, melainkan ulama yang diharapkan mampu membimbing umat menuju ilmu, adab, persaudaraan, dan kemaslahatan.
Pengaruh besar harus selalu disertai tanggung jawab besar. Dakwah yang berhasil bukan hanya mengundang kekaguman, tetapi juga melahirkan perubahan perilaku, memperkuat akhlak, dan menumbuhkan kedewasaan beragama.
MENJAGA KARAMAH ILMU, INTEGRITAS, DAN KHASYAH
Kita patut mendoakan UAS agar Allah SWT senantiasa menjaga tiga kemuliaan yang menjadi fondasi keulamaan.
Pertama, karamah ilmu. Kemuliaan ilmu bukan semata-mata terletak pada keluasan pengetahuan atau kefasihan berbicara, melainkan pada keberkahan ilmu yang membimbing manusia menuju kebenaran dan kemaslahatan.
Kedua, integritas keulamaan. Ulama harus mampu menjaga keselarasan antara perkataan dan perbuatan, keberanian menyampaikan kebenaran, serta independensi dari kepentingan yang dapat mengurangi kemurnian dakwah.
Ketiga, khasyah kepada Allah. Rasa takut yang dilandasi pengenalan mendalam kepada Allah merupakan inti kemuliaan seorang alim. Khasyah menjaga ulama dari kesombongan intelektual, godaan popularitas, dan penyalahgunaan pengaruh.
Rasulullah SAW bersabda:
الْعُÙ„َÙ…َاءُ ÙˆَرَØ«َØ©ُ الْØ£َÙ†ْبِÙŠَاءِ
"Para ulama adalah pewaris para nabi." (HR. Abu Dawud dan al-Tirmidzi).
Warisan kenabian bukanlah kekuasaan atau kemasyhuran, melainkan ilmu, amanah, hikmah, dan akhlak.
UAS UNTUK SEMUA: UMAT DAN BANGSA
UAS adalah tokoh dakwah yang memiliki akar tradisi keilmuan dan kedekatan dengan masyarakat Muslim. Namun, besarnya pengaruh dakwah juga membuka ruang bagi kontribusi yang lebih luas dalam membangun persaudaraan kebangsaan.
UAS untuk semua bukan berarti menghilangkan identitas dan keteguhan prinsip keagamaannya, melainkan menghadirkan dakwah yang membawa manfaat, kedamaian, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Ulama tidak boleh terkurung dalam sekat kelompok, organisasi, atau kepentingan politik sesaat. Keulamaan harus menjadi kekuatan pemersatu, pencerah, dan penuntun moral masyarakat.
Dalam masyarakat majemuk, dakwah yang berlandaskan ilmu dan hikmah dapat memperkuat persaudaraan sesama Muslim (ukhuwah Islamiyah), persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah), dan persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah insaniyah).
Allah SWT mengingatkan:
ادْعُ Ø¥ِÙ„َÙ‰ٰ سَبِيلِ رَبِّÙƒَ بِالْØِÙƒْÙ…َØ©ِ ÙˆَالْÙ…َÙˆْعِظَØ©ِ الْØَسَÙ†َØ©ِ
"Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik." (QS. An-Nahl: 125).
MAJLIS ILMU MADANI: KETIKA KEKUASAAN MENDENGARKAN NASIHAT
Majlis Ilmu MADANI di Putrajaya dapat dimaknai sebagai ruang perjumpaan antara kepemimpinan negara, otoritas keilmuan agama, dan kepentingan masyarakat.
Nilai pentingnya bukan hanya terletak pada kehadiran tokoh besar, tetapi pada sejauh mana pesan keilmuan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang adil, pelayanan publik yang berintegritas, serta kehidupan masyarakat yang rukun.
Ilmu agama harus membimbing akal, menjernihkan hati, dan memperbaiki tindakan. Kekuasaan harus terbuka terhadap nasihat, sementara dakwah harus tetap membawa kesejukan tanpa kehilangan ketegasan moral.
Pertemuan Anwar Ibrahim dan UAS juga mengandung pesan bahwa hubungan Indonesia–Malaysia dapat terus diperkokoh melalui diplomasi ulama dan pertukaran tradisi keilmuan Islam Nusantara.
DOA UNTUK UAS DAN MASA DEPAN DAKWAH
Kita berdoa semoga Allah SWT senantiasa memelihara Al-Fadhil Ustaz Abdul Somad Batubara, melimpahkan kesehatan, keberkahan umur, keluasan ilmu, keteguhan integritas, dan kedalaman khasyah kepada-Nya.
Semoga Allah menjaga UAS dari fitnah popularitas, godaan kekuasaan, dan segala hal yang dapat mengurangi kemuliaan amanah keulamaan.
Semoga dakwahnya semakin luas, ilmunya semakin berkah, nasihatnya semakin menyejukkan, dan kehadirannya semakin membawa manfaat bagi umat, bangsa, serta kemanusiaan.
Ulama yang besar bukan hanya karena banyaknya umat yang mengikuti, tetapi karena besarnya manfaat yang ditinggalkan. Umara yang mulia bukan hanya karena kekuasaan yang dimiliki, tetapi karena kesediaannya mendengarkan ilmu, menerima nasihat, dan menegakkan keadilan.
Selamat dan apresiasi atas terselenggaranya Majlis Ilmu MADANI. Semoga perjumpaan ini menjadi bagian dari penguatan persaudaraan keilmuan dan spiritual Indonesia–Malaysia.
UAS untuk semua. Ilmunya untuk umat. Dakwahnya untuk bangsa. Hikmahnya untuk kemanusiaan.
Padang, 30 Oktober 2026.
#AnwarIbrahim #UstazAbdulSomad #UASUntukSemua #UlamaLintasBatas #UmaraMemuliakanUlama #MajlisIlmuMADANI #UkhuwahIslamiyah #IndonesiaMalaysia
