![]() |
Oleh: Duski Samad
Kajian Subuh Masjid Darul Muttaqin, Selasa, 05 Oktober 2026
Kematian yang Pasti, tetapi Sering Dilupakan
Kematian adalah kepastian yang paling dekat dengan manusia, tetapi sekaligus kenyataan yang paling sering dilupakan. Manusia mengetahui bahwa dirinya akan mati, menyaksikan orang lain meninggal, mengantarkan jenazah ke kuburan, bahkan berulang kali membaca ayat tentang kematian. Namun, pengetahuan itu tidak selalu berubah menjadi kesadaran yang memengaruhi perilaku.
Persoalan inilah yang mendapat perhatian Syekh Muhammad Jamil Jaho dalam kitab Tadzkirat al-Qulūb fī Murāqabat ‘Allām al-Ghuyūb. Dalam pembahasan tentang sebab-sebab yang menumbuhkan muraqabah, beliau memberikan perhatian khusus kepada dzikr al-maut, mengingat kematian. Kematian harus dihadirkan dalam kesadaran agar manusia tidak tenggelam dalam kelalaian dan panjang angan-angan.
Allah SWT menegaskan, “Kullu nafsin dzā’iqatul maut”, setiap jiwa akan merasakan kematian. Pesan ini menempatkan seluruh manusia dalam kedudukan yang sama. Kaya dan miskin, ulama dan awam, penguasa dan rakyat, semuanya berjalan menuju titik akhir kehidupan dunia.
Mengingat Mati untuk Memperbaiki Hidup
Mengingat mati tidak berarti membenci kehidupan. Tasawuf tidak mengajarkan manusia meninggalkan keluarga, pekerjaan, masyarakat dan tanggung jawab dunia. Justru kesadaran terhadap kematian memberikan arah kepada kehidupan.
Orang yang menyadari bahwa hidupnya terbatas akan lebih serius menggunakan waktunya. Sebelum berbicara ia mempertimbangkan akibat perkataannya. Sebelum mengambil keputusan ia memikirkan pertanggungjawabannya. Sebelum menggunakan kekuasaan ia menyadari bahwa jabatan tidak kekal.
Karena itu, kematian dapat dipahami sebagai alarm spiritual. Ia mengingatkan bahwa kesempatan bertobat, beribadah dan berbuat baik mempunyai batas. Rasulullah SAW mengingatkan agar memperbanyak mengingat hādzim al-ladzdzāt, pemutus berbagai kenikmatan, yaitu kematian.
Panjang Angan-Angan Melahirkan Kelalaian
Salah satu penyakit yang membuat manusia jauh dari kesadaran kematian adalah thūl al-amal, panjang angan-angan. Manusia merasa masih mempunyai banyak waktu. Nanti akan bertobat, nanti memperbaiki ibadah, nanti mengembalikan hak orang lain, nanti meminta maaf dan nanti memperbaiki kehidupan.
Persoalannya, kematian tidak pernah memberitahukan jadwal kedatangannya.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan manusia merencanakan kehidupan puluhan tahun ke depan. Orang dapat membuat perencanaan karier, investasi, pendidikan dan politik secara sangat terperinci. Namun tidak seorang pun mampu menjamin dirinya masih hidup pada hari esok.
Karena itu, mengingat kematian sesungguhnya merupakan kritik spiritual terhadap kesombongan manusia atas waktu.
Muraqabah adalah Pengawasan dari Dalam
Di sinilah mengingat mati berhubungan erat dengan muraqabah. Muraqabah adalah kesadaran batin bahwa manusia senantiasa berada dalam pengetahuan dan pengawasan Allah.
Krisis moral tidak selalu disebabkan ketidaktahuan. Seseorang dapat mengetahui bahwa korupsi haram, dusta berdosa, fitnah tercela dan mengambil hak orang lain dilarang, tetapi tetap melakukannya. Artinya, mengetahui hukum belum tentu melahirkan kemampuan mengendalikan diri.
Hukum mengawasi manusia dari luar, sedangkan muraqabah membangun pengawasan dari dalam. Kamera pengawas mempunyai titik buta, auditor mempunyai keterbatasan dan aparat tidak mungkin hadir di setiap tempat. Namun orang yang memiliki muraqabah membawa “pengawas” itu di dalam kesadarannya sendiri.
Ia berkata dalam hatinya: manusia mungkin tidak melihat, tetapi Allah mengetahui.
Dari Muraqabah Menuju Integritas
Mengingat mati memperkuat pengawasan batin tersebut. Kesadaran spiritual seorang mukmin bergerak dalam satu rangkaian: Allah melihatku, hidupku terbatas, aku akan mati, kemudian amalanku akan dipertanggungjawabkan.
Rangkaian kesadaran inilah yang dapat melahirkan integritas.
Orang yang mempunyai integritas tidak jujur hanya ketika diperiksa. Ia tidak amanah hanya ketika diawasi. Ia menjaga dirinya karena memiliki kesadaran transendental bahwa setiap perbuatannya berada dalam ilmu Allah dan akan dipertanggungjawabkan.
Dengan demikian, muraqabah bukan sekadar konsep tasawuf individual. Muraqabah memiliki konsekuensi sosial yang besar bagi pembentukan manusia yang beradab.
Mengingat Mati di Tengah Krisis Adab
Pesan Syekh Muhammad Jamil Jaho menjadi semakin relevan ketika masyarakat menghadapi krisis adab. Perebutan jabatan, kerakusan terhadap harta, konflik kepentingan, fitnah di media sosial, permusuhan antarkelompok dan penyalahgunaan kekuasaan sering kali berakar pada kuatnya kecintaan kepada dunia sekaligus lemahnya kesadaran tentang akhir kehidupan.
Orang yang sungguh-sungguh mengingat mati akan lebih berhati-hati menggunakan lidahnya, karena setiap perkataan akan dipertanggungjawabkan. Ia lebih berhati-hati menggunakan kekuasaan karena jabatan pasti berakhir. Ia tidak mudah mengambil harta yang bukan haknya karena kekayaan tidak akan dibawa ke kubur.
Dzikr al-maut akhirnya bukan hanya pendidikan spiritual, tetapi juga dapat menjadi dasar etika sosial dan etika publik.
Pusaro sebagai Madrasah Kehidupan
Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, pesan ini memiliki relevansi dengan tradisi ziarah pusaro, manjanguak, mangaji kamatian dan berbagai tradisi yang berhubungan dengan kematian. Tradisi tersebut akan semakin bermakna apabila tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi media pendidikan kesadaran.
Pusaro seharusnya menjadi madrasah kehidupan.
Ketika seseorang berdiri di depan kuburan, pesan terpentingnya bukan hanya mengenai orang yang telah berada di dalamnya. Kuburan justru berbicara kepada mereka yang masih hidup: kesempatanmu masih ada, tetapi waktumu terbatas.
Hari ini kita mengantarkan orang lain. Pada waktunya, orang lain akan mengantarkan kita.
Ingat Mati Sebelum Mati
Pesan penting Syekh Muhammad Jamil Jaho dapat dirumuskan dengan sederhana: ingat mati untuk memperbaiki hidup. Mengingat kematian bukan untuk menciptakan ketakutan yang melumpuhkan, tetapi melahirkan muraqabah yang menghidupkan. Bukan membuat manusia pasif, tetapi mendorongnya memperbanyak amal. Bukan meninggalkan dunia, tetapi membebaskan hati dari perbudakan dunia.
Orang yang paling siap menghadapi kematian bukanlah orang yang paling banyak berbicara tentang mati, melainkan orang yang menjadikan ingatan terhadap kematian sebagai energi untuk bertobat, memperbaiki adab, menunaikan hak sesama, menjaga amanah dan mendekatkan diri kepada Allah.
Ingat mati sebelum mati, awasi diri sebelum dihisab, dan perbaiki hidup selagi waktu masih diberikan.05102026.
