![]() |
Oleh: Duski Samad
Kajian Tauhid (01).
Zohor Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Alminangkabawi
Selasa, 06 Oktober 2026
Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah atas nikmat iman, kesehatan, dan kesempatan menunaikan salat berjamaah. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad saw., teladan dalam menjaga kebersihan hati dan kemuliaan perilaku.
Telepon genggam telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Melaluinya, kita membaca Al-Qur’an, mendengarkan pengajian, bekerja, belajar, dan menyambung silaturahmi. Melalui perangkat yang sama, seseorang juga dapat melihat konten terlarang, menyebarkan fitnah, berjudi, menipu, dan melukai kehormatan sesama. Teknologi menyediakan berbagai pilihan; iman membimbing kita menentukan pilihan.
Ketika berada di tengah orang banyak, kita biasanya menjaga perilaku. Namun, bagaimana ketika sendirian? Pintu kamar terkunci, layar menghadap kepada kita, dan tidak ada keluarga yang melihat. Pada saat itulah aqidah diuji: apakah kita menjaga diri karena dilihat manusia, atau karena meyakini bahwa Allah Maha Melihat?
Kesadaran ini sangat diperlukan di era digital. Akun dapat disamarkan, percakapan dapat dirahasiakan, dan riwayat penelusuran dapat dihapus. Namun, seluruh tindakan tetap berada dalam pengetahuan Allah. Layar boleh tertutup dari manusia, tetapi perbuatan kita diketahui Allah.
Allah Melihat Segala Penglihatan
Allah berfirman dalam Surah Al-An‘am ayat 103:
لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
Maknanya, penglihatan tidak dapat meliputi Allah, sedangkan Allah mengetahui segala penglihatan. Dia Mahahalus dan Maha Mengetahui.
Ayat ini mengingatkan keterbatasan manusia dan kesempurnaan pengetahuan Allah. Penglihatan Allah tidak boleh dibayangkan seperti mata manusia. Dia mengetahui seluruh perbuatan hamba-Nya tanpa dibatasi gelap dan terang, jauh dan dekat, terbuka dan tersembunyi.
Manusia melihat tampilan layar; Allah mengetahui apa yang kita lihat dan tujuan kita melihatnya. Manusia membaca tulisan; Allah mengetahui niat di balik tulisan itu. Ada orang mengunggah nasihat untuk membantu sesama, ada pula yang mengunggahnya agar dipuji. Tampilannya mungkin serupa, tetapi keadaan hatinya berbeda.
Karena itu, menjaga iman di ruang digital dimulai dengan memeriksa tujuan. Apakah kita membuka gawai untuk menambah ilmu, membantu orang lain, dan menyampaikan kebenaran? Ataukah untuk mempermalukan, membalas dendam, dan mencari pengakuan? Pemeriksaan niat membantu kita menggunakan teknologi dengan tanggung jawab.
Allah Mengetahui Bisikan Hati.
Allah berfirman dalam Surah Qaf ayat 16:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Maknanya, Allah menciptakan manusia, mengetahui bisikan jiwanya, dan menyatakan kedekatan yang lebih daripada urat lehernya. Kedekatan tersebut tidak boleh dibayangkan sebagai jarak fisik atau Allah menyatu dengan tubuh manusia. Manusia tidak pernah berada di luar pengetahuan dan kekuasaan-Nya.
Sebelum jari mengetik, hati telah mempunyai maksud. Sebelum seseorang menyebarkan aib, mungkin telah tumbuh kebencian. Sebelum menulis komentar kasar, mungkin telah muncul keinginan merendahkan. Karena itu, pembinaan aqidah harus menyentuh hati. Perilaku lahir akan lebih terjaga apabila disertai pembenahan niat.
Namun, lintasan buruk yang muncul tanpa dikehendaki tidak otomatis menjadi dosa. Lintasan itu perlu ditolak dan tidak dipelihara hingga menjadi ucapan atau tindakan. Ketika muncul dorongan menghina, tahanlah. Ketika tergoda membuka konten terlarang, alihkanlah perhatian. Ketika merasa iri melihat keberhasilan orang lain, doakan kebaikan bagi mereka dan mohonkan kebersihan hati kepada Allah.
Manusia sebagai Pintu Tauhid
Jamaah yang dimuliakan Allah.
Rumitnya ciptaan Allah yang bernama manusia merupakan salah satu pintu tauhid yang paling luas. Kita dapat menemukan tanda kebesaran Allah dengan memperhatikan diri sendiri. Tubuh, kemampuan berpikir, dan kehidupan batin manusia menyediakan bahan renungan yang begitu kaya.
Jantung bekerja tanpa menunggu perintah sadar kita. Paru-paru menjalankan pertukaran udara. Otak mengolah informasi, sementara mata dan telinga membantu kita mengenali dunia. Di dalam kehidupan manusia juga terdapat cinta, takut, harapan, penyesalan, dan dorongan mencari makna.
Allah berfirman:
وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
“Dan pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
(QS. Adz-Dzariyat [51]: 21).
Seruan afalā tubṣirūn mengajak manusia memperhatikan. Sementara itu, seruan afalā ta‘qilūn, “tidakkah kamu menggunakan akal?”, yang terdapat dalam sejumlah ayat Al-Qur’an, mengajak manusia berpikir dan mengambil pelajaran.
Memperhatikan diri sendiri seharusnya menumbuhkan syukur dan kerendahan hati. Kita memiliki tubuh ini, tetapi pengetahuan dan kemampuan kita mengaturnya sangat terbatas. Kita dapat menggunakan mata, tetapi tidak menciptakannya. Kita dapat memakai akal, tetapi tidak memberikan kehidupan kepada diri sendiri. Dari perenungan itulah kita belajar mengenali kebesaran Sang Pencipta.
Iman Akal, Iman Hati, dan Iman Kesadaran
Untuk menjelaskan bagaimana iman membimbing kehidupan, kita dapat membicarakan iman akal, iman hati, dan iman kesadaran. Ketiganya merupakan cara menjelaskan penghayatan iman yang saling menguatkan, bukan pembagian rukun iman.
Iman akal tumbuh melalui belajar, berpikir, dan memperhatikan tanda kebesaran Allah. Akal membantu manusia memahami keteraturan ciptaan, keterbatasan dirinya, dan tanggung jawab kehidupannya. Dalam ruang digital, akal juga digunakan untuk memeriksa informasi dan mempertimbangkan akibat suatu tindakan.
Pengetahuan tersebut perlu dihayati dalam hati. Iman hati ialah keyakinan yang menumbuhkan cinta kepada Allah, syukur atas nikmat-Nya, takut melanggar larangan-Nya, dan harapan terhadap rahmat-Nya. Ketika tergoda berbuat maksiat, muncul rasa malu kepada Allah. Ketika menerima nikmat, tumbuh syukur. Ketika bersalah, timbul penyesalan dan keinginan bertobat.
Iman kesadaran ialah keyakinan yang hadir ketika seseorang menentukan pilihan. Ia mengetahui Allah Maha Melihat, menghayatinya dalam hati, lalu menjaga tindakannya. Kesadaran itu membuat seseorang menahan jari ketika hendak menyebarkan fitnah, menutup tontonan yang haram, serta menjaga waktu salat ketika sedang menggunakan gawai.
Ketiganya perlu dipelihara bersama: akal mengenali tanda kebesaran Allah, hati menghayati keimanan, dan kesadaran membimbing perbuatan. Dengan demikian, tauhid hidup dalam keseharian, termasuk ketika seseorang sendirian di balik layar.
Muraqabah: Menghidupkan Iman dalam Perbuatan
Dalam pendidikan akhlak dan tasawuf, kesadaran bahwa Allah mengetahui seluruh keadaan kita disebut muraqabah. Kesadaran ini perlu dilatih agar hadir dalam ibadah, pekerjaan, kehidupan keluarga, dan aktivitas digital.
Warisan keilmuan Inyiak Jaho, Syekh Muhammad Jamil Jaho, melalui kitab Tazkiratul Qulub fi Muraqabati ‘Allamil Ghuyub, dapat menjadi bahan pendalaman pendidikan hati. Dalam kajian ini, persoalannya dapat dirumuskan sebagai usaha menghidupkan pengetahuan tentang Allah Maha Melihat menjadi kesadaran yang membimbing perilaku. Rumusan tersebut merupakan penjelasan kajian, bukan kutipan langsung dari kitab.
Kita mengetahui Allah Maha Melihat, tetapi terkadang melupakan pertanggungjawaban ketika marah atau tergoda. Muraqabah membantu kita menghubungkan keyakinan dengan tindakan: menolak maksiat, menahan komentar yang menyakiti, dan mengakui kesalahan.
Kesadaran ini juga memberi ketenteraman. Kebaikan yang tidak diketahui manusia tetap diketahui Allah. Usaha menahan diri dari maksiat dalam kesendirian tidak sia-sia. Kesungguhan memperbaiki diri pun berada dalam pengetahuan-Nya.
Menjaga Mata, Ucapan, dan Jari
Muraqabah di ruang digital diwujudkan dengan menjaga mata, ucapan, dan jari. Mata perlu diarahkan kepada sesuatu yang bermanfaat. Apa yang berulang kali dilihat dapat memengaruhi pikiran dan kebiasaan. Karena itu, tinggalkan akun yang mengajak kepada maksiat dan segera lewati konten buruk yang muncul tanpa dicari.
Ucapan juga harus dijaga. Pesan suara, percakapan daring, dan siaran langsung tetap memerlukan adab. Jarak tidak menghilangkan tanggung jawab atas kebohongan, ghibah, fitnah, dan penghinaan. Di balik akun yang kita tanggapi terdapat manusia yang memiliki perasaan dan kehormatan.
Jari dapat menyebarkan ilmu dan menguatkan sesama, tetapi juga dapat memperluas tuduhan dalam beberapa detik. Ketika menerima pesan yang meminta segera disebarkan, sementara sumbernya tidak jelas, berhentilah sejenak. Periksa kebenaran dan pertimbangkan akibatnya. Banyaknya orang yang membagikan sebuah kabar tidak membuktikan kebenarannya.
Sebelum mengunggah, tanyakan apakah isinya benar, membawa manfaat, menjaga hak orang lain, dan diridai Allah. Jika belum jelas, tahan dahulu. Jika hanya memperbesar pertengkaran atau membuka rahasia tanpa alasan yang benar, tinggalkan.
Dalam keluarga, kebiasaan ini dibangun melalui keteladanan. Orang tua perlu meletakkan gawai ketika berbicara dengan anak, menjaga waktu salat, dan memeriksa kabar sebelum membagikannya. Pengawasan keluarga hendaknya membantu anak membangun kemampuan menjaga diri karena iman kepada Allah.
Memperbaiki Jejak, Menumbuhkan Kebaikan
Apabila pernah melakukan kesalahan, jangan berputus asa. Bertobatlah dengan menghentikan perbuatan buruk, menyesalinya, dan bertekad tidak mengulangi. Apabila pernah menyebarkan informasi palsu, sampaikan koreksi kepada penerimanya. Apabila telah menyakiti kehormatan seseorang, usahakan memperbaiki akibatnya dan meminta maaf dengan bijaksana.
Selanjutnya, gunakan ruang digital untuk menyebarkan ilmu yang dapat dipercaya, menguatkan keluarga, menyambung silaturahmi, dan membantu sesama. Mata, akal, dan tangan adalah karunia Allah. Penggunaannya perlu disertai syukur dan tanggung jawab.
Mari hadirkan kesadaran sebelum membuka, mengetik, dan mengunggah: “Allah mengetahui apa yang saya lakukan. Apakah saya menggunakan karunia-Nya untuk sesuatu yang diridai-Nya?”
Semoga Allah menjaga mata kita, membersihkan hati kita, membimbing ucapan kita, dan menjadikan jari kita sebagai jalan kebaikan.
Allahumma innā nas’alukal-hudā wat-tuqā wal-‘afāfa wal-ghinā.
Ya Allah, kami memohon petunjuk, ketakwaan, keterjagaan diri, dan kecukupan. Amīn yā Rabbal ‘ālamīn.ds. 05102026.
