![]() |
Oleh: Duski Samad
Kajian Majelis Profetik Rabu, 07 Okt 2026
Pembacaan memengaruhi raso. Apa yang dibaca, dipahami, dan direnungkan ikut membentuk cara manusia memandang kehidupan serta merasakan kehadiran Allah dalam pengawasan dan kasih sayang-Nya. Untuk menghaluskan raso, diperlukan bacaan yang acap dan berulang, disertai pemahaman, kehadiran hati, serta pengamalan.
Dalam tasawuf dan pendidikan Islam, membaca melibatkan lisan, akal, dan kesadaran batin. Membaca yang tersurat mengantarkan manusia kepada pengetahuan; merenungkan yang tersirat membawanya kepada pelajaran. Keduanya perlu dituntun wahyu agar perasaan melahirkan kebijaksanaan.
Mengingat kematian, menghidupkan hati
Tazkiratul maut, yakni pengingatan tentang kematian, berhubungan dengan tazkiratul qulub, yakni pengingatan dan penyadaran hati. Mengingat kematian menyadarkan manusia tentang batas kehidupan, sedangkan penyadaran hati menuntunnya memperbaiki cara menjalani kehidupan. Dzikir menjadi penghubung keduanya.
Rasulullah saw. bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan,” yakni kematian. (HR. at-Tirmidzi, no. 2307).
Mengingat kematian mendidik manusia agar tidak menunda taubat, tidak sombong dengan kedudukan, dan tidak mengabaikan hak sesama. Kesadaran akan kematian semestinya menguatkan tanggung jawab hidup: waktu terbatas, amanah harus ditunaikan, dan setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan.
Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ra‘d [13]: 28).
Dengan demikian, ingatan tentang kematian dan dzikir kepada Allah saling menguatkan: yang pertama membangunkan manusia dari kelalaian, yang kedua memberi arah, pengharapan, dan ketenteraman.
Dzikir: membaca dengan lisan, mengingat dengan hati
Ungkapan “dzikir itu membaca dan merasa” dapat digunakan sebagai penjelasan pendidikan batin. Namun, pengertian dzikir lebih luas daripada membaca: dzikir mencakup menyebut, mengingat, dan menghadirkan kesadaran tentang Allah.
Lisan membaca kalimat dzikir, akal memahami maknanya, dan hati menghayati penghambaan. “Merasa” di sini berarti tumbuhnya kesadaran bahwa Allah mengetahui keadaan kita, mendengar doa kita, dan menyaksikan perbuatan kita.
QS. az-Zumar [39]: 23 menggambarkan pengaruh Al-Qur’an pada manusia: kulit mereka gemetar karena takut kepada Tuhan, kemudian kulit dan hati mereka melunak menuju dzikir kepada Allah. Ayat ini memberi landasan bagi hubungan bacaan, penghayatan, dan kelembutan hati.
Pengulangan bacaan menyediakan ruang pembiasaan, tetapi kualitas dzikir juga memerlukan pemahaman dan kehadiran hati. Buahnya terlihat pada akhlak: lebih jujur, sabar, rendah hati, dan peduli kepada sesama.
Nafs, akal, qalb, ruh, dan fitrah
Membaca dan merasa melibatkan keseluruhan diri manusia. Dalam kajian Islam, nafs, akal, qalb, ruh, dan fitrah dapat membantu menjelaskan proses tersebut. Kelimanya bukan lima organ yang sepenuhnya terpisah; pengertiannya saling berkaitan dan memiliki penjelasan yang beragam dalam tradisi keilmuan Islam.
Dimensi Peran dalam membaca dan merasa Landasan nash
Nafs Diri yang memiliki dorongan dan kecenderungan; perlu dididik melalui penyucian serta pengendalian diri. QS. asy-Syams [91]: 7–10
Akal Memahami bacaan, menimbang alasan, menghubungkan pengetahuan, dan memeriksa penafsiran. QS. Ali ‘Imran [3]: 190–191
Qalb Pusat kesadaran batin, penerimaan nasihat, niat, dan penghayatan iman; juga berkaitan dengan pemahaman. QS. al-Hajj [22]: 46
Ruh Dimensi kehidupan manusia yang berasal dari ketentuan Allah; hakikatnya tidak sepenuhnya diketahui manusia. QS. al-Isra’ [17]: 85
Fitrah Disposisi dasar ciptaan Allah yang perlu dipelihara dan dibimbing menuju pengenalan serta ketaatan kepada-Nya. QS. ar-Rum [30]: 30
Karena itu, nafs tidak semata-mata buruk, akal tidak berdiri sendiri, dan qalb tidak hanya tempat emosi. Ruh pun tidak cukup didefinisikan sebagai “dorongan mengendalikan”, karena hakikatnya lebih luas dan pengetahuan manusia tentangnya terbatas.
Baca dan paham mengantarkan makna; makna yang dihayati membentuk kesadaran; kesadaran yang dilatih mengarahkan tindakan. Di sinilah raso perlu berjalan bersama pareso: kepekaan batin diperiksa oleh akal, ilmu, dan tuntunan agama.
Tauhid: memurnikan ibadah, tujuan, dan ketergantungan
Inti tauhid dinyatakan melalui:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
Lā ilāha illā Allāh.
Makna pokoknya adalah tidak ada yang berhak disembah selain Allah. Ungkapan lā ma‘būda, lā maqṣūda, dan lā mawjūda illā Allāh perlu dijelaskan sesuai kedudukannya; ketiganya tidak menjadi terjemahan harfiah yang sama.
Pertama, lā ma‘būda biḥaqqin illā Allāh: tidak ada yang berhak disembah selain Allah. Inilah penjelasan langsung tentang pemurnian ibadah. Tambahan biḥaqqin memperjelas bahwa terdapat sesuatu yang disembah manusia secara batil, sedangkan yang berhak menerima ibadah hanyalah Allah.
Kedua, lā maqṣūda illā Allāh: dalam latihan tasawuf, Allah menjadi tujuan tertinggi pengabdian. Manusia tetap memiliki tujuan pendidikan, keluarga, pekerjaan, dan pelayanan sosial, tetapi semuanya diarahkan untuk memperoleh rida-Nya. Ungkapan ini mendidik keikhlasan: berbuat baik tanpa menjadikan pujian sebagai tujuan utama.
Ketiga, lā mawjūda illā Allāh: ungkapan ini membutuhkan penjelasan khusus. Ia tidak boleh dipahami sebagai penyangkalan keberadaan makhluk atau penyamaan makhluk dengan Allah. Untuk pendidikan tauhid, maksud ketergantungan makhluk lebih jelas dinyatakan: “Tidak ada yang berdiri sendiri tanpa bergantung kepada yang lain selain Allah.” Makhluk benar-benar ada, tetapi keberadaannya diciptakan dan dipelihara oleh Allah.
Allah berfirman:
أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Kamulah yang membutuhkan Allah; dan Allah, Dialah Yang Mahakaya, Maha Terpuji.” (QS. Fatir [35]: 15).
Penghayatan ini menumbuhkan sikap merasa dititipi: ilmu, harta, jabatan, dan kemampuan merupakan amanah. Manusia menggunakannya dengan tanggung jawab dan tidak membanggakannya secara berlebihan.
Pendidikan Islam: dari bacaan menjadi akhlak
Hubungan membaca dan merasa memiliki makna pedagogis. Pendidikan Islam membimbing peserta didik agar pengetahuan menjadi kesadaran dan kesadaran menjadi perilaku. QS. al-Jumu‘ah [62]: 2 mempertemukan pembacaan ayat, penyucian diri, serta pengajaran Kitab dan hikmah dalam tugas pendidikan Rasulullah.
Dalam pembelajaran, proses ini dapat dilakukan melalui membaca nash secara benar, menjelaskan maknanya, menghubungkannya dengan pengalaman, melakukan muhasabah, kemudian membiasakan tindakan yang sesuai. Misalnya, setelah memahami bahwa Allah mengetahui seluruh perbuatan, peserta didik dilatih berlaku jujur sekalipun tidak diawasi guru.
Tasawuf memberi kedalaman penghayatan, sementara pendidikan Islam menyediakan bimbingan, keteladanan, dan pembiasaan. Ukuran kehalusan raso terlihat pada kesediaan menjaga amanah, menahan diri dari kezaliman, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.
“Mengingat kematian membangunkan kesadaran; dzikir menghidupkan hati; pemahaman menerangkan makna; tauhid meluruskan tujuan; dan pengamalan menyempurnakan akhlak.”07102026.
