![]() |
Oleh: Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol, Alumni PPMTI 1979 dan Pembina Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah (PPMTI) Batang Kabung, Padang
Tulisan ini lahir setelah mengikuti MANGAJI KITAB HIKAM guru-guru dengan Buya Mahyuddin Salif Tuanku Sutan pimpinan PPMTI Rabu, 09 September 2026. Ketika penulis diminta pandangan maka disampaikan ada suasana yang patut direnungkan tahun ini, penerimaan santri jumlahnya menurun dan prestasi santri belum bisa mengiringi pesantren lain.
Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah (PPMTI) Batang Kabung adalah warisan perjuangan yang tidak boleh berhenti pada kebanggaan sejarah. Para Buya pendiri tidak sekadar meninggalkan bangunan, nama besar, atau lembaga pendidikan. Mereka meninggalkan warih: warih ilmu, sanad, akhlak, perjuangan, persaudaraan, dan pengabdian kepada umat.
Karena itu, gagasan PPMTI Progresif bukanlah keinginan mengubah identitas pesantren. Justru progresif berarti menghidupkan kembali cita-cita Buya pendiri dalam konteks zaman yang berubah. Tradisi dijaga, sistem diperkuat, sumber daya manusia ditingkatkan, alumni dipersatukan, dan kepercayaan umat dirawat.
Warih tidak cukup dikenang. Warih harus ditunaikan.
Kembali kepada Khittah: Melahirkan Urang Siak
Orientasi PPMTI sejak awal harus tetap jelas: kaderisasi ulama atau urang siak. Inilah identitas yang membedakan pesantren dari lembaga pendidikan lainnya.
Urang siak bukan hanya orang yang pandai membaca kitab. Ia adalah manusia yang menyatukan ilmu, amal, adab, ibadah, keteladanan dan pengabdian. Ilmunya tidak berhenti dalam dirinya, tetapi menjadi penerang bagi keluarga, kaum, nagari dan umat.
Karena itu, ukuran keberhasilan PPMTI tidak boleh hanya jumlah santri, gedung yang bertambah atau banyaknya ijazah yang diterbitkan. Pertanyaan yang lebih substantif adalah: berapa banyak urang siak yang dilahirkan? Berapa banyak guru, tuanku, dai dan pemimpin umat yang dikader?
Pada saat yang sama, urang siak masa kini menghadapi dunia yang berbeda dari masa para Buya pendiri. Digitalisasi, media sosial, kecerdasan buatan dan perubahan otoritas keagamaan mengharuskan kader pesantren mempunyai kecakapan baru. Kuat dalam kitab dan sanad, tetapi juga cakap berkomunikasi, memahami teknologi, mampu memimpin dan membaca perubahan masyarakat.
Maka progresivitas PPMTI harus dibangun dengan prinsip: kaji tidak hilang, sanad tidak putus, adab tidak runtuh, tetapi kemampuan menghadapi zaman terus meningkat.
Sapaguruan: Hubungan Batin yang Tidak Pernah Tamat
Kekuatan kedua PPMTI adalah hubungan batin antara guru, pesantren dan alumni. Dalam tradisi pesantren, hubungan guru dan murid bukan hubungan administratif yang berakhir ketika santri menerima ijazah.
Seorang Buya mempunyai anak jasmani dan anak ruhani. Anak jasmani meneruskan hubungan keluarga, sedangkan anak ruhani meneruskan ilmu, sanad, adab dan perjuangan. Karena itu, alumni sesungguhnya adalah keluarga besar spiritual pesantren.
Di Minangkabau ada istilah yang sangat kuat: sapaguruan. Orang-orang yang menerima kaji dari guru yang sama dipertemukan oleh satu mata rantai ilmu dan adab. Mereka boleh berbeda profesi, pilihan hidup, tempat tinggal bahkan generasi, tetapi mempunyai satu titik temu: guru tuo.
Kesadaran sapaguruan inilah yang harus dibangkitkan kembali.
Alumni jangan hanya bertemu ketika reuni atau ketika pesantren menghadapi persoalan. Hubungan alumni dengan almamater harus menjadi hubungan produktif dan berkelanjutan. Pesantren dahulu membesarkan santri; setelah berhasil, alumni kembali membesarkan pesantren.
Dari Kerja Perorangan Menuju Kerja Kolektif
PPMTI Progresif tidak mungkin dibangun dengan mengandalkan seorang tokoh. Pesantren terlalu besar untuk diletakkan di pundak satu Buya, satu pimpinan, satu keluarga, satu angkatan alumni ataupun satu kelompok.
Masa depan PPMTI harus dikerjakan dengan kerja kolektif.
Kerja kolektif tidak mengurangi penghormatan kepada Buya dan guru. Sebaliknya, kerja kolektif memastikan perjuangan mereka tidak berhenti ketika figur berganti.
Setiap potensi harus mendapatkan ruang. Tuanku menjaga kaji dan sanad. Guru memperkuat pembelajaran. Akademisi mengembangkan mutu pendidikan. Pengusaha memperkuat ekonomi. ASN dan profesional memperluas jaringan. Perantau membuka akses. Alumni muda mengembangkan teknologi dan komunikasi digital.
Berbeda peran, tetapi satu tujuan. Banyak tangan, satu pekerjaan; banyak pikiran, satu cita-cita; banyak angkatan, satu warih Buya.
Management by Process: Sistem Harus Lebih Kuat daripada Figur
Kerja kolektif membutuhkan manajemen yang baik. PPMTI Progresif harus mulai memperkuat pendekatan management by process—manajemen berbasis proses.
Artinya, keberhasilan lembaga tidak boleh terlalu bergantung kepada siapa yang sedang menjadi pimpinan. Orang boleh berganti, tetapi sistem harus tetap bekerja. Kepemimpinan boleh berakhir, tetapi program dan visi tidak boleh ikut berakhir.
Setiap bidang harus mempunyai proses yang jelas: perencanaan, pembagian tanggung jawab, pelaksanaan, pendampingan, pengawasan, evaluasi, perbaikan, dan keberlanjutan.
Kaderisasi urang siak harus mempunyai proses. Peningkatan kualitas guru harus mempunyai proses. Rekrutmen santri harus mempunyai proses. Pengelolaan aset dan keuangan harus mempunyai proses. Hubungan alumni juga harus mempunyai data, jaringan, program dan target yang berkelanjutan.
Dengan demikian, energi lembaga tidak habis menyelesaikan masalah yang sama berulang kali. Pengalaman hari ini menjadi pembelajaran untuk memperbaiki pekerjaan esok.
Leadership Profetik: Jabatan adalah Amanah
Sistem yang kuat tetap membutuhkan pemimpin yang mempunyai ruh. Karena itu, PPMTI Progresif memerlukan leadership profetik, kepemimpinan yang meneladani nilai-nilai kenabian: shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.
Shiddiq berarti integritas. Amanah berarti tanggung jawab. Tabligh berarti keterbukaan dan kemampuan membangun komunikasi. Fathanah berarti kecerdasan membaca persoalan dan keberanian melakukan pembaruan.
Pemimpin profetik tidak menjadikan lembaga sebagai instrumen membesarkan dirinya. Sebaliknya, dirinya menjadi instrumen untuk membesarkan lembaga.
Pertanyaannya bukan, “Apa yang saya dapat dari pesantren?”, melainkan, “Apa yang saya tinggalkan untuk pesantren setelah amanah ini selesai?”
Leadership profetik juga harus merangkul. Anak jasmani dan anak ruhani tidak dipertentangkan. Senior dan junior tidak dijauhkan. Kampung dan rantau tidak dipisahkan. Semua adalah kekuatan yang harus disatukan dalam khidmat kepada pesantren.
Mengelola Kerelaan, Ketulusan dan Trust Publik
Pesantren dibangun oleh sesuatu yang sering tidak tercatat dalam neraca keuangan, yaitu kerelaan dan ketulusan. Ada guru yang rela mengajar, masyarakat yang berwakaf, orang tua yang mempercayakan anaknya, dan alumni yang memberikan tenaga, pikiran, jaringan serta harta.
Namun kerelaan harus dikelola dengan amanah. Ketulusan harus dipertemukan dengan profesionalitas.
Di sinilah trust publik menjadi modal terbesar PPMTI.
Transparansi bukan lawan keikhlasan. Akuntabilitas bukan tanda hilangnya ketulusan. Justru karena bantuan masyarakat adalah amanah, pengelolaannya harus dapat dipertanggungjawabkan.
Alurnya harus dijaga: kerelaan melahirkan partisipasi, ketulusan melahirkan pengabdian, akuntabilitas melahirkan trust, dan trust memperbesar dukungan umat.
Jika trust terjaga, masyarakat akan merasa PPMTI adalah milik bersama. Alumni akan senang membantu. Orang tua yakin menitipkan anaknya. Guru merasa dihargai. Umat percaya bahwa setiap bantuan menjadi investasi pendidikan dan dakwah.
Alumni Bangkit Menunaikan Warih Buya
Kini saatnya seluruh alumni PPMTI bergerak dari nostalgia menuju aksi, dari silaturahmi menuju kolaborasi, dari kebanggaan sejarah menuju tanggung jawab sejarah.
Alumni tidak datang untuk mengambil alih pesantren. Alumni pulang untuk menguatkan pesantren.
Tidak semua alumni harus menyumbang uang. Ada yang menyumbangkan ilmu, jaringan, waktu, tenaga, teknologi, peluang pendidikan, beasiswa, akses pekerjaan, penguatan ekonomi atau kemampuan manajemen. Yang diperlukan adalah mekanisme yang memungkinkan semua potensi itu bertemu.
Semangatnya sederhana: satu alumni, satu kontribusi; satu angkatan, satu gerakan; seluruh sapaguruan, satu warih Buya.
PPMTI Progresif: Warih Menjadi Gerakan
Para Buya pendiri telah menyelesaikan bagian perjuangan mereka. Mereka mendirikan, mengajar, mendidik, mendoakan dan mewariskan jalan. Generasi sekarang tidak diminta mengulangi persis cara mereka bekerja, tetapi wajib meneruskan tujuan perjuangannya.
Karena itu PPMTI Progresif harus bertumpu pada tiga kekuatan: management by process agar lembaga tidak tergantung pada figur; leadership profetik agar kekuasaan tetap menjadi amanah; dan kolaborasi alumni agar kekuatan sapaguruan berubah menjadi energi kebangkitan.
Buya telah menanam. Guru-guru telah merawat. Santri dan alumni telah menikmati buahnya. Sekarang tiba waktunya anak jasmani dan anak ruhani bersama-sama menyuburkan kembali pohonnya.
Buya boleh berpulang, tetapi kaji tidak boleh terputus. Generasi boleh berganti, tetapi warih tidak boleh berhenti. Zaman boleh berubah, tetapi PPMTI harus tetap melahirkan urang siak.
Itulah PPMTI PROGRESIF: warih Buya diteguhkan, urang siak dikader, sapaguruan dipersatukan, manajemen diperkuat, kepemimpinan diprofetikkan, trust umat dijaga, dan seluruh alumni bangkit bersama melanjutkan perjuangan. 09092026.
