![]() |
Oleh: Duski Samad
Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Imam Bonjol Padang
Krisis Akhlak Bukan Sekadar Kekurangan Pengetahuan
Persoalan mendasar pendidikan dewasa ini bukanlah ketidakmampuan peserta didik membedakan perbuatan baik dan buruk. Mereka umumnya mengetahui bahwa kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kesantunan, dan penghormatan kepada guru merupakan nilai yang harus dijunjung. Akan tetapi, pengetahuan tersebut belum selalu berubah menjadi kesadaran batin dan perilaku nyata.
Pendidikan akhlak sering berhenti pada penguasaan konsep. Akhlak diajarkan di ruang kelas, dihafalkan menjelang ujian, lalu dinilai dengan angka. Padahal, akhlak bukan sekadar pengetahuan mengenai kebaikan, melainkan keadaan jiwa yang melahirkan perbuatan secara sadar dan relatif menetap. Al-Ghazali menjelaskan bahwa akhlak merupakan sifat yang tertanam dalam jiwa, yang darinya lahir perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan panjang (Al-Ghazali, 2005).
Pengertian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan akhlak memerlukan proses internalisasi. Peserta didik tidak cukup hanya mengetahui kebaikan, tetapi harus mencintai, melatih, membiasakan, dan menjadikan kebaikan sebagai identitas dirinya. Karena itu, pendidikan akhlak tidak dapat diselesaikan hanya melalui ceramah dan ujian tertulis.
Allah SWT berfirman: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
(QS. al-Syams [91]: 9–10)
Ayat ini menegaskan bahwa keberhasilan manusia berkaitan erat dengan tazkiyat al-nafs, yaitu proses membersihkan dan mengembangkan jiwa. Dalam konteks inilah pendidikan akhlak berbasis tarekat menemukan relevansinya.
Tarekat sebagai Sistem Pendidikan
Tarekat tidak semestinya dipahami hanya sebagai kumpulan zikir, wirid, dan ritual individual. Secara substantif, tarekat merupakan jalan pendidikan spiritual yang menghubungkan ilmu, amal, adab, disiplin, keteladanan, dan bimbingan guru. Tarekat mendidik manusia melalui latihan yang teratur sehingga nilai agama tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi pengalaman ruhani dan perilaku sosial.
Dalam tradisi tasawuf, perjalanan rohani tidak dilepaskan dari pelaksanaan syariat dan pembentukan akhlak. Al-Qusyairi menjelaskan bahwa jalan tasawuf dibangun di atas kesungguhan beribadah, pengendalian hawa nafsu, adab kepada guru, dan penyucian hati (Al-Qusyairi, 2007). Pendidikan tarekat karena itu bukan pelarian dari kehidupan, melainkan latihan untuk menghadirkan nilai ketuhanan dalam kehidupan.
Pendidikan akhlak berbasis tarekat sebagaimana dipraktikkan di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Yaqin bertumpu pada empat unsur utama, yaitu baiat, al-aurad, silsilah sanad, dan barakah al-masyayikh. Keempatnya bukan unsur yang berdiri sendiri, melainkan membentuk satu sistem pendidikan.
Baiat membangun komitmen dan tanggung jawab moral. Al-aurad membentuk keteraturan ibadah dan kedisiplinan diri. Silsilah sanad menghubungkan murid dengan mata rantai ilmu dan keteladanan para guru. Adapun keyakinan terhadap barakah para masyayikh menjadi kekuatan motivasi spiritual untuk menjaga adab, amal, dan istiqamah (Dokumentasi Penelitian, 2026).
Pendidikan yang Menyentuh Tiga Ranah
Pendidikan tarekat bekerja pada ranah afektif, kognitif, dan psikomotor secara bersamaan. Pada ranah afektif, pendidikan menumbuhkan kesadaran ruhaniah, motivasi beribadah, keikhlasan, dan kemauan memperbaiki diri. Pada ranah kognitif, santri mempelajari ilmu agama dan memahami makna di balik setiap amal. Pada ranah psikomotor, pengetahuan dan kesadaran tersebut diwujudkan melalui pembiasaan ibadah, zikir, khidmah, kedisiplinan, dan tindakan sosial.
Hubungan ketiga ranah tersebut menghasilkan pendidikan akhlak dua arah. Pertama, perubahan eksternal yang tampak dalam perkataan, kedisiplinan, kesantunan, dan tindakan sosial. Kedua, perubahan internal berupa kebersihan hati, pengendalian diri, keikhlasan, dan kedekatan kepada Allah.
Pendekatan tersebut sejalan dengan pemikiran pendidikan karakter modern yang menekankan hubungan antara pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral. Pendidikan karakter dinilai berhasil apabila seseorang mengetahui kebaikan, memiliki komitmen terhadap kebaikan, dan mampu mewujudkannya dalam tindakan (Lickona, 1991).
Dalam perkembangan mutakhir, pendidikan sosial-emosional juga menekankan kemampuan mengelola emosi, membangun kepedulian, memelihara hubungan positif, membuat keputusan yang bertanggung jawab, dan menghadapi masalah secara efektif. Namun, tarekat memberikan dimensi tambahan berupa orientasi transendental: pengawasan Allah dan pertanggungjawaban akhirat.
Ilmu, Ritual, dan Pembiasaan
Pembentukan akhlak berbasis tarekat dimulai melalui pengenalan tata tertib pesantren, pengajaran kitab, dan pembiasaan ritual. Santri mempelajari kitab-kitab akhlak dan tasawuf secara bertahap sesuai dengan tingkat kematangan intelektual dan spiritualnya.
Materi yang diajarkan antara lain Kitab al-Tarbiyah wa al-Adab, Kitab Murāqī al-‘Ubūdiyyah, dan Kitab al-Hikam. Pembelajaran juga diperkuat melalui kajian Bustan al-Muhaqqiqin dan Bustan al-Mudaqqiqin. Kitab tidak hanya dibaca untuk mengetahui isi, tetapi juga untuk membentuk cara berpikir, adab, dan kesadaran ruhani santri (Dokumentasi Penelitian, 2026).
Pada tahap pembentukan spiritual, santri mengamalkan al-aurad dasar dan umum, zikir berjamaah, pengiriman bacaan al-Fatihah kepada pengarang kitab dan para guru, serta ziarah. Santri tingkat akhir yang telah mencapai usia balig dan mukalaf mengikuti baiat sebagai peneguhan komitmen spiritual.
Ritual tersebut berfungsi sebagai sarana habituasi. Pengulangan amal yang disertai pemahaman, kesadaran, dan bimbingan dapat membangun kestabilan karakter. Al-Ghazali menempatkan latihan dan pembiasaan sebagai jalan penting untuk mengubah kecenderungan jiwa. Sifat baik akan menguat apabila terus dilatih, sebagaimana sifat buruk dapat melemah melalui pengendalian dan mujahadah (Al-Ghazali, 2005).
Namun, ritual tidak boleh berhenti pada gerakan formal. Zikir yang tidak melahirkan kejujuran, kerendahan hati, pengendalian diri, dan kepedulian sosial kehilangan fungsi pendidikannya. Oleh sebab itu, ritual tarekat harus selalu dihubungkan dengan pemaknaan dan perubahan perilaku.
Khidmah dan Keteladanan Guru
Tahap penguatan dilakukan melalui internalisasi akhlak dalam hubungan antara guru dan murid. Santri dibiasakan melakukan khidmah, membantu keperluan guru, menjaga kesantunan, memberi salam, mencium tangan, mendengarkan pengajaran, dan menghormati ilmu.
Talaqqi bersama Syekh Zulhamdi Buya Tuanku Kerajaan menjadi ruang penting pembinaan akhlak. Dalam talaqqi, santri tidak hanya menerima informasi, tetapi juga menyaksikan cara guru berbicara, bersikap, beribadah, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang lain. Guru hadir sebagai sumber ilmu sekaligus teladan hidup.
Allah SWT mengingatkan:
> “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. al-Taubah [9]: 119)
Kebersamaan dengan orang saleh merupakan lingkungan pendidikan. Nilai tidak hanya dipindahkan melalui kata-kata, tetapi ditularkan melalui keteladanan, pergaulan, dan pengalaman bersama. Dalam pendidikan Islam, guru karena itu tidak cukup berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai murabbi, pembimbing pertumbuhan intelektual, moral, dan spiritual peserta didik (Al-Attas, 1980).
Khidmah bukanlah tindakan merendahkan martabat santri. Apabila dilakukan secara benar, proporsional, dan bebas dari eksploitasi, khidmah merupakan latihan merendahkan ego, membangun kepedulian, serta menghargai orang yang berjasa dalam transmisi ilmu. Hubungan guru dan murid harus dibangun di atas keikhlasan, kasih sayang, kepercayaan, dan tanggung jawab moral.
Dari Takhalli Menuju Tajalli
Proses pendidikan tarekat sejalan dengan tahapan takhalli, tahalli, dan tajalli. Takhalli berarti membersihkan jiwa dari kesombongan, kebencian, iri hati, ketamakan, kemunafikan, dan kecenderungan buruk lainnya. Tahalli merupakan proses menghiasi diri dengan kejujuran, kesabaran, tawakal, rendah hati, kasih sayang, dan tanggung jawab. Adapun tajalli adalah hadirnya kesadaran ketuhanan yang menerangi pikiran, perasaan, dan tindakan manusia.
Ketiga tahapan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan akhlak merupakan transformasi bertahap. Perbuatan buruk tidak cukup dilarang, tetapi akar batinnya harus dikenali dan dibersihkan. Nilai kebaikan tidak cukup dijelaskan, tetapi harus dilatih hingga menjadi kebiasaan. Selanjutnya, kebiasaan harus dinaikkan menjadi kesadaran spiritual agar perbuatan baik tidak bergantung pada pujian atau pengawasan manusia.
Di sinilah konsep muraqabah mempunyai kedudukan penting. Muraqabah adalah kesadaran bahwa manusia senantiasa berada dalam pengetahuan dan pengawasan Allah. Kesadaran ini melahirkan pengendalian diri dari dalam, bukan sekadar kepatuhan karena takut kepada hukuman eksternal (Nasr, 2007).
Evaluasi Akhlak Tidak Cukup dengan Angka
Evaluasi pendidikan akhlak dalam tarekat tidak mengandalkan ujian tertulis semata. Seseorang mungkin memperoleh nilai tinggi dalam mata pelajaran akhlak, tetapi belum tentu jujur, rendah hati, disiplin, dan bertanggung jawab. Karena itu, evaluasi diarahkan kepada perubahan perilaku, kondisi batin, konsistensi ibadah, dan hubungan sosial.
Indikator keberhasilannya meliputi ketekunan beribadah, kejujuran, kerendahan hati, qanaah, zuhud, wara’, muraqabah, kedisiplinan, kemampuan menjaga lisan, dan kedekatan kepada Allah. Evaluasi dilakukan melalui pengamatan guru terhadap ibadah, zikir, adab, khidmah, tanggung jawab, dan kehidupan sehari-hari santri (Dokumentasi Penelitian, 2026).
Mursyid dalam sistem ini berperan sebagai guru, teladan, pembimbing, dan evaluator ruhani. Pembinaan dilakukan melalui amalan rutin, riyadhah, suhbah, mujahadah, dan komunikasi personal. Evaluasi tertentu dilaksanakan secara pribadi agar koreksi tidak mempermalukan murid dan tetap menjaga semangatnya.
Meskipun demikian, evaluasi tarekat perlu dikembangkan secara lebih sistematis. Pesantren dapat menyusun jurnal perkembangan, catatan refleksi, penilaian diri, pengamatan guru, dan portofolio pengabdian. Instrumen tersebut tidak dimaksudkan mengubah pengalaman ruhani menjadi angka, tetapi membantu melihat perkembangan perilaku secara lebih bertanggung jawab.
Dampak Akademik dan Sosial
Pendidikan tarekat tidak bertentangan dengan pengembangan intelektual. Zikir, tafakur, dan mujahadah dapat melatih konsentrasi, ketekunan, kesabaran, dan kedisiplinan belajar. Adab kepada guru dan ilmu juga menumbuhkan tanggung jawab moral dalam mencari, menyampaikan, dan menggunakan pengetahuan.
Santri diarahkan menjadi lebih rendah hati dalam menyampaikan pendapat, menghormati sesama pencari ilmu, serta memandang ilmu sebagai amanah yang harus diamalkan. Pendidikan tarekat juga dapat meningkatkan kemampuan berpikir reflektif, membaca secara tekun, memahami teks, menyusun argumentasi, dan menghubungkan ilmu dengan kehidupan (Dokumentasi Penelitian, 2026).
Pada ranah sosial, santri dibina agar memiliki akhlak kepada Allah, guru, orang tua, sesama manusia, dan lingkungan. Mereka dibiasakan hidup disiplin, rendah hati, jujur, qanaah, wara’, mudah menolong, menjaga lisan, dan menghormati perbedaan.
Dampak jangka panjang terlihat pada kehidupan alumni. Alumni menjadi teladan moral di tengah masyarakat, lebih tenang menghadapi masalah, mempunyai empati, serta membangun solidaritas melalui ikatan spiritual. Sebagian alumni kembali ke pesantren untuk menjaga hubungan dengan guru dan kesinambungan sanad. Sebagian lainnya mendirikan cabang pesantren dan mengembangkan dakwah di berbagai daerah.
Berkembangnya cabang Pondok Pesantren Nurul Yaqin di Sumatera Barat, Bengkulu, Riau, dan Kalimantan Barat menunjukkan adanya proses regenerasi melalui jaringan alumni. Sanad dalam konteks ini bukan hanya mata rantai transmisi pengetahuan, tetapi juga jaringan pengabdian sosial dan pelembagaan nilai-nilai akhlak.
Menyatukan Tradisi Tarekat dan Pendidikan Modern
Pendidikan akhlak berbasis tarekat mempunyai hubungan kuat dengan teori pendidikan akhlak klasik. Keduanya menekankan penyucian jiwa, pembiasaan, keteladanan, adab, dan pengendalian hawa nafsu. Konsep takhalli, tahalli, tajalli, muhasabah, zikir, dan suhbah yang dikembangkan dalam tradisi Al-Ghazali sejalan dengan praktik pendidikan akhlak dalam tarekat.
Namun, pendidikan tarekat perlu berdialog dengan perkembangan pendidikan modern. Tradisi spiritual dapat dipadukan dengan pembelajaran reflektif, pendampingan psikologis, literasi digital, evaluasi perkembangan, dan penguatan kecakapan sosial. Integrasi tersebut tidak mengurangi autentisitas tarekat, tetapi memperluas manfaatnya dalam menghadapi tantangan zaman.
Di tengah derasnya informasi digital, manusia membutuhkan kemampuan memilih, mengendalikan diri, dan menjaga kejernihan hati. Teknologi menyediakan informasi, tetapi tidak otomatis memberikan kebijaksanaan. Media sosial memperluas hubungan, tetapi tidak selalu melahirkan kedekatan kemanusiaan. Pendidikan modern mengembangkan kecerdasan, sedangkan pendidikan tarekat berusaha memastikan agar kecerdasan dipimpin oleh hati yang bersih.
Pendidikan akhlak yang dibutuhkan hari ini bukan hanya pendidikan yang membuat peserta didik mengetahui nilai, melainkan pendidikan yang membuatnya mampu menjalani nilai. Tarekat menawarkan proses transformasi melalui ilmu, komitmen, latihan, pembiasaan, keteladanan, pengawasan, dan kesinambungan sanad. Dari proses itulah diharapkan lahir manusia yang berilmu tanpa kesombongan, taat tanpa kehilangan daya kritis, saleh secara pribadi, dan bermanfaat bagi kehidupan sosial. 15092026.
Referensi
Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. 1980. The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education. Kuala Lumpur: ABIM.
Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad. 2005. Ihya’ ‘Ulum al-Din. Beirut: Dar Ibn Hazm.
Al-Qusyairi, Abu al-Qasim ‘Abd al-Karim. 2007. Al-Risalah al-Qusyairiyyah fi ‘Ilm al-Tasawwuf. Kairo: Dar al-Salam.
Dokumentasi Penelitian. 2026. “Pendidikan Akhlak Berbasis Tarekat terhadap Santri Pondok Pesantren Nurul Yaqin.” Materi presentasi dan dokumentasi lapangan yang belum diterbitkan.
Lickona, Thomas. 1991. Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.
Muhaimin. 2002. Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nasr, Seyyed Hossein. 2007. The Garden of Truth: The Vision and Promise of Sufism, Islam’s Mystical Tradition. New York: HarperOne.
Nata, Abuddin. 2013. Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia. Jakarta: Rajawali Pers.
UNESCO. 2024. “What You Need to Know About Social and Emotional Learning.” Paris: UNESCO.
Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta: Kencana.
