![]() |
Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag.
Ketua Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin
Wisuda ke-35 Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Syekh Burhanuddin (STIT SB), Kamis, 24 September 2026, bukan sekadar seremoni akademik dan pelepasan para sarjana. Peristiwa ini menjadi momentum untuk membangkitkan kembali ingatan kolektif tentang kedudukan Pariaman sebagai salah satu pusat pendidikan Islam terpenting di Nusantara.
Almarhum Buya M. Letter pernah menyampaikan bahwa pada zaman Syekh Burhanuddin Ulakan, Pariaman menjadi pusat pendidikan Islam yang didatangi para penuntut ilmu dari berbagai daerah di Asia Tenggara. Beliau menyebut pusat keilmuan itu sebagai “Universitas Tanjung Medan Ulakan”. Penyebutan tersebut tentu tidak harus dipahami sebagai universitas dalam pengertian kelembagaan modern, lengkap dengan fakultas, program studi, dan sistem administrasi seperti sekarang. Istilah itu menggambarkan keluasan pengaruh, tingginya wibawa keilmuan, dan luasnya jaringan pendidikan yang berpusat di Ulakan.
Ulakan sebagai Pusat Keilmuan
Syekh Burhanuddin tidak hanya dikenal sebagai ulama penyebar Islam. Beliau adalah pendidik, mursyid, penggerak surau, dan pembangun jaringan intelektual-keagamaan. Melalui surau, beliau melakukan kaderisasi ulama secara sistematis. Para murid datang, tinggal, belajar, beribadah, melatih akhlak, kemudian kembali ke daerah masing-masing untuk mendirikan pusat pendidikan baru.
Surau pada masa itu bukan sekadar tempat salat. Surau berfungsi sebagai lembaga pendidikan, pusat pembinaan spiritual, ruang musyawarah, tempat transmisi ilmu, dan pusat pemberdayaan masyarakat. Di dalamnya berlangsung pengajaran Al-Qur’an, fikih, tauhid, tasawuf, akhlak, serta penanaman nilai-nilai sosial dan kebudayaan.
Keunggulan pendidikan pada zaman Syekh Burhanuddin tidak hanya terletak pada banyaknya orang yang belajar. Keunggulannya bertumpu pada kekuatan sanad, keteladanan guru, kedalaman ilmu, pembentukan akhlak, dan luasnya dampak sosial. Pendidikan tidak berhenti pada pemberian ijazah, tetapi melahirkan ulama yang menghidupkan masyarakat.
Dari Ulakan, jaringan keilmuan tumbuh dan menyebar ke berbagai wilayah Minangkabau, Sumatra, Nusantara, bahkan terhubung dengan dunia Islam yang lebih luas. Dalam pengertian inilah Ulakan dapat dikenang sebagai pusat pendidikan Islam regional pada zamannya.
Pariaman yang Kehilangan Magnet Pendidikan
Sejarah keemasan itu patut dibanggakan, tetapi kebanggaan tidak boleh berhenti sebagai romantisme masa lalu. Kita harus berani mengakui bahwa sampai hari ini Pariaman belum kembali memiliki perguruan tinggi besar dan ternama yang mampu menjadi magnet pendidikan sebagaimana dahulu.
Dalam perkembangan pendidikan tinggi di Sumatera Barat, Kota Padang lebih dikenal sebagai pusat perguruan tinggi. Bukittinggi juga memiliki citra kuat sebagai kota pendidikan dan kota pelajar. Kedua kota tersebut tumbuh dengan lembaga pendidikan yang relatif maju, jumlah mahasiswa yang besar, jaringan akademik yang luas, serta daya tarik regional dan nasional.
Sementara itu, Pariaman—yang memiliki akar sejarah pendidikan Islam sangat kuat—belum sepenuhnya berhasil mengubah warisan sejarahnya menjadi kekuatan pendidikan tinggi kontemporer. Ini merupakan tantangan besar bagi pemerintah daerah, perguruan tinggi, tokoh agama, ninik mamak, perantau, dunia usaha, dan seluruh masyarakat Piaman.
Pariaman tidak kekurangan sejarah, ulama, tradisi, ataupun semangat belajar. Yang diperlukan adalah keberanian membangun visi bersama, memperkuat kelembagaan, meningkatkan mutu sumber daya manusia, menyediakan sarana pendidikan yang layak, dan mengembangkan jejaring akademik yang lebih luas.
STIT Syekh Burhanuddin Menjemput Sejarah
Di tengah kerinduan terhadap kebangkitan pendidikan Pariaman, STIT Syekh Burhanuddin membawa harapan besar. Sejak didirikan pada 1978, perguruan tinggi ini telah menjadi bagian penting dari perjuangan mencerdaskan masyarakat dan melanjutkan cita-cita pendidikan Syekh Burhanuddin.
Pelaksanaan Wisuda ke-35 membuktikan bahwa STIT Syekh Burhanuddin mampu bertahan dan terus bergerak melintasi zaman. Ribuan alumninya telah mengabdi sebagai guru, kepala madrasah, aparatur pemerintahan, tokoh masyarakat, pengelola lembaga pendidikan, serta penggerak kehidupan keagamaan di berbagai daerah.
Namun, perjalanan panjang saja belum cukup. STIT Syekh Burhanuddin harus bergerak dari sekadar bertahan menuju perguruan tinggi yang berkembang, unggul, kompetitif, dan berdampak. Tradisi yang diwarisi harus dipertemukan dengan tuntutan ilmu pengetahuan, teknologi digital, profesionalitas, dan kebutuhan masyarakat masa depan.
Dibukanya Program Magister Pendidikan Agama Islam pada STIT Syekh Burhanuddin mulai Tahun Akademik 2026–2027 adalah indikator penting adanya progres menuju kebangkitan tersebut. Kehadiran program S2 PAI bukan sekadar penambahan jenjang pendidikan, melainkan langkah strategis untuk memperkuat tradisi akademik, meningkatkan kualitas penelitian, mengembangkan sumber daya manusia, dan memperluas pengaruh kampus.
Program magister ini harus menjadi pintu masuk bagi transformasi kelembagaan STIT Syekh Burhanuddin menjadi institut dan, pada saatnya nanti, universitas. Progres tersebut perlu dikawal melalui peningkatan kualifikasi dosen, penguatan publikasi ilmiah, pembangunan fasilitas pendidikan, perluasan kerja sama, dan pengembangan program studi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Membayar Utang Sejarah 48 Tahun
Peluncuran buku Living Heritage Syekh Burhanuddin: Islamisasi di Minangkabau dari Ruang ke Ruang dan Ensiklopedi 100 Syekh dan Tuanku Bersanad pada Syekh Burhanuddin merupakan tonggak penting dalam perjalanan STIT Syekh Burhanuddin.
Selama 48 tahun, sejak 1978 hingga 2026, nama Syekh Burhanuddin telah digunakan sebagai nama dan identitas kampus. Penggunaan nama besar tersebut tentu membawa kehormatan sekaligus tanggung jawab intelektual. Karena itu, penerbitan kedua buku tersebut dapat dipandang sebagai ikhtiar membayar utang sejarah setelah hampir setengah abad nama Syekh Burhanuddin melekat pada lembaga pendidikan ini.
Nama beliau tidak cukup hanya ditulis pada papan kampus, kop surat, ijazah, dan spanduk kegiatan. Pemikiran, perjuangan, jaringan keilmuan, sistem pendidikan, sanad, serta warisan sosial-keagamaannya harus diteliti, ditulis, diajarkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Living Heritage Syekh Burhanuddin mengungkap warisan hidup Syekh Burhanuddin dalam proses Islamisasi Minangkabau. Sementara itu, Ensiklopedi 100 Syekh dan Tuanku Bersanad pada Syekh Burhanuddin memperlihatkan luasnya jaringan guru dan murid yang melanjutkan transmisi keilmuan beliau dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Kehadiran kedua karya itu merupakan langkah mengangkat Syekh Burhanuddin dari sekadar ingatan dan memori kolektif masyarakat menjadi sejarah ilmiah. Tradisi lisan, cerita rakyat, pengalaman jamaah, dan ingatan komunitas tidak ditinggalkan, tetapi dihimpun, dikritisi, dikonfirmasi, dan dipertemukan dengan sumber-sumber tertulis serta metodologi akademik.
Dengan demikian, Syekh Burhanuddin tidak hanya hidup dalam cerita masyarakat, ritual ziarah, dan peringatan tahunan. Beliau juga hadir dalam ruang kuliah, perpustakaan, penelitian, jurnal ilmiah, diskusi akademik, dan percakapan intelektual lintas generasi.
Inilah salah satu tugas penting perguruan tinggi: menjembatani ingatan masyarakat dengan ilmu pengetahuan, mempertemukan sejarah rakyat dengan historiografi ilmiah, serta menjadikan warisan masa lalu sebagai sumber inspirasi untuk membangun masa depan.
Taman Pendidikan Indonesia Emas sebagai Pengungkit
Deklarasi Program Taman Pendidikan Indonesia Emas di STIT Syekh Burhanuddin juga menjadi bagian penting dari momentum kebangkitan tersebut. Program ini harus ditempatkan sebagai pengungkit bagi terwujudnya kampus berdampak.
Kampus berdampak tidak hanya diukur dari banyaknya mahasiswa, jumlah wisudawan, kemegahan gedung, atau kelengkapan administrasinya. Dampak perguruan tinggi harus terlihat dalam peningkatan kualitas pendidikan masyarakat, penguatan literasi, pembinaan karakter, pemberdayaan surau, peningkatan kesejahteraan, dan lahirnya generasi yang mampu menjawab tantangan zamannya.
Taman Pendidikan Indonesia Emas dapat menjadi ruang kolaborasi antara kampus, sekolah, madrasah, pesantren, surau, keluarga, pemerintah, dan masyarakat. Program ini perlu diarahkan untuk menyiapkan sumber daya manusia menyongsong Indonesia Emas 2045: generasi yang beriman, beradab, sehat, cerdas, kreatif, menguasai teknologi, dan tetap berakar pada nilai agama serta kebudayaan Minangkabau.
Melalui program ini, STIT Syekh Burhanuddin diharapkan tidak menjadi menara gading yang terpisah dari kehidupan masyarakat. Kampus harus hadir sebagai taman ilmu, taman peradaban, taman pembentukan karakter, dan ruang bertumbuhnya inovasi sosial.
Jika dikembangkan secara serius, Taman Pendidikan Indonesia Emas dapat menjadi laboratorium pendidikan berbasis masyarakat. Dosen dan mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi hadir menyelesaikan persoalan nyata di tengah masyarakat. Dari sinilah paradigma pendidikan bergerak dari sekadar output menuju outcome dan akhirnya menghasilkan impact atau dampak yang terukur.
Dari Nama Besar Menuju Karya Besar
Menyandang nama Syekh Burhanuddin adalah kehormatan sekaligus amanah besar. Nama tersebut harus melahirkan karya besar, visi besar, dan tanggung jawab besar. Spirit Syekh Burhanuddin harus hadir dalam kurikulum, budaya akademik, karakter dosen, kepribadian mahasiswa, serta pengabdian para alumninya.
Perguruan tinggi ini perlu membangun kekhasan yang membedakannya dari lembaga lain. Keunggulan itu dapat dikembangkan melalui kajian pendidikan Islam, sejarah Islam Minangkabau, tasawuf dan Tarekat Syattariyah, kebudayaan lokal, tradisi surau, moderasi beragama, serta pendidikan berbasis masyarakat.
STIT Syekh Burhanuddin juga perlu memperkuat pusat dokumentasi, bibliografi, manuskrip, dan penelitian tentang Syekh Burhanuddin beserta jaringan ulama yang bersanad kepada beliau. Sejarah lisan yang selama ini hidup dalam ingatan masyarakat harus ditransformasikan menjadi historiografi ilmiah yang dapat diuji, dipelajari, dikembangkan, dan diwariskan.
Kampus ini dapat menjadi kawah candradimuka bagi lahirnya guru, ulama, tuanku, peneliti, dan pemimpin masyarakat yang berilmu, beradab, serta mampu menjawab persoalan zaman. Program Sarjana Tuanku dan Tuanku Sarjana merupakan salah satu ikhtiar penting untuk mempertemukan kedalaman tradisi surau dengan kompetensi akademik modern.
Mengubah Kerinduan Menjadi Gerakan Bersama
Mewujudkan STIT Syekh Burhanuddin sebagai perguruan tinggi ternama tidak dapat dibebankan hanya kepada pimpinan kampus dan yayasan. Cita-cita besar ini memerlukan dukungan Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, Pemerintah Kota Pariaman, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, Kementerian Agama, Kopertais, perguruan tinggi mitra, perantau Piaman, dunia usaha, serta seluruh lapisan masyarakat.
Dukungan tersebut harus diwujudkan dalam pengembangan kampus, peningkatan kualifikasi dosen, penguatan penelitian, pemberian beasiswa, pembangunan perpustakaan dan laboratorium, digitalisasi pembelajaran, serta pembukaan program studi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Kerja sama nasional dan internasional juga perlu diperluas. Jika pada masa lalu para murid datang ke Ulakan karena kewibawaan ilmu dan kekuatan sanad Syekh Burhanuddin, pada masa kini mahasiswa harus datang karena mutu pendidikan, kekhasan keilmuan, inovasi, reputasi penelitian, dan kualitas para alumninya.
Semangat yang harus dibangun ialah:
“Sanad Terjaga, Surau Berdaya, Jamaah Bersaudara, Tradisi Bermakna, Generasi Berlanjut.”
Wisuda sebagai Titik Keberangkatan
Kepada para wisudawan dan wisudawati ke-35, gelar sarjana bukanlah akhir perjalanan. Gelar merupakan amanah untuk menghadirkan ilmu dalam kehidupan. Masyarakat tidak hanya menunggu ijazah saudara, tetapi menunggu karya, keteladanan, dan pengabdian saudara.
Para alumni harus menjadi bukti bahwa STIT Syekh Burhanuddin tidak hanya meluluskan sarjana, tetapi melahirkan manusia berilmu, berakhlak, terbuka, adaptif, dan bermanfaat. Alumni adalah wajah perguruan tinggi di tengah masyarakat. Semakin baik kualitas dan pengabdian alumni, semakin kuat pula kepercayaan masyarakat kepada almamaternya.
Wisuda ke-35 hendaknya menjadi titik keberangkatan baru. Dibukanya Program Magister PAI, diluncurkannya dua karya monumental tentang Syekh Burhanuddin, serta dideklarasikannya Program Taman Pendidikan Indonesia Emas merupakan tiga penanda penting bahwa STIT Syekh Burhanuddin sedang bergerak menuju fase baru.
STIT Syekh Burhanuddin harus bergerak dari sejarah rakyat menuju sejarah ilmiah, dari memori kolektif menuju pengetahuan akademik, dari kebanggaan masa lalu menuju prestasi masa depan, dari keluaran akademik menuju dampak sosial, serta dari perguruan tinggi lokal menuju pusat keilmuan yang dikenal secara nasional dan internasional.
Siapa tahu—dengan kerja keras, kesungguhan, kolaborasi, dan pertolongan Allah—sejarah keemasan pendidikan Pariaman dapat terulang kembali. Dahulu Ulakan menjadi pusat ilmu karena kehadiran Syekh Burhanuddin dan jaringan suraunya. Kini STIT Syekh Burhanuddin memiliki kesempatan untuk menyalakan kembali cahaya itu dalam bentuk perguruan tinggi Islam yang unggul dan berdaya saing.
Semoga dari Ulakan kembali memancar cahaya ilmu. Semoga dari Pariaman lahir generasi ulama-intelektual, pendidik, peneliti, dan pemimpin umat. Semoga STIT Syekh Burhanuddin tumbuh menjadi perguruan tinggi ternama yang mengembalikan marwah Pariaman sebagai pusat pendidikan Islam.
Selamat atas Wisuda ke-35 STIT Syekh Burhanuddin. Sejarah besar tidak hanya untuk dikenang, tetapi untuk dilanjutkan, dikembangkan, dan diwujudkan dalam karya nyata.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
