![]() |
Oleh: Duski Samad
Tema bahasan mubaligh di beberapa channel TV pagi ini tentang bahagia di tengah kecemasan, khususnya Genzi yang hidup dalam kepungan digital. Bencana alam, musibah korupsi penyelenggara negara, kegaduhan sosial dan sejenisnya memerlukan mentalitas yang tangguh.
Setiap orang ingin bahagia. Namun, tidak semua yang menyenangkan membuat hidup menjadi baik. Seseorang dapat menikmati makanan lezat, meraih prestasi, dan memperoleh banyak pengakuan, tetapi tetap gelisah ketika sendirian. Karena itu, kebahagiaan perlu dibaca dalam tiga pengalaman: kenikmatan fisik, kepuasan pikiran, dan ketenangan batin.
Kenikmatan fisik memenuhi kebutuhan tubuh. Kepuasan pikiran hadir ketika akal memperoleh pengetahuan, berhasil memecahkan masalah, atau mencapai tujuan. Ketenangan batin tumbuh ketika hati merasa cukup, hubungan dengan sesama terjaga, dan hidup dijalani dalam kesadaran kepada Allah. Ketiganya mempunyai tempat. Persoalan muncul ketika kenikmatan fisik dikejar dengan mengorbankan kejernihan pikiran dan ketenteraman orang lain.
Dari filsafat menuju kehidupan yang baik
Filsuf Yunani Aristoteles membedakan kebahagiaan yang mendalam dari kesenangan sesaat. Dalam Nicomachean Ethics, kebahagiaan atau eudaimonia berkaitan dengan kegiatan hidup yang dipandu akal dan kebajikan. Tubuh tetap memerlukan makanan, kesehatan, dan kecukupan. Namun, manusia juga perlu membangun watak: jujur, mampu mengendalikan diri, dan adil dalam bertindak. Kebahagiaan, dalam pandangan ini, terlihat dari cara seseorang menjalani hidup, bukan hanya dari apa yang berhasil ia miliki.
Buya Hamka, melalui Tasawuf Modern, mengajak pembacanya merenungkan bahagia dari sisi pembinaan jiwa. Kebutuhan duniawi tidak diingkari, tetapi hati tidak boleh sepenuhnya bergantung pada harta, kedudukan, atau pujian. Akal membantu manusia memilih jalan; iman, akhlak, dan rasa cukup menolongnya menjalani jalan itu dengan tenteram. Pembagian tiga jenis kebahagiaan di atas adalah kerangka untuk membaca kehidupan kita, bukan istilah baku yang dinisbatkan kepada Aristoteles atau Hamka.
Nash: kebahagiaan menyatukan iman dan amal
Al-Qur’an menyebut janji ḥayātan ṭayyibah, kehidupan yang baik, bagi orang beriman yang mengerjakan amal saleh (QS An-Naḥl [16]: 97). Ayat ini menghubungkan kualitas hidup dengan apa yang diyakini dan dilakukan. Kebahagiaan tidak cukup menjadi perasaan dalam hati apabila tindakan kita merugikan orang lain.
Dalam soal konsumsi, Al-Qur’an memerintahkan manusia memakan yang halālan ṭayyiban, halal dan baik (QS Al-Baqarah [2]: 168). Makanan dapat memberi kenikmatan fisik, tetapi sumber, cara memperoleh, dan dampaknya tetap perlu diperhatikan. Islam mengajarkan kenikmatan yang berada dalam batas tanggung jawab.
Untuk ketenangan batin, QS Ar-Ra‘d [13]: 28 mengingatkan bahwa hati menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Tasawuf menyebut upaya merawat kejernihan hati ini sebagai bagian dari tazkiyatun nafs, penyucian jiwa. Al-Qur’an menyatakan beruntung orang yang menyucikan jiwanya (QS Asy-Syams [91]: 9). Zikir, syukur, dan muhasabah mengajak manusia memeriksa keinginannya: apakah ia sedang mencari kebaikan, atau hanya mengejar dorongan sesaat?
Nabi Muhammad saw. juga mengingatkan bahwa Allah melihat hati dan amal manusia, bukan rupa serta hartanya (HR Muslim). Hadis ini memberi ukuran yang tajam bagi zaman yang mudah menilai hidup dari penampilan. Keadaan batin dan tindakan nyata harus berjalan bersama.
Etika keluarga: kebolehan menuntut tanggung jawab
Prinsip tersebut berlaku ketika kita membicarakan poligami. QS An-Nisā’ [4]: 3 mengaitkan kebolehannya dengan keadilan dan mengarahkan kepada satu istri apabila seseorang khawatir tidak mampu berlaku adil. QS An-Nisā’ [4]: 129 juga memperingatkan agar kecenderungan hati tidak membuat seorang istri terkatung-katung. Maka, kemampuan tidak dapat diukur dari harta saja; hak, waktu, nafkah, kejujuran, dan martabat anggota keluarga turut dipertaruhkan.
Dari sudut etika, pertanyaannya lebih luas daripada “Apakah tindakan ini dibolehkan?” Kita perlu bertanya, “Apa akibatnya bagi orang yang menanggung keputusan saya?” Berbohong kepada istri, mengurangi haknya, atau menelantarkan anak tidak berubah menjadi baik hanya karena seseorang mengutip dalil kebolehan poligami. Dalam hukum Indonesia, persetujuan istri atau para istri juga merupakan salah satu syarat permohonan izin poligami kepada pengadilan, dengan pengecualian tertentu yang dinilai pengadilan. Secara moral, suara istri harus didengar dengan jujur, tanpa tekanan atau tipu daya.
Inilah pentingnya memahami hukum Islam secara utuh—al-aḥkām al-syar‘iyyah al-syāmilah. Kebolehan dibaca bersama kewajiban berlaku adil; hak diri dibaca bersama hak pasangan dan anak. Orang mungkin memperoleh apa yang diinginkannya, tetapi sulit berharap rumah tangga tenteram bila jalan yang ditempuh dipenuhi kebohongan.
Psikologi dan kehidupan Gen Z
Tiga pengalaman bahagia tadi juga relevan bagi Gen Z yang hidup bersama arus informasi global. Layar menawarkan hiburan cepat, ruang belajar, pertemanan, dan kesempatan berkarya. Namun, arus yang sama dapat mendorong perbandingan diri tanpa henti: tubuh siapa yang lebih menarik, karier siapa yang lebih cepat, atau hubungan siapa yang tampak paling bahagia. Pengalaman digital tidak sama bagi semua orang. American Psychological Association menekankan bahwa pengaruh media sosial bergantung pada cara penggunaan dan keadaan penggunanya; penggunaan menjelang tidur juga berkaitan dengan gangguan tidur.
Di sinilah psikologi bertemu dengan etika dan tasawuf. Tubuh memerlukan tidur dan kesehatan. Pikiran memerlukan ilmu, kemampuan menilai informasi, dan tujuan yang masuk akal. Batin memerlukan hubungan yang tulus, kesempatan untuk hening, dan keyakinan bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh jumlah pengikut atau pujian. WHO mencatat bahwa masalah kesehatan mental pada remaja merupakan persoalan nyata; sebab itu, ajakan untuk berzikir dan bersyukur perlu berjalan bersama perhatian pada dukungan keluarga, pertemanan, dan bantuan profesional ketika diperlukan.
Bagi Gen Z, menggapai kebahagiaan hari ini dapat dimulai dari pilihan yang dekat: menikmati makanan tanpa berlebihan, menggunakan teknologi untuk belajar dan berkarya, menjaga waktu istirahat, berkata jujur dalam hubungan, serta menyediakan ruang untuk ibadah dan muhasabah. Mereka dapat meraih keberhasilan di dunia global sambil tetap memelihara akhlak dan kepedulian.
Akhirnya, kebahagiaan yang utuh mempertemukan tubuh yang terurus, pikiran yang bertumbuh, dan batin yang tenteram. Ia menjadi lebih bermakna ketika kebahagiaan kita turut menjaga hak dan ketenteraman orang lain. Ds@purikhatulistiwajati nagorbandung26092026.
