![]() |
Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag.
Ketua Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin Pariaman
Minangkabau memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat penting perkembangan Islam di Nusantara. Sejarah itu tidak hanya dibentuk oleh dakwah para ulama, tetapi juga oleh lahirnya lembaga pendidikan yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Salah satu lembaga terpenting tersebut adalah surau.
Surau bukan sekadar tempat salat dan mengaji. Dalam sejarah Minangkabau, surau menjadi pusat pendidikan Al-Qur’an, pengkajian kitab-kitab turats, pembinaan akhlak, pengembangan tasawuf dan tarekat, kaderisasi ulama, pembentukan kepemimpinan, serta pengabdian kepada masyarakat. Dari surau lahir Syekh, Tuanku, Labai, Imam, Khatib, guru agama, dan pemimpin umat yang kemudian menyebarkan ilmu ke berbagai nagari.
Di dalam sejarah besar itu, Syekh Burhanuddin Ulakan menempati posisi yang sangat penting. Beliau tidak cukup hanya dikenang sebagai tokoh penyebar Islam di Minangkabau. Lebih dari itu, Syekh Burhanuddin harus ditempatkan sebagai perintis dan pengembang sistem pendidikan surau.
Sepulang menuntut ilmu kepada Syekh Abdurrauf as-Singkili di Aceh, Syekh Burhanuddin membangun pusat pendidikan di Ulakan. Dari sana berkembang jaringan murid, khalifah, dan surau yang tersebar ke berbagai wilayah Minangkabau. Melalui sistem tersebut, pendidikan Islam tidak hanya berlangsung dalam bentuk penyampaian ilmu, tetapi juga melalui pembinaan kepribadian, latihan spiritual, kedisiplinan, kepemimpinan, dakwah, dan pengabdian sosial.
Model pendidikan yang dikembangkan Syekh Burhanuddin mempertemukan tauhid, fikih, tasawuf, akhlak, dan kehidupan masyarakat. Ilmu tidak dipisahkan dari adab. Ibadah tidak dilepaskan dari tanggung jawab sosial. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing, teladan, dan pemimpin umat. Inilah salah satu kekuatan pendidikan surau yang membentuk karakter masyarakat Minangkabau selama berabad-abad.
Perkembangan surau kemudian memberi landasan bagi lahirnya madrasah, pesantren, Madrasah Tarbiyah Islamiyah, organisasi PERTI, dan perguruan tinggi Islam. Dengan demikian, terdapat kesinambungan sejarah yang kuat antara surau, madrasah, pesantren, organisasi keulamaan, dan pendidikan tinggi Islam.
Namun, warisan besar tersebut belum seluruhnya terdokumentasi secara memadai. Banyak manuskrip masih tersimpan di surau, rumah keluarga ulama, dan koleksi pribadi. Sebagian belum diinventarisasi, belum dikonservasi, dan belum didigitalisasi. Jaringan sanad ulama juga belum terpetakan secara utuh. Biografi para Syekh dan Tuanku masih banyak hidup dalam tradisi lisan. Demikian pula sejarah kurikulum, metode pembelajaran, pola kepemimpinan, dan transformasi surau belum banyak dikaji secara sistematis.
Di sisi lain, warisan Syekh Burhanuddin masih hidup di tengah masyarakat. Ia hadir dalam tradisi Basapa, jaringan tarekat Syattariyah, surau-surau, makam ulama, sanad keilmuan, pranata Tuanku, manuskrip, adat, serta praktik keagamaan masyarakat. Warisan ini bukan warisan yang mati, melainkan living heritage, yaitu warisan yang terus dipraktikkan, dimaknai, dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Atas dasar itulah, STIT Syekh Burhanuddin Pariaman menggagas pendirian PUSAKA, singkatan dari Pusat Studi Syekh Burhanuddin, Surau, dan Keulamaan Minangkabau.
PUSAKA dirancang bukan sekadar sebagai unit kelembagaan tambahan, melainkan sebagai identitas akademik dan pusat keunggulan STIT Syekh Burhanuddin Pariaman. PUSAKA akan menjadi ruang penelitian, dokumentasi, digitalisasi, penerbitan, pelestarian, dan pengembangan warisan intelektual Islam Minangkabau.
Nama PUSAKA dipilih karena memiliki makna yang kuat. Syekh Burhanuddin, pendidikan surau, sanad ulama, manuskrip, tradisi Basapa, dan jaringan keulamaan merupakan pusaka intelektual, spiritual, budaya, dan peradaban. Pusaka itu tidak cukup hanya dihormati, tetapi harus diteliti, dirawat, dikembangkan, dan diwariskan.
Dengan tagline “Meneliti Warisan, Merawat Sanad, Membangun Peradaban,” PUSAKA diarahkan menjadi pusat kajian yang memiliki fokus akademik yang jelas. Fokus utamanya adalah menempatkan Syekh Burhanuddin sebagai titik awal kajian sistem pendidikan surau di Minangkabau.
Kekhasan ini penting. PUSAKA tidak hanya akan menjadi pusat studi tokoh, tetapi juga pusat riset sejarah pendidikan Islam Minangkabau. Kajian akan dikembangkan dari biografi Syekh Burhanuddin menuju pemikiran pendidikan, jaringan murid, kurikulum surau, metode pembelajaran, sanad keilmuan, manuskrip, tradisi tarekat, transformasi kelembagaan, dan relevansinya bagi pendidikan Islam masa depan.
Ruang lingkup kajian PUSAKA akan dibangun dalam beberapa klaster. Pertama, Syekh Burhanuddin Studies, yang meneliti biografi, pemikiran, strategi dakwah, jaringan sanad, murid, khalifah, dan warisan hidup Syekh Burhanuddin.
Kedua, Surau Studies, yang mengkaji sejarah surau, kurikulum, metode halaqah, hubungan guru dan murid, kepemimpinan Tuanku, arsitektur, kehidupan santri, peran sosial, serta transformasi surau menuju madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi.
Ketiga, Minangkabau Ulama Studies, yang mendokumentasikan biografi, genealogi, karya, sanad, serta kontribusi Syekh, Tuanku, Labai, Imam, Khatib, dan ulama Minangkabau dalam pendidikan, dakwah, adat, dan kehidupan kebangsaan.
Keempat, kajian manuskrip dan turats Minangkabau, melalui kegiatan inventarisasi, konservasi, digitalisasi, transliterasi, penerjemahan, dan penerbitan edisi ilmiah.
Kelima, kajian Tarekat Syattariyah dan Basapa, yang melihat tradisi tersebut dari perspektif sejarah, spiritualitas, budaya, pendidikan, tata kelola ziarah, dan living heritage.
Keenam, pengembangan Digital Heritage and Artificial Intelligence, yaitu pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan untuk membangun basis data ulama, peta jaringan sanad, katalog manuskrip, museum virtual, portal penelitian, dan pusat pengetahuan Syekh Burhanuddin.
Salah satu program unggulan PUSAKA adalah Syekh Burhanuddin Education Project. Program ini secara khusus akan meneliti dan merumuskan pemikiran pendidikan Syekh Burhanuddin sebagai perintis pendidikan surau. Produk yang ditargetkan antara lain biografi ilmiah, buku pemikiran pendidikan, rekonstruksi kurikulum surau, peta jaringan murid dan khalifah, film dokumenter, modul pembelajaran, museum digital, serta konferensi tahunan.
Program unggulan lainnya adalah penyusunan Ensiklopedia 1.000 Syekh dan Tuanku Minangkabau, Atlas Surau Minangkabau, Museum Digital Syekh Burhanuddin, digitalisasi manuskrip Islam Minangkabau, serta penerbitan jurnal internasional bertajuk PUSAKA: Journal of Surau and Minangkabau Islamic Studies.
PUSAKA juga akan mengembangkan AI Knowledge Center Syekh Burhanuddin, yakni pusat data berbasis kecerdasan buatan yang mengintegrasikan manuskrip, sanad, sejarah ulama, jaringan surau, tradisi Basapa, dan living heritage. Melalui program ini, peneliti, mahasiswa, guru, santri, dan masyarakat dapat mengakses pengetahuan secara lebih mudah, sistematis, dan bertanggung jawab.
Pengembangan teknologi bukan dimaksudkan untuk menggantikan tradisi, melainkan untuk memperkuat pelestarian dan diseminasi. Manuskrip tetap harus dibaca dengan pendekatan filologis. Sanad tetap harus diverifikasi melalui sumber dan kesaksian yang dapat dipertanggungjawabkan. Tradisi lisan tetap harus dihormati, tetapi perlu diuji dan didokumentasikan secara ilmiah.
PUSAKA juga memiliki orientasi masa depan. Surau tidak hanya akan diteliti sebagai lembaga sejarah, tetapi juga dikembangkan sebagai model pendidikan yang relevan bagi generasi baru. Melalui Surau Revitalization Laboratory, PUSAKA akan merancang model surau sebagai pusat pendidikan Al-Qur’an, kajian turats, pembentukan karakter, kaderisasi ulama, literasi digital, moderasi beragama, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan budaya Minangkabau.
Dengan pendekatan tersebut, PUSAKA tidak berhenti pada romantisme masa lalu. PUSAKA hendak menjadikan sejarah sebagai sumber inovasi. Warisan lama harus dibaca kembali untuk menjawab persoalan baru. Pendidikan surau harus dikaji bukan hanya karena pernah berjaya, tetapi karena di dalamnya terdapat nilai-nilai yang masih relevan, seperti kedekatan guru dan murid, keteladanan, adab, kemandirian, kehidupan komunal, integrasi ilmu dan amal, serta pengabdian kepada masyarakat.
Pendirian PUSAKA sekaligus memperkuat kekhasan STIT Syekh Burhanuddin Pariaman, terutama dalam pengembangan Program Magister Pendidikan Agama Islam. Kajian turats, integrasi keilmuan, pendidikan surau, sejarah Syekh Burhanuddin, dinamika keulamaan, dan masa depan pendidikan Islam dapat menjadi identitas yang membedakan kampus ini dari perguruan tinggi lainnya.
Ke depan, PUSAKA diharapkan menjadi pusat kolaborasi antara ulama, akademisi, peneliti, perguruan tinggi, pondok pesantren, Madrasah Tarbiyah Islamiyah, pemerintah, lembaga adat, keluarga ulama, komunitas manuskrip, museum, perpustakaan, dan lembaga internasional.
Kerja besar ini tidak mungkin dilaksanakan oleh satu lembaga saja. Penelitian sejarah memerlukan keterbukaan sumber. Digitalisasi manuskrip memerlukan kepercayaan pemilik naskah. Pemetaan sanad membutuhkan partisipasi keluarga ulama dan komunitas surau. Revitalisasi pendidikan membutuhkan dukungan pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendidikan.
Karena itu, PUSAKA harus dibangun sebagai rumah bersama. Ia bukan milik satu kelompok, satu tarekat, atau satu generasi. PUSAKA adalah ruang ilmiah untuk merawat warisan umat dengan pendekatan yang terbuka, beradab, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Melalui PUSAKA, STIT Syekh Burhanuddin Pariaman berikhtiar melunasi sebagian hutang akademik kepada Syekh Burhanuddin dan para ulama Minangkabau. Jasa mereka tidak cukup hanya dikenang dalam ceramah dan ziarah. Pemikiran, metode pendidikan, jaringan sanad, manuskrip, dan perjuangan mereka harus diteliti serta diwariskan dalam bentuk pengetahuan yang kokoh.
Pada akhirnya, PUSAKA hendak menegaskan bahwa warisan bukan sekadar sesuatu yang berasal dari masa lalu. Warisan adalah amanah untuk masa depan. Sanad bukan sekadar rangkaian nama, melainkan kesinambungan ilmu, adab, dan tanggung jawab. Surau bukan sekadar bangunan, melainkan ruang pembentukan manusia dan peradaban.
Dengan semangat meneliti warisan, merawat sanad, dan membangun peradaban, PUSAKA STIT Syekh Burhanuddin Pariaman diharapkan menjadi pusat keunggulan kajian Islam Minangkabau, rujukan nasional dalam sejarah pendidikan surau, serta jembatan yang menghubungkan khazanah ulama dengan kebutuhan generasi masa depan.ds.02082026
