![]() |
Oleh: Duski Samad
Catatan atas Puisi Satir Helvy Tiana Rosa, “Dosen yang Salah Menulis”
Puisi satir Helvy Tiana Rosa berikut layak dibaca secara utuh, sebab kritiknya tidak hanya mengenai buku dan jurnal, tetapi menyentuh pertanyaan lebih mendasar: untuk apa seorang dosen menulis dan untuk siapa ilmu diwariskan?
DOSEN YANG SALAH MENULIS
Puisi Satir Helvy Tiana Rosa
Seorang dosen menulis buku.
tidak untuk naik pangkat.
Bukan untuk asesor.
Bukan untuk mengenyangkan
kolom-kolom BKD.
Ia menulis karena ilmunya
terlalu lama tinggal di kepala
dan takut mati
sebelum sempat diwariskan.
Lalu koleganya bertanya:
“Jurnal mana?”
Ia menunjukkan bukunya.
Koleganya tersenyum
seperti melihat anak kecil
membawa layang-layang
ke rapat senat.
“Buku sekarang nilainya kecil.”
Maka ia belajar
bahwa di kampus
ilmu bukan hanya harus benar,
tetapi juga harus tahu
tempat duduknya.
Jurnal duduk di depan.
Buku menunggu
di kursi plastik belakang.
Yang satu dipuji
karena terindeks.
Yang lain dicurigai
karena dibaca banyak orang.
“Kalau mau cepat profesor,”
kata seorang teman,
“jangan terlalu banyak menulis buku.”
Nasihat yang indah.
Di universitas, rupanya,
seorang dosen bisa terlalu rajin
mengabadikan pengetahuan
hingga kariernya terganggu.
Ia membuka buku
yang ditulisnya tujuh tahun.
Ada sejarah pemikiran di sana.
Ada teori yang ia kunyah
sampai giginya tua.
Ada pengalaman mengajar
yang tidak muat
dalam dua puluh halaman artikel.
Tetapi semua itu kalah
oleh pertanyaan sederhana:
“Scopus?”
Ia menggeleng.
“Web of Science?”
Ia menggeleng lagi.
Orang-orang pun menghela napas
seperti baru saja menyaksikan
sebuah penelitian gagal.
Sejak itu
ia mulai memahami tata krama akademik:
menulislah panjang
asal dipotong pendek.
Berpikirlah luas
asal masuk template.
Temukan sesuatu
asal muat dalam scope.
Dan kalau ilmu itu
terlalu besar untuk artikel,
kecilkan ilmunya.
Jangan jurnalnya.
Buku boleh diwariskan
kepada mahasiswa.
Boleh dibaca dua puluh tahun.
Boleh membuat seseorang
mengubah cara berpikir.
Tetapi angka kredit
tidak mudah terharu.
Ia lebih menyukai
nomor DOI.
Suatu hari
seorang mahasiswa datang.
“Pak, buku Bapak mengubah
cara saya melihat bidang ini.”
Dosen itu terdiam.
Ia hampir bahagia.
Untung segera teringat:
kesaksian mahasiswa
tidak punya impact factor.
Maka ia kembali bekerja.
Menulis buku berikutnya.
Bukan karena tidak paham sistem.
Justru karena paham.
Bahwa jika semua dosen
hanya menulis apa
yang dihitung oleh sistem,
suatu hari kampus
akan penuh orang berpangkat tinggi
yang meninggalkan
sangat sedikit
untuk dibaca.
MENULIS MENGIKAT ILMU
Puisi ini adalah satire yang jenaka, tetapi sekaligus getir. Ia mengetuk satu ruang yang sering luput dalam kehidupan akademik modern: ketika ukuran administratif perlahan-lahan mengambil tempat tujuan substantif ilmu pengetahuan. Jurnal, indeksasi, sitasi, DOI, impact factor, dan berbagai ukuran kinerja akademik tentu penting. Semua itu diperlukan untuk menjaga mutu, mengembangkan komunikasi ilmiah, serta memastikan ilmu dapat diuji oleh komunitas akademik. Masalah muncul ketika alat ukur berubah menjadi tujuan, sedangkan ilmu, kemanfaatan, pendidikan, dan pewarisan pengetahuan justru menjadi urusan kedua.
Tradisi keilmuan sejatinya dibangun oleh kegelisahan yang sangat sederhana: ilmu yang tidak ditulis akan mudah hilang bersama pemiliknya. Karena itu, menulis adalah pekerjaan mengikat ilmu. Ada ungkapan Arab yang sangat dikenal dalam tradisi keilmuan:
«قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ
“Ikatlah ilmu dengan tulisan.”»
Ilmu berada dalam ingatan manusia, sedangkan ingatan mempunyai batas. Guru akan menua, generasi akan berganti, majelis akan berakhir, dan manusia akhirnya meninggalkan dunia. Tulisan membuat ilmu melampaui umur biologis pemiliknya. Usia penulis terbatas, tetapi usia gagasan dapat jauh lebih panjang.
Di sinilah buku memiliki martabat yang tidak selalu dapat diterjemahkan ke dalam angka kredit. Buku memungkinkan seorang ilmuwan menyampaikan gagasan secara utuh. Ada pemikiran yang memang cukup dijelaskan dalam sebuah artikel, tetapi ada pula gagasan yang membutuhkan ratusan halaman: sejarah panjang, bangunan teori, perdebatan epistemologis, pengalaman lapangan, refleksi puluhan tahun, serta sintesis yang lahir dari pergulatan seorang akademisi sepanjang hidupnya.
Karena itu, mempertentangkan buku dengan jurnal sebenarnya keliru. Jurnal dan buku bukan musuh. Artikel jurnal diperlukan untuk menyampaikan temuan yang fokus, aktual, teruji, dan masuk dalam percakapan akademik internasional. Buku diperlukan untuk melakukan sintesis, pendalaman, pengembangan pemikiran, pendidikan, dan pewarisan intelektual antargenerasi. Perguruan tinggi yang sehat membutuhkan keduanya.
Satire Helvy menjadi penting ketika akademisi mulai bertanya bukan lagi, “Apa yang harus saya wariskan?”, melainkan hanya, “Berapa angka kreditnya?”; bukan lagi, “Apakah tulisan ini bermanfaat?”, tetapi, “Terindeks di mana?”; bukan lagi, “Apakah mahasiswa akan memahami ilmu ini?”, melainkan, “Berapa sitasinya?”
Pertanyaan administratif tidak salah. Yang keliru adalah ketika pertanyaan administratif mengalahkan pertanyaan epistemologis dan moral.
Dosen pada hakikatnya bukan sekadar pemegang jabatan akademik. Ia adalah mata rantai peradaban ilmu. Ia menerima ilmu dari guru, tradisi keilmuan, penelitian, pengalaman, buku, masyarakat, dan kehidupan; kemudian berkewajiban mengolah serta meneruskannya kepada generasi berikutnya. Karena itu, salah satu ukuran penting seorang ilmuwan semestinya bukan hanya setinggi apa pangkat yang dicapainya, tetapi seberapa banyak pengetahuan bermakna yang ditinggalkannya.
Profesor pada akhirnya akan pensiun. Jabatan akan selesai. Ruang kerja akan ditempati orang lain. SK akan menjadi arsip. Bahkan gelar akademik pada waktunya hanya menjadi beberapa kata yang tertulis di depan dan belakang nama.
Tetapi buku dapat tetap berbicara.
Mahasiswa yang belum lahir hari ini mungkin kelak membacanya. Peneliti yang tidak pernah berjumpa dengan penulisnya dapat mengutip dan mengkritiknya. Sebuah gagasan yang ditulis dengan sungguh-sungguh bahkan dapat melintasi generasi.
Itulah sebabnya produktivitas ilmiah seharusnya tidak berhenti pada career sustainability, tetapi bergerak menuju knowledge sustainability—keberlanjutan ilmu. Perguruan tinggi tidak cukup menghasilkan profesor; perguruan tinggi harus melahirkan warisan intelektual para profesor.
Maka kalimat paling tajam dari puisi itu sesungguhnya berada pada bagian akhirnya: jangan sampai kampus dipenuhi orang berpangkat tinggi, tetapi meninggalkan sangat sedikit untuk dibaca.
Pesannya bukan menolak Scopus. Bukan merendahkan Web of Science. Bukan pula mempertentangkan buku dengan jurnal. Pesannya lebih mendasar: jangan biarkan sistem pengukuran mempersempit makna ilmu.
Menulislah di jurnal agar ilmu diuji.
Menulislah di buku agar ilmu diwariskan.
Mengajarlah agar ilmu dihidupkan.
Menelitilah agar ilmu diperbarui.
Dan menulislah terus agar ilmu tidak ikut terkubur bersama pemiliknya.
Sebab bagi seorang ilmuwan, menulis bukan sekadar memenuhi BKD. Menulis adalah mengikat ilmu, memperpanjang usia gagasan, menyambungkan sanad intelektual, dan meninggalkan jejak bagi peradaban.
Jabatan akademik mencatat siapa kita hari ini.
Karya ilmiah menentukan apakah gagasan kita masih berbicara esok hari.
Menulis adalah mengikat ilmu. Mewariskan ilmu adalah memperpanjang kehidupan.22082026.
