![]() |
Oleh: Prof. Dr. Duski Samad, M.Ag
Ulama boleh wafat, tetapi ilmu, sanad, amal, keteladanan, dan perjuangannya tidak ikut terkubur. Kematian seorang ulama mengakhiri kehidupan biologisnya, tetapi tidak dengan sendirinya mengakhiri kehidupan intelektual, spiritual, sosial, dan kultural yang diwariskannya. Bahkan ukuran kebesaran seorang ulama justru semakin tampak ketika berabad-abad setelah wafatnya, ilmu yang diajarkan masih dikaji, sanadnya masih disambungkan, tarekatnya masih diamalkan, pranata keagamaannya masih berfungsi, dan tradisi yang dibangunnya masih hidup di tengah masyarakat.
Dalam perspektif inilah dua karya, Living Heritage Syekh Burhanuddin dan Ensiklopedi 100 Syekh dan Tuanku Bersanad pada Syekh Burhanuddin, penting dibaca. Kedua buku tersebut bukan sekadar dokumentasi sejarah, melainkan ikhtiar ilmiah untuk menegaskan bahwa peran ulama dapat tetap bertahan melampaui empat abad kehidupan generasi sesudahnya.
Syekh Burhanuddin Ulakan wafat pada 1111 H/1704 M. Lebih dari tiga abad telah berlalu dan pengaruhnya telah memasuki abad keempat, tetapi jejak keilmuan dan spiritualnya tidak berhenti. Warisan tak benda (intangible heritage) berupa tarekat, ilmu, sanad, silsilah, gelar dan pranata Syekh, Tuanku, Labai, surau, kaji keagamaan, serta berbagai tradisi sosial-spiritual masyarakat masih dapat ditemukan dan dipraktikkan hingga hari ini.
Justru di sinilah makna sesungguhnya dari living heritage: yang diwariskan bukan hanya benda peninggalan, melainkan sistem nilai dan sistem transmisi ilmu yang masih hidup.
Allah Swt. berfirman:
«يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ
“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. al-Mujādilah [58]: 11).»
Rasulullah saw. juga menegaskan bahwa ulama adalah pewaris para nabi (al-‘ulamā’ waratsat al-anbiyā’). Pewarisan tersebut bukanlah pewarisan harta dan kekuasaan, melainkan ilmu, akhlak, hikmah, tanggung jawab dakwah, dan jalan pembinaan ruhani.
Empat Abad, tetapi Warisan Masih Hidup
Syekh Burhanuddin telah lama meninggalkan kehidupan dunia, tetapi masyarakat masih menyebut namanya, menziarahi makamnya, mempelajari jaringan keilmuannya, menghidupkan tradisi yang berkembang dari lingkungan surau, serta mengenal Syekh dan Tuanku yang bersambung dalam garis kajinya.
Fakta ini menunjukkan bahwa usia pengaruh seorang ulama dapat jauh lebih panjang daripada usia biologisnya.
Ada manusia yang hidup puluhan tahun kemudian hilang dari ingatan masyarakat. Sebaliknya, ada ulama yang telah wafat berabad-abad tetapi tetap “hadir” karena ilmu dan amalnya terus bekerja dalam kehidupan umat.
Kedua buku tersebut hendak menunjukkan bahwa Syekh Burhanuddin tidak hanya meninggalkan makam dan situs sejarah. Warisan yang lebih menentukan justru adalah warisan tak benda: ilmu, tarekat, sanad, silsilah, adab guru-murid, sistem surau, otoritas Syekh dan Tuanku, fungsi Labai, praktik keagamaan, serta tradisi sosial yang terus ditransmisikan.
Maka mengenal Syekh Burhanuddin tidak cukup hanya dengan mengetahui kapan beliau hidup dan wafat. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang masih hidup dari Syekh Burhanuddin dalam masyarakat hari ini?
Jawabannya terdapat pada murid-muridnya, murid dari muridnya, surau-surau yang melanjutkan kajinya, jalur sanadnya, tarekat yang diamalkan, dan berbagai tradisi yang tetap dipelihara masyarakat.
Sanad Syariat dan Silsilah Hakikat
Hal yang sangat penting ditegaskan dalam membaca jaringan Syekh dan Tuanku adalah bahwa hubungan guru dan murid dalam tradisi Islam mempunyai dimensi yang lebih luas daripada hubungan pedagogis biasa.
Dalam ilmu syariat, dikenal sanad ilmu. Ilmu diterima dari guru, guru menerimanya dari gurunya, dan demikian seterusnya sehingga terbentuk mata rantai transmisi keilmuan. Sanad memberikan legitimasi epistemologis sekaligus pertanggungjawaban akademik-keagamaan bahwa ilmu tidak diproduksi berdasarkan klaim pribadi.
Namun dalam tradisi tasawuf dan tarekat terdapat pula silsilah ruhani. Silsilah menunjukkan mata rantai pembinaan spiritual dari murid kepada mursyid, dari mursyid kepada gurunya, terus bersambung dalam tradisi tarekat.
Di samping itu terdapat konsep khalifah, yaitu mereka yang memperoleh amanah tertentu untuk meneruskan pengajaran, pembinaan, amalan, atau jalan ruhani yang diterima dari guru.
Karena itu perlu dibedakan sekaligus dihubungkan:
sanad terutama menegaskan transmisi dan otoritas ilmu; silsilah menunjukkan kesinambungan mata rantai ruhani; sedangkan khalifah menunjukkan amanah penerusan fungsi pembinaan dan pengajaran sesuai otoritas yang diberikan guru.
Dalam jaringan Syekh Burhanuddin, dimensi tersebut penting karena yang diwariskan bukan hanya pengetahuan tentang syariat, tetapi juga perjalanan menuju hakikat dan ma‘rifat, termasuk kaji-kaji batiniah yang ditransmisikan melalui relasi guru dan murid.
Dengan demikian, pada setiap jalur guru-murid perlu ditelusuri secara hati-hati: dari siapa ia menerima ilmu syariat, kepada siapa sanad keilmuannya bersambung, melalui siapa silsilah tarekatnya diterima, siapa yang memberikan ijazah atau amanah, dan dalam kapasitas apa seseorang disebut khalifah.
Ini penting agar sejarah sanad tidak berubah menjadi sekadar klaim genealogis.
Ensiklopedi sebagai Tali Batin Murid dan Guru
Dalam perspektif tersebut, karya ilmiah Ensiklopedi 100 Syekh dan Tuanku Bersanad pada Syekh Burhanuddin mempunyai dimensi yang lebih dalam daripada sebuah kumpulan biografi.
Ensiklopedi ini menjadi tali batin antara murid dan guru.
Nama-nama yang ditulis di dalamnya bukan sekadar daftar tokoh. Di balik setiap nama terdapat guru. Di belakang seorang guru terdapat guru sebelumnya. Di balik sebuah surau terdapat kaji. Di balik sebuah kaji terdapat sanad. Dan di balik sanad terdapat amanah untuk menjaga ilmu.
Hubungan tersebut membangun kesadaran bahwa ilmu yang kita miliki hari ini tidak datang dengan sendirinya.
Guru mewariskan ilmu, murid menjaga amanah.
Guru menunjukkan jalan, murid meneruskan perjalanan.
Guru menyalakan pelita, murid menjaga agar cahayanya tidak padam.
Di sinilah sanad melahirkan adab al-‘ilm. Seorang murid tidak merasa menjadi sumber ilmu. Semakin tinggi ilmunya, semakin sadar ia kepada siapa ilmu itu berutang.
Karya ilmiah seorang profesor pun memperoleh makna profetik ketika ilmu akademiknya digunakan untuk menyelamatkan ingatan umat, memverifikasi sanad, mendokumentasikan guru, dan mempertemukan generasi baru dengan akar keilmuannya.
Masjid Syekh Madinah: Kembali Mengingat Guru
Penetapan Masjid Syekh Madinah di Sungai Gimba, Ulakan sebagai tempat launching memiliki pesan historis dan spiritual tersendiri.
Tempat bukan sekadar lokasi acara. Tempat dapat menjadi ruang ingatan.
Nama Syekh Madinah mengingatkan masyarakat kepada Syekh Abdul Arif yang populer dikenal sebagai Syekh Madinah, guru Syekh Burhanuddin dalam mata rantai perjalanan keilmuannya. Dalam ingatan sejarah lokal, Syekh Madinah juga dikaitkan dengan pendirian dan pelaksanaan Jumat pertama.
Karena itu, peluncuran buku mengenai Syekh Burhanuddin dan jaringan seratus Syekh dan Tuanku di Masjid Syekh Madinah mengandung simbolisme yang kuat: mengingat murid dengan tidak melupakan gurunya.
Sehebat apa pun seorang murid, ia lahir dari proses pendidikan. Setinggi apa pun seorang Syekh, ada guru yang pernah membimbingnya.
Launching di tempat ini seolah membawa kembali narasi panjang murid-murid kepada salah satu titik penting sejarah gurunya.
Pesannya sederhana tetapi mendalam:
jangan mengenal Syekh Burhanuddin tanpa mengenal guru-gurunya, dan jangan mengenal Syekh dan Tuanku sesudahnya tanpa menelusuri garis kajinya.
Dari Ziarah Makam Menuju Ziarah Intelektual dan Spiritual
Masyarakat Minangkabau mempunyai tradisi yang kuat dalam menghormati ulama melalui ziarah. Tradisi tersebut perlu diperkaya menjadi ziarah intelektual dan spiritual.
Ziarah fisik membawa seseorang kepada makam seorang Syekh. Ziarah intelektual membawa seseorang kepada kitab, pemikiran, sejarah, dan perjuangannya. Sedangkan ziarah spiritual membawa seseorang kepada nilai, adab, amalan, dan kesadaran ruhani yang diwariskannya.
Ketiganya dapat saling melengkapi.
Setelah bertanya, “Di mana makam Syekh ini?”, generasi baru harus didorong bertanya:
Siapa gurunya?
Apa kajinya?
Bagaimana sanad ilmunya?
Bagaimana silsilah tarekatnya?
Siapa muridnya?
Siapa khalifahnya?
Apa yang diperjuangkannya?
Dan apa yang masih hidup dari perjuangannya hari ini?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang mengubah sejarah dari sekadar nostalgia menjadi sumber pendidikan.
Jangan Sampai Sanad Terputus oleh Ketidaktahuan
Ada sanad yang terputus karena tidak ada penerus. Tetapi ada pula sanad sosial dan kultural yang seakan-akan terputus karena generasi berikutnya tidak lagi mengetahui siapa guru mereka.
Inilah ancaman besar zaman sekarang.
Surau dapat tetap berdiri tetapi sejarah Syekhnya hilang. Makam masih ramai diziarahi tetapi ilmu orang yang dimakamkan tidak lagi diketahui. Gelar Tuanku tetap digunakan tetapi garis kajinya tidak dikenali. Tarekat tetap disebut tetapi silsilahnya tidak dipelajari.
Jika keadaan tersebut dibiarkan, yang tersisa hanyalah bangunan tanpa ingatan, nama tanpa narasi, gelar tanpa sanad, makam tanpa sejarah, dan tradisi tanpa pengetahuan.
Karena itu, Living Heritage Syekh Burhanuddin dan Ensiklopedi 100 Syekh dan Tuanku Bersanad pada Syekh Burhanuddin harus dibaca sebagai permulaan dari pekerjaan yang lebih besar: dokumentasi manuskrip, pemetaan surau, penelitian sanad ilmu, verifikasi silsilah tarekat, pendataan khalifah, pengumpulan sejarah lisan, dan digitalisasi khazanah ulama.
Dari Living Heritage Menuju Living Legacy
Warisan Syekh Burhanuddin telah membuktikan daya tahannya. Sejak beliau wafat pada 1111 H/1704 M, generasi datang dan pergi, kekuasaan berubah, sistem pendidikan berganti, teknologi berkembang, tetapi sebagian penting warisan keilmuan dan spiritual tersebut masih hidup.
Itulah living heritage.
Tetapi pekerjaan kita tidak boleh berhenti pada kebanggaan bahwa warisan itu masih ada. Living heritage harus ditransformasikan menjadi living legacy, warisan yang bukan hanya bertahan, tetapi produktif menjawab kebutuhan zaman.
Tarekat harus melahirkan kedalaman spiritual dan akhlak. Sanad harus menjaga otoritas dan integritas ilmu. Silsilah harus menumbuhkan kesadaran akan kesinambungan ruhani. Syariat harus membimbing amal lahiriah. Hakikat dan ma‘rifat memperdalam kesadaran batiniah. Surau harus kembali menjadi pusat ilmu dan pembentukan manusia. Syekh, Tuanku, dan Labai harus dibaca bukan sekadar sebagai gelar tradisional, tetapi sebagai bagian dari ekosistem transmisi ilmu dan pelayanan umat.
Karena itu, launching kedua buku ini sesungguhnya bukan sekadar launching buku. Ia adalah launching kesadaran sejarah.
Kesadaran bahwa kita mempunyai guru.
Kesadaran bahwa guru mempunyai guru.
Kesadaran bahwa ilmu mempunyai sanad.
Kesadaran bahwa jalan ruhani mempunyai silsilah.
Kesadaran bahwa amanah mempunyai penerus.
Dan kesadaran bahwa peradaban hanya dapat bertahan apabila generasi baru mengenal akar yang menghidupinya.
Merawat sanad adalah merawat ilmu.
Menjaga silsilah adalah menjaga mata rantai ruhani.
Mengenal guru adalah menjaga adab.
Mengenal perjuangan ulama adalah menemukan akar.
Menghidupkan warisannya adalah meneruskan peradaban.
Syekh Burhanuddin telah wafat lebih dari tiga abad silam dan pengaruh warisannya telah melintasi empat abad. Namun selama ilmu masih dikaji, tarekat masih diamalkan, sanad masih disambungkan, silsilah masih dikenali, surau masih mengajar, Syekh, Tuanku dan Labai masih menjalankan perannya, serta nilai perjuangannya masih diteruskan, ulama itu sesungguhnya tetap hidup di tengah umat melalui warisan yang ditinggalkannya.
