![]() |
Oleh: Duski Samad
Kajian Subuh Darul Muttaqin Selasa 01 September 2026
Pasal Keempat Tazkiratul Qulub membawa pembaca memasuki wilayah yang sangat menentukan dalam kehidupan ruhani, yaitu bagaimana manusia menghadapi nafsu dan keterikatan kepada dunia. Pesan dasarnya bukanlah meninggalkan kehidupan dunia atau mematikan seluruh keinginan manusia. Nafsu merupakan bagian dari struktur kemanusiaan. Keinginan makan mempertahankan kehidupan, dorongan seksual menjaga keberlanjutan keturunan, keinginan memiliki harta mendorong manusia bekerja, dan ambisi dapat melahirkan prestasi. Persoalan muncul ketika kebutuhan yang wajar berkembang menjadi keinginan yang tidak terkendali.
Al-Qur'an memberikan peringatan tentang potensi tersebut melalui firman Allah, “Sesungguhnya nafsu itu benar-benar selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku” (QS Yusuf [12]: 53). Karena itu, pendidikan ruhani tidak diarahkan untuk menghilangkan nafsu, melainkan mendidik dan mengendalikannya.
Hal ini semakin jelas dalam QS al-Syams [91]: 7–10. Allah menjelaskan bahwa jiwa memiliki kemungkinan menuju fujur dan takwa, lalu menegaskan, “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” Dengan demikian, tazkiyat al-nafs merupakan proses transformasi: manusia yang awalnya mudah diperintah oleh keinginannya dididik agar mampu menguasai keinginan tersebut.
Psikologi: Dari Impuls Menuju Self-Regulation
Dalam perspektif psikologi, pesan Pasal Keempat dapat didekati melalui konsep self-regulation, yaitu kemampuan seseorang mengendalikan pikiran, emosi, dorongan, dan perilakunya agar sesuai dengan tujuan dan nilai yang diyakininya.
Manusia yang matang bukanlah manusia tanpa keinginan, melainkan manusia yang mampu berkata kepada dirinya: “Saya menginginkannya, tetapi saya tidak harus melakukannya.” Di sinilah terdapat perbedaan antara manusia yang dikuasai impuls dan manusia yang memiliki pengendalian diri.
Dorongan yang tidak terkendali bekerja dengan pola sederhana: ingin, lalu melakukan. Sebaliknya, pribadi yang memiliki self-regulation membangun ruang kesadaran: ingin, berhenti, berpikir, menimbang, memilih, baru bertindak. Ruang antara keinginan dan tindakan itulah tempat akal, iman, nilai moral, dan kesadaran ruhani bekerja.
Al-Qur'an memberikan formulasi yang sangat kuat mengenai kemampuan tersebut: “Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya” (QS al-Nazi'at [79]: 40–41). Frasa naha al-nafsa 'an al-hawa menunjukkan bahwa kematangan ruhani memerlukan kemampuan menghentikan diri ketika dorongan bertentangan dengan nilai yang lebih tinggi.
Dari Kebutuhan Menjadi Keinginan Tanpa Batas
Persoalan kehidupan modern semakin kompleks karena batas antara kebutuhan (need) dan keinginan (want) semakin kabur. Kebutuhan mempunyai titik cukup, sedangkan keinginan dapat berkembang tanpa batas.
Manusia membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Namun rumah dapat berubah menjadi simbol status. Kendaraan diperlukan untuk mobilitas, tetapi kendaraan dapat berubah menjadi ukuran gengsi. Pakaian dibutuhkan untuk menutup tubuh, tetapi mode dapat menjadikannya sarana kompetisi sosial. Telepon pintar dibutuhkan untuk komunikasi dan pekerjaan, tetapi dapat berubah menjadi pusat kehidupan seseorang.
Pada titik itulah dunia tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan manusia. Dunia mulai membentuk keinginan manusia.
Nabi Muhammad saw. memberikan ukuran yang berbeda tentang kekayaan: “Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengarahkan manusia kepada qana'ah, yaitu kemampuan memiliki rasa cukup tanpa kehilangan produktivitas.
Qana'ah tidak identik dengan kemiskinan, kemalasan, atau penolakan terhadap kemajuan. Seseorang boleh bekerja keras, membangun usaha, memperoleh kekayaan, dan mencapai kedudukan tinggi. Namun semua itu tetap berada di tangannya, bukan menguasai hatinya.
Keterikatan Hati: Bukan Dunia yang Salah
Pasal Keempat juga dapat dibaca sebagai kritik terhadap keterikatan hati. Persoalan sebenarnya bukan apakah seseorang memiliki dunia, tetapi bagaimana hubungan hatinya dengan dunia tersebut.
Al-Qur'an menyatakan, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal-amal kebajikan yang kekal lebih baik...” (QS al-Kahfi [18]: 46). Al-Qur'an tidak menyebut harta dan anak sebagai sesuatu yang buruk. Keduanya disebut zinah, perhiasan kehidupan. Kesalahan terjadi ketika perhiasan ditempatkan sebagai tujuan akhir.
QS al-Hadid [57]: 20 bahkan menggambarkan dinamika psikologis kehidupan dunia: la'ib, lahw, zinah, tafakhur, dan takatsur: permainan, kelalaian, perhiasan, saling membanggakan, lalu berlomba memperbanyak harta dan keturunan. Rangkaian tersebut seperti menjelaskan perjalanan keinginan manusia dari sekadar menikmati sesuatu hingga menjadikannya arena kompetisi harga diri.
Karena itu, pertanyaan ruhani yang penting bukan hanya “Apa yang saya miliki?”, tetapi “Apakah saya memiliki dunia, atau dunia yang telah memiliki saya?”
Fakta Kehidupan Modern: Ketika Hidup Menjadi Perbandingan
Media digital membuat pesan Syekh Muhammad Jamil Jaho semakin relevan. Dahulu manusia mungkin membandingkan dirinya dengan beberapa orang di lingkungan terdekat. Sekarang seseorang dapat melihat kehidupan ratusan bahkan ribuan orang setiap hari melalui layar telepon genggam.
Rumah orang lain dilihat, kendaraan orang lain dilihat, perjalanan wisata orang lain dilihat, jabatan dan keberhasilan orang lain diketahui, bahkan kebahagiaan rumah tangga orang lain dipertontonkan. Padahal yang tampil di layar pada umumnya hanyalah etalase kehidupan, bukan keseluruhan realitasnya.
Dari sinilah mudah berkembang social comparison. Orang yang sebelumnya merasa cukup tiba-tiba merasa kurang. Yang sebelumnya bersyukur mulai mempertanyakan nasibnya. Yang sebenarnya hidup berkecukupan merasa miskin karena membandingkan dirinya dengan standar kehidupan orang lain.
Terbentuklah lingkaran psikologis: melihat, membandingkan, merasa kurang, menginginkan, mengejar, memperoleh, menikmati sebentar, kemudian merasa kurang kembali.
Al-Qur'an mengingatkan, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur” (QS al-Takatsur [102]: 1–2). Takatsur bukan sekadar mempunyai banyak, tetapi mentalitas yang selalu menuntut lebih banyak.
Ketika Keinginan Berubah Menjadi Kecemasan
Keterikatan yang berlebihan juga dapat menjadi sumber kecemasan. Semakin banyak sesuatu dijadikan sandaran harga diri, semakin banyak pula yang ditakuti kehilangannya.
Jika harga diri bergantung pada jabatan, kehilangan jabatan terasa seperti kehilangan identitas. Jika harga diri ditentukan kekayaan, penurunan pendapatan dianggap sebagai keruntuhan martabat. Jika harga diri bergantung kepada pujian manusia, kritik kecil dapat mengguncangkan emosi. Jika kebahagiaan ditentukan oleh likes, komentar, dan jumlah pengikut, respons orang lain akhirnya menentukan suasana batin.
Tasawuf menawarkan perubahan pusat ketergantungan: dari ketergantungan berlebihan kepada makhluk menuju ketergantungan kepada Allah.
Allah berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS al-Ra'd [13]: 28). Dari perspektif psikologis-spiritual, tauhid membebaskan manusia dari terlalu banyak pusat ketergantungan. Hati yang sebelumnya tercerai-berai oleh dunia dikembalikan kepada satu pusat orientasi, yaitu Allah SWT.
Konseling Islami: Menjernihkan Keinginan
Dalam konseling Islami, orang yang mengalami keterikatan duniawi tidak cukup hanya dinasihati, “Jangan cinta dunia.” Ia perlu dibantu mengenali apa yang sebenarnya terjadi di dalam dirinya.
Konseling dapat mengajak seseorang memeriksa setiap keinginan melalui rangkaian rangsangan → keinginan → kesadaran → penilaian → pengendalian → pilihan → tindakan. Pada ruang antara keinginan dan tindakan itulah konseling Islami menghadirkan iman, akal, nilai, dan kesadaran kepada Allah.
Konseli dapat diajak bertanya: Apa yang sebenarnya saya inginkan? Mengapa saya sangat menginginkannya? Apakah ini kebutuhan atau sekadar dorongan sesaat? Apakah ia sesuai dengan syariat? Apakah membawa maslahat? Apa akibatnya bagi diri dan keluarga? Dan pertanyaan paling mendasar: apakah keputusan ini membawa saya semakin dekat atau semakin jauh dari Allah?
Konseling Islami dengan demikian tidak hanya menyelesaikan masalah (problem solving), tetapi juga melakukan penjernihan nilai, makna, dan orientasi hidup.
Muhasabah: Dari Audit Amal Menuju Audit Motif
Di sinilah Pasal Keempat mempunyai hubungan erat dengan Pasal Ketiga Tazkiratul Qulub. Bila Pasal Ketiga menekankan muhasabah terhadap amal, Pasal Keempat membawa muhasabah masuk lebih dalam kepada sumber dan motif amal.
Seseorang bersedekah adalah baik, tetapi mengapa ia bersedekah? Karena Allah atau karena ingin dipuji? Seseorang mendirikan lembaga adalah pekerjaan mulia, tetapi apakah orientasinya pelayanan umat atau membesarkan dirinya? Seseorang mengejar jabatan diperbolehkan, tetapi apakah jabatan dipahami sebagai amanah atau alat memenuhi ego?
Demikian pula membeli sesuatu yang halal tidak otomatis menjadi persoalan. Muhasabah menanyakan lebih jauh: apakah barang tersebut benar-benar diperlukan atau dibeli karena gengsi dan keinginan memperoleh pengakuan?
Allah berfirman, “Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok” (QS al-Hasyr [59]: 18). Muhasabah berarti manusia berani mengambil jarak dari dirinya sendiri, lalu menjadikan pikiran, keinginan, motif, dan amalnya sebagai objek evaluasi.
Muraqabah: Membangun Pengawas dari Dalam
Pengendalian diri akan rapuh jika seseorang hanya berbuat baik ketika dilihat orang lain. Selama ada atasan ia disiplin, selama ada kamera ia jujur, selama ada masyarakat ia menjaga perilaku. Ketika pengawasan eksternal hilang, perilakunya berubah.
Tasawuf membangun pengawasan yang jauh lebih dalam melalui muraqabah, yakni kesadaran terus-menerus bahwa Allah mengetahui dan menyaksikan hamba-Nya.
Hadis Jibril menjelaskan ihsan: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu” (HR. Muslim).
Dalam perspektif konseling Islami, muraqabah membentuk internal spiritual control. Orang tidak korup bukan semata-mata karena takut KPK. Ia jujur bukan hanya karena takut kehilangan jabatan. Ia tidak berkhianat bukan semata-mata karena takut diketahui keluarga. Ada pengawasan batin yang lebih tinggi: Allah melihat saya.
Riyadhah: Perubahan Membutuhkan Latihan
Mengetahui sesuatu tidak otomatis membuat manusia mampu melakukannya. Banyak orang mengetahui bahaya marah tetapi tetap mudah marah. Mengetahui pemborosan buruk tetapi tetap konsumtif. Mengetahui penggunaan gawai berlebihan merusak konsentrasi tetapi tetap sulit melepaskannya.
Karena itu tasawuf mengenal riyadhah, latihan jiwa secara terus-menerus.
Riyadhah dalam kehidupan kontemporer dapat diwujudkan dengan latihan sederhana: menunda membeli sesuatu yang tidak diperlukan, membatasi penggunaan media sosial, mengurangi konsumsi berlebihan, berpuasa, memperbanyak sedekah, membiasakan diam ketika marah, menjaga disiplin ibadah, menyediakan waktu untuk zikir, dan melakukan muhasabah sebelum tidur.
Melalui riyadhah, seseorang sedang mendidik dirinya sendiri untuk berkata:
“Saya mempunyai keinginan, tetapi keinginan bukan pemimpin saya. Keputusan saya harus dipimpin iman, akal, dan nilai.”
Fakta Kehidupan: Ketika Sarana Berubah Menjadi Tujuan
Paradoks kehidupan modern mudah ditemukan. Rumah semakin besar, tetapi anggota keluarga semakin jarang berkomunikasi. Alat komunikasi semakin canggih, tetapi manusia dapat semakin kesepian. Informasi tersedia tanpa batas, tetapi perhatian semakin mudah terpecah. Hiburan semakin banyak, tetapi manusia semakin sulit duduk tenang bersama dirinya sendiri.
Ada orang bekerja dari pagi sampai malam dengan alasan membahagiakan keluarga, tetapi akhirnya tidak mempunyai waktu untuk keluarganya. Uang yang awalnya dicari untuk menopang kehidupan, perlahan membuat seluruh kehidupan dihabiskan untuk mencari uang.
Jabatan yang semula diterima sebagai amanah dapat berubah menjadi identitas yang mati-matian dipertahankan. Teknologi yang diciptakan untuk membantu manusia dapat berubah menjadi sesuatu yang menguasai perhatian manusia.
Pada titik tersebut Pasal Keempat mengajukan pertanyaan ruhani yang tajam: siapa yang menjadi tuan dan siapa yang menjadi hamba?
Audit Ruhani: Audit Keinginan dan Keterikatan
Pasal Keempat dapat dikembangkan menjadi instrumen Audit Ruhani. Jika audit biasa memeriksa angka, administrasi, dan kinerja, Audit Ruhani memeriksa apa yang tidak selalu terlihat oleh manusia: niat, keinginan, keterikatan, dan orientasi hati.
Audit dimulai dengan pertanyaan: Apa yang paling banyak memenuhi pikiran saya? Apa yang paling saya kejar? Apa yang paling saya takut kehilangan? Apa yang membuat saya iri kepada orang lain? Apakah saya masih mampu mengatakan “cukup”?
Setelah itu dilakukan audit pengendalian diri. Apakah saya mampu menunda kesenangan? Apakah saya mampu menolak sesuatu yang sebenarnya dapat saya peroleh tetapi tidak saya perlukan? Apakah saya mampu menerima ketika keinginan tidak terpenuhi?
Semua itu akhirnya diperiksa melalui empat bingkai utama:
Niat → Norma → Maslahat → Taqarrub.
Setiap keinginan perlu ditanyakan: Apa niatnya? Apakah sesuai norma dan syariat? Apakah membawa maslahat? Apakah mendekatkan diri kepada Allah?
Dengan demikian, Audit Ruhani tidak hanya menanyakan “Apa yang telah saya lakukan?”, tetapi bergerak lebih dalam kepada “Mengapa saya melakukannya, siapa yang saya cari, dan ke mana amal itu membawa hati saya?”
Dari Nafs Ammarah Menuju Jiwa yang Merdeka
Tujuan akhir Pasal Keempat bukan membuat manusia miskin, lemah, atau menjauh dari kehidupan. Tujuannya justru melahirkan manusia merdeka secara ruhani.
Manusia yang merdeka dapat memiliki harta tanpa diperbudak harta. Ia dapat mempunyai jabatan tanpa mabuk jabatan. Ia menggunakan teknologi tanpa diperbudak teknologi. Ia menerima pujian tanpa kecanduan pujian. Ia menghadapi kritik tanpa kehilangan harga diri. Ia menikmati dunia tanpa kehilangan orientasi akhirat.
Perjalanan ruhani itu dapat digambarkan:
Yaqzah → Muhasabah → Mengenali Nafsu → Mujahadah → Riyadhah → Muraqabah → Qana'ah → Zuhud → Tazkiyah → Itmi'nan.
Zuhud akhirnya tidak harus dimaknai sebagai tidak memiliki dunia, melainkan tidak membiarkan dunia memiliki hati.
Di sinilah aktualitas ajaran Syekh Muhammad Jamil Jaho. Penjara manusia modern tidak selalu berbentuk tembok dan jeruji. Penjara itu dapat berupa syahwat, keserakahan, gengsi, iri hati, ambisi kekuasaan, kecanduan teknologi, budaya konsumtif, dan kebutuhan tanpa henti akan pengakuan manusia.
Pasal Keempat mengajarkan jalan pembebasannya: kendalikan nafsu, audit keinginan, latih jiwa, hadirkan muraqabah, bangun qana'ah, dan kembalikan orientasi hati kepada Allah SWT.
Dengan itu, dunia tetap boleh berada dalam genggaman, tetapi jangan sampai masuk menguasai hati. Dunia adalah sarana kehidupan, bukan kiblat kehidupan; manusia boleh memiliki dunia, tetapi hatinya tetap milik Allah.
