![]() |
Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag.
Peserta Umrah Dhuyuf Al-Muluk, Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H/2026 M
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Sabtu, 11 Juli 2026
Alhamdulillāh, setelah menziarahi Jabal Uhud, rombongan Dhuyuf Al-Muluk melanjutkan perjalanan menuju Masjid Quba. Rombongan terdiri atas enam bus dan mendapat pengawalan kehormatan dari empat kendaraan Kerajaan Arab Saudi. Pelayanan ini merupakan bentuk penghormatan kepada para tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain.
Dalam perjalanan dari Uhud menuju Quba, di sebelah kiri jalan tampak Masjid Qiblatain, masjid bersejarah yang berada di kawasan permukiman Bani Salimah. Masjid ini mengingatkan umat Islam kepada salah satu peristiwa besar dalam sejarah syariat, yakni perubahan arah kiblat dari Baitulmaqdis di Yerusalem menuju Ka‘bah di Masjidil Haram, Makkah.
Allah SWT berfirman:
> قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ
“Sungguh, Kami melihat wajahmu menengadah ke langit. Maka sungguh Kami akan memalingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Di mana pun kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu.”
(QS. Al-Baqarah: 144)
Perubahan kiblat bukan sekadar perubahan arah secara fisik. Ia merupakan peristiwa teologis dan sosial yang sangat besar. Ka‘bah menjadi pusat orientasi ibadah, simbol kesatuan umat, dan penegasan identitas masyarakat Islam. Seluruh Muslim, meskipun berbeda bangsa, bahasa, dan tempat tinggal, berdiri menghadap kepada satu arah dalam penghambaan kepada Allah SWT.
Kawasan Bani Salimah juga menyimpan pelajaran tentang besarnya pahala berjalan menuju masjid. Penduduk Bani Salimah pernah berkeinginan memindahkan tempat tinggal agar lebih dekat dengan Masjid Nabawi. Namun Rasulullah SAW meminta mereka tetap tinggal di perkampungannya karena setiap langkah menuju masjid akan dicatat sebagai pahala.
Pesan Rasulullah SAW kepada mereka adalah:
> يَا بَنِي سَلِمَةَ، دِيَارَكُمْ تُكْتَبْ آثَارُكُمْ
“Wahai Bani Salimah, tetaplah di tempat tinggal kalian; langkah-langkah kalian akan dicatat.”
Peristiwa tersebut mengajarkan bahwa jarak yang ditempuh dalam ketaatan tidak pernah sia-sia. Setiap langkah menuju rumah Allah merupakan bagian dari amal yang bernilai di sisi-Nya.
Perjalanan kemudian diteruskan menuju Masjid Quba, yang terletak di kawasan selatan Madinah. Di tempat inilah Rasulullah SAW singgah ketika berhijrah dari Makkah sebelum memasuki pusat Kota Madinah. Pada tahun pertama Hijriah, beliau bersama para sahabat membangun masjid yang dikenal sebagai masjid pertama dalam sejarah Islam.
Allah SWT mengabadikan keutamaannya:
> لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ
“Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama lebih patut engkau melaksanakan salat di dalamnya.”
(QS. At-Taubah: 108)
Masjid Quba tidak hanya menjadi bangunan tempat ibadah. Ia adalah lambang bahwa masyarakat dan peradaban Islam harus dibangun di atas fondasi takwa, keikhlasan, persaudaraan, dan ketaatan.
Rasulullah SAW juga memberikan keutamaan yang besar kepada orang yang mendatangi Masjid Quba:
> مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَ قُبَاءَ فَصَلَّى فِيهِ صَلَاةً كَانَ لَهُ كَأَجْرِ عُمْرَةٍ
“Barang siapa bersuci di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba lalu melaksanakan salat di dalamnya, maka baginya pahala seperti pahala satu kali umrah.”
Karena keutamaan tersebut, kami berwudu dan melaksanakan salat dua rakaat bersama anggota kelompok. Setiap peserta berusaha menjaga kekhusyukan dan mensyukuri kesempatan beribadah di tempat yang pernah didatangi Rasulullah SAW.
Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW sering mengunjungi Masjid Quba, terkadang dengan berjalan kaki dan terkadang dengan mengendarai tunggangan, terutama pada hari Sabtu. Kehadiran beliau secara rutin menunjukkan kedudukan khusus masjid ini dalam kehidupan masyarakat Madinah.
Kawasan Quba pada masa itu merupakan wilayah yang subur dengan kebun-kebun kurma. Di sinilah Rasulullah SAW mulai melakukan konsolidasi awal masyarakat Islam. Masjid menjadi pusat salat, pendidikan, pertemuan, musyawarah, dan penguatan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar.
Ziarah dari Uhud, melewati Qiblatain, lalu menuju Quba menghadirkan tiga pelajaran besar. Uhud mengajarkan ketaatan, Qiblatain mengajarkan kesatuan arah dan identitas umat, sedangkan Quba mengajarkan pembangunan masyarakat di atas fondasi takwa.
Meninggalkan Masjid Quba, hati semakin memahami bahwa hijrah Rasulullah SAW bukan hanya perpindahan dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah perubahan orientasi hidup: dari kepentingan pribadi menuju pengabdian kepada Allah, dari perpecahan menuju persaudaraan, dan dari masyarakat tanpa arah menuju peradaban yang berlandaskan iman dan takwa.
Wallāhu a‘lam bi al-shawāb.
