![]() |
Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag.
Peserta Umrah Dhuyuf Al-Muluk (Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman) 1448 H / 2026 M
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Alhamdulillāh, Allah SWT kembali menganugerahkan kemuliaan kepada kami melalui Program Umrah Dhuyuf Al-Muluk, tamu kehormatan Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud. Sesungguhnya, kemuliaan ini berasal dari Allah, sedangkan undangan Raja merupakan wasilah yang mempertemukan kami dengan jejak-jejak sejarah perjuangan Rasulullah SAW.
Pada Sabtu, 11 Juli 2026, rombongan ziarah menuju Jabal Uhud menggunakan enam kendaraan yang diisi peserta dari berbagai negara, antara lain Indonesia, Malaysia, Kamboja, Thailand, dan Taiwan. Perjalanan ini memperlihatkan wajah persaudaraan Islam yang melampaui batas bangsa dan bahasa.
Sesampainya di kawasan Uhud, kami disambut udara Madinah yang sangat panas, mencapai sekitar 43°C. Payung dan air minum menjadi teman setia setiap jamaah. Namun panas itu terasa ringan ketika hati dipenuhi kesadaran bahwa kami sedang berada di tempat yang menjadi saksi perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat.
Jabal Uhud membentang sekitar enam kilometer. Di sinilah terjadi Perang Uhud pada hari Sabtu, 3 Syawal tahun 3 Hijriah. Rasulullah SAW memimpin sekitar 315 pasukan Muslim menghadapi sekitar 1.000 pasukan Quraisy. Ketimpangan jumlah tidak menghalangi semangat juang kaum Muslimin yang dilandasi iman dan keyakinan kepada pertolongan Allah.
Salah satu lokasi yang paling penting adalah Bukit Rumat, tempat Rasulullah SAW menempatkan pasukan pemanah. Beliau berpesan agar mereka tidak meninggalkan pos dalam keadaan apa pun. Namun ketika sebagian pemanah melihat harta rampasan perang, mereka turun meninggalkan posisi. Kesempatan itu dimanfaatkan pasukan Quraisy untuk menyerang dari belakang sehingga keadaan berubah. Dalam peristiwa itu 70 sahabat gugur sebagai syuhada, termasuk Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib RA, paman Rasulullah SAW yang dikenal sebagai penghulu para syuhada.
Di kawasan ini pula Pemerintah Arab Saudi memasang Panduan Penting Ziarah sebagai pedoman bagi para peziarah. Di antaranya dijelaskan bahwa ziarah kubur disyariatkan untuk dua tujuan utama.
Pertama, mengucapkan salam kepada ahli kubur dan mendoakan mereka, sebagaimana doa yang diajarkan Rasulullah SAW:
> السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ، نَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ
"Semoga keselamatan tercurah kepada kalian wahai penghuni kubur dari kalangan orang-orang mukmin dan muslim. Insya Allah kami akan menyusul kalian. Kami memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan kalian." (HR. Muslim)
Kedua, mengingat kehidupan akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa ziarah kubur menjadi pengingat akan kehidupan setelah kematian.
Papan tersebut juga mengingatkan agar tidak mengusap-usap kuburan, karena hal itu bukan tuntunan syariat, serta tidak mencari berkah dengan mendaki Jabal Uhud atau Bukit Rumat maupun mengambil batu dan tanah dari lokasi tersebut. Pesan ini menunjukkan bahwa penghormatan kepada tempat bersejarah harus tetap berada dalam koridor tauhid dan tuntunan Rasulullah SAW.
Jabal Uhud akhirnya mengajarkan kepada kita bahwa kekalahan bukan selalu karena lemahnya kekuatan, tetapi bisa terjadi karena lemahnya ketaatan. Godaan dunia yang sesaat mampu mengubah kemenangan menjadi ujian.
Allah SWT berfirman:
> وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّنۢ بَعْدِ مَآ أَرَىٰكُم مَّا تُحِبُّونَ...
"Dan sungguh Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu ketika kamu mengalahkan mereka dengan izin-Nya, sampai ketika kamu menjadi lemah, berselisih dalam urusan itu, dan mendurhakai perintah Rasul setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai..." (QS. Āli 'Imrān: 152)
Meninggalkan Jabal Uhud, saya semakin memahami bahwa ziarah bukan sekadar melihat lokasi sejarah, melainkan mengambil pelajaran. Uhud mengajarkan bahwa iman melahirkan keberanian, ketaatan melahirkan kemenangan, sedangkan kecintaan kepada dunia dapat melemahkan perjuangan. Itulah hikmah yang tetap hidup dari Uhud hingga hari ini.11072026.
