![]() |
Oleh: Duski Samad
Peserta Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H / 2026 M
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Alhamdulillāh, salah satu agenda resmi Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain adalah mengunjungi Kompleks Percetakan Mushaf Al-Qur'an Raja Fahd di Madinah al-Munawwarah. Tempat ini bukan sekadar pabrik percetakan, tetapi merupakan pusat pelayanan Al-Qur'an terbesar di dunia yang menjadi simbol perhatian Kerajaan Arab Saudi terhadap penjagaan dan penyebaran Kalamullah.
Begitu memasuki kawasan kompleks, kami disambut dengan tulisan "Hayyakumullāh" (Semoga Allah menyambut dan memuliakan Anda). Sambutan itu menghadirkan suasana hangat sekaligus mengingatkan bahwa setiap tamu yang datang adalah tamu Al-Qur'an.
Di pelataran kompleks terpahat prasasti peresmian oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz, pendiri proyek monumental ini. Pada prasasti lainnya tercantum nama Raja Abdullah bin Abdul Aziz yang meresmikan pengembangan besar kompleks percetakan tersebut. Dua prasasti itu menjadi penanda kesinambungan perhatian para pemimpin Saudi dalam melayani Al-Qur'an dan kaum Muslimin di seluruh dunia.
Kami kemudian diajak melihat ruang produksi yang dipenuhi mesin-mesin cetak berteknologi tinggi. Dari gulungan kertas, proses pencetakan, pemotongan, penyusunan halaman, hingga penjilidan dilakukan dengan sistem yang sangat presisi. Di tempat inilah jutaan mushaf Al-Qur'an diproduksi setiap tahun dan didistribusikan ke berbagai negara sebagai wakaf Kerajaan Arab Saudi.
Di ruang pameran, tersimpan berbagai edisi mushaf Al-Qur'an dalam beragam ukuran, model cetakan, dan bahasa. Salah satu yang paling mengesankan adalah mushaf Al-Qur'an Braille, yang memungkinkan saudara-saudara kita penyandang tunanetra membaca Kalamullah melalui sentuhan. Pemandangan itu menunjukkan bahwa rahmat Al-Qur'an benar-benar dihadirkan untuk semua manusia tanpa membedakan kondisi fisik.
Kami juga menyaksikan koleksi Mushaf Madinah yang menjadi rujukan utama dunia Islam karena ketelitian penulisan, tanda baca, dan standar percetakannya. Di antara koleksi tersebut terdapat karya-karya ilmiah tentang qira'at, tafsir, dan ulum Al-Qur'an yang diterbitkan untuk mendukung pengembangan ilmu pengetahuan Islam.
Di salah satu etalase dipamerkan Mushaf al-Madinah an-Nabawiyyah lil Makfufin (Mushaf Madinah untuk Tunanetra), sebuah bukti bahwa pelayanan terhadap Al-Qur'an tidak hanya berorientasi pada kuantitas, tetapi juga pada aksesibilitas dan kemaslahatan umat.
Kesempatan memegang mushaf yang baru dicetak di halaman kompleks memberikan kesan yang mendalam. Hati ini teringat firman Allah SWT:
> بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ
"Bahkan Al-Qur'an itu adalah bacaan yang sangat mulia, yang tersimpan dalam Lauh Mahfuz." (QS. Al-Buruj: 21–22).
Ayat ini mengingatkan bahwa kemuliaan Al-Qur'an tidak terletak pada kertas dan tinta semata, melainkan karena ia merupakan wahyu Allah yang terpelihara. Percetakan hanyalah ikhtiar manusia untuk menjaga, memperbanyak, dan menyebarkan kitab suci yang telah dijamin keasliannya oleh Allah SWT.
Kunjungan ini menyadarkan kami bahwa membangun peradaban Islam bukan hanya dengan mendirikan masjid, tetapi juga dengan membangun tradisi ilmu, menjaga kemurnian naskah Al-Qur'an, mengembangkan teknologi percetakan, dan memastikan Kalamullah dapat dibaca oleh seluruh umat manusia.
Semoga setiap lembar mushaf yang dicetak menjadi cahaya hidayah bagi dunia, dan semoga Allah menjadikan kita bukan hanya pencinta mushaf, tetapi juga pengamal isi Al-Qur'an dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan peradaban.11072026
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَذَهَابَ هُمُومِنَا وَغُمُومِنَا. آمِين.
