![]() |
| Masjid Kalampaian ini pertama kali dibangun tahun 1926, semasa Luhur Kalampaian Ampalu Tinggi dipimpin oleh Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu. |
MU-ONLINE, Padang Pariaman, -- Perbedaan cara menafsirkan suatu hukum yang bersua dalam berbagai kitab fiqh Mazhab Syafi'i, sepertinya sebuah pendalaman ilmu pengetahuan tentang fiqh itu sendiri, di kalangan ulama di Pondok Pesantren Luhur Kalampaian Ampalu Tinggi, Nagari Lareh Nan Panjang Selatan, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman. Kajian yang memaparkan banyak konsep dari satu persoalan itu rutin dilakukan di Surau Kalampaian sejak dulunya.
Kamis pertama Muharram 1448 H kemarin, dinilai pertemuan perdana setelah sekian tahun vakum. Pertemuan itu mengkaji zakat zuruak selain padi. Fokus bahasanya tentang zakat jagung.
Luhur Kalampaian Ampalu Tinggi belum mau memutus wajib atau tidaknya zakat jagung ini. Namun, moderator kegiatan menyebutkan gambaran, adanya perbedaan pendapat antara Syekh Haji Ibrahim (1900-1988) yang tidak mewajibkan zakat jagung. Sementara, Syekh Haji Salif Tuanku Sutan Batang Kabung, memfatwakan kalau jagung termasuk zuruak yang wajib dizakatkan ketika tiba nisabnya.
Semua alumni dan keluarga besar Luhur Kalampaian Ampalu Tinggi tahu betul, antara Syekh Haji Ibrahim dan Syekh Haji Salif Tuanku Sutan Batang Kabung adalah dua ulama besar guru dan murid. Perbedaan pendapat itu, di Ampalu Tinggi sudah menjadi kelaziman pula.
Hebatnya, meski berbeda dalam menyikapi persoalan, tak membuat sambungan sanad keilmuan masing-masing ulama terputus ke Kalampaian Ampalu Tinggi. Perbedaan pendapat berlaku alamiah, dan sepertinya di sini pula letaknya peradaban Syattariyah yang dibangun Syekh Oesman sejak 1687 di Surau Kalampaian Ampalu Tinggi.
Para anak siak yang sempat mengaji ke Kalampaian, meski sebentar, lalu pindah ke surau lain, setelah berhasil mengembangkan pesantren, tetap saja beliau menyambungkan sanad keilmuannya ke Kalampaian Ampalu Tinggi. Sebut misalnya Syekh Haji Salif Tuanku Sutan yang terakhir mengajinya dengan Syekh Haji Ibrahim di Batagak, tetap sanad diatasnya Syekh Haji Ibrahim atau Kalampaian Ampalu Tinggi.
Padahal, karena memilih mengabdi di pinggir Kota Padang, Syekh Haji Salif Tuanku Sutan lebih cocok dengan madrasah. Maka berdirilah Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Batang Kabung.
Sanad keilmuan Syattariyah adalah mata rantai spiritual atau silsilah transmisi ajaran tasawuf yang menghubungkan seorang murid (salik) dan gurunya (mursyid) secara bersambung tanpa putus hingga kepada pendiri tarekat, Syekh Abdullah asy-Syattar, lalu naik ke generasi ulama terdahulu, sahabat Nabi (Ali bin Abi Thalib), hingga bermuara langsung pada Nabi Muhammad SAW
Dalam tradisi sufisme Islam, keberadaan sanad ini sangat krusial karena menandakan bahwa Tarekat Syattariyah berstatus mu'tabarah (sah, diakui, dan memiliki validitas ajaran dzikir yang otoritatif). Berfungsi sebagai bukti otentik bahwa seorang guru memiliki hak dan izin resmi untuk mentalqin (mengajarkan) amalan wirid, metode dzikir, dan doktrin spiritual kepada muridnya. Berbasis Otoritas Illahiah: Transmisi hak spiritual ini (disebut wasithah) tidak melulu berdasarkan garis keturunan biologis, melainkan kedekatan batin dan isyarat spiritual yang diyakini berasal dari petunjuk Allah SWT.
Bukti Sejarah Manuskrip: Silsilah ini umumnya dicatat secara rapi dalam manuskrip kuno berupa skema "pohon silsilah" (shajarah) untuk menjaga keaslian ajaran dari abad ke abad.
Gambaran Garis Sanad Utama (Hingga ke Nusantara)
Secara umum, alur transmisi keilmuan dari atas hingga menyebar masif ke Indonesia mengikuti rute berikut ini:
Nabi Muhammad SAW
└── Sayyidina Ali bin Abi Thalib
└── (Melalui jalur para Imam, termasuk Abu Yazid al-Busthami)
└── Syekh Abdullah asy-Syattar (Pendiri di India)
└── Syekh Muhammad Ghauts (India)
└── Syekh Ahmad al-Qusyasyi (Madinah)
└── Syekh Abdurrauf al-Sinkili (Aceh / Pelopor Nusantara)
└── Syekh Burhanuddin Ulakan (Minangkabau) / Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (Jawa)
Sanad inilah yang menjamin bahwa zikir, latihan ruhani, serta konsep makrifat (seperti konsep Martabat Tujuh) yang dipelajari pengikut Syattariyah hari ini tetap murni sama dengan apa yang diajarkan oleh para ulama terdahulu.
Maka tersebut sanad keilmuan Syattariyah Kalampaian Ampalu Tinggi, menjadi yang pertama oleh ulama Batang Kabung, Padang. Syekh Haji Salif Tuanku Sutan (1917-1998), Syekh Haji Abdul Munaf Imam Maulana (1922-2006), Syekh Haji Idris Tuanku Mudo (1942-2019), Syekh Haji Jamaris Tuanku Mudo (1940-2013), dan kini Mahyuddin Salif Tuanku Sutan yang memimpin Batang Kabung, disematkan namanya sebagai Komisi Fatwa di muzakarah bulanan Kalampaian Ampalu Tinggi.
Forum muzakarah ulama di Kalampaian Ampalu Tinggi ini, juga dikembangkan oleh Syekh Haji Talua Tuanku Sidi (1899-1964) di Surau Anjuang Toboh Mandailing, Nagari Balah Aie.
Surau Anjung dan Syekh Tuanku Sidi Talua. Bermula tahun 1925 M, Tuanku Sidi Talua menetap dan tinggal mengabdi di Surau Anjung, Toboh Mandailing, Negari Balah Aie, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman.
Tahun itu pula dia sama berangkat pindah dari Ampalu Tinggi dengan gurunya, Syekh Muhammad Yatim. Dia pindah ke Toboh Mandailing, Muhammad Yatim ke Mudiak Padang, kampungnya sendiri.
Walinagari Balah Aie Jonifriadi menyebutkan, dari riwayat yang diterimanya, Tuanku Sidi Talua ini adalah orang Kabun Cimpago, Nagari Lurah Ampalu bersuku Koto. Dia hanya mengaji dengan beliau Syekh Muhammad Yatim di Ampalu Tinggi.
"Ada dua anak sasian atau anak siak yang diasuhnya di Ampalu Tinggi yang ikut ke Surau Anjung ini kala itu, yakni Tuanku Shaliah Sungai Sariak dan Tuanku Sasak, Pasaman," kata Jonifriadi, Jumat 23 Mei 2025 di Toboh Mandailing.
Ketua Forum Walinagari Kabupaten Padang Pariaman ini menilai, bahwa kiprah Surau Anjung dan Tuanku Sidi Talua zaman dulu itu amat sangat luar biasa. "Para ulama menyebutkan, kalau Surau Anjung tempat keputusan kaji. Dari berbagai belahan negeri para ulama datang ke Surau Anjung, mengaji, berdebat dan bermusyawarah dengan Tuanku Sidi Talua," ulas Jonifriadi yang didampingi tokoh masyarakat setempat Ali bin Yusuf dan Labai Muhammad Nasir.
Syekh Tuanku Sidi Talua terkenal alim, mahir dalam ilmu Mantiq. Syekh Muda Waly Labuhan Haji, Aceh dapat jawaban kenapa banyak kitab Syekh Abdurrauf diserahkan ke Syekh Burhanuddin, di Syekh Tuanku Sidi Talua ini. Pun soal jawaban puasa tidak dibolehkan setahun, di Syekh Tuanku Sidi Talua ini didapatkan oleh Syekh Muda Waly. "Ceritanya begini. Perjalanan spritual Syekh Muda Waly tiba di Ampalu Tinggi. Di tempat Syekh Muhammad Yatim menghadapi banyak anak siak, Kalampaian Ampalu Tinggi sedang menapaki masa jaya, Syekh Muda Waly ini masuk dan ingin pula mengaji di situ," kisah dari mulut ke mulut yang diterima Jonifriadi.
Syekh Muda Waly setiap mengembara selalu membawa seekor ayam. Ayam ini untuk disembelih, manakala kaji yang dicarinya sudah dapat atau paham dia di kaji yang tersangkut itu, di sana pula ayam tadi disembelih. Namun, manakala kaji belum putus, jawaban kaji yang tersangkut belum tuntas, Syekh Muda Waly ini akan terus mengembara, sambil membawa ayam tersebut ke guru dan syekh yang dianggapnya mahir. Nah, sepertinya pengembaraan Syekh Muda Waly ini berakhir di Ampalu Tinggi.
Oleh Muhammad Yatim, untuk menjawab kaji yang ditanyakan Syekh Muda Waly diserahkan ke Syekh Tuanku Sidi Talua, anak siak sedang mengaji di Ampalu Tinggi ini. Sidi Talua sedang mencuci di Batang Mangoi, sungai besar yang dijadikan oleh anak siak Ampalu Tinggi sebagai tempat mandi dan mencuci zaman itu. Didatangi oleh Syekh Muda Waly, dan langsung bertanya dan diskusi soal fadhilah puasa enam hari di bulan Syawal, yang sama dengan puasa setahun.
Oleh Sidi Talua dijawab, bahwa puasa setahun tidak boleh, dan itu dilarang dalam kaji. Contoh, katanya, puasa satu Syawal tidak boleh. Puasa di hari tasyrik juga tidak boleh. Dengan ini, puasa setahun tidak punya dalil dan argumen yang tepat dalam kaji. Syekh Muda Waly terpana. Lama termenung mendengar jawaban Sidi Talua. Sebuah jawaban dengan bahasa gurauan, sekaligus bersilat lidah tentunya.
Masjid Raya Toboh Mandailing bermula dari Surau Anjung yang didirikan Sidi Talua. 1954 Mulai beralih dan bertambah fungsi, dari Surau Anjuang menjadi Masjid Raya Toboh Mandailing. Ada juga yang menyebut Masjid Syekh Haji Tuanku Sidi Talua. Di samping mihrab Masjid Raya Toboh Mandailing ini Sidi Talua dimakamkan pada tahun 1964. Jadi, masjid Raya Toboh Mandailing yang sekarang sudah bangunan besar, permanen, bermula dari Surau Anjuang, tempat Sidi Talua mengajar, menerima banyak tamu dari para alim dan ulama dari berbagai belahan negeri ini.
Musyawarah Ulama Ahlussunah Waljamaah (Muswa), Sumbar, Riau, dan Jambi. Itu nama kesatuan dan organisasi para ulama yang terlibat aktif dulunya di Toboh Mandailing ini. Menurut ceritanya, Muswa ini besar dan banyak ulama hebat dan malin yang tergabung di dalamnya. Muswa itu dipimpin sendiri oleh Sidi Talua, karena permintaan dari ulama yang hadir tiap musiman tersebut.
Menurut Hj. Mirhamah, anak kandung Sidi Talua, Surau Anjuang memang selalu ramai. Di samping anak siak yang mengaji tetap, Surau Anjuang juga sebagai tempat berhalaqah oleh banyak ulama dari berbagai belahan negeri ini. “Hanya ketika beliau telah uzur, para ulama itu mendatangi beliau ke rumah ini, tempatnya beristirahat di hari tua,” katanya.
Keistimewaan Syekh Haji Ibrahim
Zaidir Tuanku Sulaiman, seorang alumni Kalampaian Ampalu Tinggi yang sempat mengaji dengan Syekh Haji Ibrahim menyebutkan, riwayat yang dia terima dari sejumlah jemaah dan anak siak senior, forum muzakarah ini sudah ada sejak beliau Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu.
"Tapi tidak pakai nama. Baru di zaman Syekh Haji Nurdin Tuanku Sidi diformalkan nama kegiatan muzakarah sekali sebulan itu. Yakni Muzakarah Ulama Syekh Muhammad Yatim (Musyammy)," katanya.
Di zaman Syekh Haji Ibrahim, disamping aktif muzakarah bulanan, para jemaah dari Limpato, Pincuran Sonsang, dan lainnya membuat wirid pengajian sekali seminggu, tiap hari Kamis dari pagi sampai siang. "Suatu ketika di hari Kamis, menjelang wirid selesai, hujan turun. Biasanya selesai mengaji, waktu Zuhur pun masuk. Syekh Ibrahim turun saja ke bawah anjung pergi ke sumur tempat berwudhuk. Dilihat dan tampak oleh sejumlah jemaah. Pulang pergi berwudhuk di tengah hujan antara surau dan tempat wudhuk cukup jauh, tapi Syekh Ibrahim dilihat oleh jemaah ini, tak basah berjalan di tengah hujan," kisah Zaidir Tuanku Sulaiman.
Kemudian, ketika dalam muzakarah sebulan sekali itu, tak mau terus lajunya kaji yang dibahas. "Ditempuh semua jalur, buka kitab lain untuk pembanding, tidak juga bisa dilaluan kaji itu, akhirnya, Syekh Ibrahim turun ke bawah dari anjung. Sebentar di bawah, lekas saja beliau naik lagi ke atas anjung, dan kaji yang tersangkut tadi lancar dan pas pemasangan hukum yang dilekatkan ke soal kaji yang dimuzakarahkan bersama tadi," ulas Zaidir Tuanku Sulaiman.
Keistimewaan Syekh Ibrahim yang satu ini, sepertinya menurun ke Bakhri Tuanku Mangkuto. "Pernah pula dalam suatu kali pertemuan muzakarah, tak bisa dilaluan, tersangkut, buntu, Bakhri Tuanku Mangkuto turun ke bawah dari anjung sambil jeda bermuzakrah. Beliau turun langsung berwudhuk, selesai naik lagi ke anjung, ternyata kaji yang tersangkut tadi cigin saja surahnya oleh Bakhri Tuanku Mangkuto," ujar Zaidir Tuanku Sulaiman.
Bakhri Tuanku Mangkuto (1962-2019), terkenal sebagai alumni yang dijadikan Khalifah di Kalampaian Ampalu Tinggi setelah Syekh Haji Nurdin Tuanku Sidi. "Beliau Bakhri Tuanku Mangkuto terkenal pandai mengaji, pintar menyurahkan kaji. Kaji baginya harus diamalkan, bukan sekedar untuk disampaikan. Makanya, saat memimpin Kalampaian Ampalu Tinggi, Bakhri Tuanku Mangkuto terkenal kuat memegang fatwa dan kaji, serta mengamalkan ilmu yang sudah dipelajarinya," sebut Zaidir Tuanku Sulaiman. (AD)
Referensi:
1. Wawancara dengan Zaidir Tuanku Sulaiman, Rabu 15 Juli 2026, lewat sambungan seluler
2. Wawancara dengan Jonifriardi dan Ali bin Yusuf, Jumat 23 Mei 2025 di Masjid Raya Toboh Mandailing
3. Wawancara dengan Hj. Mirhamah, Rabu 25 Juni 2025 di kediamannya, Sampan, Pariaman Selatan.
4. [https://www.liputan6.com](https://www.liputan6.com/hot/read/5274762/sanad-adalah-silsilah-keilmuan-ketahui-macam-fungsi-dan-bedanya-dengan-rawi)
