![]() |
Oleh: Duski Samad
Peserta Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H / 2026 M 8 - 20 Juli 2026
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Subuh Rabu, 15 Juli 2026, selepas salat Subuh di Masjidil Haram, sekitar Pintu 85, saya kembali merenungkan sebuah pelajaran yang tidak saya peroleh dari mimbar ceramah, melainkan dari akhlak manusia. Beberapa kali saya memperoleh bantuan dengan penuh keikhlasan dari petugas kebersihan masjid yang membantu mengambilkan air zamzam. Di kesempatan lain, ketika tempat duduk telah penuh, seorang jamaah dengan tulus mempersilakan saya duduk di tempatnya.
Peristiwa sederhana itu menghadirkan pertanyaan yang sangat mendasar:
> "Sudah berapa banyak orang yang mendapatkan manfaat dari keberadaan kita?"
Boleh jadi banyak orang mengenal nama kita, jabatan kita, gelar akademik kita, atau kekayaan yang kita miliki. Namun, di sisi Allah SWT, ukuran kemuliaan bukanlah seberapa terkenal seseorang, melainkan seberapa besar manfaat yang ia tebarkan.
Gus Mus pernah mengingatkan, "Kalau ilmu, kekayaan, dan kedudukanmu tidak membawa manfaat bagi orang lain, maka hidupmu kehilangan makna."
Buya Hamka juga mengingatkan dengan kalimat yang sangat tajam:
> "Kalau engkau hanya hidup untuk dirimu sendiri, beruk di rimba pun hidup untuk dirinya sendiri."
Ucapan itu bukan penghinaan, melainkan kritik agar manusia naik dari sekadar hidup biologis menuju kehidupan yang bernilai ibadah dan kemaslahatan.
Perintah Nash
Islam menjadikan kemanfaatan sebagai ukuran kualitas manusia.
Rasulullah SAW bersabda:
> خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."
Hadis ini mengubah paradigma hidup. Keunggulan seorang mukmin tidak berhenti pada banyaknya ibadah individual, tetapi tampak pada luasnya manfaat sosial yang lahir dari keimanan.
Al-Qur'an juga menggambarkan orang beriman sebagai pribadi yang selalu mendahulukan kepentingan orang lain.
> وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
"Mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri walaupun mereka sendiri memerlukan." (QS. Al-Hasyr: 9)
Inilah puncak itsār, yaitu memberi ketika diri sendiri masih membutuhkan.
Allah SWT juga berfirman:
> فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
"Berlomba-lombalah dalam berbagai kebaikan." (QS. Al-Baqarah: 148)
Artinya, perlombaan hidup bukanlah memperbanyak harta, jabatan, atau popularitas, melainkan memperluas manfaat bagi sesama.
Kajian Filsafat
Dalam filsafat etika, manusia disebut makhluk bermartabat karena mampu melampaui kepentingan dirinya sendiri.
Aristoteles menyebut kebahagiaan (eudaimonia) lahir ketika manusia menjalankan kebajikan demi kehidupan bersama. Filsafat Islam yang dikembangkan Al-Farabi dan Ibn Miskawaih juga menempatkan manusia ideal sebagai pribadi yang menyempurnakan dirinya sekaligus menyempurnakan masyarakat.
Dengan demikian, manfaat adalah bentuk aktualisasi kesempurnaan manusia. Orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri sesungguhnya belum mencapai tingkat kemanusiaan yang utuh.
Pendapat ilmu Psikologi
Psikologi modern menunjukkan bahwa membantu orang lain meningkatkan kesehatan mental.
Orang yang gemar memberi memiliki tingkat stres lebih rendah, rasa syukur lebih tinggi, serta hidup yang lebih bermakna. Dalam psikologi positif, perilaku menolong (prosocial behavior) meningkatkan kebahagiaan, memperkuat empati, memperluas jejaring sosial, dan memperdalam makna hidup.
Tasawuf menyebut keadaan ini sebagai ihsan, yakni berbuat baik semata-mata karena Allah tanpa mengharapkan balasan manusia.
Karena itu, pemberi manfaat sesungguhnya adalah orang yang pertama kali memperoleh manfaat batin.
Pandangan Sosiologi
Masyarakat bertahan bukan hanya karena hukum, tetapi juga karena budaya saling menolong.
Senyuman, memberi tempat duduk, membantu orang asing, atau menyuguhkan air merupakan bentuk modal sosial (social capital) yang memperkuat kepercayaan di tengah masyarakat.
Di Masjidil Haram, jutaan manusia dari berbagai bangsa dapat beribadah dengan tertib karena budaya saling menghormati dan saling membantu terus dipelihara.
Masyarakat yang dipenuhi orang-orang yang bermanfaat akan melahirkan kedamaian. Sebaliknya, masyarakat yang dipenuhi egoisme akan kehilangan solidaritas, melemahkan kepercayaan, dan mudah mengalami konflik sosial.
Saling Manfaat Fondasi Peradaban
Saling memberi manfaat bukan hanya merupakan akhlak individual, tetapi juga fondasi lahirnya peradaban yang sehat. Dalam hubungan sosial maupun kelembagaan, budaya saling memberi manfaat akan menyehatkan relasi kuasa yang sering kali cenderung bersifat kooptatif, dominatif, dan eksploitatif. Kekuasaan yang hanya mengejar kepentingan diri dan kelompok akan melahirkan ketidakadilan, sedangkan kekuasaan yang berorientasi pada kemaslahatan akan melahirkan kepemimpinan yang melayani (servant leadership).
Rasulullah SAW bersabda:
> سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ
"Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka."
Karena itu, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah besarnya kekuasaan yang dimiliki, melainkan besarnya manfaat yang dirasakan masyarakat.
Budaya saling memberi manfaat juga menjadi jalan menuju kesejahteraan sosial (social welfare). Ketika ilmu dibagikan, harta diinfakkan, kesempatan dibuka, pelayanan diberikan secara adil, dan setiap orang saling menguatkan, maka kesejahteraan tidak berhenti pada individu, tetapi menyebar ke seluruh lapisan masyarakat. Dalam perspektif maqāṣid al-syarī‘ah, kemaslahatan umum (maṣlaḥah ‘āmmah) merupakan tujuan utama syariat.
Lebih jauh lagi, budaya saling memberi manfaat akan menghadirkan harmoni sosial. Hubungan antarindividu, antarkelompok, bahkan antara rakyat dan pemimpin dibangun di atas rasa saling percaya (trust), saling menghormati, dan saling menguatkan. Harmoni lahir ketika setiap orang tidak hanya bertanya, "Apa yang dapat saya ambil?", tetapi juga bertanya, "Apa yang dapat saya berikan?" Di sinilah masyarakat yang dicita-citakan Al-Qur'an sebagai baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr menemukan wujudnya, yaitu masyarakat yang baik karena seluruh warganya berlomba-lomba menghadirkan manfaat bagi sesama.
Nilai-Nilai Manfaat
Ada tiga tingkatan manfaat.
Pertama, menjadi orang yang memberi manfaat. Inilah tingkatan tertinggi. Ilmu, tenaga, harta, doa, senyum, waktu, bahkan perhatian dapat menjadi sedekah yang bernilai ibadah.
Kedua, menjadi orang yang membuka jalan manfaat. Tidak semua orang mampu memberi banyak, tetapi setiap orang dapat memudahkan orang lain berbuat baik. Memfasilitasi, menghubungkan, atau menginspirasi orang lain juga merupakan bentuk amal yang besar.
Ketiga, menjadi penerima manfaat yang bersyukur. Menerima bantuan dengan penuh syukur juga merupakan akhlak mulia. Rasulullah SAW mengajarkan agar siapa pun yang menerima kebaikan hendaknya mendoakan pemberinya. Dengan demikian, kehidupan menjadi lingkaran kebaikan yang terus berputar, saling menguatkan, dan saling memberdayakan.
Renungan
Di hadapan Ka'bah, semua gelar dunia kehilangan makna.
Yang dikenang Allah bukan banyaknya pengikut, tetapi banyaknya manfaat.
Mungkin kita bukan orang terkaya.
Mungkin kita bukan ulama terbesar.
Mungkin kita bukan pejabat tertinggi.
Namun jika karena kehadiran kita ada orang yang tersenyum, ada yang terbantu, ada yang tercerahkan, ada yang semakin dekat kepada Allah, maka hidup kita telah menjadi rahmat bagi sesama.
Marilah setiap hari bertanya kepada diri sendiri:
> "Hari ini, siapa yang memperoleh manfaat karena keberadaanku?"
Sebab pada akhirnya, nilai hidup bukan diukur oleh berapa banyak orang mengenal kita, tetapi oleh berapa banyak orang merasakan manfaat dari kehadiran kita.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang hidupnya menjadi rahmat, ilmunya menjadi cahaya, hartanya menjadi keberkahan, dan kehadirannya selalu menghadirkan manfaat bagi agama, bangsa, dan seluruh umat manusia.
Āmīn yā Rabbal 'Ālamīn.
