![]() |
| Iswandi Tuanku Sampono Intan membuka muzakarah perdana tahun ini, setelah sekian tahun vakum. Muzakarah bulanan itu diadakan di atas anjung Surau Kalampaian Ampalu Tinggi. |
MU-ONLINE, Padang Pariaman, -- Judul ini datang dan menyumbul dalam pikiran karena banyak kebetulan. Diantara kebetulan itu, soal Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu (1868-1950) yang sering dan acap awak tulis. Beliau adalah tokoh ulama yang menyebabkan Surau Kalampaian bergema, punya jaringan luas setelahnya. Beliau memimpin 70 tahun lamanya di Ampalu Tinggi, kini masuk Nagari Lareh Nan Panjang Selatan, dari 1880-1950.
Kebetulan kedua, tulisan tentang Khalifah Syekh Muhammad Yatim di Tandikek, Mudiak Padang yang awak posting, dapat kritikan dan ulasan menarik dari Tuanku H. Zulfahmi, guru MTsN Sungai Geringging, yang menyambungkan sanad keilmuannya ke Surau Kalampaian Ampalu Tinggi ini.
Kebetulan ketiga, awak menulis kisah dan riwayat banyak ulama hebat, dipersiapkan untuk buku ensiklopedia. Ternyata, luar biasa banyak para tuanku yang tersebut dulunya itu, bersanad ke Surau Kalampaian Ampalu Tinggi. Untuk soal ini, silakan miliki buku ensiklopedia 100 Tuanku yang bersanad ke Syekh Burhanuddin.
Kebetulan keempat, sengaja datang ke Kalampaian Ampalu Tinggi, setelah tersambung dengan Iswandi Tuanku Sampono Intan, bersama Buya Khaidir Tuanku Sutan, dan Armaidi Tanjung terus ikut wirid bulanan perdana Kamis, 9 Juli patang.
Maka jadilah kisah sanad keilmuan Syattariyah Surau Kalampaian Ampalu Tinggi itu sebagai berikut.
1. Syekh Oesman (1668-1770)
Beliau orang Lubuak Pua, bersuku Panyalai, mengaji di Koto Laweh, Tanah Datar, Luhak Nan Tuo bersama Syekh Pamansiangan. Mendirikan surau di Ampalu Tinggi sepulang dari Koto Laweh tahun 1687. Beliau lama memulai fondasi Luhur Kalampaian itu, sampai 82 tahun. Beliau wafat 1770, dimakamkan di atas bukit, samping mihrab Masjid Kalampaian Ampalu Tinggi. Tercatat, selama 82 tahun itu 62 santri yang menetap. Tapi, santri asal Ampalu Tinggi dan nagari terdekat, banyak yang bolak balik ke Kalampaian.
2. Syekh Labai (1667-1800)
Beliau anak kandung Syekh Oesman, suku Jambak Lubuak Pua. Syekh Labai mengaji langsung dengan ayahnya, dan dari tahun 1767-1800, yakni 33 tahun di Kalampaian Ampalu Tinggi tercatat sebagai Syaikhu Ma'had. Tercatat pula, 134 santri yang diwarisinya dari Syekh Oesman di surau itu.
3. Syekh Sunda Ketaping (1800-1840)
Setelah berakhir pengabdian Syekh Labai di Surau Kalampaian Ampalu Tinggi, kelanjutan sanad keilmuan diteruskan oleh Syekh Sunda Ketaping, orang Lubuak Pua, bersuku Panyalai, terbilang kemenakan dari Syekh Oesman. Syekh Sunda Ketaping tersebut tokoh ulama yang dicari-cari keberadaannya oleh penguasa Hindia Belanda. Selama pencarian Belanda itu, beliau lebih banyak menghilang, dikabarkan pergi ke Mekkah, menunaikan rukun Islam kelima.
Ke Mekkah cukup lama, dan sampai selama-lamanya di Tanah Suci. Tapi, dari Mekkah beliau sempat berpesan ke Surau Kalampaian, bahwa yang akan melanjutkan kepemimpinan adalah Syekh Talawi. Tercatat 40 tahun lamanya Syekh Sunda Ketaping memimpin Kalampaian Ampalu Tinggi, dari 1800-1840.
4. Syekh Talawi (1841-1880)
Syekh Talawi ini adalah santri yang mengaji lama di Surau Kalampaian. Diminta kembali ke Kalampaian oleh niniak mamak Ampalu Tinggi, sesuai pesan Syekh Sunda Ketaping dari Mekkah, beliau sedang mengabdi di Nareh, Pariaman. Atas perintah dan amanah gurunya, beliau menuruti ajakan niniak mamak Ampalu Tinggi, untuk kembali ke Surau Kalampaian.
Tercatat, dari 1841-1880 Syekh Talawi di Kalampaian, 39 tahun lamanya memimpin. Pun gerak dinamika pergumulan intelektual Islam kian bergema di Surau Kalampaian.
Musim haji, beliau berangkat ke Mekkah dan tak kembali pulang. Laporan di terima Surau Kalampaian, kalau Syekh Talawi meninggal dunia di Tanah Suci. Namun, sebelum berangkat, beliau menetapkan dan menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan Kalampaian ke Syekh Muhammad Yatim yang waktu itu bergelar Tuanku Sutan.
5. Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu (1880-1950)
Syekh Muhammad Yatim adalah orang Tandikek, Mudiak Padang, lama mengaji dengan Syekh Talawi di Kalampaian Ampalu Tinggi. Kisah beliau di Surau Kalampaian luar biasa. Semasa memimpin itu, pembangunan sarana ibadah dan asrama santri meningkat dengan sangat pesatnya. Bahkan, Masjid Kalampaian berdiri tahun 1926, adalah Syekh Muhammad Yatim yang sedang Syaikhul Ma'had. Tak sekedar untuk Shalat Jumat, masjid itu juga berfungsi sebagai sidang Jumat.
Lahan berdirinya Surau Kalampaian adalah tanah wakaf dari Datuak Pono Intan, niniak mamak suku Panyalai yang sepersukuan dengan Syekh Oesman.
Syekh Muhammad Yatim lama memimpin Kalampaian Ampalu Tinggi. Tercatat 70 tahun lamanya dari tahun 1880-1950. Beliau meninggal dunia di surau yang didirikannya di Mudiak Padang, Tandikek tahun 1950, dimakamkan di dekat surau itu, yang kini bernama Pondok Pesantren Syekh Muhammad Yatim.
Pondok Pesantren Luhur Kalampaian sengaja mengabadikan Syekh Muhammad Yatim, dengan mendirikan badan hukum pesantren tersebut dengan Yayasan Syekh Muhammad Yatim.
Syekh Muhammad Yatim tersebut pula luar biasa banyak ulama hebat yang menyangkutkan sanad keilmuannya ke beliau Muhammad Yatim ini. Diantaranya, tersebut Syekh Talua Tuanku Sidi (Sampan), Syekh H. Ibrahim Ambuang Kapua Sungai Sariak, Syekh Dawaik Ungku Saliah Sungai Sariak, Syekh Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah Lubuk Pandan, Syekh Salam, Guguak Lurah Ampalu, Syekh Tuanku Sinaro Parit Malintang, Syekh Lawat, Koto Tangah, Padang luar kota, Syekh Muhammad Yunus, Sasak, Pasaman Barat, dan syekh lainnya yang terlalu panjang untuk ditulis dalam ruangan yang sederhana ini.
6. Syekh H. Ibrahim (1950-1988)
Syekh H. Ibrahim adalah orang Ambuang Kapua Sungai Sariak, lama mengaji di Ampalu Tinggi dengan beliau Syekh Muhammad Yatim. Pernah mengabdi dan mengajar santri di Batagak, Kabupaten Agam dan Koto Tangah, Padang. Tahun 1950, sebelum Syekh Muhammad Yatim wafat, Syekh H. Ibrahim diminta pulang dari Padang ke Kalampaian Ampalu Tinggi, melanjutkan estafet kepemimpinan.
Sampai tahun 1988 Syekh H. Ibrahim menjalankan misi pengabdian di Surau Kalampaian Ampalu Tinggi. Dari tahun 1950-1988, 38 tahun lamanya Syekh H. Ibrahim jadi Syaikhul Ma'had di Luhur Kalampaian Ampalu Tinggi itu.
Syekh H. Ibrahim wafat di Surau Kalampaian, dan dimakamkan di komplek makam Syekh Oesman, bagian ketinggian di sebelah mihrab Masjid Kalampaian.
7. Syekh H. Nurdin Tuanku Sidi (1988-2009)
Beliau orang Sikile, kini masuk Nagari Lareh Nan Panjang Barat. Lama mengaji di Surau Kalampaian Ampalu Tinggi, karena di situ kampung bakonya. Sempat berguru ke Syekh Muhammad Yatim, dan guru tuonya Syekh H. Ibrahim.
Nurdin Tuanku Sidi itu ditunjuk dan diminta langsung oleh gurunya, Syekh H. Ibrahim untuk melanjutkan estafet kepemimpinan, sebelum beliau wafat. Maka, tahun 1988 itu, Nurdin Tuanku Sidi yang juga urang sumando di Ampalu Tinggi dituahi jadi pimpinan dan Syaikhul Ma'had Luhur Kalampaian Ampalu Tinggi, sampai tahun 2009.
Nurdin Tuanku Sidi sebelum ke Mekkah tahun 2009 itu berfatwa dan mengukuhkan dua tokoh alumni Kalampaian Ampalu Tinggi untuk meneruskan kepemimpinan. Mereka yang diminta memimpin itu, adalah Khaidir Tuanku Sutan dan Bakhri Tuanku Mangkuto.
Akhir pengabdian Nurdin Tuanku Sidi, adalah berjalannya dinamika intelektual keislaman di pesantren itu. Muzakarah ulama digelar sebulan sekali. Bersua ulama dan tuanku dari berbagai lulusan pesantren, membaca kaji, buka kitab, ketika memutuskan masalah yang berkembang di tengah masyarakat.
Muzakarah sebulan sekali itu sempat terhenti sepeninggal Nurdin Tuanku Sidi, dan kini dilanjutkan kembali oleh anaknya, Iswandi Tuanku Sampono Intan.
Nurdin Tuanku Sidi wafat tahun 2009, dimakamkan di komplek makam Syekh Oesman, di bagian ketinggian, samping mihrab Masjid Kalampaian Ampalu Tinggi. Dari 1988-2009, 21 tahun lamanya pengabdian di almamaternya dilakukan Nurdin Tuanku Sidi.
Gempa bumi 2009, Masjid Kalampaian Ampalu Tinggi yang didirikan tahun 1926, punah. Atas bantuan donatur yang difasilitasi TV One, 2010, Masjid Kalampaian kembali tegak dengan gagahnya, permanen tapi konstruksi bangunan mengadopsi bangunan lama.
8. Bakhri Tuanku Mangkuto (2007-2017)
Sesuai amanat dari Nurdin Tuanku Sidi, kelanjutan kepemimpinan sepeninggal beliau dilanjutkan oleh Khaidir Tuanku Sutan dan Bakhri Tuanku Mangkuto. Khaidir Tuanku Sutan adalah orang Sungai Pua Tanjung Mutuih, Nagari Koto Dalam Barat. Beliau lama mengaji dulunya di Kalampaian Ampalu Tinggi.
Sementara, Bakhri Tuanku Mangkuto adalah orang Toboh Durian, kini Nagari Toboh Gadang Selatan. Beliau lama dan termasuk alumni hebat mengaji kitab yang dipunyai Kalampaian Ampalu Tinggi. Bakhri Tuanku Mangkuto mulai mengabdi tahun 2007-2017, yakni 10 tahun di Ampalu Tinggi. Beliau mulai tak aktif lagi sejak 2017, sampai meninggal dunia 2019, dimakamkan di kampungnya, Toboh Durian, Kecamatan Sintuak Toboh Gadang.
9. Khaidir Tuanku Sutan (2017-sekarang)
Kenapa dua tokoh yang ditunjuk Nurdin Tuanku Sidi untuk melanjutkan Kalampaian Ampalu Tinggi? Rupanya itu rahasianya. Usia yang pendek, ajal sebagai takdir Tuhan menjemput Bakhri Tuanku Mangkuto, sepertinya tersampaikan ke Nurdin Tuanku Sidi, supaya Bakhri Tuanku Mangkuto tercatat pula jadi Khalifah Kalampaian Ampalu Tinggi.
Tinggal kini, pesantren tertua di Padang Pariaman itu dilanjutkan kepemimpinannya oleh Khaidir Tuanku Sutan.
Iswandi Tuanku Sampono Intan diminta totalitas di situ, karena sudah pulang kampung dari perantauan yang panjang di kampung orang.
Terhitung, sejak 1668 sampai sekarang Pondok Pesantren Luhur Kalampaian berusia 358 tahun. Sebuah usia yang sangat tua. Jatuh bangun, dinamika pergerakan, perbedaan cara pandang diantara Syaikhu Ma'had itu, sepertinya kian menjadikan Ampalu Tinggi tambah mantap dan patut diabadikan sebagai sanad keilmuan Syattariyah di Minangkabau, karena banyak dan berjibunnya tokoh ulama penting dan hebat yang menautkan sanad ilmunya ke Kalampaian Ampalu Tinggi. (AD)
Referensi:
1. Catatan sejarah Kalampaian Ampalu Tinggi, ditulis H. Na'ali Ibrahim Tuanku Majolelo tahun 1977, disalin menurut aslinya oleh Mucktar Tuanku Imam, Sekretaris Desa Ampalu Tinggi
2. Muzakarah tuanku dan ulama Ampalu Tinggi, Kamis 9 Juli 2026
3. Wawancara dengan Khaidir Tuanku Sutan, dan Iswandi Tuanku Sampono Intan, Jumat 3 Juli 2026 di Masjid Kalampaian Ampalu Tinggi
