![]() |
Oleh: Duski Samad
Peserta Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H / 2026 M, tgl 8 - 20 Juli 2026
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Salah satu pengalaman yang menarik selama mengikuti Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain adalah bahwa meskipun kami merupakan tamu resmi Kerajaan Arab Saudi, untuk memasuki Raudhah tetap harus melalui sistem aplikasi Nusuk. Tidak ada perlakuan istimewa yang mengabaikan aturan. Semua jamaah tunduk pada sistem yang sama sebagai bentuk pelayanan yang tertib, adil, dan profesional.
Saya bersama sahabat, Prof. Dr. Ridwan, Rektor UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, telah mendaftarkan diri melalui aplikasi Nusuk sejak Kamis. Namun, jadwal yang tersedia baru kami peroleh pada Sabtu, 11 Juli 2026 pukul 17.00 waktu Arab Saudi. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan jutaan jamaah kini dilakukan dengan digitalisasi pelayanan ibadah, sehingga ketertiban lebih terjaga dan kenyamanan jamaah semakin meningkat.
Karena jadwal masuk Raudhah pukul 17.00, kami melaksanakan salat Ashar di Masjid Nabawi sekitar pukul 15.50 dan memilih tempat di bagian belakang Raudhah. Pertimbangan kami sederhana, yaitu agar ketika waktu kunjungan tiba kami dapat bergerak dengan tenang, tertib, dan tepat waktu sesuai jadwal yang telah ditentukan. Inilah salah satu bentuk ketaatan kepada sistem (nizham) yang menjadi bagian dari disiplin dalam beribadah.
Pengalaman ini mengajarkan bahwa kemajuan teknologi tidak bertentangan dengan spiritualitas. Justru teknologi menjadi sarana untuk menghadirkan ketertiban, keadilan, dan kemaslahatan. Digitalisasi melalui Nusuk mendidik jamaah agar menghargai waktu, menaati aturan, dan menghindari desak- desakan yang dapat mengganggu kekhusyukan ibadah.
Menjelang memasuki Raudhah, saya teringat pesan seorang syekh dalam kajian Subuh di Masjid Nabawi. Beliau berkata, "Kalian sekarang tinggal di rumah Rasulullah SAW. Hormatilah beliau. Berdialoglah dengan beliau melalui ibadah, salawat, dan akhlak yang mulia. Kenakan pakaian terbaik, jagalah tutur kata dan perilaku kalian."
Pesan itu mengingatkan saya kepada firman Allah SWT:
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi..." (QS. Al-Hujurat: 2)
Ayat ini tidak hanya berlaku pada masa Rasulullah SAW masih hidup, tetapi juga menjadi pendidikan adab bagi setiap Muslim yang berada di kota beliau. Karena itu, saya memilih mengenakan sarung, jas, dan peci, sebagai bentuk penghormatan lahiriah sekaligus pengingat untuk menjaga kemuliaan batin.
Secara teologis, kunjungan ke Raudhah merupakan wujud kecintaan dan ketaatan kepada Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:
> وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah."
(QS. Al-Hasyr: 7)
Rasulullah SAW juga bersabda:
> مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ
"Antara rumahku dan mimbarku adalah satu taman di antara taman-taman surga."
(HR. al-Bukhari dan Muslim).
Karena itu, memasuki Raudhah bukan sekadar memasuki sebuah ruang di dalam Masjid Nabawi, melainkan memasuki ruang spiritual yang menghubungkan seorang hamba dengan keteladanan Rasulullah SAW.
Dari sisi psikologis, rangkaian ziarah yang disusun pemerintah Arab Saudi—mengunjungi Museum Sirah Nabawiyah, Masjid Quba, Gunung Uhud, berbagai tempat bersejarah, kemudian berziarah ke makam Rasulullah SAW dan akhirnya memperoleh kesempatan beribadah di Raudhah—membangun kesadaran yang utuh. Jamaah tidak hanya melihat jejak sejarah, tetapi juga merasakan kedekatan emosional dengan perjuangan Rasulullah SAW sehingga semangat dakwah, cinta kepada sunnah, dan komitmen untuk memperbaiki diri semakin tertanam.
Raudhah akhirnya mengajarkan satu pelajaran penting: jalan menuju taman surga tidak hanya ditempuh dengan kekhusyukan hati, tetapi juga dengan ketaatan kepada aturan, kedisiplinan, penghormatan kepada Rasulullah SAW, dan kesiapan menerima kemajuan teknologi sebagai bagian dari pelayanan ibadah. Digitalisasi melalui aplikasi Nusuk menjadi bukti bahwa teknologi dapat menjadi wasilah untuk memperkuat nilai-nilai syariat, menghadirkan ketertiban, dan menjaga kemuliaan tempat yang paling dicintai umat Islam setelah Masjidil Haram.
Semoga setiap langkah menuju Raudhah menjadi langkah menuju taman surga yang dijanjikan Rasulullah SAW, dan setiap ibadah di sana memperbarui tekad kita untuk meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari. Aamiin. 11072026
