![]() |
Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag.
Peserta Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H/2026 M
Pukul 17.00 waktu Madinah, saya mulai mengikuti antrean untuk memasuki Raudhah di Masjid Nabawi. Pada masa sekarang, kesempatan memasuki kawasan yang mulia ini diatur melalui aplikasi Nusuk. Setiap jamaah diperiksa oleh petugas untuk memastikan kepemilikan jadwal dan izin masuk. Teknologi menjadi bagian dari pelayanan ibadah: mengatur arus manusia, membatasi kepadatan, dan memberikan kesempatan yang lebih tertib kepada jamaah dari berbagai negara.
Setelah pemeriksaan, jamaah diarahkan menuju ruang tunggu. Kami berada di sana sekitar tiga puluh menit. Antrean tidak langsung bergerak menuju Raudhah karena petugas harus memastikan kelompok sebelumnya telah selesai dan keluar melalui jalur yang berbeda. Pola masuk dan keluar dipisahkan agar tidak terjadi pertemuan arus yang dapat menimbulkan kepadatan.
Ketika giliran tiba, kami berjalan perlahan memasuki kawasan Raudhah. Hati bergetar ketika menyadari bahwa tempat yang selama ini hanya dibaca dalam kitab, didengar dalam ceramah, dan dirindukan dalam doa, kini berada di hadapan mata.
Rasulullah SAW bersabda:
مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ
“Antara rumahku dan mimbarku terdapat sebuah taman dari taman-taman surga.”
Raudhah terletak di antara rumah Rasulullah SAW—yang kemudian menjadi tempat beliau dimakamkan—dan mimbar tempat beliau menyampaikan khutbah, mendidik umat, serta menjelaskan wahyu Allah SWT. Kawasan ini bukan hanya ruang fisik, melainkan ruang sejarah, ilmu, doa, cinta, dan kerinduan kepada Rasulullah SAW.
Di Raudhah, waktu yang diberikan kepada setiap kelompok relatif singkat, sekitar lima belas menit. Setelah itu, petugas mengarahkan jamaah agar memberi kesempatan kepada rombongan berikutnya. Di tengah waktu yang terbatas tersebut, jamaah berusaha melaksanakan salat sunah, berzikir, berdoa, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ada yang mencari tempat di antara mimbar dan makam Rasulullah SAW. Ada yang menundukkan kepala dalam tangis. Ada pula yang berdiri sejenak, seolah tidak mampu mengucapkan apa pun karena besarnya rasa haru. Doa-doa yang telah dipersiapkan terkadang hilang dari ingatan. Yang tinggal hanyalah perasaan hina sebagai hamba dan kerinduan kepada Rasulullah SAW.
Raudhah mengajarkan bahwa kedekatan kepada Rasulullah bukan hanya kedekatan tempat. Kedekatan yang sebenarnya adalah kedekatan iman, akhlak, dan keteladanan. Berada beberapa meter dari makam Rasulullah belum tentu membuat seseorang dekat dengan beliau apabila kehidupannya jauh dari sunah, kasih sayang, kejujuran, dan amanah yang beliau ajarkan.
Sebaliknya, seseorang yang tinggal jauh dari Madinah dapat menjadi sangat dekat dengan Rasulullah apabila ia mencintai beliau, mengikuti ajarannya, memperbanyak selawat, dan menghadirkan akhlak kenabian dalam kehidupan.
Foto sebagai Keniscayaan Era Digital
Di tengah suasana yang khusyuk, telepon genggam hampir selalu terlihat. Ada jamaah yang berusaha mengabadikan mimbar, mihrab, ornamen, kaligrafi, dan suasana Raudhah. Foto telah menjadi keniscayaan pada era digital.
Manusia masa kini tidak hanya ingin menyimpan pengalaman dalam ingatan, tetapi juga dalam bentuk gambar dan video. Foto menjadi bukti perjalanan, dokumentasi pribadi, bahan pendidikan keluarga, bahkan sarana menyebarkan informasi keagamaan.
Namun, foto tidak boleh mengalahkan tujuan utama kehadiran di Raudhah. Jangan sampai seluruh waktu habis untuk mencari sudut terbaik, sementara kesempatan salat dan berdoa terabaikan. Kamera semestinya menjadi alat dokumentasi, bukan penghalang kekhusyukan.
Gambar dapat menyimpan bentuk Raudhah, tetapi tidak mampu sepenuhnya menyimpan getaran hati di dalamnya. Kamera dapat merekam mimbar dan kaligrafi, tetapi tidak dapat merekam seluruh doa, air mata, kerinduan, dan percakapan batin seorang hamba dengan Allah SWT.
Karena itu, dokumentasi perlu dilakukan secara wajar, tertib, dan tidak mengganggu jamaah lain. Raudhah bukan studio foto. Ia adalah ruang ibadah, ruang perjumpaan rohani, dan tempat seorang Muslim memperbarui cinta serta komitmennya kepada Rasulullah SAW.
Hayyākumullāh: Kalimat yang Menyejukkan
Salah satu ungkapan yang sering terdengar dari petugas Masjid Nabawi adalah:
حَيَّاكُمُ اللهُ
Hayyākumullāh.
Kalimat ini juga terpampang di beberapa tempat strategis di lingkungan Masjid Nabawi. Secara umum, ungkapan tersebut bermakna:
“Semoga Allah menyambut, memuliakan, menjaga, dan memberikan kehidupan yang baik kepada kalian.”
Dalam percakapan bahasa Arab, hayyākumullāh sering digunakan sebagai ungkapan penghormatan dan penyambutan. Maknanya lebih dalam daripada sekadar “selamat datang”. Di dalamnya terkandung doa agar orang yang disambut memperoleh kehidupan, keberkahan, kehormatan, keselamatan, dan kebaikan dari Allah SWT.
Kata ḥayyā berhubungan dengan kata ḥayāh, yang berarti kehidupan. Karena itu, hayyākumullāh secara spiritual dapat dipahami sebagai doa:
“Semoga Allah menghidupkan hati kalian, memuliakan kedatangan kalian, serta melimpahkan kebaikan kepada kalian.”
Ungkapan ini sangat sesuai dengan ruh pelayanan di Masjid Nabawi. Jutaan jamaah datang dari berbagai negara, bahasa, warna kulit, budaya, dan latar belakang sosial. Mereka tidak dipanggil sebagai orang asing, tetapi disambut sebagai tamu Allah dan tamu Rasulullah SAW.
Perintah yang Dibungkus Penghormatan
Menariknya, hayyākumullāh tidak hanya diucapkan ketika menyambut jamaah. Kalimat ini sering terdengar ketika petugas meminta jamaah berjalan, bergeser, duduk, berpindah, atau meninggalkan Raudhah agar kelompok berikutnya dapat masuk.
Petugas tidak selalu menggunakan kata-kata keras. Mereka mengiringi arahan dengan ungkapan penghormatan:
Hayyākumullāh… hayyākumullāh…
Dalam konteks tersebut, kalimat itu seperti berkata:
“Silakan, semoga Allah memuliakan kalian.”
Arahan tetap diberikan, tetapi martabat jamaah dijaga. Ketertiban ditegakkan tanpa kehilangan keramahan. Ketegasan dibungkus dengan doa.
Di sinilah terdapat pelajaran penting tentang komunikasi pelayanan. Seseorang dapat bersikap tegas tanpa kasar. Ia dapat mengatur tanpa merendahkan. Ia dapat meminta orang bergerak tanpa membuatnya merasa diusir.
Kalimat hayyākumullāh memperlihatkan perpaduan antara disiplin dan adab, antara tata kelola dan keramahan, antara ketegasan aturan dan penghormatan kepada manusia.
Menghidupkan Hati, Bukan Hanya Menyambut Tubuh
Makna terdalam hayyākumullāh bukan sekadar menyambut kedatangan fisik jamaah. Kalimat ini membawa pesan agar kunjungan ke Masjid Nabawi menghidupkan hati.
Banyak orang hidup secara jasmani, tetapi hatinya lemah. Ia berjalan, bekerja, berbicara, dan beraktivitas, tetapi kehilangan kepekaan spiritual. Ia tidak lagi tersentuh oleh nasihat, tidak merasa bersalah ketika melakukan kesalahan, dan tidak tergerak melihat penderitaan orang lain.
Raudhah seharusnya menjadi tempat menghidupkan kembali hati yang mulai mati. Di sana jamaah mengingat Rasulullah SAW, seorang manusia yang hidupnya dipenuhi kasih sayang, kesabaran, pengorbanan, dan pengabdian kepada umat.
Hayyākumullāh seolah menjadi doa agar setiap orang yang memasuki Masjid Nabawi pulang dengan kehidupan yang baru: iman yang lebih hidup, hati yang lebih lembut, akhlak yang lebih baik, dan kecintaan yang lebih kuat kepada Rasulullah SAW.
Apabila seseorang masuk ke Raudhah dalam keadaan keras hati, semoga ia keluar dengan kelembutan. Apabila ia datang membawa kesombongan, semoga ia pulang dengan ketawadukan. Apabila ia membawa permusuhan, semoga ia kembali dengan semangat persaudaraan. Apabila ia datang dalam kegelisahan, semoga ia pulang membawa ketenangan.
Pesan Pelayanan bagi Umat
Ungkapan hayyākumullāh juga mengandung pelajaran bagi masjid, lembaga agama, organisasi Islam, dan pelayanan publik di tanah air. Umat perlu membangun budaya pelayanan yang menghormati manusia.
Masjid harus menyambut jamaah dengan keramahan. Pengurus tidak cukup hanya menjaga bangunan, tetapi juga harus menjaga kenyamanan, kehormatan, dan perasaan orang yang datang. Lembaga keagamaan semestinya tidak tampil dengan wajah yang kaku dan mempersulit, melainkan menjadi tempat yang menenteramkan.
Demikian pula aparatur negara dan penyelenggara pelayanan publik. Masyarakat yang datang bukan beban, melainkan pihak yang harus dilayani. Ketertiban, aturan, dan prosedur tetap diperlukan, tetapi semuanya harus dijalankan dengan bahasa yang santun dan sikap yang memuliakan.
Pelayanan yang baik bukan hanya menyelesaikan urusan, tetapi juga menjaga kehormatan orang yang dilayani. Inilah salah satu esensi hayyākumullāh: manusia disambut bukan hanya dengan pintu yang terbuka, tetapi juga dengan hati yang terbuka.
Raudhah sebagai Sekolah Adab
Kunjungan ke Raudhah pada akhirnya bukan sekadar kesempatan memasuki tempat istimewa. Ia adalah sekolah adab. Jamaah belajar sabar dalam antrean, tertib mengikuti petunjuk, menghormati hak kelompok lain, menggunakan waktu dengan baik, dan tidak memaksakan kehendak.
Waktu lima belas menit terasa singkat, tetapi justru mengajarkan bahwa setiap kesempatan memiliki batas. Tidak seorang pun dapat menguasai Raudhah untuk dirinya sendiri. Setelah selesai, ia harus memberi ruang kepada orang lain.
Demikian pula kehidupan. Dunia bukan milik kita seorang. Kekuasaan, jabatan, tempat, dan kesempatan memiliki batas waktu. Pada saatnya, kita harus bergeser dan memberikan ruang kepada generasi berikutnya.
Raudhah mengajarkan bahwa yang penting bukan berapa lama seseorang berada di tempat mulia, tetapi perubahan apa yang dibawanya setelah keluar dari sana.
Seseorang boleh memiliki ratusan foto Raudhah, tetapi yang lebih utama adalah apakah Raudhah telah tercetak dalam akhlaknya. Apakah ia menjadi lebih sabar, lebih lembut, lebih jujur, lebih mencintai Rasulullah, dan lebih bermanfaat bagi manusia?
Ketika petugas berkata, hayyākumullāh, kalimat itu bukan sekadar sapaan. Ia adalah doa, penghormatan, dan pesan peradaban:
Semoga Allah menyambut kalian, memuliakan kalian, menghidupkan hati kalian, dan menjadikan perjalanan ini sebagai awal kehidupan yang lebih baik.
Hayyākumullāh fī Madīnati Rasūlillāh.
Semoga Allah menyambut dan memuliakan kalian di Kota Rasulullah SAW.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad.
