![]() |
| Rajilis Tuanku Sidi |
MU-ONLINE, Padang Pariaman, -- Rajilis lahir di Apa, kini masuk Nagari Lareh Nan Panjang Barat, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, 6 Juni 1954 dari pasangan suami-istri, Ahmad dan Piknik. Lama mengaji dan menuntut ilmu di Pondok Pesantren Dinul Ma'ruf, Rajilis dikukuhkan jadi tuanku. Maka, lengkapnya adalah Rajilis Tuanku Sidi. Beliau merasul di Surau Dagang, Ampalu, masyhur sebagai tuanku yang pandai mengobati berbagai penyakit, dan tersebut juga sebagai ulama yang bersuara rancak. Beliau qori, anak asuhannya banyak yang juara MTQ tingkat Padang Pariaman dan Sumatera Barat.
Masa Kecil
Sejak usia dini, Rajilis berada di lingkungan religius. Tak heran, masa pendidikan banyak diikutinya di Surau Apa, kampungnya sendiri, tempat mengaji anak siak yang banyak. Masa kecil Rajilis, Gazali Tuanku Sidi Tukang sudah jadi guru besar di Surau Apa itu.
Sementara, sekolah rakyat diikuti Rajilis di Sikile, Nagari Lurah Ampalu tak jauh dari Apa, Lareh Nan Panjang Barat. Siang sekolah di Sikile, malam mengaji di Surau Apa. Kelak, dua lembaga pendidikan umum dan agama itu mampu menjadikan fondasi dasar bagi Rajilis di kemudian hari.
Kelak sekolah rakyat di Sikile itu jadi SDN 05 VII Koto Sungai Sariak. Merupakan SDN tertua. Sebelum tahun 1960 sekolah ini sudah beroperasi, mendidik anak-anak kampung Lurah Ampalu dan sebagian dari Lareh Nan Panjang Barat.
Secara historis dan sosiologis, dinamika pergerakan berbasis surau di wilayah Lareh Nan Panjang, VII Koto Sungai Sariak, Padang Pariaman pada tahun 1960-an sangat dipengaruhi oleh gejolak politik nasional pasca-PRRI dan rekonstruksi sosial keagamaan di Minangkabau. Meskipun catatan tertulis spesifik mengenai nama "Surau Apa" sangat terbatas dalam literatur sejarah publik, pola pergerakan surau-surau di kawasan VII Koto Sungai Sariak pada era 1960-an dapat dipetakan melalui beberapa poin penting berikut.
Pusat Rekonsiliasi: Wilayah Padang Pariaman merupakan salah satu basis yang terdampak pergolakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang berakhir pada awal 1960-an. Surau pada masa ini berfungsi sebagai ruang aman untuk memulihkan modal sosial masyarakat nagari yang sempat terpecah akibat perang saudara. Para tuanku, syekh, dan niniak mamak kembali ke surau untuk menata ulang kehidupan keagamaan dan memulihkan kembali sendi-sendi adat.
Benteng Pertahanan Ideologi Melawan Komunisme (1960–1965)
Konfrontasi Ideologis: Pada pertengahan tahun 1960-an, tensi politik antara kelompok Islam dan Partai Komunis Indonesia (PKI) sangat tinggi secara nasional, termasuk di pedalaman Minangkabau. Surau di VII Koto Sungai Sariak dijadikan tempat berkumpulnya pemuda-pemuda Islam (seperti Pemuda Muhammadiyah, Gerakan Pemuda Ansor, atau Persatuan Tarbiyah Islamiyah) untuk mengonsolidasikan gerakan membendung pengaruh sayap kiri. Wirid-wirid pengajian di surau menyelipkan pesan-pesan penguatan akidah guna menjaga masyarakat nagari agar tidak terpengaruh oleh propaganda politik sekuler.
Dinamika Aliran Keagamaan (Tradisionalis vs Modernis)
Basis Tarbiyah dan Syattariyah: Wilayah VII Koto Sungai Sariak secara tradisional memiliki kedekatan kultural yang kuat dengan jaringan ulama Syattariyah yang berpusat di Ulakan, serta pergerakan politik-keagamaan PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah). Pada tahun 1960-an, surau-surau di kawasan ini mulai bertransisi atau mengadopsi sistem madrasah/sekolah formal tanpa meninggalkan fungsi aslinya sebagai tempat mengaji kitab kuning, latihan silat tradisional, dan tempat bermalam kaum muda. Setelah peristiwa G30S/PKI pada akhir tahun 1965, surau menjadi lembaga penting untuk melakukan proses "Islamisasi kembali" atau penyaringan ideologi masyarakat guna memastikan kepatuhan terhadap Pancasila dan agama.
Restrukturisasi Pemerintahan: Pergerakan di surau mulai beradaptasi dengan kebijakan repolitisasi Orde Baru yang meredam gerakan politik praktis berbasis agama dan mengarahkannya kembali ke fungsi dakwah murni serta pembangunan infrastruktur desa/nagari.
Mengaji di Dinul Ma'ruf Surau Ujuang Kubu
Tamat sekolah rakyat di kampung, Rajilis diantar mengaji ke Sungai Durian, Kecamatan VII Koto Patamuan, tepatnya Surau Ujuang Kubu.
Pondok Pesantren Dinul Ma'ruf, yang lebih dikenal masyarakat setempat sebagai Surau Ujuang Kubu, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Pada tahun 1966, surau tua dan besar ini berada di bawah kepemimpinan pendirinya, Syekh Dawamad Ungku Panjang (yang memimpin sejak berdiri hingga wafatnya pada tahun 1968).
Pada masa pergolakan politik nasional pasca-peristiwa G30S/PKI tahun 1965 hingga masa transisi tahun 1966, Surau Ujuang Kubu menjadi tempat perlindungan fisik dan spiritual bagi masyarakat sekitar. Selain menjadi pusat pendidikan Islam (pondok pesantren) dan basis Tarekat Syattariyah, bangunan surau yang luas ini digunakan warga untuk bersembunyi dari kekacauan situasi politik, serupa dengan fungsinya saat Agresi Militer Belanda II dulu.
Masa Akhir Kepemimpinan Syekh Dawamad Ungku Panjang
Tahun 1966 merupakan tahun-tahun terakhir masa hidup Syekh Dawamad Ungku Panjang (1886–1968). Di periode ini, aktivitas keagamaan di Surau Ujuang Kubu tetap berjalan kuat dengan mencetak kader-kader ulama tradisional yang dipersiapkan untuk meneruskan estafet kepemimpinan pesantren.
Setelah wafatnya Syekh Dawamad pada tahun 1968, kepemimpinan Surau Ujuang Kubu dilanjutkan oleh murid sekaligus khalifahnya, Syekh Basyaruddin Tuanku Bagindo. Syekh Basyaruddin meneruskan trah keilmuan Ungku Panjang dan memimpin pesantren ini dalam rentang waktu yang sangat lama, yaitu dari tahun 1968 hingga tahun 2001.
Masa transisi di Dinul Ma'ruf itu, Rajilis berguru ke Syekh Dawamad Ungku Panjang dan Syekh Basyaruddin Tuanku Bagindo. Begitu juga di kampung, tetap mengaji dengan Gazali Tuanku Sidi Tukang. Sampai tamat di situ, Rajilis dikukuhkan jadi tuanku.
Keistimewaan
Kembali ke kampung, Rajilis mengabdi di Ampalu, sambil terus mendampingi Gazali Tuanku Sidi Tukang. Dalam pengabdian kepada masyarakat di Ampalu, Rajilis lebih kepada pengasuhan anak-anak mengaji irama. Sementara, untuk menjalankan wirid Gazali Tuanku Sidi Tukang dalam pengajian Tarekat Syattariyah di sejumlah surau dan masjid di Lurah Ampalu dan Lareh Nan Panjang, banyak dijalankan oleh Manshurddin Tuanku Sidi.
Di samping menghidupkan mingguan ngaji irama di Surau Dagang Ampalu, di kediamannya di Koto Runciang, Lurah Ampalu juga aktif memimpin mingguan ngaji irama dan tajwid. Sampai-sampai, perwakilan qori dan qoriah yang akan mewakili Lurah Ampalu dan Lareh Nan Panjang ke VII Koto Sungai Sariak, adalah rekomendasi Rajilis ini.
Rajilis adalah seorang ulama yang juga terkenal sebagai pandai obat. Surau Dagang Ampalu tak pernah sepi dari kehadiran masyarakat yang mengadu ke Rajilis.
Keluarga
Rajilis Tuanku Sidi wafat di Koto Runciang, Nagari Lurah Ampalu, kediaman keluarganya, Senin 24 Februari 2025, dikebumikan Selasa besoknya di Puncak Panggong, Apa, Lareh Nan Panjang Barat, komplek makam Gazali Tuanku Sidi Tukang.
Dari perkawinannya dengan Yuslinar, lahir delapan orang putra dan putri, yakni Hasannudin, Zulhijah, Nur Asiyah, Nur Aisyah, Nur Hasanah, Mustafa Kamal, Nur Rahma Fauziah, dan Muhammad Abdul Ghani. (AD)
Referensi:
1. Wawancara dengan H. Muhammad Nizaf Tuanku Sidi, Kamis 18 Juni 2026 di Limpato Sungai Sariak. Muhammad Nizaf adalah anak kandung Manshurddin Tuanku Sidi. Setelah sekolah di Ambuang Kapua, Muhammad Nizaf Tuanku Sidi mengaji di Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek, Tanah Datar.
2. [https://www.google.com](https://www.google.com/searchviewer/10?svid=CAwSHRIbCgNwdnESFENnMHZaeTh4TVhac2JIWjJhSE53GAo)
3. [https://id.wikipedia.org](https://id.wikipedia.org/wiki/Lareh_Nan_Panjang,_VII_Koto_Sungai_Sarik,_Padang_Pariaman)
