![]() |
| Komplek makam Syekh Abdurrahman Tuanku Mudo Bintungan Tinggi. |
Surau Baru. Itu namanya dulu, didirikan oleh Syekh Abdurrahman Tuanku Mudo pada tahun 1864 di Bintungan Tinggi, Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padang Pariaman. Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi wafat 1923 dalam usia kurang lebih 90 tahun.
Menurut Wikipedia, Surau Baru itu didirikannya sepulang dari menuntut ilmu di Ulakan. Ada seribuan santri yang lazim dengan sebutan "pakiah" mengaji dan belajar dengan Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi. Pakiah yang banyak mendirikan surau-surau kecil sebagai asrama dan tempat tinggal di sekeliling Surau Baru. Ada 15 surau kecil yang dijadikan tempat tinggal anak siak kala itu. Tampak sekali semarak kampung dengan dominasi kaum santri. Sungai Batang Ulakan yang mengalir di belakang surau, tentu menjadi tempat mandi dan keperluan lainnya oleh santri yang banyak.
Nama populer lainnya seorang Syekh Abdurrahman adalah Syekh Bintungan Tinggi. Punya pengaruh besar di zamannya yang amat luar biasa, punya jejak rekam hingga saat ini. Rekam jejak itu, setiap kali bulan Syafar atau saat "Safa Gadang dan Safa Ketek" di komplek makam Syekh Burhanuddin di Ulakan, peziarah menyempatkan singgah dan ziarah di Bintungan Tinggi. Ada yang singgah saat akan ke Ulakan, dan banyak pula yang setelah balik dari Ulakan. Tergantung kebiasaan dari jemaah masing-masing daerah.
Sepeninggal Syekh Abdurrahman, Surau Baru pun dirombak. Namanya menjadi Lembaga Pendidikan Islam Surau Baru Syekh Bintungan Tinggi. Kemudian dirombak lagi, mungkin karena penyesuaian menjadi Pesantren Syekh Bintungan Tinggi. Syekh Abdurrahman yang populer dengan sebutan Syekh Bintungan Tinggi, adalah ulama hebat dan alim. Memiliki keistimewaan yang tak dipunyai oleh ulama lain tentunya. Zikirnya banyak, dan sampai lazim saat ini dengan tradisi "ratik tolak bala".
Ratik tolak bala dilakukan dengan cara berzikir bersama, sambil berkeliling kampung, pada saat bala dan bencana melanda kampung dan nagari. Seumpama, tahun ini hampir semua tanaman padi petani tak menjadi. Penuh dengan penyakit, sehingga petani merugi. Syekh Bintungan Tinggi satu-satunya tempat mengadu dan berkeluh kesah masyarakat soal itu.
Oleh Syekh Bintungan Tinggi dijawab dengan mengajak masyarakat melakukan ratik tolak bala, keliling kampung, sambil membaca lafaz kalimat tauhid. Beliau terkenal menguasai ilmu fiqh dan tarekat. Tak heran, semasa beliau mengembangkan pendidikan Surau Baru, banyak santrinya yang jadi ulama hebat pula. Sebut saja Syekh Aluma Koto Tuo, Khatib Simpang Tigo Bunguih (Padang), Tuanku Padang (Simpang Haru-Padang), Syekh Tuanku Mudo Sahar (Tiku), Tuanku Qadli Wali Hakim (Koto Gadang- Maninjau). Selanjutnya, Syekh Angku Paingan, Syekh Angku Tuo (Batu Mengaum), Buya Syekh Tuanku Sidi Nurdin, Syekh Kiambang, Tuanku Panjang Batu Basa, Syekh Angku Shalih Kiramat, Syekh Angku Simawang, Syekh Angku Dt. Penyalai (Tebing Tinggi-Sumut). Kemudian juga tersebut nama Buya Angku Shalih Pengka, Buya Syekh Tuanku Sutan Kentong (Pakandangan), Tuanku Penyalaian Padang Panjang, Syekh Tuanku Mudo Bonta (Ulakan), Syekh Tuanku Mudo Luthan (Ulakan).
Masih banyak lagi ulama yang mengaji dengan beliau Syekh Abdurrahman Surau Baru Bintungan Tinggi ini. Setiap saat banyak pengunjung ke kampung itu. Mereka berziarah, mendatangi guru besar Syekh Abdurrahman yang berkubur di komplek Surau Baru.
Sepeninggal Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi (pendiri-beliau adalah nenek moyang Asril Maaz, pendidikan dilanjutkan oleh Syekh Tuanku Mudo H. Abdullah bin Syekh Bintungan Tinggi (Khalifah I). Kemudian setelah itu, dilanjutkan oleh Syekh Tuanku Kuniang M. Gombok (Kakek Asril Maaz), Mhd. Maaz Tuanku Lunak (Ayah kandung Asril Maaz).
Bangunan indah dan rancak, terlihat unik adalah gobah, komplek bermakamnya Syekh Abdurrahman bersama anak cucunya yang ikut mengembangkan pendidikan Surau Baru dulunya. Isterinya, Hj. Uwai Siti Malai, makam anak-anaknya, H. Muhammad Yusuf, H. Abdullah Tuanku Mudo (Khalifah I), Abdul Wahab Tuanku Mudo (Khalifah II), Hj. Ummy Siti Asiah, Siti Saudah, H. Zainal Abidin, H. Syamsudin, Hj. Ummy Thahirah dan Ummy Siti Raudlah. Sementara dari kalangan cucu-cucu beliau yang ikut mengisi komplek makam itu, adalah Ramlah, H. Zulbaidi Tuanku Mudo (Lahir di Mekah dan Khalifah III), Idris, Upiak Kenek dan Abdul Malik. Keturunan yang lain, ikut pula Zaimurlis binti Muhammad Maaz Tuanku Lunak (Kakak Asril Maaz), Yusrizal Maaz, Elly Zabeth Maaz (Adik Asril Maaz), Sariawal bin Imam Muslim. Suami kedua dari Ramlah Tuanku Andah. Adik Ipar, Nobanso dan Muhammad Ali.
Arsitektur bangunan adalah Tuanku Khatib Koto Baru (Padang Panjang), arsitektur rumah keluarga (Rumah Gadang), Surau dan Gobah Syekh Bintungan Tinggi. Pembantu utamanya, Mak Adang Kambang. Tidak ada seorangpun murid-muridnya yang bermakam di komplek tersebut.
Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi adalah seorang ulama besar dan tokoh penyebar Islam terkemuka dari Padang Pariaman, Sumatera Barat, yang merupakan khalifah (penerus) generasi kesekian dari jaringan keilmuan Syekh Burhanuddin Ulakan. Beliau dikenal sebagai pilar utama dalam pengembangan ajaran Islam dan Tarekat Syattariyah
Asal-Usul dan Masa Kecil
Lahir pada tahun 1827 dengan nama kecil Abdurrahman. Nama tersebut sengaja disamakan dengan kakeknya, Syekh Abdurrahman Ulakan, atas dasar wasiat keluarga sebagai isyarat bahwa ia akan menjadi ulama besar. Beliau merupakan putra dari pasangan Syekh Ibnu Muttaqin dan Pik Mande. Sang ibu berasal dari suku Sikumbang yang berakar di Ganting Sungai Asam, Sicincin. Sejak usia lima tahun, beliau diasuh dan dididik langsung dalam bidang agama oleh ayah kandungnya.
Menginjak usia 15 tahun, Syekh Abdurrahman pergi ke Ulakan—pusat penyebaran Islam terkemuka di Padang Pariaman kala itu—untuk memperdalam Islam dan mendalami Tarekat Syattariyah di bawah bimbingan Syekh Ja'far. Beliau tumbuh menjadi ulama yang menguasai berbagai disiplin ilmu agama, mulai dari ilmu alat seperti Nahwu dan Sharaf, ilmu fiqih, hingga ilmu tasawuf dan tarekat.
Keistimewaan
Dalam memori kolektif masyarakat lokal, beliau diyakini memiliki beberapa karamah (kemuliaan dari Allah), seperti kemampuan berjalan di atas air, mengendalikan arus sungai, serta hadir di beberapa majelis pengajian berbeda pada waktu yang bersamaan.
Wafat dan Warisan
Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi wafat pada tahun 1923 dalam usia kurang lebih 90 tahun. Jasadnya dimakamkan di kompleks pemakaman yang terletak di sebelah barat Surau Bintungan Tinggi. Hingga saat ini, kompleks makamnya tetap ramai dipadati peziarah. Kompleks surau peninggalannya di Padang Pariaman juga menjadi salah satu destinasi wisata religi bersejarah di Sumatera Barat yang menyimpan kekayaan manuskrip kuno keislaman. (AD)
Referensi:
1. Wawancara dengan Asril Maaz, tahun 2014, di Surau Baru Bintungan Tinggi, Kecamatan Nan Sabaris. Asril Maaz adalah cucu Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi penjaga warisan Surau Baru
[https://jurnalminang.id](https://jurnalminang.id/kondisi-terkini-koleksi-manuskrip-surau-bintungan-tinggi/)
[2] [https://www.viva.co.id](https://www.viva.co.id/gaya-hidup/travel/1042144-wisata-religi-surau-gadang-bintungan-tinggi-nbsp)
[https://id.wikipedia.org](https://id.wikipedia.org/wiki/Surau_Bintungan_Tinggi)
[6] [https://www.kompasiana.com](https://www.kompasiana.com/damanhuriahmad5085/621393f3586d29353f4aa202/jejak-keilmuan-syekh-abdurrahman-bintungan-tinggi)
