![]() |
Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag.
Peserta Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H / 2026 M
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Salah satu pengalaman yang sangat berkesan selama mengikuti Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain adalah mengunjungi museum yang menampilkan berbagai peralatan kehidupan masyarakat Arab pada masa Rasulullah SAW. Di balik benda-benda yang tampak sederhana, tersimpan pelajaran besar tentang lahirnya sebuah peradaban.
Di sana dipamerkan ayakan (الغربال) untuk mengayak gandum, wadah air dari kulit (الشنة) yang dibawa dalam perjalanan, belanga tanah liat (البرمة) untuk memasak, katrol (البكرة) untuk mengambil air dari sumur, anak panah (النبل), perisai (الترس), serta baju zirah (الدرع) sebagai perlengkapan pertahanan. Tersimpan pula berbagai lampu, pedang, alat rumah tangga, hingga potongan Kiswah Ka'bah yang menjadi simbol kemuliaan Baitullah.
Benda-benda tersebut mengingatkan kita bahwa Rasulullah SAW membangun masyarakat Madinah bukan dengan kemewahan. Kehidupan beliau sangat sederhana, namun sarat dengan nilai-nilai keimanan, ilmu pengetahuan, kerja keras, dan tanggung jawab. Kesederhanaan bukanlah kemiskinan, melainkan pilihan hidup yang tidak diperbudak oleh materi.
Al-Qur'an mengajarkan bahwa manusia diperintahkan mempersiapkan segala kemampuan yang dimiliki.
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ
"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi." (QS. Al-Anfāl: 60)
Ayat ini tercermin pada baju zirah, perisai, dan anak panah yang dipakai pada masa itu. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa tawakal kepada Allah tidak berarti meninggalkan ikhtiar. Keimanan harus berjalan beriringan dengan kesiapan, perencanaan, dan usaha.
Demikian pula ayakan, katrol, wadah air, dan belanga menunjukkan bahwa Islam menghargai kerja, teknologi, dan produktivitas. Alat-alat itu mungkin sederhana menurut ukuran zaman sekarang, tetapi pada masanya merupakan teknologi yang memudahkan kehidupan masyarakat. Dari sinilah kita belajar bahwa Islam sejak awal telah mendorong inovasi yang membawa kemaslahatan.
Potongan Kiswah Ka'bah yang dipamerkan juga menghadirkan renungan mendalam. Ka'bah memang diselimuti kain yang indah, tetapi kemuliaannya bukan terletak pada kain itu. Kemuliaan Ka'bah berasal dari kedudukannya sebagai rumah Allah, tempat manusia mengesakan-Nya. Demikian pula manusia, kemuliaannya bukan ditentukan oleh pakaian atau harta, tetapi oleh ketakwaannya.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
"Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." (QS. Al-Ḥujurāt: 13)
Kunjungan ke museum ini menyadarkan bahwa peradaban Islam yang agung tidak lahir dari istana-istana megah, melainkan dari rumah-rumah sederhana yang dipenuhi ilmu, dari tangan-tangan yang bekerja dengan jujur, dari hati yang ikhlas beribadah, dan dari masyarakat yang menjadikan wahyu sebagai pedoman hidup.
Di tengah kemajuan teknologi modern, pelajaran itu tetap relevan. Kemajuan peradaban tidak cukup hanya diukur dengan kecanggihan alat, tetapi harus diiringi dengan kemajuan akhlak, kejujuran, dan ketakwaan. Sebab, teknologi tanpa iman dapat melahirkan kerusakan, sedangkan teknologi yang dipandu wahyu akan menjadi rahmat bagi semesta alam.
Semoga setiap jejak yang kami saksikan di Tanah Suci tidak hanya menjadi kenangan perjalanan, tetapi juga menjadi inspirasi untuk membangun peradaban yang berakar pada ilmu, berbuah akhlak, dan bermuara pada keridhaan Allah SWT. Aamiin. 10072026
