![]() |
Oleh: Duski Samad
Ada lembaga pendidikan yang besar karena gedungnya. Ada pula yang besar karena jumlah siswanya. Namun, ada lembaga yang menjadi besar karena ruh yang menghidupinya. Kesan itulah yang penulis rasakan ketika bersilaturahim ke Yayasan Dar El Iman Sumatera Barat, sebuah lembaga Islam yang telah lama mengabdikan diri melalui tiga pilar utama: dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial.
Berlokasi di Jalan Gajah Mada, Kampung Olo, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, Dar El Iman tumbuh menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam yang diperhitungkan di Sumatera Barat. Perkembangannya tidak hanya terlihat dari bertambahnya unit pendidikan, tetapi juga dari kuatnya orientasi membangun manusia yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kedekatan spiritual kepada Allah SWT.
Di bidang pendidikan, Dar El Iman mengelola lembaga mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah dan pesantren. Salah satu program unggulannya adalah tahfiz Al-Qur'an. Setiap tahun, peserta didik tingkat dasar mampu mencapai target hafalan dua juz dengan sekitar lima belas santri menuntaskan target tersebut, sementara pada jenjang SMP telah lahir para hafiz yang menyelesaikan hafalan tiga puluh juz. Prestasi ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an bukan sekadar mata pelajaran, tetapi telah menjadi budaya dan napas kehidupan di lingkungan pendidikan Dar El Iman.
Pendekatan tersebut ternyata tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari pada setiap jenjang pendidikan.
Di TKIT 2 Dar El Iman, setiap pagi diawali dengan jurnal pagi sebagai media membangun kesiapan belajar dan refleksi sederhana anak. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan dzikir pagi, doa-doa harian, dan tahfiz Al-Qur'an sebagai fondasi pembentukan karakter spiritual sejak usia dini. Setelah itu, anak-anak mengikuti pembelajaran tematik yang dipadukan dengan stimulasi sensori, sehingga perkembangan kognitif, emosional, motorik, dan spiritual tumbuh secara seimbang. Pendidikan tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi membiasakan anak hidup dalam suasana zikir, doa, dan cinta kepada Al-Qur'an. Sebagaimana firman Allah SWT:
«"Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.'" (QS. Ṭāhā: 114).»
Pada jenjang SDIT 3 Akhwat Dar El Iman, pendidikan diarahkan pada pembentukan generasi muslimah yang utuh. Program tahfiz Al-Qur'an menjadi penguat kecintaan kepada Kalamullah, sementara bahasa Arab diajarkan sebagai bekal memahami Al-Qur'an sejak dini. Di samping itu, kegiatan olahraga membangun kesehatan jasmani, sedangkan menggambar dan aktivitas kreatif mengembangkan imajinasi dan kreativitas peserta didik. Perpaduan ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam tidak mempertentangkan spiritualitas dengan pengembangan kecerdasan, tetapi mengintegrasikan keduanya secara harmonis.
Semangat mencintai Al-Qur'an juga tampak kuat di SDIT 2 Dar El Iman. Kegiatan tahfiz dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai ikhtiar membentuk generasi yang tidak hanya mampu menghafal, tetapi juga mencintai dan mengamalkan Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Sabda Rasulullah SAW menjadi inspirasi utama:
«"Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. al-Bukhari).»
Yang tidak kalah menarik adalah perhatian besar terhadap pendidikan keluarga. Melalui daurah parenting bagi para wali murid, khususnya kaum ibu, Dar El Iman meyakini bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sekolah, tetapi juga oleh keluarga. Sinergi antara guru dan orang tua menjadi fondasi penting dalam melahirkan generasi yang berkarakter Qur'ani.
Di bidang sosial, Dareliman Peduli secara konsisten melaksanakan berbagai program kemanusiaan, seperti penyaluran zakat, pembagian sembako, pelayanan kesehatan gratis, donor darah, hingga khitan massal. Dakwah diwujudkan dalam bentuk pelayanan yang menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Sementara itu, melalui Surau TV dan DEI FM, Dar El Iman memperluas jangkauan dakwah dan literasi Islam di era digital. Lembaga ini juga menjalin kerja sama dengan Bank Ar Rajhi, salah satu bank terbesar di Arab Saudi, dalam penyelenggaraan program pembinaan mualaf di Kepulauan Mentawai. Hal ini menunjukkan bahwa semangat dakwah Dar El Iman tidak mengenal batas geografis.
Dalam perbincangan yang hangat dengan pendiri Dar El Iman, Ustaz H. Muhammad Elvi Syam, penulis merasakan bahwa kekuatan utama lembaga ini terletak pada pendekatan ruhaniyah. Pendidikan dipahami bukan semata-mata sebagai proses mentransfer ilmu, tetapi sebagai proses membentuk hati, membersihkan jiwa (tazkiyatun nafs), memperbaiki akhlak, dan mendekatkan manusia kepada Allah SWT. Dari fondasi spiritual inilah tumbuh semangat melayani umat, membangun pendidikan, dan berdakwah dengan penuh keikhlasan.
Silaturahim ini juga mengingatkan penulis pada sebuah kenangan yang tidak terlupakan. Ustaz H. Muhammad Elvi Syam merupakan salah seorang tokoh yang memberikan rekomendasi kepada pihak terkait ketika diminta mengusulkan nama tokoh agama dari Sumatera Barat untuk memperoleh undangan sebagai tamu Khadim al-Haramain al-Syarifain, Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud. Atas rekomendasi beliau, alhamdulillah penulis memperoleh kehormatan menunaikan ibadah umrah sebagai tamu Kerajaan Arab Saudi pada 8–20 Juli 2026.
Sebagai ungkapan syukur sekaligus penghormatan atas silaturahim tersebut, penulis menyerahkan buku yang ditulis selama mengikuti Program Umrah Undangan Khadim al-Haramain pada 8–20 Juli 2026. Buku tersebut merupakan catatan perjalanan spiritual, intelektual, dan peradaban selama berada di Tanah Suci, sekaligus menjadi kenang-kenangan bagi sosok yang telah memberikan kepercayaan dan dukungan kepada penulis.
Melihat secara langsung praktik pendidikan di Dar El Iman, penulis semakin memahami bahwa pendekatan ruhaniyah bukan sekadar slogan, melainkan telah menjadi budaya lembaga. Anak-anak dibiasakan memulai hari dengan mengingat Allah, menumbuhkan kecintaan kepada Al-Qur'an, membangun akhlak, mengembangkan ilmu pengetahuan, menjaga kesehatan, serta mengasah kreativitas. Pendidikan menjadi proses yang memadukan iman, ilmu, amal, dan adab dalam satu kesatuan yang utuh.
Dari pertemuan ini, penulis semakin meyakini bahwa masa depan pendidikan Islam tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, teknologi, atau fasilitas yang modern. Yang lebih penting adalah hadirnya ruh pendidikan yang menghubungkan ilmu dengan iman, kecerdasan dengan akhlak, serta prestasi dengan keikhlasan.
Selama ruhaniyah tetap menjadi fondasi, pendidikan Islam akan terus melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual, kuat secara moral, dan siap mengabdi kepada agama, bangsa, dan kemanusiaan. Inilah hakikat pendidikan Islam yang sesungguhnya: membangun manusia seutuhnya, yang cerdas pikirannya, bersih hatinya, mulia akhlaknya, dan luas manfaatnya bagi sesama.
Wallāhu a'lam bi al-shawāb.
