![]() |
| Idris Tuanku Sutan Kentong |
MU-ONLINE, Padang Pariaman, -- Lahir 1901 di Sungai Sariak, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, diberi nama Idris oleh kedua orangtuanya. Dalam perkembangannya, Idris tak tersebut dan tidak familiar. Melainkan yang mashur itu adalah Kentong. Lama mengaji di Surau Kalampaian Ampalu Tinggi dengan Syekh Muhammad Yatim, lalu pindah ke Koto Laweh, Tanah Datar, lalu pindah lagi mengaji ke Koto Tujuah, Tanjung Ampalu, Sijunjung dengan Syekh Muhammad Yasin, dan terakhir di Sasak, Pasaman Barat dengan Syekh Muhammad Yunus, beliau digelari Tuanku Sutan Kentong.
Masa Kecil
Selanjutnya, dalam penulisan biografi ini, kita tulis Tuanku Sutan Kentong. Melihat perjalanan dan kisah hidupnya, beliau Tuanku Sutan Kentong ini dari kecil sampai akhir hayatnya banyak di surau. Di Surau Kalampaian Ampalu Tinggi, beliau dalam asuhan Ungku Saliah. Artinya, Ungku Saliah Sungai Sariak ini guru tuonya. Ungku Saliah dikenalnya sejak dari kampung. Tuanku Sutan Kentong ini, sejak dari Kampung Bendang sudah saling kenal mengenal.
Hubungan sekampung, sama-sama dari Kampung Bendang, hubungan Ungku Saliah dan Tuanku Sutan Kentong ini lebih pada hubungan guru dan murid. Terasa hubungan kakak beradik. Ungku Saliah di kemudian hari, di masa yang jauh ke mukanya, sering menjadikan Tuanku Sutan Kentong ini sebagai teman dan kawan.
Suatu ketika, masyarakat Lubuak Bareh Sungai Sariak tak melihat Ungku Saliah Shalat Jumat di Masjid Raya Lubuak Bareh. Sampai tiga kali Jumat, tak dilihat masyarakat, Ungku Saliah terkenal keramat ini Shalat Jumat di masjid bersejarah itu. Masyarakat saling bertanya, tapi tak ada jawaban yang pasti, apa gerangan dengan Ungku Saliah. Sakit kah, atau Shalat Jumat di luar, selain di Masjid Raya Lubuak Bareh? Serta banyak pertanyaan lainnya yang timbul di kalangan tokoh masyarakat kala itu.
Penasaran terhadap hal itu, seseorang berani saja mendatangi Ungku Saliah di suraunya. Lalu bertanya kejadian tiga kali Jumat yang diperhatikan masyarakat, tak melihat Ungku Saliah di Masjid Raya Lubuak Bareh. Ungku Saliah menjawab, beliau tidak akan Shalat Jumat di Lubuak Bareh, kalau imamnya tidak Tuanku Sutan Kentong.
Dengan isyarat demikian, masyarakat itu langsung pergi ke kediaman Tuanku Sutan Kentong di Gadua Koto Tinggi, menyampaikan pesan Ungku Saliah. "Bahwa Ungku Saliah tak mau Shalat Jumat di Masjid Raya Lubuak Bareh kalau imamnya tidak Tuanku Sutan Kentong. Jadi, Ungku Saliah menyuruh Tuanku Sutan Kentong ke Sungai Sariak, kini," begitu masyarakat itu menyampaikan pesan tersirat dari Ungku Saliah.
Dari Ampalu Tinggi ke Koto Laweh
Tuanku Sutan Kentong, setelah di Surau Kalampaian Ampalu Tinggi, merantau ke darek. Merantau ke Surau Syekh Pamansiangan yang terkenal itu.
Kondisi pendidikan surau di Surau Syekh Pamansiangan (kini dikenal sebagai Masjid Tuanku Pamansiangan), Koto Laweh, Tanah Datar pada tahun 1920-an berada dalam masa transisi fisik dan dinamika ideologis yang kuat antara pertahanan tradisi ortodoks (Kaum Tuo) dengan arus pembaruan Islam (Kaum Mudo) di Minangkabau.
Memasuki tahun 1920, kompleks Surau Syekh Pamansiangan mengalami renovasi penting berupa penggantian atap ijuk asli menjadi atap seng. Meskipun atapnya dimoderonisasi, kegiatan belajar tetap berlangsung di dalam bangunan kayu bergaya arsitektur khas Minangkabau. Tiang utamanya terbuat dari kayu utuh segi-delapan yang diikat rotan tanpa paku, beralaskan batu umpak. Kondisi ini memberikan suasana belajar tradisional yang sangat otentik di tengah pemukiman Koto Laweh.
Kurikulum Berbasis Jaringan Tarekat Syattariyah
Sebagai surau yang didirikan oleh Tuanku Pamansiangan (Abdullah), seorang tokoh kelompok Harimau Nan Salapan dan murid dari jaringan Syekh Burhanuddin Ulakan, surau ini kokoh mempertahankan tradisi lama. Pada tahun 1920-an, kurikulum utamanya meliputi pengajian Al-Qur'an, kitab kuning (fikih, tauhid, nahu, sharaf), serta praktik Tarekat Syattariyah. Sistem belajarnya masih menggunakan metode halakah (duduk melingkari guru) tanpa meja, kursi, ataupun papan tulis.
Koto Laweh berbatasan sangat dekat dengan Padang Panjang. Pada tahun 1920-an, Padang Panjang adalah pusat pergerakan Kaum Mudo yang radikal, ditandai dengan berdirinya Madrasah Thawalib (1921) oleh Syekh Abdul Karim Amrullah yang memperkenalkan sistem kelas dan kurikulum modern. Di tengah kepungan sistem sekolah modern/madrasah tersebut, Surau Syekh Pamansiangan tetap memosisikan diri sebagai lembaga pendidikan tradisional (faksi Kaum Tuo). Mereka menolak sistem penjenjangan kelas barat dan memilih setia pada sistem "urang siak" tradisional.
Dampak Bencana Alam (Gempa Bumi 1926)
Pada tanggal 28 Juni 1926, wilayah Padang Panjang dan Tanah Datar (termasuk Koto Laweh) diguncang oleh gempa bumi dahsyat Padang Panjang. Bencana ini merusak banyak infrastruktur pendidikan di kawasan tersebut. Surau Pamansiangan dan komunitas di sekitarnya harus melewati fase pemulihan fisik yang sempat mengganggu stabilitas proses belajar-mengajar santri. Sesuai fungsi tradisional surau Minangkabau, para pemuda dan santri (urang siak) dari berbagai nagari tidak hanya belajar agama, tetapi juga tidur menetap di surau. Mereka dilatih kemandirian, seni bermusyawarah melalui tradisi perundingan adat, serta pelajaran seni bela diri (silat Minang) sebagai bekal fisik dan pembentukan karakter kepemudaan.
Lanjut ke Tanjung Ampalu
Setelah berbilang tahun pula lamanya Tuanku Sutan Kentong di Koto Laweh, beliau masih ingin terus menuntut ilmu. Beliau, dari Koto Laweh pindah mengaji ke Tanjung Ampalu, dengan Syekh Muhammad Yasin yang terkenal itu.
Pada tahun 1930-an, pendidikan di Surau Syekh Muhammad Yasin (dikenal juga sebagai Angku Qadi Koto Tujuh bergelar Malin Mandaro) di Tanjung Ampalu, Koto VII, Sijunjung, merupakan salah satu pusat pendidikan Islam tradisional dan basis penting Tarekat Syattariyah di wilayah Sijunjung.
Pembelajaran di surau ini berfokus pada penguasaan teks-teks keagamaan klasik berbahasa Arab atau sering disebut kitab gundul/kitab kuning. Pembelajaran hukum Islam sehari-hari dan interpretasi ayat Al-Qur'an. Pengajaran ilmu nahwu dan sharaf yang mendalam agar murid mampu membaca manuskrip keagamaan. Pendalaman spiritual Islam spiritual yang menjadi inti pemikiran di surau tersebut.
Pusat Pengajaran Tarekat Syattariyah
Surau ini berfungsi sebagai lembaga pendidikan spiritual khusus (tarekat). Pendidikan tidak hanya bersifat kognitif (menghafal dan memahami hukum), tetapi juga afektif dan spiritual melalui: Kegiatan mengasingkan diri untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, terutama padat pada bulan Ramadan. Pengajaran silsilah zikir dan tarekat yang diwariskan dari guru ke murid secara lisan dan tulisan.
Pendidikan pada tahun 1930 di surau ini masih menggunakan sistem tradisional halakah, yaitu murid-murid duduk melingkari Syekh Muhammad Yasin saat beliau membaca dan menjabarkan isi kitab. Guru membaca kitab berbahasa Arab, menerjemahkannya ke dalam bahasa Melayu/Minangkabau, dan santri mencatat maknanya di sela-sela baris kitab (berupa manuskrip tulis tangan).
Merantau untuk Mengaji: Surau ini menjadi magnet bagi santri dari berbagai daerah di Sumatera Barat (bahkan luar wilayah) yang sengaja datang dan menetap (bermalam) di kompleks surau demi menuntut ilmu langsung kepada sang Syekh Muhammad Yasin. Keunikan pendidikan di bawah asuhan Syekh Muhammad Yasin adalah pengajaran yang seimbang antara syariat agama dan pelestarian adat Minangkabau. Karena sang Syekh Muhammad Yasin juga diakui sebagai tokoh adat terpandang, para santri diajarkan prinsip hidup moderat, dengan memegang filosofi adat "Indak ado kusuik nan indak salasai" (Tidak ada kekusutan yang tidak bisa diselesaikan).
Bersama Syekh Muhammad Yunus ke Sasak
Di Koto Tujuah, Sijunjung ini, Tuanku Sutan Kentong bersua dan bertemu dengan anak siak dari Pasaman Barat, yakni Syekh Muhammad Yunus, yang kelak mendirikan Tarbiyah di Sasak, Pasaman Barat. Syekh Muhammad Yunus akan pulang kampung, melanjutkan pengabdian di kampung halamannya. Tuanku Sutan Kentong ingin ikut pindah pula bersama Syekh Muhammad Yunus ini.
Maka jadilah Tuanku Sutan Kentong melanjutkan pengembaraannya yang panjang, ke Sasak, Pasaman Barat. Dari ranah Lansek Manih, Tuanku Sutan Kentong kian mendalam kajian Tarekat Syattariyah-nya. Dari Surau Kalampaian Ampalu Tinggi, terus ke Surau Syekh Pamansiangan, berlanjut dengan Syekh Muhammad Yasin di Koto Tujuah, menjadikan Tuanku Sutan Kentong memandang ilmu pengetahuan sebagai pakaian diri, yang melekat terus dalam dirinya.
Di Sasak, Pasaman Barat Tuanku Sutan Kentong bersua dan berkawan akrab dengan Syekh Musa Tapakih, yang kelak mendirikan pondok pesantren di Tapakih, Padang Pariaman. Syekh Musa Tapakih dan Tuanku Sutan Kentong ini seumuran. Syekh Musa dari Ujuang Kubu bersama Ungku Panjang ke Sasak, sementara Tuanku Sutan Kentong langsung bersama Syekh Muhammad Yunus dari Koto Tujuah, Sijunjung ke Sasak.
Perkembangan pendidikan Tarbiyah di Sasak, Pasaman Barat setelah tahun 1945 berpusat pada kepemimpinan dan kontribusi Syekh Muhammad Yunus (dikenal sebagai Tuanku Sasak. Sebagai salah satu tokoh kunci Kaum Tua Minangkabau sekaligus pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), ia terus memajukan institusi pendidikan Islam tradisional di wilayah tersebut pasca-kemerdekaan.
Transformasi Menjadi Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI)
Model pembelajaran yang awalnya berbasis halakah (lingkaran belajar) tradisional di Surau Lubuak Anjalai (Nagari Kapa) secara bertahap bertransformasi penuh menjadi sistem klasikal formal. Lembaga ini menggunakan nama Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI), mengadopsi struktur kelas yang digagas oleh Syekh Sulaiman ar-Rasuli (Inyiak Canduang), namun tetap kokoh mempertahankan mazhab Syafi'i dan iktikad Ahlussunnah wal Jama'ah. Antara tahun 1940 hingga 1962, Tuanku Sasak menerapkan metode pendidikan khas yang disebut metode tempoyak kelapa. Murid-murid yang belajar dan menginap di surau menggunakan belahan tempurung kelapa utuh yang dibersihkan sebagai pengganti bantal tidur.
Praktik unik ini bertujuan membatasi waktu tidur santri agar mereka segera terbangun untuk beribadah malam (qiyamul lail) serta melatih nilai-nilai asketisme (zuhud), konsistensi (istiqamah), dan keteguhan jiwa (mujahadah). Pengajaran pasca-1945 fokus pada pendalaman ilmu-ilmu bahasa Arab (ilmu alat seperti Nahwu dan Sharaf), fikih mazhab Syafi'i, akidah Asy'ariyah, serta kelanjutan tradisi tarekat (Naqsyabandiyah dan Syattariyah). Para santri di lingkungan MTI Pasaman Barat banyak bersandar pada karya Tuanku Sasak yang sangat populer, yaitu Kitab Himpoenan Hadis (pertama terbit 1938). Kitab ini menjadi rujukan utama untuk memperkuat argumen fikih ibadah Kaum Tua, termasuk dalil pelaksanaan doa qunut.
Pada periode 1950-an hingga 1960-an, jaringan pendidikan Tarbiyah Sasak ini menjadi motor penggerak gerakan sosial-keagamaan di Pasaman Barat. Ketika muncul dinamika sosial terkait kehadiran misi keagamaan non-Muslim di wilayah transmigrasi Pasaman Barat, jaringan ulama Tarbiyah di bawah kepemimpinan Tuanku Sasak berdiri di garda terdepan untuk menjaga kesepakatan wilayah berbasis Muslim dan membentengi akidah masyarakat lokal. Lembaga pendidikan Tarbiyah di wilayah pesisir Pasaman Barat ini berhasil menarik minat ratusan murid. Tidak hanya anak nagari setempat, santri juga berdatangan dari luar Sumatra Barat, seperti Jambi, Medan, hingga Aceh.
Dinamika pendidikan Tarbiyah di Sasak berjalan stabil di bawah asuhan Tuanku Sasak hingga beliau wafat pada 28 Oktober 1975. Selepas itu, keberlangsungan kurikulum Tarbiyah diteruskan oleh para kader, keturunan, dan alumni MTI di berbagai surau serta madrasah di Pasaman Barat.
Keistimewaan
Tuanku Sutan Kentong, terkenal dengan ulama yang alim dan malin. Pintar mengaji kitab. Dakwah bilhal yang menjadi kebiasaannya sejak kecil, membuat beliau menjadikan ilmu sebagai pakaian hidupnya. Sepulang dari Pasaman Barat, beliau aktif di Surau Gadang Pakandangan. Mengaji dengan Tuanku Surau Gadang, sambil juga mengajar. Surau Gadang Pakandangan terkenal sebagai tempat kedudukan "Mufti Enam Lingkung" zaman dulu itu.
Beliau Tuanku Sutan Kentong terkenal sebagai ulama yang uswatun hasanah. Dalam keseharian, beliau selalu dalam berkekalan wudhu. Shalat Dhuhanya 12 rakaat tiap pagi. Dua hal demikian, menetapkan beliau sebagai ulama yang istiqamah. Dalam waktu yang sempit atau waktu yang lapang, dua amalan itu dijalankannya dengan istiqamah.
Masyarakat yang sedang main domino di kedai, melihat Tuanku Sutan Kentong sedang berjalan dari kejauhan, itu lekas saja masyarakat itu menghentikan aktivitasnya main domino itu. Begitu tinggi nilai-nilai dakwah bilhal yang beliau tularkan di tengah masyarakat. Padahal, beliau tak pernah berang melihat orang yang main domino di kedai. Tapi, masyarakat merasa segan dan takut main domino ketika dilihatnya oleh gurunya, Tuanku Sutan Kentong.
Dari Gadua Koto Tinggi ke Sungai Sariak dan sebaliknya, beliau awalnya berjalan kaki saja. Setelah terbeli sepeda, baru beliau naik sepeda dayung, pulang pergi Sungai Sariak - Gadur Koto Tinggi. Sering bolak-balik dari rumah keluarganya di Gadua Koto Tinggi ke kampung halamannya, Sungai Sariak, lebih banyak menuruti pesan gurunya, Ungku Saliah. Baginya, guru adalah segala-galanya. Lewat guru, kita bisa sampai kepada Allah SWT.
Suatu ketika, beliau Tuanku Sutan Kentong ini didatangi seorang masyarakat yang kewalahan menunaikan nazarnya. Nazar atau niatnya itu, adalah meminum kencing anjing, ketika sakit berat anaknya sembuh dari sakit. Kencing anjing jelas najis berat, haram hukumnya. Memegang anjing saja tak boleh dan terlarang, apalagi meminum kencing anjing. Orang ini mendatangi Tuanku Sutan Kentong, minta solusi. Sebab, nazar wajib dibayarkan.
Oleh Tuanku Sutan Kentong dijawab dan diberi solusi dengan sangat bijak sekali. "Pergilah keliling kampung, perhatikan betul isi rumah tangga yang tidak melakukan shalat. Lalu, ketika musim hujan, tampung air hujan dari atap rumah orang itu, lalu minum air hujan itu. Demikian, telah tertunaikan janji atau nazar tersebut dengan baik.
Surau Gadang Pakandangan yang terletak di Nagari Pakandangan, Kecamatan Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman, merupakan salah satu situs sejarah keagamaan dan simbol penting dari penyebaran Tarekat Syattariyah di kawasan rantau Minangkabau. Secara historis, keberadaan surau ini sangat erat kaitannya dengan perkembangan tradisi keilmuan Islam tradisional, jaringan ulama, dan pergerakan lokal di Padang Pariaman.
Sejarah Surau Gadang Pakandangan tidak bisa dipisahkan dari koridor dakwah Syekh Burhanuddin Ulakan (pembawa Tarekat Syattariyah ke Minangkabau pada abad ke-17). Surau Gadang Pakandangan didirikan dan berkembang sebagai cabang (filial) pengajaran yang berpusat dari Surau Gadang Ulakan. Surau ini dipimpin oleh ulama-ulama bergelar Angku Syekh atau Syekh Surau Gadang Pakandangan yang memegang otoritas keilmuan Islam tradisional. Di surau inilah para penuntut ilmu (anak siko atau santri) dari berbagai daerah datang untuk mempelajari kitab-kitab gundul, ilmu Fikih, Tafsir, dan Nahwu Sharaf.
Surau Gadang Pakandangan diakui sebagai salah satu pusat penggodokan ulama mumpuni. Syekh Haji Abdul Manaf, seorang ulama tarekat terkemuka, tercatat dalam naskah pribadinya pernah melakukan bai'ah (sumpah setia) tarekat kepada Syekh Surau Gadang Pakandangan pada tahun 1926 M. Reputasi guru-guru di surau ini sangat tinggi, sehingga para santri cerdas sering direkomendasikan untuk melanjutkan studi ke pusat keilmuan lain (seperti Padang Gantiang, Batusangkar) setelah menyelesaikan kajian kilat di Pakandangan.
Kuatnya basis keagamaan di Surau Gadang Pakandangan menjadi fondasi suburnya pendidikan Islam di Nagari Pakandangan. Pada masa modern (sekitar tahun 1960), kultur surau pengajian tradisional ini ikut menginspirasi lahirnya pondok pesantren terbesar di Padang Pariaman.
Tak lama Tuanku Sutan Kentong mengabdi di Surau Gadang, lalu beliau pindah mengajar ke Surau Andah di Gadua Koto Tinggi, tak jauh dari Surau Gadang Pakandangan. Beliau terkenal menghargai pemberian orang lain. Yang dilihatnya bukan apa yang diberikan, tapi nilai-nilai yang ada di orang yang suka memberi itu yang perlu dijunjung tinggi diamba gadang.
Suatu ketika, ketika beliau masih jadi anak siak di Sasak dapat pengalaman yang luar biasa yang menimpanya, pada saat mamakiah. Pengalaman mamakiah berdua dengan Syekh Musa Tapakih. Beliau mamakiah pada saat persediaan bekal sudah habis. Selagi ada bekal, beliau sama sekali tidak melakukan mamakiah ini.
Dalam mamakiah itu, beliau dikasih oleh masyarakat makanan berupa lepat yang dibungkus dengan daun pisang. Hebatnya, isi lepat itu bohong, beliau ketahui saat istirahat, lelah dari berjalan kaki yang jauh dari mamakiah. Beliau buka lepat berbungkus daun pisang itu, ternyata isinya abu dapur yang dibungkus, seperti bungkus lepat. Beliau tetap Alhamdulillah. Tak pernah ada rasa sakit hati dan kebencian terhadap orang yang memberi.
Baginya, pengalaman demikian, tetap saja pemberian itu dihormati. "Mungkin itu kemampuan orang terhadap beliau". Di lain waktu, masih dalam kegiatan mamakiah, beliau melewati sungai. Nampak oleh orang lain. Orang lain itu memanggil beliau, lalu menyauk air sungai, dan mengasihkan air itu ke Tuanku Sutan Kentong. Oleh beliau, pemberian seperti itu tetap dihormati.
Dalam satu pekerjaan, beliau selalu istiqamah dalam hal itu. Contoh, dalam mengajar, beliau fokus pada mengajar. Soal iuran minyak, kelanjutan pembangunan surau, itu adalah urusan dan tugas pengurus. "Jangan campuri urusan masyarakat. Kalau kita mengajar, tetap saja mengajar, jangan campuri urusan pengurus, termasuk urusan iuran anak-anak mengaji," begitu pesan yang langsung diamalkannya.
Selalu menepati janji. Suatu ketika, beliau diundang mendoa di rumah masyarakat. Beliau lupa terhadap janji itu. Beliau langsung berjalan ke Sungai Sariak. Tiba di Sungai Sariak, teringat janji, lalu beliau lekas saja putar balik ke Gadua Koto Tinggi. Mendahulukan yang dahulu. Dalam menjalankan undangan mendoa di rumah masyarakat, itu beliau turuti secara berurutan. Undangan siapa yang dulu tibanya, itu pula yang pertama diturutnya. Hari Jumat biasanya beliau kebanjiran undangan mendoa di rumah masyarakat.
Keluarga
Istrinya Anizar di Lubuak tanah, melahirkan sembilan orang anak, lima orang meninggal dunia, empat orang yang hidup sampai saat ini, yakni Ismael, Siti Aisyah, Halimah, Muhammad.
Jais, istri Tuanku Sutan Kentong di Koto Mambang. Di sini, lahir tujuh anak. Sayang, di Koto Mambang ini, anaknya sudah meninggal dunia semua. Di Sungai Sariak ada pula istrinya, punya empat anak, yakni Rohana, Suna, Muslim, Usman. Di Guguak Koto Laweh, beliau ada istri dan punya satu anak, namanya Saliah. Di Kambie Sabatang, Pakandangan juga ada istrinya, punya anak satu. Dari lima istri Tuanku Sutan Kentong, beliau dikaruniai 23 anak.
Beliau Tuanku Sutan Kentong wafat tahun 1987 di Gadua Koto Tinggi, di Surau Andah, dimakamkan di Kampung Bendang, Sungai Sariak dekat Surau Tabiang. (AD)
Referensi:
1. Wawancara dengan Ismael, Jumat 30 Juli 2026 di kediamannya di Lubuak Tanah, Gadua Koto Tinggi. Ismael adalah anak kandung Tuanku Sutan Kentong. Pernah mengaji di Pondok Pesantren Madrasatul 'Ulum Lubuk Pandan dan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Batang Kabung, Padang.
2. Wawancara dengan H. Sirajul Afkar di kediamannya, Lubuak Idai. Sirajul Afkar adalah ulama yang pensiunan Kemenag, alumni Tarbiyah Lampasi, Payakumbuh. Ketika Tuanku Sutan Kentong berumah ke Gadua Koto Tinggi, Sirajul Afkar ikut jadi orang mudonya, turun dari Surau Gadang Pakandangan.
3. https://dreamsea.co/story/surau-yang-menyertai-naskah-sijunjung/
4. https://regional.kompas.com/read/2026/07/28/224928578/jejak-tuanku-pamansiangan-di-tanah-datar-dari-jaringan-syattariyah-hingga
5. https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Yunus_Tuanku_Sasak
