![]() |
Oleh: Duski Samad
Peserta Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H / 2026 M
Berikut naskah yang telah disatukan secara utuh dengan alur yang lebih mengalir, sehingga dapat menjadi kata pengantar atau bab pembuka buku.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
Tanggal 18 Juli 2026 menjadi salah satu hari yang paling bersejarah dalam perjalanan hidup saya. Pada usia 66 tahun, Allah SWT tidak hanya menambahkan umur, tetapi juga menganugerahkan sebuah kehormatan yang tidak dapat dibeli dengan harta dan tidak pula diraih semata-mata oleh ikhtiar manusia. Pada tahun 1448 Hijriah, Allah memilih saya menjadi Peserta Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, bersama para tokoh Muslim dari berbagai penjuru dunia.
Bagi saya, undangan ini bukan sekadar undangan kerajaan. Ia adalah panggilan Allah yang disampaikan melalui ikhtiar dan pelayanan Khadim Al-Haramain Al-Syarifain kepada para tamu Baitullah. Karena itu, kemuliaan sejati bukan terletak pada siapa yang mengundang, melainkan pada Allah Yang Maha Memanggil dan memilih hamba-hamba-Nya untuk bertamu ke rumah suci-Nya.
Allah SWT berfirman:
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ
"Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah." (QS. Al-Baqarah: 196)
Di hadapan Ka'bah, saya merasakan bahwa usia enam puluh enam tahun hanyalah setitik perjalanan menuju kehidupan yang abadi. Seluruh gelar akademik, jabatan, penghargaan, dan pengakuan manusia seakan luruh dalam setiap sujud. Yang tersisa hanyalah seorang hamba yang membawa dosa, harapan, dan kerinduan akan rahmat Allah SWT.
Saya teringat perjalanan panjang kehidupan: masa kecil yang dibesarkan di surau, menjadi yatim pada usia sebelas tahun, menuntut ilmu dengan segala keterbatasan, mengabdi sebagai guru, dosen, dan guru besar, hingga menerima amanah dalam berbagai lembaga pendidikan, keagamaan, dan kemasyarakatan. Semua perjalanan itu bukanlah hasil kekuatan diri sendiri, melainkan rangkaian pertolongan Allah yang dihadirkan melalui kedua orang tua, para guru, keluarga, sahabat, murid, dan begitu banyak orang yang dengan tulus menjadi jalan kebaikan dalam kehidupan saya.
Milad di Haramain mengajarkan bahwa bertambahnya usia harus diiringi bertambahnya syukur, ilmu, amal saleh, ketawadhukan, dan kemanfaatan. Usia yang panjang hanya bernilai apabila dipenuhi dengan pengabdian kepada Allah dan pelayanan kepada sesama manusia.
Di tempat-tempat yang mustajab ini, saya memohon agar Allah menerima ibadah umrah ini, menjadikannya umrah yang mabrurah, mengampuni dosa-dosa saya, kedua orang tua, keluarga, guru-guru, para murid, sahabat, serta seluruh kaum Muslimin. Saya juga berdoa agar Allah menjaga Indonesia, menguatkan persatuan umat, melimpahkan keberkahan kepada para pemimpin, serta menjadikan ilmu sebagai cahaya yang membimbing bangsa menuju peradaban yang bermartabat.
Memasuki usia ke-66, saya tidak lagi menghitung berapa lama telah hidup, tetapi bertanya kepada diri sendiri: berapa banyak manfaat yang telah ditinggalkan? Sebab Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi manusia lainnya.
Dari renungan itulah lahir buku ini.
Buku Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H/2026 M bukan sekadar catatan perjalanan ibadah, melainkan sebuah memoar spiritual yang memadukan pengalaman pribadi, refleksi keislaman, kajian Al-Qur'an, nilai-nilai tasawuf, sejarah Tanah Suci, serta pembelajaran tentang karakter dan peradaban Islam.
Di dalamnya, setiap peristiwa tidak hanya diceritakan sebagai pengalaman perjalanan, tetapi dibaca dengan nalar teologis, yaitu cara memandang realitas melalui cahaya wahyu. Setiap langkah di Haramain menjadi pelajaran iman, setiap tempat menjadi ruang tadabbur, setiap perjumpaan menjadi hikmah, dan setiap ibadah menjadi sarana transformasi diri menuju pribadi yang lebih dekat kepada Allah SWT.
Buku ini juga merekam momentum yang sangat istimewa dalam kehidupan penulis, ketika milad ke-66 bertepatan dengan kehormatan menjadi Peserta Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H/2026 M. Perpaduan dua anugerah tersebut menjadikan perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik menuju Baitullah, melainkan perjalanan batin menuju kedewasaan spiritual, rasa syukur yang semakin mendalam, dan pembaruan komitmen untuk terus mengabdi kepada Allah SWT melalui dakwah, pendidikan, ilmu pengetahuan, serta pelayanan kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Lebih dari itu, buku ini mengajak pembaca memahami bahwa umrah bukan hanya rangkaian manasik yang berakhir setelah thawaf, sa'i, dan tahallul. Umrah adalah awal dari perjalanan panjang untuk membangun akhlak, memperkuat ukhuwah, meneguhkan integritas, memperdalam makrifat kepada Allah, menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta menghadirkan nilai-nilai Islam sebagai rahmatan lil 'alamin dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan peradaban.
Harapan saya, buku ini tidak hanya menjadi dokumentasi perjalanan seorang tamu Baitullah, tetapi juga menjadi teman perjalanan ruhani bagi setiap pembaca. Semoga siapa pun yang membacanya merasakan kerinduan kepada Tanah Suci, semakin mencintai Al-Qur'an, semakin ikhlas beribadah, dan semakin terdorong menjadikan hidup sebagai ladang amal yang bermanfaat.
Milad ke-66 di Haramain memberikan satu pelajaran yang sangat mendalam: kehormatan tertinggi bukanlah dikenal oleh manusia, melainkan diterima sebagai tamu oleh Allah Yang Maha Pemurah. Undangan Raja Salman adalah wasilah kemuliaan, sedangkan kemuliaan yang hakiki tetap berasal dari Allah SWT, Rabb semesta alam.
Semoga Allah menerima ibadah umrah ini, memberkahi sisa usia yang masih dianugerahkan, menjadikan karya sederhana ini sebagai amal jariah yang terus mengalir pahalanya, serta menghimpunkan kita semua kelak di surga bersama Rasulullah SAW.
اللهم بارك لنا في أعمارنا، وتقبل عمرتنا، واجعل خير أعمالنا خواتيمها، وخير أيامنا يوم نلقاك، واجعلنا من عبادك الصالحين، وارزقنا الإخلاص في القول والعمل. آمين يا رب العالمين
