![]() |
Oleh: Duski Samad
Peserta Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H / 2026 M
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Ada pengalaman yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan kata-kata, tetapi hanya dapat dipahami oleh hati yang sedang dibimbing Allah. Pengalaman itu saya rasakan ketika melaksanakan salat Subuh di Masjid Nabawi. Imam membaca Surah As-Sajdah pada rakaat pertama dan Surah Al-Insan pada rakaat kedua, sebagaimana sunnah Rasulullah SAW pada Subuh hari Jumat. Ketika ayat sajadah dibaca dan seluruh jamaah bersujud, saya merasakan seolah-olah Al-Qur'an sedang mengajak setiap manusia membaca kembali perjalanan hidupnya: dari mana ia berasal, mengapa ia hidup, dan ke mana akhirnya ia akan kembali.
Usai salat, saya meninggalkan Raudhah, mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW, lalu melangkah menuju Baqi'. Di sepanjang langkah itu muncul kesadaran yang begitu kuat bahwa seluruh kehidupan manusia sesungguhnya adalah perjalanan menuju Allah.
Para ulama menjelaskan bahwa Surah As-Sajdah dan Surah Al-Insan dipilih Rasulullah SAW karena kandungannya merangkum perjalanan hidup manusia secara utuh: penciptaan, amanah kehidupan, ujian, kesabaran, balasan, hingga kehidupan akhirat.
Surah As-Sajdah menjawab pertanyaan paling mendasar: siapakah manusia?
Allah SWT berfirman:
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ
"Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Nya." (QS. As-Sajdah: 9).
Menurut Imam Ibn Kathir, penisbatan ruh kepada Allah merupakan bentuk pemuliaan (idhāfat at-tasyrīf), bukan berarti ruh adalah bagian dari zat Allah. Ruh adalah ciptaan Allah yang menjadikan manusia hidup, berpikir, beriman, dan mampu menerima hidayah.
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa kesempurnaan manusia bukan terletak pada fisiknya, melainkan pada akal, hati, dan kemampuannya mengenal Allah. Sementara Fakhruddin Ar-Razi memandang ruh sebagai unsur yang mengangkat manusia dari sekadar makhluk biologis menjadi makhluk spiritual yang mampu mendekat kepada Tuhannya.
Pandangan ini diperluas oleh mufasir kontemporer seperti M. Quraish Shihab yang menegaskan bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati adalah amanah. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan melahirkan peradaban yang mulia tanpa hati yang hidup dalam cahaya wahyu.
Apabila As-Sajdah menjelaskan asal-usul manusia, maka Surah Al-Insan menjawab pertanyaan berikutnya: untuk apa manusia hidup?
Allah berfirman:
إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ
"Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur untuk Kami uji." (QS. Al-Insan: 2).
Menurut Ibn Kathir, kehidupan adalah medan ujian. Semua yang dimiliki manusia—umur, ilmu, kekayaan, jabatan, keluarga, bahkan kesehatan—adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan.
Kemudian Allah menegaskan:
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
"Kami telah menunjukkan jalan kepadanya; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur." (QS. Al-Insan: 3).
Sayyid Qutb menjelaskan bahwa kebebasan memilih merupakan kemuliaan sekaligus tanggung jawab manusia. Syukur bukan hanya ucapan, tetapi kemampuan menggunakan seluruh nikmat sesuai kehendak Allah. Karena itu, spiritualitas sejati selalu melahirkan kepedulian sosial, sebagaimana Surah Al-Insan memuji orang-orang yang memberi makan fakir miskin, anak yatim, dan tawanan hanya demi mengharap ridha Allah.
Apabila kedua surah ini dibaca secara utuh, lahirlah apa yang dapat disebut sebagai kesadaran insāniyah, yakni kesadaran tentang hakikat manusia.
Kesadaran pertama adalah kesadaran asal-usul. Manusia berasal dari Allah, diciptakan dari sesuatu yang sangat lemah, lalu dimuliakan dengan ruh. Karena itu tidak ada ruang bagi kesombongan.
Kesadaran kedua adalah kesadaran amanah. Seluruh nikmat adalah titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Kesadaran ketiga adalah kesadaran ibadah. Hidup bukan sekadar mengejar keberhasilan dunia, tetapi mengabdi kepada Allah dalam seluruh aktivitas.
Kesadaran keempat adalah kesadaran sosial. Keimanan yang benar selalu melahirkan kasih sayang, keadilan, dan pelayanan kepada sesama.
Kesadaran kelima adalah kesadaran akhirat. Dunia hanyalah persinggahan; kehidupan yang kekal berada di sisi Allah.
Di hadapan Qubur Rasulullah SAW dan Baqi', kelima kesadaran itu seolah bertemu dalam satu pengalaman batin. Saya kemudian memahami bahwa seluruh kehidupan manusia dapat diringkas dalam empat perjalanan ruhani.
Pertama, minallāh. Manusia berasal dari Allah sebagai makhluk ciptaan-Nya. Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati, karena tidak ada sesuatu pun pada diri manusia yang layak disombongkan.
Kedua, ma'allāh. Manusia hidup bersama petunjuk Allah. Wahyu, akal, dan hati adalah karunia agar setiap langkah selalu berada dalam pengawasan-Nya. Inilah maqam ihsan, ketika seorang hamba beribadah seakan-akan melihat Allah, dan bila tidak mampu, ia yakin bahwa Allah senantiasa melihatnya.
Ketiga, ilallāh. Seluruh kehidupan adalah perjalanan menuju Allah. Jabatan akan berakhir, harta akan ditinggalkan, keluarga akan berpisah oleh kematian. Yang tetap menyertai hanyalah iman dan amal saleh. Umrah sendiri merupakan simbol perjalanan tersebut; setiap thawaf, sa'i, doa, dan ziarah mengingatkan bahwa seluruh hidup manusia sedang bergerak menuju perjumpaan dengan Rabb-nya.
Keempat, billāh. Tidak seorang pun mencapai keselamatan hanya karena amalnya. Semua berlangsung dengan pertolongan dan rahmat Allah. Kesadaran ini melahirkan tawakal, keikhlasan, dan harapan yang tidak pernah putus kepada-Nya.
Ketika berdiri di hadapan makam Rasulullah SAW, saya merenung. Beliau wafat pada usia 63 tahun, tetapi cahaya risalahnya menerangi dunia hingga hari ini. Di Baqi' saya melihat makam para sahabat dan keluarga Rasulullah SAW. Mereka telah lama meninggalkan dunia, tetapi ilmu, perjuangan, pengorbanan, dan keteladanan mereka tetap hidup dalam Al-Qur'an, hadis, dan sejarah.
Di tempat itulah saya berdialog dengan diri sendiri.
Pada 18 Juli 2026, saya memasuki usia 66 tahun. Usia yang telah melampaui usia Rasulullah SAW.
Apakah ruh yang Allah tiupkan telah saya pelihara dengan iman?
Apakah ilmu yang Allah anugerahkan telah menjadi cahaya bagi umat?
Apakah tulisan yang saya hasilkan menjadi amal jariyah?
Apakah jabatan yang pernah saya emban menjadi jalan pelayanan kepada masyarakat?
Apakah keluarga yang saya bina menjadi jalan menuju ridha Allah?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak lahir karena merasa telah banyak berbuat, melainkan karena kesadaran bahwa umur adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Di hadapan Qubur Rasulullah SAW dan Baqi', saya memahami bahwa manusia tidak dikenang karena panjang usianya, melainkan karena keluasan manfaatnya. Gelar, jabatan, dan kehormatan dunia akan berhenti di pintu kubur. Yang terus hidup adalah ilmu yang bermanfaat, amal jariyah, anak saleh yang mendoakan, serta jejak kebaikan yang ditinggalkan untuk umat.
Semoga umrah ini bukan hanya menjadi perjalanan menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan menuju kesadaran insāniyah yang lebih utuh; kesadaran bahwa kita berasal dari Allah (minallāh), hidup bersama Allah (ma'allāh), berjalan menuju Allah (ilallāh), dan hanya dengan pertolongan Allah (billāh) dapat kembali kepada-Nya dengan membawa hati yang bersih dan amal yang diterima.
Sebagaimana firman Allah SWT:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
"Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali." (QS. Al-Baqarah: 156).
