![]() |
Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Alhamdulillāh, setelah beberapa hari menikmati kesejukan spiritual Kota Madinah al-Munawwarah, pada Senin, 13 Juli 2026, menjelang Magrib, rombongan Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman meninggalkan Madinah menuju Makkah al-Mukarramah. Perjalanan yang ditempuh sekitar enam jam itu bukan sekadar perpindahan kota, tetapi perpindahan suasana batin: dari kota tempat Rasulullah SAW membangun masyarakat Islam menuju kota tempat Nabi Ibrahim AS meletakkan fondasi tauhid bagi seluruh umat manusia.
Menjelang memasuki batas Tanah Haram Makkah, seluruh rombongan berhenti di check point. Tidak ada pemeriksaan paspor. Petugas Kerajaan Arab Saudi justru membagikan kunci kamar, satu orang satu kamar di Hotel Marriott Jabal Omar, kecuali pasangan suami istri. Pelayanan yang tertata rapi ini mencerminkan kesungguhan Kerajaan Arab Saudi dalam memuliakan tamu-tamu Allah.
Usai makan malam setelah salat Isya, rombongan diberangkatkan menuju Masjidil Haram dengan bus pengumpan (shuttle). Dalam beberapa menit kami telah tiba di belakang Hotel Zamzam, tidak jauh dari Menara Jam Makkah yang menjadi ikon kota suci. Dari sana, langkah kaki terasa semakin ringan. Di hadapan mata mulai tampak pelataran Masjidil Haram dengan jutaan manusia dari berbagai bangsa bergerak menuju satu titik yang sama: Ka'bah al-Musyarrafah.
Malam itu, kami menyempurnakan rangkaian ibadah tawaf, sa'i, dan tahalul hingga sekitar pukul 00.00 waktu Arab Saudi. Di tengah lautan manusia, setiap jamaah seolah larut dalam dialog pribadi dengan Allah SWT.
Renungan Kebatinan Umat
Umrah atas undangan Raja Salman ini merupakan pengalaman yang sangat bermakna. Kemuliaannya bukan hanya karena fasilitas yang disediakan—hotel berbintang, transportasi yang nyaman, dan pengawalan polisi beserta beberapa kendaraan petugas kerajaan selama perjalanan—tetapi terutama karena pengalaman spiritual yang begitu mendalam.
Di Masjidil Haram, tampak berbagai ekspresi keberagamaan umat. Ada yang menangis dalam sujud, ada yang khusyuk berzikir, ada yang tekun membaca Al-Qur'an, dan ada pula yang terus memandang Ka'bah dengan penuh haru. Dalam suasana seperti itu, sulit membedakan mana yang lahir dari kedalaman keikhlasan, kecerdasan spiritual, simbol keagamaan, atau sekadar pengaruh lingkungan. Semuanya melebur dalam lautan penghambaan kepada Allah.
Di sisi lain, masih terlihat fenomena yang memerlukan pembinaan. Jamaah yang berdesakan untuk mencium Hajar Aswad, mengusap Rukun Yamani, bahkan menyentuh dinding Ka'bah, menunjukkan besarnya kerinduan umat kepada jejak-jejak sejarah Islam. Namun, kerinduan itu terkadang mengabaikan ketertiban dan keselamatan. Berbeda dengan sistem digital Nusuk yang berhasil menata kunjungan ke Raudhah di Madinah, pengaturan di sekitar Hajar Aswad masih menghadapi tantangan besar karena padatnya jutaan jamaah dari berbagai negara, khususnya Asia Selatan.
Bagi jamaah yang sedang tawaf, kekhusyukan menjadi ujian tersendiri. Kebisingan, arus manusia yang tidak pernah berhenti, dan perbedaan budaya menuntut kemampuan menjaga fokus. Tawaf bukan sekadar mengelilingi bangunan Ka'bah, melainkan mengelilingi pusat tauhid dengan hati yang sepenuhnya mengingat Allah.
Jejak Nabi Ibrahim hingga Nabi Muhammad SAW
Masjidil Haram adalah museum hidup perjalanan tauhid. Setiap sudutnya menyimpan kisah agung keluarga Nabi Ibrahim AS.
Di tempat inilah Nabi Ibrahim AS, atas perintah Allah SWT, meninggalkan istrinya Hajar bersama putra mereka, Ismail AS, di sebuah lembah tandus yang tidak memiliki tanaman maupun sumber air. Dengan penuh tawakal beliau berdoa:
> رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ...
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati..."
(QS. Ibrahim: 37).
Ketika bekal makanan dan air telah habis, Hajar tidak menyerah. Dengan ikhtiar dan tawakal, ia berlari tujuh kali antara Bukit Shafa dan Marwah demi mencari air bagi Ismail. Dari perjuangan seorang ibu yang tidak putus asa itulah Allah memancarkan Air Zamzam, yang terus mengalir hingga hari ini sebagai mukjizat dan rahmat bagi seluruh umat manusia.
Beberapa tahun kemudian, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bersama-sama meninggikan fondasi Ka'bah seraya berdoa:
> رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
"Ya Tuhan kami, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
(QS. Al-Baqarah: 127).
Berabad-abad sesudahnya, Nabi Muhammad SAW datang menyempurnakan risalah tauhid. Beliau menghancurkan berhala-berhala di sekitar Ka'bah, mengembalikan fungsi Baitullah sebagai pusat ibadah kepada Allah semata, serta menjadikan haji dan umrah sebagai syiar persatuan umat Islam sedunia.
Karena itu, Ka'bah bukan sekadar bangunan batu, melainkan simbol kesatuan arah hidup manusia. Maqam Ibrahim mengingatkan akan pengorbanan seorang nabi. Shafa dan Marwah mengabadikan perjuangan seorang ibu. Zamzam menjadi lambang rahmat Allah yang tidak pernah kering. Multazam menjadi tempat jutaan doa dipanjatkan. Semuanya membentuk magnet spiritual yang terus menghidupkan jiwa umat dari generasi ke generasi.
Masjidil Haram akhirnya menjadi tempat bertemunya sejarah, tauhid, ibadah, peradaban, dan persaudaraan umat manusia. Di sana, setiap muslim belajar bahwa perjalanan menuju Allah selalu menuntut iman Nabi Ibrahim, keteguhan Hajar, kesalehan Ismail, dan keteladanan Nabi Muhammad SAW. Itulah hakikat kebatinan umat yang sesungguhnya: penghambaan total kepada Allah SWT.
Makkah al-Mukarramah, Masjidil Haram
14 Juli 2026
