![]() |
Oleh: Duski Samad
Peserta Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H/2026 M
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Alhamdulillāh, pada Senin, 13 Juli 2026, rombongan Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman meninggalkan Madinah menuju Makkah. Suhu udara siang itu mencapai 42°C di Madinah, sedangkan di Makkah sekitar 40°C. Angka itu bagi jamaah Indonesia terasa sangat panas, namun bagi masyarakat Madinah merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dalam kuliah Subuh di Masjid Nabawi, seorang ustaz Indonesia menyampaikan bahwa panas juga merupakan nikmat Allah. Salah satu hikmahnya ialah kualitas kurma terbaik justru lahir ketika panas berlangsung dengan sempurna. Apa yang tampak berat bagi manusia, dalam pandangan Allah dapat menjadi sebab lahirnya keberkahan.
Allah SWT berfirman:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu." (QS. Al-Baqarah: 216).
Ayat ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak menilai suatu keadaan hanya dari rasa nyaman atau tidak nyaman, tetapi dari hikmah yang Allah letakkan di baliknya.
Selama perjalanan menuju Makkah, rombongan dikawal satu mobil polisi dan dua kendaraan petugas Kerajaan Arab Saudi. Pelayanan terhadap tamu-tamu Allah berlangsung sangat profesional, mulai dari pengangkutan koper, pengaturan perpindahan hotel, hingga perlindungan terhadap barang jamaah. Bahkan panitia menegaskan, apabila terdapat barang yang hilang selama berada dalam tanggung jawab penyelenggara, segera dilaporkan dan akan diproses sesuai ketentuan. Pelayanan seperti ini memungkinkan jamaah lebih fokus beribadah.
Namun, kemewahan pelayanan bukanlah magnet utama Madinah. Yang paling menggetarkan adalah daya tarik spiritual Masjid Nabawi. Pengalaman itu sulit dijelaskan dengan bahasa. Dalam tradisi tasawuf, pengalaman tersebut dikenal dengan dzauq, yaitu rasa batin yang lahir karena kedekatan seorang hamba kepada Allah. Setiap orang membawa pulang pengalaman yang berbeda; ada yang menangis, ada yang larut dalam zikir, ada yang memperoleh ketenangan, dan ada yang menemukan arah baru dalam hidupnya.
Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28).
Tafsir klasik seperti Ibn Katsir menjelaskan bahwa ketenteraman hati merupakan buah dari iman dan zikir yang terus hidup dalam diri seorang mukmin. Sementara kajian psikologi modern juga menunjukkan bahwa pengalaman religius yang mendalam dapat menurunkan tingkat kecemasan, meningkatkan makna hidup (meaning of life), dan memperkuat daya tahan psikologis (resilience).
Pengalaman ibadah tahun ini terasa lebih utuh karena disertai kunjungan ke Museum Internasional Peradaban Islam di kawasan Masjid Nabawi. Berbagai ilustrasi tentang perjuangan Rasulullah SAW, sejarah dakwah, pembangunan Masjid Nabawi, hingga perkembangan peradaban Islam memberikan dimensi intelektual terhadap ibadah. Spiritualitas tidak lagi berdiri sendiri, tetapi diperkaya oleh pengetahuan sejarah sehingga lahir keyakinan yang semakin mendalam.
Kesan yang paling membekas adalah ketika melewati Pintu Jibril, dekat makam Rasulullah SAW dan kawasan Baqi'. Di tempat inilah umat Islam mengenang hubungan agung antara Nabi Muhammad SAW dengan Malaikat Jibril yang menyampaikan wahyu Allah. Kesadaran sejarah itu menghadirkan rasa haru bahwa dari kota inilah cahaya Islam memancar ke seluruh dunia.
Dalam salah satu kajian di Masjid Nabawi, seorang syekh Indonesia mengingatkan hadis Rasulullah SAW:
"Sesungguhnya malaikat tidak memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar (tertentu)." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Beliau menjelaskan kisah ketika Malaikat Jibril tertunda datang menemui Rasulullah SAW karena terdapat gambar pada kain milik Sayyidah Aisyah. Pesan hadis ini bukan semata persoalan benda, tetapi juga mengajarkan pentingnya menjaga rumah sebagai ruang yang bersih, suci, dan menghadirkan ketenangan bagi penghuninya.
Perjalanan dari Madinah menuju Makkah sesungguhnya bukan sekadar perpindahan dari 42°C menuju 40°C, melainkan perjalanan ruhani dari Kota Rasul menuju Baitullah, dari mengenang perjuangan dakwah menuju penyempurnaan tauhid dalam ibadah umrah.
Kami meninggalkan Madinah dengan doa Rasulullah SAW:
اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ
"Ya Allah, jadikanlah Madinah kami cintai sebagaimana kami mencintai Makkah, bahkan lebih dari itu." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Semoga Allah SWT mempertemukan kami kembali dengan Kota Nabi, menerima seluruh amal ibadah kami, dan menjadikan perjalanan ini bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi transformasi hati menuju pribadi yang lebih bertakwa.
Labbaikallāhumma Labbaik. Labbaika lā syarīka laka labbaik. Innal-ḥamda wan-ni'mata laka wal-mulk, lā syarīka lak. 13072026.
