![]() |
| Dari Masjid Nabawi, Madinah, penulis melaporkan. |
Oleh: Duski Samad
Peserta Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H / 2026 M
Di bawah terik matahari Madinah yang mencapai 42°C, Masjid Nabawi tetap memancarkan kesejukan yang tidak diukur oleh suhu udara, tetapi oleh ketenangan hati. Setiap langkah menuju masjid ini menghadirkan rasa yang berbeda, seolah-olah cahaya risalah Rasulullah SAW terus menerangi jiwa setiap tamu yang datang dengan penuh cinta.
Setiap kali melaksanakan shalat berjamaah di Masjid Nabawi, selalu ada getaran batin yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Sujud terasa lebih khusyuk, doa lebih dekat, dan hati lebih mudah tunduk kepada Allah SWT. Di tempat inilah jutaan kaum Muslimin dari berbagai bangsa berdiri dalam satu saf, tanpa membedakan suku, bahasa, jabatan, maupun status sosial. Semua melebur dalam persaudaraan iman di hadapan Allah SWT.
Selepas shalat Subuh, kami berkesempatan berziarah ke makam Rasulullah SAW. Alhamdulillah, suasananya relatif lebih longgar dibandingkan ketika menjelang Ramadhan maupun musim haji yang biasanya dipenuhi lautan manusia. Kesempatan itu memberikan ruang untuk mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW dengan lebih tenang, sekaligus menghadirkan rasa syukur atas nikmat dapat berdiri di hadapan manusia paling mulia yang telah membawa cahaya Islam kepada seluruh alam.
Begitu pula saat memasuki Raudhah, taman di antara taman-taman surga yang menjadi dambaan setiap jamaah. Berdoa di tempat yang penuh kemuliaan itu adalah pengalaman spiritual yang tidak cukup diceritakan dengan bahasa. Ada air mata yang jatuh tanpa diminta, ada doa yang dipanjatkan dengan penuh harap, dan ada keyakinan bahwa Allah SWT Maha Mendengar setiap bisikan hamba-Nya.
Salah satu pembaruan yang sangat terasa dalam penyelenggaraan ibadah di Masjid Nabawi adalah penerapan aplikasi Nusuk sebagai sistem perizinan memasuki Raudhah. Pemanfaatan teknologi digital ini merupakan bentuk adaptasi Pemerintah Kerajaan Arab Saudi dalam mengatur arus jamaah agar tidak terjadi desakan dan kemacetan di kawasan Raudhah. Melalui sistem pemesanan waktu (time slot), jumlah jamaah yang masuk dapat dikendalikan sehingga ibadah berlangsung lebih tertib, aman, nyaman, dan khusyuk.
Bagi generasi muda atau kaum milenial yang telah akrab dengan teknologi digital, penggunaan aplikasi Nusuk relatif mudah. Namun, bagi sebagian jamaah lanjut usia atau generasi yang kurang terbiasa menggunakan telepon pintar, proses pengisian data dan pemesanan jadwal sering menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, semangat saling membantu dan mendampingi antarsesama jamaah menjadi bagian dari ukhuwah Islamiyah, sehingga teknologi benar-benar menjadi sarana memudahkan ibadah, bukan menjadi penghalang.
Aplikasi Nusuk juga tidak hanya dimanfaatkan untuk pengaturan kunjungan ke Raudhah, tetapi digunakan untuk beberapa layanan ibadah lainnya, termasuk pengaturan jadwal tawaf pada waktu-waktu tertentu sesuai kebijakan pengelola Masjidil Haram. Pengalaman ini menunjukkan bahwa transformasi digital telah menjadi bagian penting dalam pelayanan haji dan umrah modern. Teknologi bukan menggantikan spiritualitas, melainkan menjadi instrumen untuk menghadirkan pelayanan yang lebih baik bagi jutaan tamu Allah SWT.
Sebagai Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H, kami ditempatkan di Hotel Maden, hotel berbintang empat yang berada tidak jauh dari Masjid Nabawi. Pelayanan yang diberikan sangat baik. Setiap tamu memperoleh kamar yang nyaman dengan berbagai fasilitas. Buah-buahan segar, makanan ringan, minuman, serta berbagai hidangan tersedia setiap hari dan dapat dinikmati sesuai kebutuhan. Pelayanan ini mencerminkan kesungguhan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi dalam memuliakan tamu-tamu Allah yang datang dari berbagai penjuru dunia.
Suasana ukhuwah semakin terasa ketika bertemu dengan jamaah dari berbagai negara. Di hotel yang sama, peserta dari Indonesia, Malaysia, dan Kamboja ditempatkan berdekatan. Karena wajah, postur tubuh, dan budaya mereka relatif mirip dengan masyarakat Indonesia, keakraban pun cepat terjalin. Kartu kokarde yang dikenakan setiap peserta menjadi penanda asal negara sekaligus memudahkan untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, dan menjalin persaudaraan. Dalam waktu singkat, lahirlah persahabatan yang dilandasi oleh iman, bukan oleh kebangsaan.
Di Madinah kami benar-benar merasakan bahwa Islam mempersaudarakan manusia. Perbedaan bahasa, warna kulit, dan kewarganegaraan tidak lagi menjadi sekat. Semua dipersatukan oleh kiblat yang sama, Rasul yang sama, dan tujuan ibadah yang sama. Firman Allah SWT terasa hidup dalam suasana ini:
> Ø¥ِÙ†َّÙ…َا الْÙ…ُؤْÙ…ِÙ†ُونَ Ø¥ِØ®ْÙˆَØ©ٌ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara." (QS. Al-Hujurat: 10)
Di tengah panas yang menyengat, kami semakin memahami bahwa cahaya iman jauh lebih kuat daripada panas matahari. Tubuh boleh merasakan terik, tetapi hati dipenuhi kesejukan karena berada di kota yang dimuliakan Allah SWT dan menjadi tempat peristirahatan Rasulullah SAW. Di sisi lain, kami juga menyaksikan bahwa kemajuan teknologi dapat berjalan seiring dengan kekhusyukan ibadah. Ketika dikelola dengan baik, teknologi menjadi pelayan bagi spiritualitas, bukan penggantinya.
Semoga setiap langkah di Masjid Nabawi menjadi penguat iman, setiap salam kepada Rasulullah SAW menjadi bukti cinta, setiap doa yang dipanjatkan di Raudhah dikabulkan oleh Allah SWT, dan setiap perjumpaan dengan saudara-saudara Muslim dari berbagai bangsa semakin mengokohkan ukhuwah Islamiyah. Semoga kami pulang bukan hanya membawa kenangan perjalanan, tetapi juga membawa akhlak Rasulullah SAW untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Ya Allah, janganlah Engkau jadikan ini sebagai kunjungan terakhir kami ke Masjid Nabawi. Anugerahkanlah kepada kami kesempatan untuk kembali berziarah, mencintai Rasul-Mu, meneladani sunnah beliau, serta istiqamah di atas jalan-Mu hingga akhir hayat. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin." 09072026.
