![]() |
Oleh: Duski Samad
Peserta Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H / 2026 M
Salah satu pengalaman menarik selama berada di Tanah Suci adalah menyaksikan bagaimana Al-Qur'an tidak hanya dibaca sebagai ibadah, tetapi juga dijadikan nalar teologis dalam membaca dan menjelaskan berbagai peristiwa kehidupan. Nalar teologis adalah cara berpikir yang berangkat dari wahyu, sehingga setiap peristiwa dipahami melalui petunjuk Al-Qur'an. Ayat-ayat Allah tidak dibaca secara acak, melainkan dipilih sesuai dengan konteks, sehingga mampu membangkitkan kesadaran iman, moral, dan arah peradaban.
Pengalaman ini pernah penulis baca dan lihat vidionya ketika Pemerintah Republik Islam Iran menyambut tamu-tamu negara atau pada berbagai peristiwa kenegaraan. Setiap momentum selalu diawali dengan pembacaan ayat Al-Qur'an yang relevan dengan keadaan yang sedang dihadapi.
Ketika prosesi wafatnya Ayatullah Ali Khamenei berlangsung, ayat yang dibacakan adalah firman Allah SWT:
> كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
"Segala sesuatu pasti binasa kecuali Allah. Milik-Nyalah segala ketetapan, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan." (QS. Al-Qashash: 88)
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa sebesar apa pun kekuasaan dan kedudukan seseorang, semuanya akan kembali kepada Allah SWT. Yang kekal hanyalah Allah dan amal saleh.
Dalam penyambutan tamu dari Malaysia, dibacakan firman Allah SWT:
> وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali 'Imran: 104)
Ayat ini menjadi simbol persaudaraan, dakwah, dan tanggung jawab bersama membangun umat Islam.
Demikian pula ketika menyambut utusan Kerajaan Arab Saudi, ayat-ayat yang dibacakan disesuaikan dengan pesan ukhuwah, pelayanan terhadap dua tanah suci, serta persatuan umat Islam. Tradisi seperti ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an bukan hanya kitab ibadah, tetapi juga sumber inspirasi dalam membangun komunikasi kenegaraan, kebijakan publik, dan peradaban.
Pengalaman serupa saya rasakan di Masjid Nabawi. Pada shalat Maghrib, Kamis, 9 Juli 2026, imam membaca Surah Al-Fath. Pemilihan surah tersebut menghadirkan perenungan yang mendalam. Surah Al-Fath diturunkan setelah Perjanjian Hudaibiyah, yang secara lahiriah tampak sebagai kekalahan, tetapi oleh Allah justru disebut sebagai "kemenangan yang nyata" (فَتْحًا مُّبِينًا).
Pesan utama Surah Al-Fath adalah bahwa kemenangan tidak selalu berbentuk kemenangan militer atau politik. Kemenangan sejati adalah ketika Allah membuka jalan bagi tegaknya agama, menguatkan keimanan, menghadirkan ketenangan hati, serta memperluas dakwah Islam. Karena itu, surah ini mengajarkan optimisme, kesabaran, kepemimpinan yang bijaksana, dan keyakinan bahwa pertolongan Allah datang pada waktu yang paling tepat.
Pada kajian setelah Maghrib, penceramah mengutip firman Allah SWT:
> وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
"Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara menurut hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya." (QS. An-Najm: 3–4)
Ayat ini menegaskan bahwa Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam memahami dan mengamalkan agama. Oleh karena itu, mengikuti sunnah beliau merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah SWT.
Ayat tersebut juga mengajarkan prinsip penting dalam epistemologi Islam, yaitu mendahulukan sunnah daripada akal, bukan berarti Islam merendahkan akal, tetapi menempatkan akal pada posisi yang benar. Akal adalah anugerah Allah yang sangat mulia untuk berpikir, menalar, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Namun, akal manusia tetap memiliki keterbatasan karena dipengaruhi pengalaman, lingkungan, dan kemampuan dirinya. Sebaliknya, sunnah Rasulullah SAW dipimpin oleh wahyu. Karena itu, setinggi apa pun kecerdasan seseorang, ketika berhadapan dengan sunnah Rasulullah SAW yang sahih, maka sunnahlah yang harus didahulukan. Akal bertugas memahami hikmah sunnah, bukan menghakiminya. Wahyu memimpin, akal mengikuti; wahyu menjadi cahaya, sedangkan akal menjadi alat untuk menangkap cahaya itu.
Prinsip inilah yang diwariskan para ulama. Imam Syafi'i berkata, "Apabila hadis itu sahih, maka itulah mazhabku." Ungkapan ini menunjukkan bahwa kebenaran wahyu berada di atas pendapat manusia. Kecerdasan sejati bukan menjadikan akal sebagai hakim atas wahyu, melainkan menjadikan wahyu sebagai pemimpin akal, sehingga lahirlah ilmu yang benar, amal yang lurus, dan akhlak yang mulia.
Penceramah juga mengingatkan bahwa perbedaan dalam masalah furu' (cabang-cabang ibadah) yang memiliki dasar dari sunnah tidak boleh menjadi sebab perpecahan. Misalnya, sebagian imam membaca basmalah dengan jahr (dikeraskan) pada awal Surah Al-Fatihah, sementara yang lain membacanya secara sirr (pelan). Kedua praktik tersebut sama-sama memiliki dasar dalam sunnah Rasulullah SAW dan telah diamalkan oleh para imam mazhab. Karena itu, perbedaan seperti ini adalah rahmat dalam khazanah fikih Islam yang harus disikapi dengan saling menghormati, bukan saling menyalahkan.
Dari Masjid Nabawi saya belajar bahwa nalar teologis bukan sekadar menghafal ayat, tetapi menghadirkan ayat Allah untuk membaca realitas kehidupan. Al-Qur'an menjadi cahaya yang menuntun cara berpikir, cara memimpin, cara bermasyarakat, dan cara menghadapi setiap peristiwa. Ketika wahyu menjadi dasar berpikir, maka lahirlah kebijakan yang bermoral, ilmu yang membawa hikmah, dan kehidupan yang selalu terhubung dengan petunjuk Allah SWT.
Sebagaimana firman-Nya:
> كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
"Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (QS. Shad: 29)
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang tidak hanya membaca Al-Qur'an dengan lisan, tetapi juga menjadikannya sebagai nalar teologis dalam berpikir, bersikap, mengambil keputusan, dan membangun peradaban. Dengan demikian, wahyu senantiasa menjadi pemimpin akal, sunnah menjadi pedoman amal, dan kehidupan menjadi jalan menuju keridaan Allah SWT. Āmīn Yā Rabbal 'Ālamīn.09072026.
