![]() |
Oleh: Zulnaidi SH Bagindo Sailan
Menjadi seorang aktivis keumatan bukanlah sekadar pilihan aktivitas sosial atau politik. Ia adalah sebuah panggilan iman. Di tengah dinamika zaman yang sering kali mengaburkan batas antara yang benar dan yang salah, seorang aktivis memerlukan pemandu arah agar langkahnya tidak tersesat. Pemandu arah inilah yang kita sebut sebagai "Kompas Moral Aktivis Keumatan".
Kompas ini tegak di atas empat pilar utama yang bersumber langsung dari Al-Qur'an dan As-Sunnah.
1. Keyakinan Mutlak pada Kebenaran Ilahi (Al-Haqqu mir-Rabbika) Menumbuhkan Kepercayaan Diri
Langkah pertama seorang aktivis dimulai dari keyakinan yang kokoh. Aktivis keumatan tidak bergerak berdasarkan opini publik yang berubah-ubah atau tren sesaat. Mereka bergerak karena meyakini prinsip kebenaran yang datang dari Allah SWT.
Keyakinan ini bersandar pada firman Allah SWT:
“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al-Baqarah: 147)
Keyakinan yang menghujam dalam dada ini secara otomatis akan melahirkan kepercayaan diri (self-confidence) yang luar biasa. Aktivis yang yakin dengan kebenaran nilainya tidak akan dihinggapi penyakit minder atau rendah diri (inferiority complex) saat berhadapan dengan narasi-narasi besar dunia. Kepercayaan diri ini bukan lahir dari kesombongan, melainkan dari sandaran yang kokoh kepada Sang Maha Benar. Dengan modal ini, seorang aktivis akan memiliki mental baja; mereka tidak akan goyah oleh celaan orang yang mencela, tidak gentar menghadapi tantangan yang besar, dan tidak akan silau oleh pujian manusia. Kebenaran Ilahi adalah jangkar yang membuat mereka tetap percaya diri dan istiqamah.
2. Bersegera Menuju Kebaikan tanpa Menunda
Kompas moral kedua adalah kedisiplinan dan urgensi dalam beramal. Perjuangan keumatan tidak mengenal kata "nanti". Ketika melihat ketimpangan, kemiskinan, atau ketidakadilan, aktivis keumatan harus menjadi kelompok pertama yang turun tangan dan menawarkan solusi.
Allah SWT memuji hamba-hamba-Nya yang memiliki karakter ini dalam Al-Qur'an:
“Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al-Mu'minun: 61)
Menunda-nunda amal saleh hanya akan mempersempit kesempatan dan melemahkan momentum perubahan. Aktivis yang tangguh adalah mereka yang responsif terhadap kebutuhan umat.
3. Semangat Kompetisi yang Positif (Fastabiqul Khairat)
Dalam medan juang, seorang aktivis tidak bekerja dalam ruang hampa. Ada banyak kelompok lain yang juga bergerak. Kompas ketiga mengajarkan agar interaksi antar-aktivis didasari oleh semangat fastabiqul khairat—berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan saling menjatuhkan atau hasad (iri hati).
Perintah ini tertuang jelas dalam Al-Qur'an:
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)
Semangat ini mengubah kompetisi menjadi kolaborasi yang sehat. Keberhasilan lembaga atau aktivis lain harus dipandang sebagai motivasi untuk memacu diri sendiri agar berbuat lebih baik lagi bagi umat.
4. Bersandar pada Kekuatan Jamaah dan Persatuan
Pilar terakhir yang menyempurnakan kompas moral ini adalah kesadaran bahwa perubahan besar tidak bisa dilakukan sendirian. Aktivis keumatan wajib bergerak dalam ikatan jamaah (kebersamaan) dan menjaga persatuan. Keberkahan, kekuatan, dan pertolongan Allah hadir bersama mereka yang merapatkan barisan.
Rasulullah SAW menegaskan pentingnya kekuatan jamaah dalam sabdanya:
“Tangan Allah bersama jamaah (artinya: perlindungan dan pertolongan-Nya diberikan kepada kolektivitas yang bersatu).” (HR. Tirmidzi)
Selain itu, Allah SWT juga berfirman mengenai indahnya persatuan dalam berjuang:
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash-Shaff: 4)
Bergerak sendiri-sendiri membuat aktivis rentan menjadi mangsa kegagalan. Sebaliknya, bergerak dalam jamaah yang solid akan melahirkan resonansi perubahan yang jauh lebih besar dan berdampak luas.
Kesimpulan
Kompas moral yang terdiri dari keyakinan dan kepercayaan diri, kesegeraan beramal, semangat berlomba, dan kekuatan jamaah adalah modal utama aktivis keumatan. Jika keempat kompas ini diinternalisasi dengan baik, maka gerakan keumatan tidak akan mudah terpecah belah. Gerakan ini akan tumbuh menjadi kekuatan transformatif yang membawa rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil 'alamin).
------------------------------
Jika ada bagian lain yang ingin Anda kembangkan, silakan beri tahu saya:
Zulnaidi SH Bagindo Sailan
Ketua Bidang Polhubaga
