![]() |
Oleh: Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang
Peristiwa dugaan seorang siswa MAN 3 Padang yang merakit dan membawa bom rakitan ke sekolah, yang menurut keterangan awal kepolisian dipicu oleh tekanan psikologis akibat menjadi korban perundungan (bullying), merupakan peristiwa yang sangat memprihatinkan. Aparat juga menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung dan fokus diarahkan pada pemulihan anak serta pendalaman motif secara menyeluruh.
Kasus ini tidak boleh dijadikan dasar untuk menilai seluruh madrasah. Ribuan madrasah di Indonesia telah melahirkan generasi yang berprestasi dan berakhlak. Namun, satu peristiwa serius tetap harus menjadi bahan muhasabah bagi semua pihak: keluarga, guru, pengelola madrasah, pemerintah, dan masyarakat.
Mengapa Siswa Madrasah Bisa Rentan?
Madrasah bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga ruang tumbuh remaja yang menghadapi tantangan psikologis sebagaimana peserta didik di sekolah lain. Mereka hidup dalam dunia yang dipenuhi tekanan akademik, media sosial, pencarian jati diri, dan kebutuhan untuk diterima oleh kelompok sebaya.
Ketika seorang anak mengalami penghinaan, ejekan, pengucilan, atau kekerasan verbal secara berulang, luka yang muncul tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis. Jika tidak mendapatkan pendampingan, rasa malu dapat berubah menjadi dendam, kecemasan berkembang menjadi depresi, dan kemarahan yang dipendam dapat meledak dalam bentuk perilaku yang membahayakan.
Penelitian terhadap lebih dari 95.000 siswa menunjukkan bahwa semakin berat pengalaman bullying, semakin tinggi risiko depresi, kecemasan, gangguan perilaku, trauma psikologis, gangguan tidur, hingga berbagai masalah kesehatan mental lainnya.
Ada Apa dengan Pendidikan di Madrasah?
Pertanyaan yang lebih penting bukanlah mengapa peristiwa ini terjadi di madrasah, tetapi apakah sistem pendidikan telah cukup memberi perhatian pada pembinaan karakter, kesehatan mental, dan relasi antarsiswa.
Keberhasilan pendidikan agama tidak hanya diukur dari kemampuan membaca Al-Qur'an, menghafal hadis, atau memahami fikih. Pendidikan Islam juga harus melahirkan peserta didik yang memiliki kasih sayang (rahmah), empati, pengendalian diri, kemampuan menyelesaikan konflik, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Allah SWT berfirman:
ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّذِينَ آمَÙ†ُوا Ù„َا ÙŠَسْØ®َرْ Ù‚َÙˆْÙ…ٌ Ù…ِÙ†ْ Ù‚َÙˆْÙ…ٍ... ÙˆَÙ„َا تَÙ†َابَزُوا بِالْØ£َÙ„ْÙ‚َابِ
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain... dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk." (QS. Al-Hujurat: 11).
Ayat ini menunjukkan bahwa perundungan bertentangan dengan akhlak Islam. Madrasah harus menjadi tempat yang paling aman bagi tumbuhnya harga diri dan kemuliaan peserta didik.
Psikologi Generasi Z
Generasi Z memiliki karakter yang berbeda dengan generasi sebelumnya.
Mereka:
- tumbuh bersama internet dan media sosial;
- sangat membutuhkan pengakuan dan penerimaan dari lingkungan;
- cepat memperoleh informasi, termasuk informasi yang berbahaya;
- lebih terbuka mengungkapkan perasaan, tetapi juga lebih rentan mengalami tekanan psikologis ketika merasa ditolak atau dipermalukan.
Apabila seorang remaja mengalami bullying berkepanjangan, kemudian mengakses konten kekerasan atau kelompok daring yang membahas senjata maupun bahan peledak, risikonya dapat meningkat. Karena itu, pengawasan digital dan literasi digital menjadi bagian penting dari pendidikan keluarga dan sekolah. Dalam kasus ini, kepolisian juga menyampaikan bahwa pelaku diduga mempelajari perakitan bahan peledak dari internet, dan aspek tersebut masih didalami.
Bullying Bukan Sekadar Kenakalan
Dalam perspektif psikologi pendidikan, bullying bukan persoalan "bercanda" atau "tradisi senioritas". Bullying adalah kekerasan yang dapat meninggalkan luka jangka panjang.
Korban sering mengalami:
- kehilangan rasa aman;
- rendah diri;
- menarik diri dari lingkungan;
- penurunan prestasi belajar;
- kecemasan dan depresi;
- bahkan pada sebagian kasus muncul keinginan membalas.
Karena itu, pencegahan jauh lebih penting daripada penindakan setelah tragedi terjadi.
Agenda Pembenahan Madrasah
Peristiwa ini menjadi momentum memperkuat pendidikan Islam melalui beberapa langkah strategis:
1. Zero Bullying Policy di setiap madrasah.
2. Penguatan layanan bimbingan dan konseling berbasis psikologi dan nilai-nilai Islam.
3. Deteksi dini kesehatan mental peserta didik.
4. Pelatihan guru mengenali tanda-tanda stres, depresi, dan korban perundungan.
5. Kemitraan aktif dengan orang tua dalam mendampingi perkembangan anak.
6. Literasi digital agar peserta didik mampu menyaring konten berbahaya.
7. Budaya surau dan ukhuwah, sehingga madrasah menjadi komunitas yang saling menjaga, bukan saling melukai.
Penutup
Rasulullah SAW bersabda:
المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده
"Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengajarkan bahwa keselamatan orang lain, baik dari ucapan maupun tindakan, merupakan ukuran keislaman seseorang. Bullying adalah kebalikan dari ajaran tersebut.
Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi dunia pendidikan Islam. Madrasah harus tetap menjadi tempat lahirnya generasi yang berilmu, berakhlak, sehat secara mental, serta mampu menyelesaikan persoalan dengan hikmah, musyawarah, dan kasih sayang, bukan dengan kekerasan. Dari ruang-ruang madrasah itulah diharapkan lahir generasi yang membawa rahmat bagi sesama dan peradaban.15072026.
