![]() |
Oleh: Duski Samad
Ketua Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin Periode 2022-2027
Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin (YICSB) Padang Pariaman hadir bukan sekadar sebagai lembaga pengelola pendidikan, tetapi sebagai pusat pengabdian yang berupaya melanjutkan perjuangan dakwah, pendidikan, dan peradaban yang diwariskan oleh Syekh Burhanuddin Ulakan, ulama besar penyebar Islam di Minangkabau.
Dalam periode kepengurusan 2022–2027, yayasan menunjukkan berbagai capaian yang mencerminkan komitmen untuk mengintegrasikan pendidikan tinggi, pelestarian tradisi keulamaan, penguatan literasi, serta pemberdayaan masyarakat.
Pengabdian tersebut dimulai dari penguatan lembaga pendidikan tinggi. Yayasan berhasil mengembangkan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Syekh Burhanuddin hingga memperoleh izin pembukaan Program Magister (S2) Pendidikan Agama Islam pada Juli 2026. Capaian ini menjadi tonggak penting karena membuka kesempatan bagi lahirnya kader-kader akademisi dan ulama yang memiliki kompetensi lebih tinggi dalam menjawab tantangan zaman.
Di sisi lain, yayasan menggagas Program "Tuanku Sarjarna, Sarjana Tuanku", sebuah gerakan strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan surau dan pesantren. Program ini berangkat dari keyakinan bahwa seorang tuanku tidak hanya kuat dalam penguasaan ilmu-ilmu keagamaan klasik, tetapi juga perlu memiliki kapasitas akademik formal agar mampu berdialog dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern tanpa kehilangan akar tradisi keislaman.
Penguatan jaringan kelembagaan juga menjadi perhatian utama. Yayasan menjalin kerja sama dengan berbagai pesantren, di antaranya Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Nurul Yaqin Ambuang Kapua, dan PP MTI Batang Kabung. Kemitraan ini memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pesantren, dan masyarakat dalam mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, dan berkarakter.
Dalam aspek pembinaan keulamaan, Yayasan mengasuh Majelis Syekh dan Tuanku melalui peningkatan kompetensi serta pemanfaatan media digital. Jaringan komunikasi melalui grup WhatsApp yang menghimpun sekitar 590 anggota menjadi ruang silaturahim intelektual untuk berbagi gagasan, informasi, dan penguatan ukhuwah di kalangan ulama serta tokoh masyarakat.
Transformasi digital juga diwujudkan melalui pendirian IC Syekh Burhanuddin TV, sebagai media komunikasi dan dakwah yang memperluas jangkauan penyebaran nilai-nilai Islam, sejarah keulamaan Minangkabau, dan kegiatan pendidikan kepada masyarakat luas. Kehadiran media ini menunjukkan bahwa dakwah harus mampu mengikuti perkembangan teknologi informasi tanpa meninggalkan substansi ajaran Islam.
Dalam bidang literasi, yayasan menghasilkan berbagai karya ilmiah dan publikasi yang memperkaya khazanah intelektual Islam Minangkabau. Di antaranya adalah buku "Suluh dan Pituah Tuanku", kumpulan artikel "Pituah Gutuo", "Modul Solusi Krisis Adab dan Adat", serta Kajian Akademis Mauluik Gadang Kabupaten Padang Pariaman. Karya-karya tersebut menjadi kontribusi nyata dalam membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga hubungan harmonis antara agama, adat, dan budaya.
Kontribusi akademik juga diwujudkan melalui penyusunan Naskah Akademik Program Magister STIT Syekh Burhanuddin, yang menjadi dasar ilmiah dalam pengembangan program studi serta arah penguatan pendidikan tinggi Islam berbasis nilai-nilai lokal dan keislaman.
Dalam bidang sejarah dan kebudayaan, yayasan mengembangkan gagasan besar melalui konsep Living Heritage Syekh Burhanuddin, yaitu upaya menjadikan warisan sejarah, tradisi, dan nilai-nilai perjuangan Syekh Burhanuddin sebagai warisan hidup (living heritage) yang terus dipelajari, diamalkan, dan dikembangkan oleh masyarakat. Gagasan ini dipadukan dengan penyusunan Ensiklopedi 100 Syekh dan Tuanku Bersanad Syekh Burhanuddin, sebuah proyek monumental yang mendokumentasikan jaringan ulama Minangkabau secara sistematis untuk kepentingan pendidikan, penelitian, dan pelestarian sejarah.
Tidak kalah penting, yayasan juga terus memperjuangkan aspek legalitas kelembagaan melalui upaya memperoleh kepastian hukum terhadap aset dan penggunaan lahan yang diperlukan. Langkah ini merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan pengembangan lembaga dalam jangka panjang.
Seluruh capaian tersebut memperlihatkan bahwa Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik atau administratif, tetapi juga membangun ekosistem keilmuan, tradisi, dan peradaban Islam. Pendidikan, penelitian, dakwah, literasi, digitalisasi, pelestarian sejarah, dan penguatan jaringan sosial dijalankan secara terpadu sebagai bentuk pengabdian kepada umat dan bangsa.
Semangat itu dirangkum dalam falsafah yang menjadi identitas yayasan:
>"Manjapuik Ilmu, Manjago Adat, Mamaliharo Agamo, Basamo Mambangun Nagari."
Falsafah tersebut menegaskan bahwa kemajuan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari tiga pilar utama: ilmu sebagai sumber kemajuan, adat sebagai identitas budaya, dan agama sebagai fondasi moral serta spiritual. Ketiganya harus berjalan beriringan dalam membangun nagari yang maju, beradab, dan bermartabat.
Dengan berbagai program yang telah diwujudkan selama periode 2022–2027, Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin menunjukkan bahwa pengabdian sejati bukan hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga menyiapkan masa depan melalui pendidikan, inovasi, dan kolaborasi. Pengabdian tersebut menjadi ikhtiar untuk melahirkan generasi ulama, akademisi, dan pemimpin yang mampu meneruskan estafet perjuangan Syekh Burhanuddin dalam membangun masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan berkemajuan.26072026
