![]() |
Oleh: Duski Samad
Penulis Ensiklopedi Syekh dan Tuanku Bersanad pada Syekh Burhanuddin Ulakan
Hentikan Publikasi Foto yang Diklaim sebagai Syekh Burhanuddin Ulakan
Atas dasar tanggung jawab ilmiah, penghormatan kepada ulama, dan kejujuran sejarah, kami mengimbau kepada seluruh masyarakat, pengelola media sosial, penerbit, dan pihak mana pun untuk menghentikan publikasi gambar atau foto yang diklaim sebagai Syekh Burhanuddin Ulakan, selama tidak terdapat bukti autentik yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Hingga saat ini tidak terdapat bukti sejarah yang sahih yang menunjukkan adanya foto asli Syekh Burhanuddin Ulakan. Mengingat beliau hidup pada abad ke-17 hingga awal abad ke-18, jauh sebelum fotografi dikenal dan berkembang, maka setiap gambar yang dinisbatkan kepada beliau harus dipandang secara kritis dan tidak boleh diperlakukan sebagai fakta sejarah tanpa pembuktian yang kuat.
Menyebarkan gambar yang tidak jelas asal-usulnya, lalu menyebutnya sebagai foto Syekh Burhanuddin, berpotensi menyesatkan masyarakat, merusak akurasi sejarah, dan mengurangi integritas ilmiah. Kecintaan kepada ulama tidak boleh diwujudkan dengan menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya.
Kebesaran Syekh Burhanuddin tidak bergantung pada sebuah foto. Kemuliaan beliau tetap abadi melalui ilmu, dakwah, akhlak, perjuangan, murid-murid, serta sanad keilmuan yang beliau wariskan kepada umat. Tanpa foto pun, kehormatan beliau tidak akan berkurang sedikit pun.
Karena itu, kami mengajak semua pihak untuk menjunjung tinggi adab kepada ulama dengan mengedepankan prinsip tabayyun, kejujuran ilmiah, dan tanggung jawab moral. Jangan menisbatkan sesuatu kepada seorang ulama tanpa dasar yang benar. Sebab, menjaga kemurnian sejarah adalah bagian dari menjaga kehormatan ulama dan menjaga amanah agama.
Semoga Allah SWT membimbing kita semua untuk mencintai para ulama dengan ilmu, adab, dan kejujuran, bukan dengan dugaan, persepsi, atau reka-rekaan.
Dalam beberapa waktu terakhir beredar berbagai gambar yang diklaim sebagai foto Syekh Burhanuddin Ulakan. Klaim tersebut perlu disikapi secara arif, ilmiah, dan penuh adab. Hingga saat ini belum ditemukan bukti sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan bahwa gambar-gambar tersebut benar-benar merupakan potret Syekh Burhanuddin.
Perlu dipahami bahwa Syekh Burhanuddin Ulakan wafat pada awal abad ke-18, jauh sebelum teknologi fotografi dikenal dan berkembang. Oleh sebab itu, setiap gambar yang dinyatakan sebagai "foto Syekh Burhanuddin" harus dibuktikan melalui kajian sejarah, filologi, arkeologi, manuskrip, dan sumber-sumber yang sahih, bukan berdasarkan cerita, persepsi, dugaan, atau bahkan reka-rekaan.
Kebesaran seorang ulama tidak boleh dinodai oleh klaim yang tidak memiliki dasar ilmiah. Apalagi hanya berangkat dari persepsi, dugaan, atau imajinasi yang kemudian disebarluaskan seolah-olah sebagai kebenaran sejarah. Kejujuran ilmiah merupakan bagian dari adab kepada ulama.
Perlu ditegaskan pula bahwa kehormatan seorang ulama tidak bergantung pada ada atau tidak adanya foto dirinya. Tanpa foto sekalipun, kemuliaan Syekh Burhanuddin tetap hidup melalui ilmu, dakwah, akhlak, sanad keilmuan, murid-muridnya, serta warisan perjuangan yang terus dirasakan manfaatnya hingga hari ini.
Dalam tradisi Islam, penghormatan kepada ulama dibangun di atas ilmu dan keteladanan, bukan pada visualisasi wajah. Karena itu, tawassul kepada para ulama tidak bergantung pada keberadaan foto, tetapi pada kecintaan kepada Allah, penghormatan kepada para wali dan ulama, serta keterhubungan sanad keilmuan dan doa.
Sebaliknya, membuat-buat, mengira-ngira, atau bahkan menyebarkan informasi yang tidak benar tentang ulama merupakan perbuatan yang sangat merugikan. Terlebih lagi apabila seseorang dengan sengaja menyebut sebuah gambar sebagai foto Syekh Burhanuddin, padahal tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Tindakan seperti itu bukan hanya merugikan sejarah, tetapi juga dapat merendahkan martabat ulama dan menyesatkan pemahaman masyarakat.
Rasulullah SAW mengajarkan agar umat berhati-hati dalam menyampaikan berita. Kejujuran adalah fondasi ilmu, sedangkan kebohongan dan klaim tanpa dasar hanya akan merusak kepercayaan terhadap warisan ulama.
Atas dasar itulah, penyusunan Ensiklopedi Syekh dan Tuanku merupakan ikhtiar bersama untuk menata kembali data sejarah secara lebih akurat, berbasis manuskrip, dokumen, silsilah, artefak, dan sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Kami mengajak seluruh Tuanku, ulama, ninik mamak, cendekiawan, peneliti, dan masyarakat untuk memberikan masukan, koreksi, serta data yang dapat diverifikasi. Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin kuat pula fondasi sejarah yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Menjaga martabat Syekh dan Tuanku adalah menjaga martabat ilmu. Menjaga kejujuran sejarah adalah menjaga amanah agama. Jangan sampai kecintaan kepada ulama justru diwujudkan dengan menyebarkan sesuatu yang tidak benar atas nama mereka.
Wallāhu a'lam bish-shawāb.
