![]() |
Oleh: Duski Samad
Peserta Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H/2026 M dari 8 - 20 Juli 2026.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Alhamdulillāh, pada Senin, 13 Juli 2026, sekitar pukul 10.30 waktu Arab Saudi, rombongan Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman meninggalkan Madinah al-Munawwarah menuju Makkah al-Mukarramah. Sebanyak 7 mobil tamu kehormatan dari enam belas negara bergerak secara tertib dengan bus-bus besar bertuliskan Dhuyuf Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Al-Malik Salman bin Abdulaziz Al Saud.
Di tengah kesibukan mengatur keberangkatan, seorang petugas Kerajaan Arab Saudi membantu jamaah menaiki bus. Ketika mengetahui kami berasal dari Indonesia, ia tersenyum sambil mengacungkan jempol dan berkata, "Indonesia Number One!" Ucapan singkat itu menghadirkan kebanggaan sekaligus amanah. Indonesia dikenal bukan hanya karena jumlah jamaahnya yang besar, tetapi juga karena keramahan, kedisiplinan, dan kecintaan masyarakatnya kepada Tanah Suci.
Sebelum bus bergerak, panitia kembali mengingatkan seluruh peserta dengan kalimat yang sangat jelas, "Do not pay tip for driver." Seluruh pelayanan telah menjadi tanggung jawab Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sehingga jamaah tidak diperkenankan memberikan tip kepada sopir maupun petugas. Hal ini menunjukkan komitmen kerajaan dalam memberikan pelayanan yang profesional, setara, dan bermartabat kepada seluruh tamu undangan.
Selama berada di Madinah, saya merasakan bahwa pelayanan ibadah semakin baik. Salah satu perubahan yang paling terasa adalah penerapan aplikasi Nusuk untuk mengatur kunjungan ke Raudhah. Suasana menjadi jauh lebih tertib, nyaman, tidak berdesakan, dan memberi kesempatan kepada jamaah untuk beribadah dengan lebih khusyuk. Semua memperoleh hak yang sama berdasarkan jadwal yang diberikan sistem, tanpa membedakan asal negara ataupun status jamaah. Bahkan sebagai tamu undangan Raja Salman pun, kami tetap mengikuti mekanisme yang sama. Ini menjadi pelajaran bahwa keadilan dibangun melalui sistem yang transparan dan disiplin.
Fasilitas penginapan yang disediakan juga sangat memuaskan. Selama empat malam saya menempati Kamar 316 di hotel milik Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Di lobi, aula, dan area lift terpampang foto Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman bin Abdulaziz dan Putra Mahkota, sebagai simbol kepemimpinan negara dalam melayani para tamu Allah. Air zamzam selalu tersedia, demikian pula kurma, teh, kopi, dan berbagai kebutuhan jamaah. Pelayanan yang ramah dan kebersihan hotel memberikan kenyamanan selama menjalankan ibadah.
Demikian pula pelayanan konsumsi. Sarapan, makan siang, dan makan malam disiapkan dengan menu yang beragam sehingga dapat dinikmati jamaah dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand, Myanmar, Tiongkok, Taiwan, Korea, dan negara-negara lainnya. Keberagaman menu mencerminkan perhatian terhadap latar belakang budaya para tamu yang datang dari berbagai penjuru dunia.
Dalam berbagai kesempatan terdengar ungkapan syukur dari mayoritas peserta atas pelayanan yang mereka terima. Namun, di sela-sela rasa syukur itu muncul pula diskusi-diskusi kritis yang menarik. Ada yang berpendapat bahwa pelayanan besar Kerajaan Arab Saudi kepada jamaah umrah dan haji tentu memiliki dimensi yang luas, mulai dari pelayanan keagamaan, diplomasi kebudayaan, penguatan hubungan internasional, pengembangan ekonomi, hingga strategi pembangunan nasional. Pandangan seperti ini merupakan bagian dari dinamika berpikir yang wajar. Apa pun analisisnya, yang paling penting bagi jamaah adalah mensyukuri nikmat Allah dan memanfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan kualitas ibadah serta mempererat ukhuwah Islamiyah.
Kini bus perlahan meninggalkan Madinah, kota yang menjadi tempat hijrah Rasulullah SAW, pusat lahirnya masyarakat Islam, dan titik nol penyebaran dakwah yang menerangi dunia. Hati terasa berat meninggalkan kota yang penuh berkah ini. Di sinilah Rasulullah SAW membangun masjid, mempersaudarakan Muhajirin dan Ansar, menegakkan Piagam Madinah, serta meletakkan fondasi peradaban Islam.
Kami pun berdoa:
«اللهم إنا نستودعك مدينة رسولك، فاكتب لنا العودة إليها مرات عديدة، ولا تجعل هذا آخر العهد بزيارة مسجد نبيك صلى الله عليه وسلم. اللهم بارك لنا في عمرتنا، ويسر لنا إتمام مناسكنا، وتقبلها منا، واغفر لنا ولوالدينا ولجميع المسلمين.»
"Ya Allah, kepada-Mu kami titipkan Kota Rasul-Mu. Anugerahkanlah kepada kami kesempatan untuk kembali mengunjunginya berkali-kali. Jangan jadikan ini sebagai pertemuan terakhir dengan Masjid Nabi-Mu. Ya Allah, berkahilah perjalanan umrah kami, mudahkan penyempurnaan seluruh manasik kami, terimalah amal ibadah kami, ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum Muslimin."
Selamat tinggal, Madinah al-Munawwarah.
Engkau akan selalu hidup dalam doa, kenangan, dan kerinduan. Kini kami melanjutkan perjalanan menuju Makkah al-Mukarramah untuk memenuhi panggilan Allah, mengucapkan talbiyah, dan menyempurnakan ibadah umrah dengan penuh harap akan rahmat dan ampunan-Nya. 13072026.
Labbaikallāhumma Labbaik.
