![]() |
Oleh: Duski Samad
Tagline
"Mengisi Usia dengan Iman, Mengabdi dengan Ilmu, Mewariskan Peradaban."
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Sebelum memasuki usia 66 tahun pada 18 Juli 2026, saya merenungkan bahwa rangkaian haji dan umrah yang Allah SWT anugerahkan bukan sekadar perjalanan geografis menuju Tanah Suci. Seluruh pengalaman itu membentuk sebuah Spiritual Journey, perjalanan ruhani yang berlangsung sepanjang kehidupan—dari belajar, mengabdi, membimbing umat, hingga memperoleh kehormatan sebagai tamu Allah melalui undangan Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman.
Dua hari lagi, insya Allah, usia saya memasuki 66 tahun. Dalam perjalanan hidup ini saya semakin menyadari bahwa umur bukanlah sekadar bertambahnya angka, melainkan bertambahnya amanah, pengalaman, kebijaksanaan, dan kedekatan kepada Allah SWT.
Di antara nikmat terbesar yang Allah karuniakan adalah kesempatan berulang kali menapakkan kaki di Tanah Suci. Setiap perjalanan memiliki cerita, setiap ibadah meninggalkan jejak, dan setiap jejak membentuk manusia menjadi lebih matang. Inilah yang saya sebut sebagai Spiritual Journey, perjalanan ruhani yang tidak berhenti ketika pesawat mendarat di tanah air, tetapi terus berlangsung hingga akhir hayat.
Apa Itu Spiritual Journey?
Secara sederhana, spiritual journey adalah perjalanan manusia menuju kedekatan dengan Allah melalui pengalaman ibadah, ilmu, pengabdian, dan penyucian jiwa. Perjalanan ini bukan hanya berpindah tempat, tetapi berpindah kualitas diri: dari lalai menuju sadar, dari ego menuju ikhlas, dari dunia menuju orientasi akhirat.
Allah SWT berfirman:
«"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqin (kematian)." (QS. Al-Hijr: 99).»
Firman-Nya yang lain:
«"Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali." (QS. Al-Baqarah: 156).»
Kedua ayat tersebut mengajarkan bahwa seluruh kehidupan manusia adalah perjalanan kembali kepada Allah.
Pandangan Psikologi
Dalam psikologi modern, perjalanan spiritual merupakan proses pembentukan makna hidup (meaning making). Seseorang yang memiliki orientasi spiritual akan lebih mampu menghadapi ujian, mengendalikan emosi, membangun optimisme, menjaga kesehatan mental, dan menemukan ketenangan batin. Semakin bertambah usia, seseorang tidak lagi mengejar banyaknya pengalaman, tetapi mengejar kedalaman makna dari setiap pengalaman.
Pandangan Tasawuf
Dalam pandangan tasawuf, hidup adalah suluk, perjalanan seorang hamba menuju Allah melalui tahapan taubat, mujahadah, muraqabah, mahabbah, ma'rifat, hingga mencapai nafs al-muthma'innah, jiwa yang tenang.
Ka'bah menjadi kiblat jasad, sedangkan Allah adalah tujuan ruh. Karena itu, haji dan umrah yang mabrur tidak hanya mengubah pakaian ketika berihram, tetapi juga mengubah hati, akhlak, cara berpikir, dan cara melayani manusia.
Jejak Spiritual Journey
Allah SWT memberikan kesempatan yang luar biasa dalam perjalanan ibadah:
- Tahun 2000, mendampingi jamaah haji IKUS Jakarta bersama 45 jamaah KBIH YAPIM.
- Tahun 2005, menjadi Ketua Kloter VIII Embarkasi Medan bagi jamaah Kota Bukittinggi atas penugasan IAIN Imam Bonjol.
- Tahun 2007, mengikuti umrah bersama Yayasan Majelis Dzikir Nurus Salam bersama sekitar 100 tokoh umat dan ulama Indonesia.
- Tahun 2014, menjadi pembimbing umrah PT Rihlah.
- Tahun 2015, menunaikan ibadah haji bersama isteri, keluarga, dan kerabat.
- Tahun 2018, menjadi pembimbing umrah PT Rizki Internasional Indonesia bersama isteri.
- Tahun 2025, kembali menunaikan umrah bersama keluarga.
- Tahun 2026, memperoleh kehormatan sebagai peserta Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman, bersama 38 peserta Indonesia dan ratusan tokoh dari berbagai negara Asia.
Jika dirangkai, seluruh perjalanan itu bukanlah kebetulan. Semuanya adalah madrasah kehidupan yang Allah susun untuk mendidik hati, memperluas ilmu, memperhalus akhlak, dan menguatkan pengabdian.
I'tibar Menjelang Usia 66 Tahun
Semakin sering datang ke Baitullah, semakin terasa bahwa manusia sesungguhnya sangat kecil di hadapan Allah.
Perjalanan ibadah mengajarkan bahwa ilmu harus melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan.
Jabatan hanyalah titipan, sedangkan amal saleh adalah bekal yang akan dibawa pulang.
Kemuliaan bukan diukur dari berapa kali berhaji atau berumrah, tetapi dari seberapa besar perubahan akhlak setelah kembali.
Perjalanan spiritual sejati bukanlah seberapa jauh kaki melangkah, melainkan seberapa dekat hati kepada Allah dan seberapa besar manfaat yang dapat diwariskan kepada sesama.
Milad sebagai Muhasabah
Pada usia 66 tahun, saya tidak lagi menghitung berapa kali Allah mengundang ke Tanah Suci, tetapi bertanya kepada diri sendiri:
- Apakah hati ini semakin bersih?
- Apakah ilmu semakin bermanfaat?
- Apakah semakin banyak manusia memperoleh manfaat?
- Apakah keluarga semakin dekat kepada Allah?
- Apakah hidup ini benar-benar menjadi jalan menuju ridha-Nya?
Semoga seluruh perjalanan ini menjadi saksi di hadapan Allah bahwa hidup telah diikhtiarkan untuk belajar, mengabdi, membimbing umat, membangun peradaban, dan menebarkan manfaat.
Sebagaimana doa Nabi Sulaiman AS:
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, agar aku dapat mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh." (QS. An-Naml: 19).
TAGLINE PERJALANAN HIDUP
"Usia boleh bertambah, tetapi semangat ibadah tidak boleh berkurang; ilmu harus semakin dalam, pengabdian semakin luas, akhlak semakin indah, dan manfaat semakin dirasakan. Sebab, hidup terbaik bukanlah yang paling panjang usianya, melainkan yang paling dekat kepada Allah dan paling banyak meninggalkan jejak kebaikan bagi manusia."
Ya Allah, jadikanlah sisa umur ini sebagai masa terbaik dalam hidupku; masa yang dipenuhi iman, dihiasi ilmu, diperkaya amal saleh, diperindah akhlak, dan diakhiri dengan husnul khatimah. Āmīn Yā Rabbal 'Ālamīn.
