![]() |
| Wamen Urusan Agama, Dakwah dan Penyuluhan KSA |
Oleh: Duski Samad
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Undangan menjadi Tamu Khadim al-Haramain al-Syarifain Raja Salman bin Abdul Aziz Al Saud merupakan nikmat yang tidak dapat diukur hanya dengan fasilitas perjalanan atau kemudahan pelayanan. Ia adalah amanah spiritual, amanah intelektual, sekaligus amanah kebangsaan. Di balik setiap perjalanan, tersimpan pendidikan kehidupan yang membentuk cara berpikir, memperhalus hati, dan memperluas wawasan peradaban.
Perjalanan ini bukan sekadar berpindah dari Indonesia menuju Madinah dan Makkah, tetapi perjalanan dari pengetahuan menuju pengalaman (knowledge to experience), dari pengalaman menuju perenungan (experience to reflection), dan dari perenungan menuju pengabdian (reflection to action).
Pelepasan: Amanah Membawa Nama Bangsa
Pada Selasa, 7 Juli 2026, sebanyak 38 peserta Indonesia dilepas secara resmi di Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta. Pelepasan itu bukan sekadar acara seremonial, tetapi penegasan bahwa setiap peserta membawa identitas bangsa Indonesia di hadapan dunia Islam.
Sejak saat itu, setiap sikap, tutur kata, kedisiplinan, dan akhlak menjadi representasi wajah Indonesia. Seorang tamu Allah sekaligus tamu kerajaan tidak hanya sedang beribadah, tetapi juga sedang menjalankan diplomasi budaya dan diplomasi akhlak.
Perjalanan Menuju Kota Nabi
Pada Rabu, 8 Juli 2026, rombongan berkumpul di Bandara Soekarno-Hatta sebelum diberangkatkan dengan pesawat Saudia Airlines menuju Madinah. Meskipun sempat mengalami keterlambatan penerbangan, seluruh peserta menerimanya dengan kesabaran.
Setibanya di Madinah, rombongan disambut oleh Kementerian Agama Arab Saudi, perwakilan Konsulat Jenderal Republik Indonesia, serta memperoleh pengawalan hingga Hotel Maden.
Pelajaran pertama dari perjalanan ini adalah bahwa kesabaran merupakan pintu awal setiap keberhasilan. Perjalanan menuju Allah selalu dimulai dengan kemampuan mengelola diri sebelum mengelola keadaan.
Madinah: Sekolah Akhlak dan Cinta Rasulullah
Hari-hari di Madinah diisi dengan salat berjamaah di Masjid Nabawi, ziarah kepada Rasulullah SAW, Baqi', Raudhah, serta ibadah pribadi.
Puncak pengalaman intelektual terjadi ketika rombongan mengunjungi Museum Biografi Rasulullah dan Peradaban Islam. Museum ini memperlihatkan bahwa dakwah Rasulullah bukan hanya membangun masjid, tetapi membangun manusia, ilmu pengetahuan, tata kota, keluarga, ekonomi, dan peradaban.
Islam tampil sebagai agama yang memadukan wahyu, ilmu, teknologi, sejarah, dan kemanusiaan.
Belajar dari Al-Qur'an
Kunjungan ke Percetakan Al-Qur'an Raja Fahd memperlihatkan bagaimana Al-Qur'an dipelihara dengan standar ilmiah, teknologi tinggi, dan ketelitian luar biasa sehingga dapat tersebar ke seluruh dunia.
Pesannya jelas: menjaga kemurnian wahyu membutuhkan ilmu, profesionalisme, dan kerja keras.
Bangsa yang besar tidak cukup memiliki sumber daya alam, tetapi harus memiliki budaya ilmu yang kuat.
Masjid Quba dan Spirit Membangun
Di Masjid Quba, peserta belajar bahwa masjid pertama dalam Islam dibangun di atas fondasi takwa.
Peradaban Islam selalu dimulai dari fondasi yang benar, bukan dari kemegahan bangunan.
Pertemuan dengan Imam Masjid Nabawi
Dialog bersama Imam Masjid Nabawi menunjukkan bahwa ulama dunia memiliki tanggung jawab menjaga moderasi, persatuan umat, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Ilmu harus melahirkan keteduhan, bukan pertengkaran.
Miqat Bir Ali dan Memasuki Tanah Haram
Perjalanan menuju Makkah melalui Bir Ali mengingatkan bahwa setiap perubahan besar dimulai dari niat.
Ihram menghapus seluruh simbol status sosial.
Semua manusia kembali kepada identitas yang sama sebagai hamba Allah.
Tawaf, Sa'i, dan Tahallul
Di hadapan Ka'bah, jutaan manusia bergerak dalam satu putaran tanpa komando.
Peristiwa ini mengajarkan bahwa ketika orientasi hidup tertuju kepada Allah, keberagaman justru melahirkan harmoni.
Sa'i mengajarkan kerja keras.
Tahallul mengajarkan bahwa setiap perjuangan harus melahirkan pribadi yang baru.
Kiswah Ka'bah dan Museum Wahyu
Kunjungan ke pusat penyulaman Kiswah Ka'bah memperlihatkan bahwa keindahan lahir dari ketelitian, kesabaran, dan penghormatan terhadap simbol-simbol agama.
Sementara Museum Wahyu di kawasan Gua Hira' membawa peserta menyusuri sejarah turunnya wahyu sejak para nabi terdahulu hingga Nabi Muhammad SAW.
Di sana terlihat bahwa peradaban besar selalu lahir dari kekuatan ilmu.
Perintah pertama Islam adalah Iqra'.
Thaif: Dari Luka Menjadi Harapan
Perjalanan menuju Thaif memberikan pelajaran yang sangat mendalam.
Kota yang dahulu menjadi tempat Rasulullah SAW disakiti kini berubah menjadi kota wisata pegunungan yang indah dan maju.
Saat matahari tenggelam dari puncak pegunungan dengan iringan lagu Tala'al Badru 'Alaina, hati menyadari bahwa setiap luka dapat berubah menjadi cahaya apabila dihadapi dengan kesabaran.
Sejarah membuktikan bahwa dakwah tidak selalu berhasil pada hari ini, tetapi akan berbuah pada masa depan.
Dialog Internasional
Pertemuan wakil berbagai negara Asia bersama Wakil Menteri Agama Arab Saudi memperlihatkan pentingnya membangun komunikasi lintas negara.
Indonesia hadir bukan hanya sebagai negara dengan jumlah Muslim terbesar, tetapi juga sebagai contoh Islam moderat, damai, toleran, dan demokratis.
Menjadi salah satu dari empat wakil Indonesia dalam forum tersebut merupakan kehormatan sekaligus amanah untuk terus memperkuat diplomasi keilmuan dan ukhuwah Islamiyah.
Umrah Kedua
Umrah dari Tan'im menjadi kesempatan memperbarui niat.
Ibadah bukan sekadar mengulang ritual, tetapi memperdalam kualitas spiritual.
Semakin sering seseorang mendekat kepada Allah, semakin besar tanggung jawabnya untuk memberi manfaat kepada manusia.
Persiapan Pulang
Hari terakhir diisi dengan persiapan kembali ke Indonesia.
Di sinilah muncul kesadaran bahwa perjalanan sesungguhnya baru dimulai.
Yang dibawa pulang bukan sekadar air zamzam, kurma, sajadah, atau oleh-oleh, tetapi nilai, ilmu, pengalaman, jaringan persaudaraan, dan semangat membangun peradaban.
Makna bagi Diri
Perjalanan ini mengajarkan syukur, kesabaran, disiplin, keikhlasan, cinta kepada Rasulullah SAW, penghormatan kepada ilmu, serta kesadaran bahwa hidup adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Makna bagi Umat
Umat Islam membutuhkan persatuan, literasi, akhlak, dan kepemimpinan yang mampu menyatukan, bukan memecah belah.
Haramain mengajarkan bahwa jutaan manusia dengan bahasa, bangsa, dan warna kulit berbeda dapat hidup dalam satu tujuan: mengabdi kepada Allah.
Makna bagi Bangsa
Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi teladan dunia Islam.
Moderasi beragama, budaya gotong royong, tradisi keilmuan, dan semangat kebangsaan merupakan kekuatan yang harus terus dipelihara.
Undangan Kerajaan Arab Saudi kepada tokoh-tokoh Indonesia merupakan bentuk penghormatan sekaligus kepercayaan yang harus dijawab dengan peningkatan kualitas pengabdian kepada agama, bangsa, dan negara.
Penutup
Perjalanan ini akhirnya mengajarkan empat kata yang menjadi filosofi kehidupan:
Syukuri nikmatnya. Nikmati prosesnya. I'tibari hikmahnya. Kembangkan manfaatnya.
Apabila setiap nikmat melahirkan rasa syukur, setiap pengalaman melahirkan pelajaran, setiap pelajaran melahirkan perubahan, dan setiap perubahan melahirkan kemanfaatan bagi sesama, maka perjalanan umrah tidak berhenti ketika pesawat mendarat di tanah air. Ia justru menjadi awal lahirnya pengabdian baru untuk membangun manusia, memperkuat umat, dan memajukan bangsa dalam cahaya Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW.@marriot hotel17072026.
