![]() |
Oleh: Duski Samad
Peserta Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H/2026 M
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Alhamdulillāh, Allah SWT kembali memberikan kesempatan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Untuk kedua kalinya, saya memperoleh izin memasuki Raudhah melalui aplikasi Nusuk. Kesempatan ini terasa sangat istimewa karena umumnya jamaah hanya memperoleh satu kali izin selama berada di Madinah. Awalnya izin itu bukan atas nama akun saya, melainkan melalui akun sahabat saya, Prof. Dr. H. Ridwan, M.Ag., Rektor UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Atas izin Allah, kesempatan itu menjadi anugerah yang sangat saya syukuri.
Memasuki Raudhah setelah salat Magrib menghadirkan suasana yang berbeda. Kali ini Allah memberikan tempat shalat yang sangat dekat dengan maqam Rasulullah SAW. Sulit menggambarkan perasaan itu. Seakan-akan sedang duduk di samping Rasulullah SAW, di tempat beliau dahulu beribadah, berdakwah, memimpin umat, dan menyampaikan wahyu Allah kepada para sahabat.
Yang membuat suasana semakin khusyuk adalah beberapa menit setelah saya memasuki Raudhah, azan Isya berkumandang. Arus jamaah pun berhenti karena seluruh yang berada di dalam Raudhah bersiap melaksanakan salat berjamaah. Kesempatan itu membuat saya dapat duduk lebih lama di dekat maqam Rasulullah SAW, memperbanyak shalawat, istighfar, zikir, membaca Al-Qur'an, dan memanjatkan doa dengan hati yang penuh haru.
Pemandangan yang paling menyentuh bukanlah kemegahan bangunan, tetapi adab para jamaah. Ribuan orang dari berbagai bangsa duduk dengan tenang, khusyuk, suara mereka lirih, bahkan hampir tidak terdengar. Tidak ada teriakan, tidak ada kegaduhan. Semua seolah merasakan sedang berada di hadapan Rasulullah SAW.
Perasaan itu mengingatkan saya kepada firman Allah SWT:
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu kepada sebagian yang lain, sehingga gugurlah amal-amalmu, sedangkan kamu tidak menyadarinya." (QS. Al-Hujurat: 2)
Ayat ini memang turun ketika Rasulullah SAW masih hidup. Namun para ulama menjelaskan bahwa adab kepada Rasulullah tetap berlaku setelah wafatnya. Karena itu, para peziarah menjaga suara, sikap, dan perilaku ketika berada di sekitar maqam beliau sebagai wujud penghormatan kepada Nabi yang telah membawa risalah Islam kepada seluruh umat manusia.
Di dekat tempat bersemayam Rasulullah SAW, terasa betapa kecilnya diri ini. Gelar akademik, jabatan, kedudukan sosial, dan segala kebanggaan dunia seakan kehilangan makna. Yang tersisa hanyalah seorang hamba yang datang membawa dosa, berharap memperoleh syafaat Rasulullah SAW dan rahmat Allah SWT.
Di tempat itu saya memohon agar Allah mengampuni dosa kedua orang tua, keluarga, guru-guru, sahabat, dan seluruh kaum muslimin. Saya juga berdoa agar anak-anak dan cucu-cucu dianugerahi iman yang kokoh, ilmu yang bermanfaat, akhlak yang mulia, kesehatan, kemudahan meraih cita-cita, serta menjadi generasi yang mengabdi kepada agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Setiap orang yang diberi kesempatan memasuki Raudhah tentu memiliki pengalaman spiritual yang berbeda-beda. Ada yang meneteskan air mata, ada yang merasakan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, ada yang larut dalam zikir, dan ada pula yang memperoleh kekuatan baru untuk memperbaiki diri. Semua pengalaman batin itu adalah wilayah personal antara seorang hamba dengan Tuhannya. Biarlah pengalaman spiritual itu menjadi milik masing-masing. Yang jauh lebih penting adalah apakah setelah keluar dari Raudhah seseorang semakin mampu meneladani Rasulullah SAW dalam akhlak, ibadah, amanah, kasih sayang, kejujuran, dan pengabdian kepada umat. Itulah sesungguhnya ruh dari setiap ziarah ke Kota Nabi.
Pada malam itu, ketika kami berkumpul di meja makan bersama beberapa peserta Program Tamu Khadim Al-Haramain, muncul sebuah percakapan yang sangat menggugah. Seorang sahabat mengingatkan bahwa ibadah jangan dipahami secara kuantitatif, nominal, dan transaksional. Jangan semata-mata menghitung berapa kali memasuki Raudhah, berapa rakaat salat yang dikerjakan, atau berapa lipat pahala yang akan diperoleh, seolah-olah hubungan seorang hamba dengan Allah hanyalah perhitungan angka dan imbalan.
Ibadah yang sejati adalah ibadah yang dibangun di atas keikhlasan (الإخلاص). Seorang hamba beribadah karena Allah memang layak disembah, bukan semata-mata karena mengharapkan balasan. Dalam tradisi tasawuf dikenal dua maqam yang luhur, yaitu mukhlis, orang yang terus berjuang memurnikan niatnya hanya karena Allah, dan mukhlas, hamba yang dipilih dan dimurnikan oleh Allah karena keikhlasannya. Maqam inilah yang seharusnya menjadi tujuan seorang salik dalam setiap ibadahnya.
Meninggalkan Raudhah malam itu bukanlah meninggalkan Rasulullah SAW, tetapi membawa pulang pelajaran yang sangat berharga. Mencintai Nabi bukan hanya dengan lisan yang bershalawat, melainkan dengan hati yang penuh adab, ibadah yang ikhlas, dan kehidupan yang berusaha meneladani sunnah beliau. Jika adab kepada Rasul hidup dalam diri, maka akhlak beliau akan menjadi jalan hidup kita. Jika keikhlasan menjadi dasar ibadah, maka seluruh amal tidak lagi diukur dengan hitungan kuantitas, melainkan dengan kualitas penghambaan kepada Allah SWT.
Semoga Allah SWT mempertemukan kembali kita dengan Kota Nabi, menerima seluruh amal ibadah kita, mengaruniakan kepada kita hati yang mukhlis, menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mukhlas, serta menghimpunkan kita bersama Rasulullah Muhammad SAW di surga Firdaus.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. آمِينَ.
